Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 22.9 : "Transcendent"


__ADS_3

Suara tembakan itu membuat Karina Suci tersentak bangun dari tidur panjangnya.


Kepalanya sedikit terasa berat ketika mencoba untuk bangun dari tidurnya, pandangan matanya sedikit buram, yang ada dihadapannya hanya dunia yang bewarna putih.


"Ah, aku sudah kembali..." ucapnya yang terasa berat untuk bangun.


Karina Suci terbaring membentangkan tangannya di ruangan yang bewarna putih itu. Ia ingin menenangkan dirinya sambil menunggu keadaan tubuhnya kembali stabil.


"Ironi ya..."


"(Dengan begini kau sudah tahu, dari mana kelebihan mu itu berasal)"


"Kirana, anak gadis itu adalah leluhur ku. Dan di dalam darah ini, mengalir DNA Niira. Jadi semua ini benar-benar ikatan takdir..."


"(Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?")


"(Apa kau masih tetap yakin Niira masih ada di sana?)"


"Ya, aku yakin Niira berada disana. Tapi sebelum itu aku harus memastikan keadaan teman-teman yang berada di dunia nyata"


Kondisi tubuh Karina sudah mulai stabil, ia kini bisa bangkit dari posisi tidurnya dan berdiri dengan seimbang. Karina membenarkan seragam Oka-nya yang terlihat kusut. Ia kemudian berpaling ke belakang dan melihat ada dua pintu yang menunggu disana.


Tidak ada perubahan sama sekali pada pintu miliknya maupun Miira.


"Kenapa pintu Miira masih ada disini?"― untuk memastikan Karina mencoba untuk membukanya, namun pintu itu tidak dapat terbuka.


"(Apa kau lupa saat ini berada di dunia siapa?")


"Ah benar juga, ruangan ini milik dia."


Karina kemudian melangkah ke pintu miliknya yang ada di sebelah kiri. Ia lalu membukanya dan menghilang di dalam cahaya putih terang. Pintu miliknya pun terurai menjadi partikel biru setelah ia menutup pintu itu.


...


Karina terbangun membuka mata. Lagi-lagi pandangan matanya kembali buram. Ia juga merasa sangat pengap di dalam ruangan yang tertutup. Matanya melirik ke kanan dan ke kiri, dan tidak ada siapa-siapa disana.


Ingin mencoba bangkit berdiri, namun badannya sangat lemas sekali. Di luar terdengar suara burung-burung berkicau.


"(Kemana perginya mereka..?)" ucapnya yang sedang terbaring lemas.


Tiba-tiba tiga orang wanita berbaju putih masuk menembus dinding dan berdiri di hadapan Karina.


"Eh dia sudah sadar"


"Oh iya, benar"


"Syukurlah dia masih hidup"

__ADS_1


"(Yang benar saja, masa siang-siang gini ada kuntilanak) Siapa kalian?" tanya Karina dengan penglihatannya sedikit kabur.


"Kami bertiga kebetulan main kesini"


"Iya, waktu kami datang kesini tanpa sengaja melihat kamu lagi tidur. Tapi kok ga bangung-bangun, kami jadi kebingungan. Kamu tidur atau mati"


"Ohh, apa kalian tahu berapa lama aku tertidur?" Karina.


"Berapa lama dia tidur?"


"5, 6, enam hari. Kamu tidur selama enam hari"


"(Haahh??? enam hari?)" Karina terkejut mendengar itu, ia pun langsung berusaha keras agar bisa bangkit dari posisi tidurnya.


"(Ahhh...kepalaku sakit.") ucapnya yang sedang duduk bersandar di dinding.


"Kamu siapa, kenapa tidur disini sendirian?"


"...Aku tidak sendirian, aku bersama lima orang temanku. Apa kalian ada melihatnya?"


Tiga kunti yang sedang mengambang itu saling memandangi satu sama lain. Mereka mengatakan hanya melihat satu orang yang tertidur pada saat datang ke tempat ini.


"Jangan coba berbohong kalian di depanku," Dua pupil mata Karina yang bewarna biru terlihat menyala dalam ruangan gelap saat melirik mereka bertiga.


"Benar kami tidak bohong, disini cuman ada kamu sendirian yang lagi tertidur"


GREK! 2x Suara gagang pintu yang terkunci.


"Terkunci?― (Kemungkinan telah terjadi sesuatu, sampai harus mengunci mu dari luar)"


"(Tapi kenapa Winda dan Cindy tidak berada di dalam bersama kita?")


"(Mereka bilang saat datang kesini teman-teman kita sudah tidak ada, tunggu!! Kita sebelumnya sudah memasang dinding energi pelindung pada gedung ini, seharusnya para wanita kunti itu tidak bisa masuk, itu artinya energi pelindung kita telah dihancurkan oleh seseorang)"


"(Seseorang? Siapa?)"


"(Sudah pasti orang yang memiliki kekuatan yang sama denganmu, itu tidak bisa dilihat oleh manusia biasa)"


"(Apa kita tidak bisa, melacak energi dari teman kita seperti waktu itu?"


"(Tentu saja bisa. Kau harus ingat, kau bisa menggunakan semua kekuatan itu hanya pada saat kau sedang tertidur saja. Di dunia nyata, kau hanyalah seorang gadis yang sedikit memiliki kelebihan)"


"(Dua dunia ini mempunyai hukumnya masing-masing, jadi kau jangan sampai bertindak sembrono!")


Karina kembali berjalan untuk tertidur kembali. Ia mengambil tas ransel milik teman-temannya untuk di jadikan bantalan. Setelah itu dia lanjut berbaring, matanya yang menyala kini telah padam.


"Aku tidak bermaksud ingin menakuti kalian, tapi sebaiknya kalian pergi dari sini. Terima kasih karena sudah menjagaku. Aku ingin tidur lagi" Karina memejamkan matanya.

__ADS_1


Tiga kunti itu keheranan mendengar gadis itu berkata ingin tidur lagi. Tak lama mereka pun pergi meninggalkan Karina dari dalam ruangan itu.


Meskipun sudah lebih satu minggu, anehnya tubuh Karina tidak merasa kelaparan. Ia mencoba fokus pada satu titik yang ia lihat pada saat memejamkan matanya.


Semakin lama titik itu semakin membesar sampai sinar cahayanya membuat kedua mata Karina terasa menyilaukan.


...


Karina berada di luar ruangan dimana dia berada. Di atas lantai banyak sekali buku-buku berantakan, dan juga selongsong peluru dan kotaknya yang berhamburan.


"Aku harap teman-teman baik-baik saja, Windaa dimana kamu.." ― Mata Karina kembali menyala.


Dan yang berada di dalam pikirannya saat ini adalah, Beta-Karina. Dua tangannya yang membentang membuka telapak tangannya. Dia fokus memejamkan matanya sebentar, lalu membukanya kembali. Tangannya yang menarik ke atas mulai mengeluarkan Residual Energi yang tertinggal di dalam ruangan itu.


Ada enam bentuk Residual Energi dengan warna yang berbeda, dan mereka terlihat seperti benang partikel yang mengarah pada suatu tempat.


"(Partikel merah, milik siapa itu?)"


"Dialah orang yang sudah mencelakai teman-teman kita"


"(Apa maksudmu mencelakai? dimana teman-teman kita berada. Aku harus cepat menyelamatkan Winda!)"


"Tenangkan dirimu Karina, lihat benang-benang partikel ini. Dari enam benang ini hanya ada dua yang masih kelihatan terang. Yaitu milik Winda dan si pemilik partikel merah"


"(Tidak, tidak mungkin...ayoo, sekarang kita ikuti benang itu untuk menyelamatkan mereka)"


"Apa kau yakin ingin tetap melihat keadaan mereka? Mengingat kau yang sudah tertidur selama enam hari lebih, apa kau pikir mereka masih baik-baik saja?"


"(Tidak...tidak mungkin, aku sudah berjanji akan menyelamatkan mereka semua dari sini. Kau jangan banyak bicara, ayo sekarang kita cepat PERGIII!!!")


"Baiklah, tapi sebelum itu kita harus memasang Energi Pelindung ditempat ini, agar tidak ada siapapun yang dapat memasukinya"


Beta-Karina terbang ke atas menembus keluar sampai berada di atas gedung itu.


Pemandangan di luar sudah terlihat normal kembali. Cahaya sinar matahari menyinari alam yang terbentang disana. Gedung-gedung fasilitas itu sudah nampak jelas dari kejauhan.


Dirinya kemudian pergi ke setiap sudut untuk menancapkan sebuah tombak energi yang bewarna biru terang. yang tak lama kemudian dinding pelindung itu terbentuk sendiri secara automatis.


"Siapa dulu yang ingin kau lihat kematiannya?


"(Diam kau jangan banyak bicara! Ayo cepat pergi!)"


"Baiklah, kalau begitu mari kita mulai dari orang pertama yang memiliki perasaannya kepadamu, Ragil"


Beta-Karina menggenggam benang partikel yang bewarna brown itu, tubuhnya pun langsung tertarik seketika dan melesat di dalamnya menuju keberadaan orang tersebut.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2