Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 19.8 : "Virtual Cortex Corrupted!"


__ADS_3

Sosok gadis kecil disana membuat amarah kebencian yang terbakar didalam hati Miira meredam, ia pun turun kebawah sembari kembali berubah ke wujudnya yang normal dengan dasternya yang warna putih.


Anak perempuan itu tingginya kira-kira 110 cm, dengan rambut yang panjang sepinggang dan bewarna hitam. Ia masih menangis menutupi kedua wajahnya dengan kedua tangannya.


Miira melangkah mendekatinya. Ia coba untuk menegur gadis kecil itu, namun entah kenapa hatinya cukup berat hanya sekedar untuk menyapanya saja. Miira coba memandanginya dengan seksama. Dalam benaknya, sekilas adik kecil itu mirip Niira adik perempuannya.


"Niira...? " tegurnya untuk memastikan.


Adik kecil itu terdiam, lalu tertunduk menyembunyikan wajahnya. Ia kemudian berpaling dan melangkah menjauhi Miira.


"Dek.. Ini kakak"


Tangan Miira mencoba meraih pundaknya, akan tetapi ia hanya menyentuh bayangannya yang tertinggal. gadis kecil itu sudah jauh berada didepan. Hal itu membuat Miira penasaran dan memutuskan untuk terus mengikutinya dengan terbang melayang diatas jalan.


Setiap Miira hampir mendekatinya, gadis kecil itu tiba-tiba sudah berada jauh ditempat lain dan meninggalkan siluet bayangannya dihadapan Miira. Ia kemudian lanjut mengikutinya sampai akhirnya ke tempat dua gedung yang sangat besar.


Gadis kecil itu sudah berdiri didepan pintu bangunan tersebut. Karina yang sedang ada didalam tubuh Miira teringat sesuatu dengan pemandangan sekitarnya, itu adalah tempat dimana mereka memulai objek experimen.


Miira berdiri tercengang dengan penampakan bangunan megah yang ada didepannya.


"Sejak kapan wanita itu membuat tempat seperti ini?"


Gadis kecil itu kemudian mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam bangunan megah tersebut. Miira yang melihat itu juga segera mengikuti jejak langkahnya.


Didalamnya persis apa yang sudah pernah dilihat Karina sebelumnya. Miira yang pertama kali melihatnya dibuat terpukau dengan desain interior yang terdapat didalamnya, sudut dan lekuk bangunannya begitu rapi dan bersih. Tanaman-tanaman hijau menghiasi diberbagai tempat. Ditengah sana ada sebuah tugu persegi yang perlapiskan plat besi perak bertuliskan Tray Cell, dan tulisan kecil dibawahnya yaitu Victoria Corporation.


Seraya melangkah mendekati tugu yang ada didepannya, Miira memperhatikan sekitarnya untuk mencari keberadaan dari si sosok gadis kecil.


Mata Miira tertuju pada nama yang tertulis disana, amarah kebencian bewarna hitam kemerahan itu mulai menyerbak seperti asap disekitar dirinya. Tanpa ia sadari tangan kanannya bergerak sendiri mencoba menyentuh tugu itu.


Residual Energi dan Energi Negatif milik Miira berbenturan, semua kejadian selama 11 tahun terputar layaknya sebuah film yang dipercepat. Miira mendongak ke atas dengan mulut yang menganga selama beberapa menit, sehingga air liurnya menetes jatuh ke atas lantai.


Air mata Miira menetes membasahi pipinya, semua yang terjadi dimasa itu tidak satupun ada hal yang baik. Miira pun akhirnya mengetahui bahwa bayi perempuannya sudah lama meninggal akibat campur tangan Victoria dalam Experimennya, begitupun adiknya Niira yang juga telah lama pergi meninggalkannya lebih dahulu.

__ADS_1


Tubuh spritual Miira mulai mengalami Glitch yang sangat hebat akibat pikirannya yang mulai rusak, kepalanya terasa ingin pecah, lubang besar yang ada dihatinya yang hampa membuatnya merasa tersiksa, karena tak tahan menerima semua kenyataan yang ia hadapi, Miira kemudian jatuh tergeletak tak berdaya seketika.


Pandangan matanya kosong dan bergelinangan air mata. Tubuh spritualnya yang mengalami Glitch mulai terurai menjadi partikel cahaya bewarna merah, dimulai dari ujung kakinya.


Disaat terakhir tubuh spiritualnya akan menghilang, dihadapan mata Miira ada seorang anak kecil yang berdiri menghadapnya. Miira berusaha ingin melihat wajah anak itu, namun dirinya sudah terlebih dahulu pergi mengilang disana.


...


- Keesokan Paginya


Semua orang dikejutkan dengan keadaan yang terjadi, darah dan mayat berceceran dimana - mana. Dihadapan rekan kerja dan para pegawainya, Victoria mengatakan kemungkinan itu adalah hasil perbuatan binatang buas. Ia kemudian memutuskan meliburkan perusahaannya selama 3 hari.


Pada saat hari menjelang sore, Victoria datang menjenguk Miira dengan ditemani dua pengawal pribadinya.


Disana terlihat penampilan Miira yang seperti orang gila, ia tertunduk dengan kedua kaki dan tangannya yang terikat rantai.


- Victoria masuk ke dalam.


"Apa kau yang sudah melakukan itu semua?" "Jawab!!?"


Victoria yang kesal reflek menendang kepala Miira hingga ia terbentur diatas lantai. Darah mengucur dikepalanya akibat benturan keras.


"Kau! Berani-beraninya kau merusak fasilitasku yang berharga!! Dasar wanita gembel miskin!!" ucapnya sambil menginjakkan kakinya dikepala Miira.


Dua pengawal pribadinya menghentikan paksa tindakan Victoria, mereka menariknya dan mengatakan bahwa darah mengalir dari kepala Miira.


"Cepat kau panggil perawat untuk mengobatinya!" ucap salah satu pengawal yang perhatian.


Namun tindakan tersebut ditentang Victoria. Ia berkata, biarkan saja Miira mati dengan cara kehabisan darah. Ia lalu keluar dan mereka pergi meninggal Miira begitu saja.


Darah tidak hanya mengalir dari kepalanya, namun air matanya yang mengalir juga bewarna merah. Di dalam sana terlihat Miira yang terbaring tak berdaya.


Alarm jam dinding yang berbunyi menandakan itu telah tengah malam. Dan dari kejauhan sebuah hawa kegelapan merambat melewati koridor menuju ruangan tempat Miira berada. Wujudnya yang yang seperti asap hitam kemerahan mnembus masuk pintu yang terbuat dari kaca tersebut.

__ADS_1


"Miira ayo kita menemui keluarga kita" ucapnya yang berdiri dibelakang Miira yang sedang terbaring.


Miira yang sudah lelah dan muak dengan kehidupan yang dialaminya tidak berniat untuk menjawab.


"Adik kita masih hidup, mereka menyembunyikannya disuatu tempat"


Miira tetap diam dan tak mau menjawab.


"Apa kau tega membiarkan adikmu terus menderita dan terus jadi percobaan mereka"


Semangat akan menolong keluarganya sudah tidak mengalir seperti setia kala, didalam kegelapan hati dan kekacauan pikirannya, ia berusaha mati-matian untuk melewati semua itu agar bisa menggapai titik cahaya putih yang berada jauh didepannya.


Cahaya itu semakin menjauh hingga tak terlihat lagi, Miira kemudian tenggelam kedalam amarah dan kebenciannya.


...


"Lepaskan rantai ini... " Rantai ditangan sebelah kanan terputus seraya ia berkata.


"Lepas!!"


"Ini juga!!"


"Lepaskan semuanya!!!" teriakan itu memutuskan rantai terakhir yang ada dikaki kanannya.


Miira bangkit berdiri, baju dasternya yang bewarna putih setengahnya sudah berubah menjadi merah karena darahnya sendiri. Dengan mata yang ditutupi rambut, Miira mengangkat wajahnya menghadap sosok yang berdiri didepannya.


Itu adalah sosok Miira yang setinggi 3 meter dengan rambutnya yang panjang dan gaun merahnya.


"Apa kau takut melihatku?!" ucapnya dengan senyuman yang melebar.


Wajah Miira yang pucat dan kotor karena air mata darah yang mengering menatap sosok itu tanpa ada rasa takut. Tangan kanannya ia kibaskan ke depan sehingga tubuh sosok itu menyerbak menjadi seperti kepulan asap yang bewarna hitam kemerahan.}


Miira keluar meninggalkan ruangan itu, dengan keadaan tangan dan kaki yang masih terborgol bersama sisa rantainya yang terputus.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2