Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 20.3 : "The World Of Blood!"


__ADS_3

Karina yang sudah berusaha keras menggoyangkan kaki kanannya agar dapat lepas dari cengkraman sosok Fantasma tersebut, belum terlihat ada kesempatan untuk melarikan diri. Sedangkan Sosok Miira sudah berada di baris ke tiga.


Dalam perasaan yang campur aduk, ia mendapatkan satu buah cara agar bisa melepaskan cengkraman itu.


"Tapi, jika aku mengeluarkan Energiku disini. Miira akan langsung menyadari keberadaanku!!" pikirnya.


Sosok Miira hanya perlu melewati 4 buah Stretcher. Bahkan sebelum itu tubuh Karina akan segera terlihat terlebih dahulu olehnya.


Keadaan sangat mendesak pilihan Karina, dalam kurun waktu berapa detik dia akan segera menghadapi kematian. Oleh karena itu pilihannya hanya ada satu cara, mau tidak mau ia harus melakukannya.


Karina berkonsentrasi memusatkan Energi Birunya pada kaki kanannya yang sedang dicengkram. Dalam satu hentakan nafas ia melepaskan energi tersebut secara spontan.


BWUSHH!!!


Api biru muncul mendadak dan langsung membakar tangan kiri dari sosok Fantasma yang mencengkram kaki kanan Karina.


KHIAAAKSS !!! Fantasma itu berteriak kesakitan dan terbakar sampai menjadi debu.


"Karinaa!!.. Disitu kamu rupanya!!"


Cahaya mata merah dari kepala Miira yang sedang ditentengnya memperlihatkan Karina yang sedang terduduk diatas genangan air darah.


Sosok Miira yang jangkung dan sambil menenteng kepalanya sendiri itu memutarkan langkah kakinya dan berjalan menuju ke arah Karina.


Karina pun tidak tinggal diam, ia langsung bangkit berdiri dengan keadaan seragam oka birunya yang sudah terlihat kotor penuh dengan bercak darah.


Sosoknya yang jangkung hampir setinggi tiga meter, membuat langkahnya sangat cepat mendekati Karina. Akan tetapi disaat ia hampir mendekati, Karina tanpa sengaja mengarahkan cahaya senternya ke arah kepala Miira.


"Aaaaakhh... Silauu.. Panaass.. "


Berkat cahaya itu, Karina membuat kesempatan untuk dirinya agar dapat meninggalkan ruangan penuh darah tersebut. Ia kemudian berjalan cepat ke arah dua pintu kaca dan lekas membukanya, lalu berlari melewati koridor yang ternyata lantainya juga penuh dengan genangan darah.


Dirinya mendapati keanehan, sejak kapan diruangan Laboratorium B ada sebuah koridor. Sedangkan ia sudah ke tempat itu bersama dengan teman-temannya sebelumnya.


Jelas itu sangat aneh, dari koridor ia ketemu dengan koridor yang lainnya. Sudah kondisinya gelap, lantai penuh darah, ditambah lagi ia sedang diteror oleh Sosok Miira yang terus memanggil-manggil namanya dan terdengar menggema disetiap koridor.

__ADS_1


"Karina... Mau kemana kamu dek...Sini sama kakak "


Karina terhenti dari larinya karena mendapati dua buah cabang koridor. Ia pun memutuskan memilih arah jalan yang ke kiri.


"Kakak penasaran... Kenapa matamu seperti adikku Niira... Apakah kamu keturunannya... Sinii, kakak...ahhh..rinduu sekalii.."


Suaranya yang menggema setiap berucap, membuat konsentrasi Karina yang terus coba mencari arah jalan keluar yang benar menjadi terganggu. Ia terus berlari didalam koridor bersama cahaya senternya.


"Yang benar saja.. Huhh.. Huhh.. Mana jalan keluarnya.."


Sudah berapa koridor ia lewati namun belum juga mendapat sebuah pintu keluar. Oleh karena itu, Karina mencoba mengambil jalan pintas dengan cara melewati menembus dinding menggunakan kemampuan Sleeping Ghost miliknya.


Namun sangat disayangkan, tekanan Energi Negatif didunia itu jauh lebih kuat sehingga mampu menahan kemampuannya tersebut.


"Sepertinya aku tidak dapat menggunakan beberapa kemampuan yang kumiliki, haah―hahh.. !"


Karina bersandar pada dinding koridor untuk melepas rasa lelahnya. Ia juga masih mendengar suara rantai dari langkah kaki Miira yang terus mengulangi perkataan yang sama.


Ia ingin mencoba sesuatu yang belum pernah dilakukannya. Dia menundukan kepala seraya memicingkan matanya, lalu fokus pada gambaran ruangan Virtual Cortex tempat dimana Karina yang lain berada.


Sebuah pesan telepati yang coba ia kirimkan pada dirinya sendiri yang berada sangat jauh melebihi alam bawah sadarnya.


...


Ia kemudian membuka mata berharap ada tanda-tanda sebuah kemajuan dari jalannya yang buntu. Karena merasa tidak ada perubahan yang terjadi, Karina bermaksud melanjutkan langkah pelariannya. Namun baru mendapatkan dua langkah, tiba-tiba gerakan tubuhnya seperti dihentikan oleh sesuatu.


Pupila mata Karina yang bewarna biru menyala bersama ekspresi wajahnya yang terlihat tegang yang kemudian tertunduk ke bawah.


"Ahahahaha... Karina-karina, lucu sekali rasanya mendengar diri sendiri meminta tolong pada dirimu sendiri.. "


Dia adalah Gamma-Karina dengan sifat arogan, serius, dan selalu percaya diri yang sedang mengambil alih fungsi otak Neuron.


"BANGSATT!! DIMANA KAMU KARINAAA!!! GHUHHUHH!!


Sosok Miira geram dan marah sambil memukul-mukul dinding koridor dengan bilah besinya.

__ADS_1


"Dasar Iblis sinting!" ucap Gamma-Karina yang sedang mengintip dari simpang koridor.


Gamma-Karina kemudian melanjutkan apa yang sedang dicari oleh Karina. Dengan kedua mata yang menyala ia mampu melihat cahaya garis biru yang terus bergerak cepat secara berulang seperti menunjukan kemana arah jalan yang benar.


"Itu dia.. "


Ia kemudian beranjak dari sana dan mulai mengikutinya, satu sampai tujuh belokan koridor ia lalui dan akhirnya sampai mengantarkannya kepada jalan yang buntu.


Mendapati hal tersebut sama sekali tidak mengubah mimik wajah dari Gamma-Karina, ia malahan sangat yakin jika disitulah jalan keluarnya. Tanpa ada rasa ragu dirinya melangkahkan kaki kesana.


Dan benar saja, dinding yang terlihat buntu ternyata hanya sebuah ilusi mata semata. Tubuh Gamma-Karina berjalan menembusnya dan mengantarkannya ke luar dari kamar sebelumnya.


Sekarang ia berdiri diruangan belakang Lab B, jika dilihat ke kanan itu adalah arah menuju tempat dimana Pak Daniel tewas.


"Tempat apa ini.. Semuanya berdarah-darah, menjijikan!"


Tepat seperti apa yang dikatakan oleh Gamma-Karina, disegala penjuru terdapat darah yang terus mengalir seakan tak ada habisnya.


"Dunianya masih sama, namun kelihatannya dalam dimensi yang berbeda. Ini lebih terlihat seperti luapan tragedi pada masa itu." ucapnya sambil melangkah ke arah pintu keluar.


".. Apa-apaan Dunia ini... "


Gamma-Karina dibuat tercengang oleh pemandangan yang ada diluar. Dimana langit benar-benar sangat redup juga sedang gerimis hujan darah, dan dibeberapa tempat terlihat ada pilar kegelapan yang menjulang tinggi ke atas langit.


Tangan kanan Gamma-Karina meminta maka terbentuklah sebuah payung bewarna biru yang kemudian ia gunakan dan lanjut melangkah turun ke permukaan tanah yang terdapat genangan air darah.


Mata Gamma-Karina fokus tajam memandangi sekitarnya. Ia melihat bahkan tumbuhan ilalang pun sampai bewarna merah, dan dalam barisan tiap tiang listrik yang berjajar terdapat lendir yang bewarna hitam menyelimuti setiap kabel-kabelnya.


Gamma-Karina kemudian melanjutkan langkah kakinya diatas permukaan jalanan yang beraspal. Ia berniat kembali ke rumah persembunyian dimana teman-temannya berada.


Disaat sudah jauh berjalan Gamma-Karina mendengar teriak amukan dari Sosok Miira yang masih tertinggal di Lab B. Ia pun mencoba berpaling untuk melihat kebelakang.


Ternyata dua Lab tersebut diselimuti oleh lendir-lendir hitam serta aura kegelapan seperti badai angin yang terus berputar mengitarinya.


Ia kembali berpaling dan melanjutkan perjalanannya ditengah gerimis hujan darah sendirian.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2