Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 22.2 : "A Promise"


__ADS_3

Karina menaiki sedikit bukit yang menanjak tempat dimana orang itu sedang bermain ayunan seorang diri.


Nafasnya tidak menunjukan seperti orang yang kelelahan, meskipun ia cukup lama berlari.


Akhirnya ia sampai di atas, dan melihat ada dua ayunan besi yang desainnya cukup cantik, bewarna putih.


Di sebelah ayunan yang kosong itu ada seorang wanita yang memakai daster bewarna putih bersih, rambutnya hitam panjang sebahu, dan warna kulitnya putih pucat. Dia adalah...


"Niira" Karina menyapanya dari belakang.


Mendengar ada seseorang yang menyapanya dari belakang, Niira memperlambat laju ayunannya dan kemudian dihentikan dengan dua tumit dari kakinya.


Ia menoleh dengan pelan ke arah Karina.


"Eng? kakak siapa?" Mata biru Niira memperhatikan wajah Karina.


"Eeeehhh???"


Niira yang terkejut langsung beranjak dari ayunannya. Ia pun berjalan mendekati Karina.


Dia terlihat kebingungan, dan memperhatikan sekali lagi wajah Karina seperti seorang anak kecil yang penasaran akan sesuatu.


"Emmmm, beda, mirip...beda?"


Dua orang gadis yang memiliki mata biru sama indah saling bertatap muka.


Karina hanya tersenyum dengan tingkah laku Niira. Matanya sedikit berkaca-kaca, ia pun akhirnya memberikan pelukan yang hangat kepada Niira.


Niira pun kebingungan dengan situasi itu, melihat Karina yang menangis memeluknya. Pada akhirnya ia juga memutuskan untuk membalas pelukan pada Karina.


"Niira maafkan aku..." ucap Karina sambil sesenggukan.


"Cup-cup, dah gak boleh nangis ya?"― Niira mencoba menegarkan hatinya.


Karina pun mengusap air matanya di hadapan Niira yang tersenyum melihatnya.


Ia kemudian mengajak Karina untuk bercerita sambil bermain ayunan miliknya.


"Sekarang coba kakak ceritakan, kakak ini siapa? kok bisa ada di sini?"


"(Jangan ceritakan keadaan yang sebenarnya, kemungkinan akan berpengaruh kepada kita nantinya)" Eh?"

__ADS_1


"Eng?" Niira menunggu jawaban.


"Ahhh, enggak...Namaku adalah Karina, aku...aku..."


"Aku..??" Niira.


"Aku juga tidak tahu kenapa bisa ada disini...?" jawab Karina.


"Ahhh, sama seperti temanku yang waktu itu!" serunya.


"Ehh? teman yang waktu itu?"


"Iya, dulu waktu kecil ada anak yang seumuran tiba-tiba bisa masuk ke dunia ini. terus kami main bersama dan akhirnya menjadi teman"


"Tapi sekarang dia udah enggak ada..." Raut wajah Niira murung seketika.


"....(Mungkin yang dia maksud adalah Valencia)" Karina teringat dia adalah adiknya Vistor dan Victoria.


"Niira, kamu...apa tidak merasa kesepian ditempat ini?"


"Kadang-kadang, tapi aku harus tetap disini" ucap Niira.


"Kenapa?"


Karina yang mengetahui keadaan sebenarnya terjadi, kembali meneteskan air mata empatinya.


"(Hoii, kuatkan dirimu)"


"Um pasti, pasti sebentar lagi Niira akan segera bisa bertemu dengan keluarga kembali" ucap Karina sambil mengusap air matanya.


"Ah yang bener kak?" wajah Niira begitu bahagia mendengar perkataan itu.


"Iya, karena itu Niira harus tetap sabar dan terus berdoa, agar suara hati Niira tersampaikan untuk mereka"


"Iyah, tapi boleh gak Niira minta satu permintaan?" Ia memasang wajah gembira untuk Karina.


"Permintaan...Apa?"


"Boleh gak kakak temani aku bermain sebentar?"


"Ayo, main apa kita?"― Karina langsung beranjak dari ayunannya dan memasang wajah yang penuh semangat.

__ADS_1


Niira langsung berdiri dan menarik tangan kanan Karina, lalu mengajaknya berlarian menyusuri perbukitan yang penuh ladang rumput hijau.


Niira kemudian menunjukan tempat dimana ada banyak sekali pohon yang berbuah. Mereka berdua lalu memetiknya dan memakannya bersama.


Ditengah suasana riang yang penuh canda tawa itu, Karina tidak ingin mengulik atau meminta Niira untuk menceritakan tentang kehidupannya. Karena ia mengetahui betapa menderitanya kehidupan Niira yang sebenarnya.


Niira lalu mengajak Karina kembali ke sebuah tempat dimana ada sebuah sungai yang mengalir tenang dan sangat bersih, bahkan sampai kelihatan dasarnya yang dangkal.


Mereka berdua pun mandi berbasah-basahan disana. Setelah itu mereka berbaring dibawah sinar matahari untuk mengeringkan badan dan pakaian basah yang mereka pakai.


Cahaya mataharinya sangat cerah, tetapi itu adalah sinar cahaya yang memberikan kehangatan.


Karina kemudian mengangkat tangan kanannya ke atas untuk menutupi cahaya yang menyilaukan di matanya. Dan ia menyadari, jika kesempatan waktu yang diberikan untuknya akan segera habis.


Menyadari itu Ia kemudian berdiri.


"Eng, ada apa kak?"


"Niira...Aku.." Tubuh Karina mulai terurai menjadi partikel cahaya biru secara perlahan.


Niira yang menyaksikan itu kaget dan langsung bangkit dari posisi tidurnya.


"Kakak...cahaya itu kan..." ucap Niira yang seperti mengetahui sesuatu.


Karina langsung memeluk Niira dengan sangat erat.


"Niira, apapun yang terjadi, kamu jangan menyerah, aku berjanji, akan mempertemukan mu dengan kakak" Air mata Karina tumpah ruah menangis sesenggukan.


"Iyah...Niira akan selalu menunggu kakak disini. kakak juga harus semangat, jangan pernah menyerah...." Niira pun mendekap Karina.


Tubuh Karina kemudian tertarik mundur, dan melepaskan pelukannya terhadap Niira.


Ia perlahan-lahan semakin jauh meninggalkan Niira.


"Niiraaa!! Aku...aku pasti akan...membawa kakakmu kesini" Karina berteriak dari kejauahan.


"Um, Terimakasih Kak Karina" ucap Niira mengangguk, dan memberikan lambaian tangan selamat tinggal.


Disaat terakhir karina melihat Niira meneteskan air matanya. Dan cahaya putih yang sangat terang mulai datang memisahkan jarak mereka berdua. Memisahkan mereka berdua dari takdir ruang dan waktu.


"Niira"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2