Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 15.1 : "Tilda Family"


__ADS_3

Scene pertama yang terwujud adalah anak-anak yang sedang berlarian dihalaman, scene yang kedua seorang bibi sedang menyapu dedaunan dibawah pohon, lanjut scene yang ketiga adalah seorang kakek yang sedang duduk dirumah tempat Karina bersama dengan teman-temannya beristirahat.


"Dek jangan lari-lari nanti jatuh" ujar bibi yang sedang menyapu.


Namanya juga anak-anak baik zaman pada saat itu dan zaman sekarang tetap suka main kejar-kejaran.


Kemudian dari dalam rumah keluar seorang wanita cantik berambut halus panjang sedang membawa minuman, akan tetapi ia terlihat membungkuk. Karina lalu memperhatikan kenapa dia jalan membungkuk.


Mimik wajah Karina berubah ketika ia menyadari bahwa tumorlah yang ada dipunggung wanita tersebut. Hatinya pun terasa perih membayangkan bagaimana perasaan wanita cantik tersebut.


Tak lama seorang laki-laki datang membawa cangkul dan bakul yang berisikan ikan, mereka semua yang ada disitu menyambutnya penuh dengan senyum kebahagiaan.


"Ayah pulaaang!" dua anak kecil berlari menyambut kedatanganya.


"Wehehee anak-anak ayah udah pada mandi belum?"


Mereka lalu berkumpul dan menunjukan ia telah berhasil menangkap ikan yang sangat banyak hari ini.


Scene kemudian berganti menjadi malam hari, Karina sekarang berada didalam rumah dan berdiri diruang depan.


Rumah itu tidak banyak sekat ruangan, hanya ada pembatas dapur dan satu kamar. Disana, seorang ibu dua anak yang bernama Tilda telah selesai memasak dan menyajikannya diruang depan agar bisa makan bersama.


Suasana malam itu sangat hangat, kedua anak mereka terlihat lahap menyantap ikan hasil perburuan ayahnya. Tak lama setelahnya malam sudah semakin larut, kedua anaknya sudah tertidur pulas dengan perut yang terisi penuh.


Suaminya yang bernama Ihsan sedang berada diteras luar bersama ayahnya duduk minum kopi dan melihat indahnya bulan purnama. Saat itu sambil menahan rasa tangis Ihsan berkata pada ayahnya, jika ada yang bisa dilakukan demi menyembuhkan istrinya maka akan ia lakukan.


Dari dalam kamar terdengar suara istrinya yang bernama Tilda mencoba menahan rasa sakit dari penyakit tumornya. Ibu mertuanya tidak bisa berbuat apa-apa selain mencoba mentabahkannya.


Hati Karina tak sanggup melihat penderitaan keluarga itu ia kemudian mencoba pergi meninggalkannya, tetapi bersamaan dengan satu langkahnya scene pun ikut berubah.


Cuaca siang hari sangat terik dan dari kejauhan terlihat kepulan asap dari beberapa mobil yang mendatangi kediaman ibu Tilda.


Lima orang turun dari mobil bersama dengan satu wanita bule dengan jas bewarna putih dan memakai kacamata. Dari samping kiri terlihat seseorang juga ikut turun yang ternyata suami dari ibu Tilda, ia terlihat berlari ke arah keluarganya yang sedang berkumpul dipelataran rumah dengan ekspresi wajah yang penuh harapan.


Sementara orang-orang elit itu terlihat sedang menunggu didekat mobilnya.


"Ibu-ibu! " ucapnya Ihsan yang mendatangi istrinya.

__ADS_1


Dia berkata orang-orang itu adalah utusan dari pemerintah untuk menolong warga-warga miskin yang tidak mampu mengobati penyakitnya. Sambil memandangi mereka, Tilda ada sedikit ada keraguan dibenak pikirannya, namun ia tidak ingin menghianati kebahagian yang baru saja dirasakan oleh suaminya. Karena itu ia pun memasang ekspresi kebahagiaan yang sama.


Karina merasa tidak asing dengan mereka yang terlihat berpakaian setelan jas bewarna hitam, terutama Wanita bule yang berambut putih itu.


Tak lama setelah itu, Ihsan dan istrinya pamit kepada kedua orang tuanya. Ia meminta tolong kepada orang tuanya untuk menitip kedua anaknya sebentar saja.


Karina yang curiga mencoba berinteraksi kepada meraka, namun keberadaanya tidak ada yang menanggapi. Tidak ingin menyerah begitu saja, Karina kini berlari mendahului mereka dan menghalangi dengan membentangkan kedua tangan. Akan tetapi Tilda dan Ihsan berjalan menembusnya.


Disaat mereka berselisihan Stuttering Whisper Karina memberikan frekuensi dari suara hati sang istri. Ia sebenarnya berat ingin mempercayai orang-orang itu, akan tetapi jika ia menolak sama saja dengan menghianati suaminya.


"Tunggu!" ucap Karina mencoba meraih pundak Tilda dari belakang.


Saat itu juga scene langsung berganti disebuah tempat yang belum pernah Karina datangi sebelumnya.


Dia diberdirikan tepat diluar bangunan besar dengan jembatan penghubung ditengahnya. Kemudian datanglah mobil rombongan yang membawa Tilda dan Ihsan berhenti di depan lobby penjemputan. Karina yang masih berada diluar berlari ke dalam mengikuti mereka.


Karina terpukau dengan ruangan didalam yang begitu megah, benar-benar tidak menggambarkan keadaan pada tahun abad ke 19. Banyak orang-orang yang memakai jas putih dan memakai masker berlalu lalang sibuk dengan pekerjaannya.


"Sejak kapan orang-orang asing ini membangun tempat megah seperti ini?"


Di sela banyaknya orang yang berkesibukan, Karina yang sempat terpana akan keindahan tempat tersebut hampir saja kehilangan jejak langkah Tilda dan Ihsan. Terlihat mereka berdua dibawa masuk melewati koridor obeservation.


Tilda memegang tangan suaminya, dirinya sangat merasa ketakutan. Namun suaminya mencoba menguatkannya dan berkata semua ini demi untuk kesembuhan dirinya.


...


Akhirnya mereka semua sampai setelah melewati koridor yang cukup panjang, diatas pintu ujung ruangan tertulis Emergence.


Tilda istrinya akan segera dibawa masuk kedalam ruangan tersebut, suaminya Ihsan memberi sebuah dukungan dengan mencium tangan kanan istrinya. Pada saat ia akan masuk ruang operasi Tilda melihat suaminya memberikan sebuah senyuman harapan. Dia pun berharap semua akan baik-baik saja.


Pintu sudah tertutup bersamaan dengan menyalanya lampu operasi bewarna merah yang artinya operasi itu telah dimulai. Sedangkan suaminya Ihsan harus bersabar menunggu di ruang koridor selama 4 jam operasi itu berlangsung.


Karina yang terlalu fokus dengan pasangan suami istri tersebut, akhirnya ia sadar bahwa telah kehilangan jejak wanita bule yang berjas putih.


"Aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana?".


...

__ADS_1


Scene berganti ke 4 jam kemudian, lampu Emergence sudah padam yang artinya operasi telah selesai. Ihsan bangkit dari duduknya dengan ekspresi penuh kecemasan diwajahnya. Tak lama Dokter bedah itu keluar.


"Bagaimana keadaan istri saya Dok?"


Dokter itu terlihat mengehela nafas sebentar lalu membuka maskernya. Ia berkata sebenarnya penyakit ibu Tilda bukan hanya tumor saja, ia selama ini juga menderita alergi kulit karena banyak mengkonsumsi jenis hewan yang hidup di air maupun rawa. Akibatnya parasit juga ikut berkembang didalam tumornya.


Dokter juga menjelaskan umur Ibu Tilda tidak akan lama, karena keberadaan parasit itu memperparah tumornya, sehingga ia dengan berat hati mengatakan operasi ini telah gagal.


Dan Ibu Tilda telah meninggal dunia...


Mendengar itu Ihsan kelihatan shock berat, ia terdiam dan kebingungan. Jika itu benar kenapa selama ini istrinya diam saja, padahal selama ini istrinya selalu terlihat senyum bahagia bersamanya.


aaAAAAAAAAAA!!!


Ihsan mulai hilang akal, ia terus terbayang senyum istrinya! ia berteriak seperti orang gila. Dokter itu mencoba menenangkannya, namun Ihsan yang sudah terlanjur hilang kendali mengamuk dan memukuli Dokter tersebut sambil meneriaki atas kegagalan yang ia lakukan!!


Karina pun terlihat terpukul mendengar kenyataan itu, ia yang tahu isi hati bagaimana rasa cinta kesetiaan seorang istri sampai tidak ingin menyakiti hati suaminya.


Didalam kamera pengawas terlihat Ihsan mengamuk yang beberapa selang menit kemudian terlihat lima orang dan securty datang mengamankannya.


Lima orang itu dipimpin oleh wanita bule yang berjas putih dan memakai kacamata, Ihsan memandanginya dengan ratapan kebencian.


"Kau bilang istriku bisa disembuhkan, dasar wanita penipu!!!"


"Monyet ini bicara apa?" ucapnya kepada pengawal yang bisa mengerti bahasa penduduk lokal.


Pengawal itu lalu menerjemahkannya, kemudian wanita berjas putih itu menyampaikan pesan untuk disampaikan pada Ihsan.


"Semua sudah tertulis diatas perjanjian, anda tidak bisa menuntut kami." jelas Pengawal.


Ihsan yang merasa hancur hidupnya, sudah tidak lagi mementingkan apa yang terjadi pada dirinya. Oleh karena itu dia dengan berani meludahi wajah wanita bule berjas putih tersebut.


Wanita bule itu malah tersenyum, dan berkata.


"Bawa dia ke laboratorium beserta semua sisa keluarganya, jadikan meraka bahan percobaan!" ucapnya dengan senyuman jahat.


Ihsan kemudian diamankan dengan kedua tangan yang terbogol, pada saat ingin dibawa ia terus berontak dan memakai-maki semua orang yang ada disitu.

__ADS_1


Setelah semuanya beranjak pergi, barulah Karina mengetahui siapa identitas dari Wanita Bule berjas putih dengan kacamatanya. Dia adalah-


"Kau Victoria C.B!?" ucap Karina yang tercengang setelah melihat Name Tag di dada sebelah kiri Jas putihnya.


__ADS_2