
Di kegelapan malam yang penuh kabut, cahaya biru berbentuk kotak menerangi sebuah rumah gubuk yang berdiri kokoh sendiri diantara hutan semak belukar. Hanya mereka para Makhluk Astral yang dapat melihat cahaya tersebut, dan mereka yang berlalu lalang disekitarnya tidak akan bisa memasukinya.
Bagi mereka cahaya biru itu bagaikan kobaran lidah api yang selalu siap membakar Eksistensi energi mereka yang terbilang rapuh.
Itulah mengapa tidak ada satupun sosok negatif yang berani mengganggu empat orang yang sedang bersembunyi didalam rumah itu.
...
Di dalam ruangan gelap yang berbekal sinar lampu cahaya dari smartphone milik Winda, mereka sedang duduk tak berdaya, menunggu secercah harapan yang akan dibawakan oleh Karina yang masih dalam meditasinya.
Dibagian dinding sebelah kiri, bersandar seorang lelaki yang bernama Ryo. Ia terlihat tertunduk tidur kelelahan. Sedangkan Winda dan Cindy duduk diantara Karina yang sedang bermeditasi. Ragil berada diluar sedang mengelap senjata MP5 miliknya, dan Sandi terlihat berlatih cara memegang senjata yang benar.
"Bosan, aku benci situasi ini" ungkap Ragil.
"Sabar, aku juga sama. Tapi Karina sudah berpesan untuk jangan pergi meninggalkan tempat ini, sampai dia kembali" jawabnya.
"Memalukan, padahal ada tiga orang laki-laki..tapi harus meminta perlindungan dari perempuan!" ucap Ragil.
"Apa boleh buat, nyawa lebih penting dari pada harga diri. Untuk saat ini!" timpal Sandi yang sedang asik belajar membidik.
UHUEEKKK!!!! Aaaaa! Sakitt!!! Siapa saja tolong aku!!
"Oi suara Karina tuh!" Ragil kaget dan langsung masuk kedalam, yang kemudian di susul oleh Sandi.
Didalam ruangan semua orang kepanikan melihat Karina muntah darah dan berteriak minta tolong.
"Rinn kamu kenapa!! Rinnn!! teriak Winda mencoba membangunkannya.
"Karina pasti sedang membutuhkan pertolongan, ayo kita cari!" ucap Ragil.
"Tunggu! kita tidak tahu posisi Karina ada dimana!" ucap Ryo.
"Makanya kita cari, goblok!!" Ragil kemudian bergegas mengambil senjata dan tasnya dan beranjak keluar rumah.
"Ayo San!!!" seru Ragil.
Sandi terdiam sebentar memandangi Karina yang sedang muntah darah. Di dalam pandangan matanya ia sedang menebak-nebak dimana keberadaan Karina sekarang.
Sandi kemudian merespon panggilan Ragil dan menyusulnya keluar. Ryo terlihat ragu, karena dia adalah orang yang penuh perhitungan sebelum bertindak.
"Mana Ryo?" Ragil.
"Masih didalam!" jawab Sandi.
Ragil yang kesal kemudian naik kembali ke rumah itu dan berdiri didepan pintu bermaksud ingin memprovokasinya.
__ADS_1
"Oii ayoo!"
"Aku disini saja, menjaga yang lainnya." jawabnya.
"Owhhh, jadi kau lebih suka meminta bantuan dari seorang wanita yang berjuang sendiri sampai berdarah-darah ya?"
"Ya udah, kau tunggu disitu saja sambil mendengarkan Karina yang meminta tolong!"
Winda dan Cindy menatap mata Ryo yang penuh keraguan. Dan mata Ryo memandangi Karina yang sedang mengeluarkan darah dari mulutnya.
"Kalau kamu masih sayang dengan nyawamu sendiri, lebih baik tidak usah berangkat" ucap Cindy yang sedang membersihkan darah yang keluar dari mulut karina.
Ryo tertunduk pasrah mendengarkan ucapan dari Cindy.
"Bukan.. sebenarnya aku... !" Sepatah kata yang sulit terucap, bahkan didalam hati Ryo sendiri.
Ryo kemudian bangkit berpaling mengambil senjata dan tasnya yang tersandar di dinding.
"Ayo kita selamatkan Karina!" ucap Ryo dengan tatapan mata yang penuh keyakinan.
...
[Scene kembali setelah mereka bertiga berhasil memancing sosok tersebut]
"Hah.. Hahh.. Hahh!!!" Ragil berlari sekuat tenaga.
"Oke!! Pastikan kalian kembali ke titik pertemuan kita sebelumnya!" teriak Ryo yang sambil berlari.
Didepan sana ada jalan bersimpang tiga, mereka belok ke kiri kemudian Ryo loncat masuk ke semak-semak untuk bersembunyi.
Sandi menoleh ke belakang dan melihat sosok itu belok juga ke kiri mengejar mereka berdua.
"Sedikit tembakan untuk memancing amarahnya!" ucap Sandi.
DRRRRRRRRTS!!!!!
Kilatan-kilatan bagai kembang api itu adalah Peluru-peluru yang terpental layaknya sedang menembaki prisai baja.
"Kau pasti bohong bukan!" ucap Sandi kemudian berlari kembali bersama Ragil.
Ryo yang sudah bersembunyi ditengah semak belukar, melihat sosok itu melewatinya. Sontak ia pun menutup mata, agar rasa ketakutan yang dimiliki Ryo tidak bersinggungan dengan energi negatifnya. Sehingga keberadaan Ryo tidak dapat diketahui.
Ketika suara lentingan suara langkah kaki yang terikat borgol itu sudah jauh terdengar, Ryo baru bisa berdiri dan melihat sekitarnya. Ia pun bergegas pergi ketempat Karina untuk menolongnya.
...
__ADS_1
DRAP! DRAP! DRAP!!!
Karina yang sedang meringis kesakitan melihat satu buah cahaya senter yang sedang berlari mendekatinya. Itu adalah Ryo dengan semangat besarnya untuk datang menyelamatkan Karina.
"Karina! Karina!! Hah.. Hahh.. Apa yang sudah terjadi padamu sampai bisa seperti ini!" Ryo datang bersama kepanikan dalam dirinya, ia pun tercengang seketika melihat bahu Karina tertusuk bilah besi banyak mengeluarkan darah. Wajah Karina terlihat pucat pasih seperti tidak ada darah yang mengalir.
"Kenapa.. Kaliann kesini.. Kan aku sudah bilang...jangan keluar dari rumah itu" ucapan dari mulut Karina yang keluar sangat pelan, dia kelihatan sangat lemas tak bertenaga.
"Tidak bisa! Itu karena kami mendengar kau berteriak minta tolong!" jawab Ryo.
".. Uh.. ?"
"Karina, tahan sebentar! Aku akan berusaha menariknya!"
Postur badan Ryo yang tinggi sekitar 185 cm, memudahkan dirinya untuk meraih bilah besi tersebut. Kedua tangannya sudah pada posisi dan siap menarik. Ia kemudian memberikan aba-aba kepada Karina untuk menariknya dalam satu nafas.
"Tahan ya!! 1...2....3!!!!" HYAHH!!
BRASHHH!!! Bilah besi itu berhasil ditarik keluar, dan Karina jatuh tergeletak diatas tanah tak berdaya. Glitch di tubuhnya kini kembali bergerak, bersamaan dengan partikel cahaya biru yang kembali mengurai tubuhnya.
Ryo membuang bilah besi itu kesampingnya, kemudian ia duduk dan merangkul badan Karina.
"Karina!! Apa yang terjadi dengan tubuhmu? kenapa jadi seperti ini?! Ryo terlihat kebingungan karena ini pertama kalinya ia melihatnya.
"Tidak apa-apa, jangan khawatirkan aku. Kalian cepat kembali ke rumah itu" jawab Karina dengan nada yang pelan.
"Tidak, mulai sekarang kita akan terus berjuang bersama-sama!"
Visual dari tubuh virtual Karina semain terlihat tembus pandang. Suara Karina yang terucapa tidak bisa terdengar oleh Ryo.
"Kami bertiga akan berusaha membantumu dari belakang, Winda dan Cindy akan selalu menjagamu dirumah itu....jadi kumohon, jangan kau merasa ini semua adalah tanggung jawabmu"
Itu adalah kata-kata terakhir dari Ryo, ketika seluruh tubuh Karina sudah melebur menjadi partikel cahaya biru. Ryo tidak menangis mengeluarkan air mata, namun hatinya begitu bersedih karena semuanya harus mengalami nasib seperti ini.
...
Sementara itu Sandi dan Ragil terus berlari menyusuri jalan beraspal, ia lalu menoleh kebelakang dan sosok itu sudah sangat jauh tertinggal. Tak lama mereka berdua mendapati sebuah jalan berbatu.
"Lah, ini ada jalan lagi...jalan kemana ini?" ucap Ragil.
"Udah ayo cepat, kita coba masuk ke jalan ini dulu. kita harus segera bersembunyi!" ucapnya yang kemudian langsung masuk menyusuri jalan berbatu tersebut.
Ditengah perjalanan pelariannya, mereka akhirnya menemukan sebuah bangunan. Yang ketika mereka coba mendekati dengan cahaya senternya, itu adalah sebuah bangunan yang berpagar keliling, penuh dengan taman bermain anak-anak. Dan ketika cahaya senter Sandi berlari menyinari sekitar, ia menemukan sebuah Plang yang bertulisan.
"Sekolah untuk Desa Makmur Sentosa?"
__ADS_1
Bersambung...