Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 14.9 : "Keanehan! "


__ADS_3

Ragil sudah pergi atas keputusannya sendiri, tidak ada yang mengetahui mana jalan yang benar dan mana yang salah.


Rombongan Karina melanjutkan perjalanan mereka ke arah Pedesaan. Ditengah perjalanannya semua orang membicarakan masalah keputusan yang mereka sudah ambil.


Ragu-ragu balik kanan! Pak Daniel mengatakan itu pada mereka. Akan tetapi Cindy menegaskan keraguan hanya membuat keadaan akan semakin buruk. Oleh Karena itu, kita harus percaya pada keputusan yang sudah diambil. Jika tidak, mereka hanya melahirkan Energi Negatif dan memancing sosok Fantasma itu mendatangi mereka.


"Iya kan Rin?" Cindy.


"Nh, itu benar" Karina balas dengan anggukan.


Setelah cukup jauh berjalan meninggalkan persimpangan. Jalan yang tadinya aspal, kini sudah menjadi tanah pasir bebatuan krikil yang disetiap bagian tengah jalan tumbuh tanaman liar.


Suara batu krikil yang dipijak dari gesekan sepatu menghasilkan debu sebagai pengukur kerendahan angin yang ada disekitar mereka. Padahal cahaya matahari tidak mampu menembus dunia itu, akan tetapi kenapa hawa panasnya bisa sampai terasa.


Karina yang mulai curiga, mengaktifkan kemampuan Inner shiver miliknya.


"Ga ada apa-apa, terus ini sumber hawa panas dari mana?"


Teman-teman Karina yang lain juga dibuat kebingungan dengan hawa panas yang mereka juga ikut dapat rasakan. Tak lama terlihatlah sebuah Pedesaan yang bisa dibilang sudah tidak berbentuk lagi.


Bangunannya roboh dan sudah ditumbuhi rumput-rumput liar, pagar kayu yang sudah tidak berbentuk, Namun masih ada satu bangunan yang terlihat masih berdiri kokoh.


Karina mengatakan untuk jangan dulu memasuki daerah tersebut. Mereka pun akhirnya berhenti tidak jauh jaraknya sebelum masuk arah ke desa.


Untuk memastikan, Karina menggunakan Inner Shivernya kembali yang ternyata disana banyak aktifitas bangsa lain dari alam sebelah. Wujudnya tidak ada yang menyeramkan dan energinya kelihatan bersahabat.


Setelah mengetahui itu Karina meresa lega, ia pun mengatakan pada teman-temanya mereka bisa singgah disana untuk sementara.


Semuanya melangkah memasuki Pedesaan sambil memberikan salam pada mereka yang tak terlihat. Karina melihat mereka membalas salam itu. Ia pun berbicara lewat telepati untuk meminta izin tinggal dirumah itu untuk sementara.


Mereka dibuat heran oleh karena Karina bisa melihat dan berbicara dengan mereka. Berkat keramah tamahan yang dilakukan teman-teman Karina, akhirnya mendapatkan izin tinggal.


...


"Akhirnya, bisa istirahat" ucap Ryo langsung berebah diteras lantai kayu.


Begitupun Sandi dan Cindy, mereka juga langsung duduk bersender didinding rumah yang terbentuk dari kayu.


Pak Daniel terlihat bingung harus berbuat apa, karena rokoknya sudah habis. Ryo yang sedang tiduran melirik Karina yang lagi berada di dekat bawah pohon sedang diam mematung.

__ADS_1


"Karina-karina, cantik tapi aneh" ucapnya yang melihat Karina mengangguk seolah sedang mendengarkan jawaban. Ryo pun dibuat senyum oleh moment itu, karena ia teringat adik perempuannya melakukan hal yang sama.


Setelah beberapa saat, Ryo pun tersadar akan sesuatu yang menjanggal di benak pikirannya dari tadi.


"Kayu..??!!" ucapnya sambil meraba-raba lantai bangunan.


"Tempat ini kan sudah 200 tahun yang lalu kenapa masih ada bangunan yang kokoh berdiri?!" ucap Ryo dengan ekspresi wajah penuh tanda tanya.


Dia pun lalu melirik ke arah teman-temannya kenapa semua terlihat cuek-cuek aja seperti tidak menyadari, termasuk Karina.


" Ga mungkin tempat ini bisa berdiri sendiri, pasti ada orang lain yang membuatnya!! " Ryo mencoba berpikir tenang agar tidak terlihat panik.


Dia pun meyakini, tidak mungkin Karina tidak menyadari sesuatu. Pasti ada sesuatu hal buruk yang coba ia sembunyikan demi kenyamanan teman-temannya.


Tak lama Karina datang dan mengatakan didaerah belakang sana ada buah-buahan yang boleh diambil dan bisa dimakan.


Mendengar itu Pak Daniel langsung mencabut pisau sangkurnya dan mengajak yang lainnya untuk ikut mencari bersama.


......................


Diwaktu yang bersamaan semenjak mereka mulai berpisah. Ragil sudah menempuh jalan kurang lebihnya satu kilometer dan belum ada tanda-tanda jalan menuju keluar. Kanan dan kirinya hanya hutan karet dan semak belukar, yang sesekali mengeluarkan ular dan kala jengking yang menyerang jalan.


KRUKK KRUKKK


"Malah perut lapar lagi"


Dia kemudian mengambil air minum yang ada disaku kiri tas punggungnya.


GLUK GLUK! AHH~!! BRR!!


"Lanjut lagi!" serunya.


Dia pun kemudian melanjutkan langkahnya. Didalam perjalanannya, seseorang dari dalam hutan karet terus mengikuti Ragil tanpa disadari olehnya.


Sosok itu tidak begitu jelas kelihatan, karena langkahnya seperti angin yang bertiup. Perlahan-lahan sosok itu bersembunyi mendekati Ragil dengan berlindung disetiap sisi gelap dari pohon karet.


Insting yang dibanggakan Ragil pun memberikan reaksi, ia terlihat menoleh ke kanan dan ke kiri. Dan tiba-tiba, Ragil mencium bau busuk dan anyir yang sangat pekat.


"Anjir, bau apaan ini?" ucapnya sambil menutup hidung.

__ADS_1


Merasakan tidak nyaman, Ragil mengambil satu senjata senapan yang terikat diatas punggung belakangnya. Sambil berpose menembak, ia terlihat membidik ke kanan dan ke kiri.


Sosok itu dibuat terkejut oleh tindakan Ragil tersebut, ia teringat pertarungan Karina melawan Jin Tengkelek. Oleh karena itu dia memutuskan untuk pindah menjaga jarak.


WUSH WUSH!! suara langkah seperti angin yang hanya terlihat sekelebatan hitam kemerahan.


"Mau macem-macem lu sama gua?" ucapnya sambil membidik ke segala arah.


Melihat tidak ada reaksi mencurigakan, Ragil melonggarkan penjagaanya lalu melanjutkan perjalanannya kembali sambil memegang senjata Senapan tersebut.


...


Setelah lama berjalan melewati kabut tipis yang terus membentang sepanjang ia melangkah, akhirnya Ragil melihat sebuah papan tanda jalan dari kejauhan. Dia pun dengan semangat lari mendekatinya.


"15 km lagi?? seketika Ragil menjadi lesu.


Tetapi melihat harapan sudah jelas ada didepan sana, ia mencoba menyemangati dirinya sambil berteriak kencang. Sosok yang masih mengikuti Ragil pun terlihat kaget akan ekspresi tersebut.


"Tunggu aku teman-teman!!"


......................


Rombongan Karina telah berhasil menemukan makanan semacam buah-buahan dan mereka sedang asik menyantapnya dipelataran rumah yang masih berdiri kokoh. Mereka sangat menyangkan Ragil tidak ada disana.


Tak lama setelah mereka selesai mengisi energinya, barulah Inner Shiver Karina dapat bekerja kembali memberikan reaksi adanya energi negatif yang mencoba untuk mendekat.


Mengetahui itu, Karina menyuruh teman-temannya untuk segera masuk kedalam rumah. Sandi terlihat memasukan sisa dari buah-buahan itu ke dalam tasnya.


Setelah semua temannya masuk, Karina yang masih berada diluar memasang Room Incubation agar keberadaan mereka tidak terdeteksi. Lalu setelahnya ia menyusul masuk ke dalam rumah tersebut.


Beberapa menit setelah semua sudah di dalam tempat yang aman, muncul lah sesosok yang mengerikan datang dari semak ilalang yang ada dibelakang pohon besar.


Mereka yang mengintip dari celah dinding yang terbuat dari Kayu, melotot kaget melihat sosok yang beda dari sebelumnya.


Sosok itu tinggi berkepala seperti binatang dan membungkuk, bentuk kulitnya terlihat tebal bersisik bewarna hitam, tangannya yang pendek dengan tiga jari berkuku tajam, serta tumbuh ekor seperti layaknya seekor Kadal. Ia berjalan menuju kebelakang tepat dimana Karina dan teman-temannya mendapatkan buah-buahan.


"Manusia macam apa yang sudah menciptakan monster seperti ini? Pak Daniel.


Karina yang dapat membedakan jenis dari kelompok tersebut dari energinya, mengetahui sosok apa itu sebenarnya.

__ADS_1


"Fantasma...kah?!"


Bersambung...


__ADS_2