
"Valencia".. "Valencia".. Valencia!!"
Semua orang sedang meneriaki nama adik Vistor yang hilang tanpa jejak. Vistor terlihat sedih duduk menangis disebelahnya Miira dan Ibunya. Mereka berdua memberikan nasehat agar jangan menyerah dan terus berdoa.
...
"Kamu orang jerman juga ya?" ucap Valencia dalam bahasa jerman.
"Bukan, aku orang lokal sini" jawab Niira dalam bahasa lokal.
"Eh? Kok aku bisa mengerti bahasa kamu, perasaan tadi-" Valencia kebingungan.
"Kamu masih anak-anak, tidak akan mengerti" ucap Niira berjalan mendekati ayunan.
"Kamu juga anak-anak" Valencia mengikutinya.
Mereka berdua kemudian bermain ayunan sambil bercerita satu sama lain tentang keseharian dalam kehidupannya.
"Kenapa kamu sendiri dirumah besar itu, apa kamu tidak merasa kesepian?" tanya Niira.
"Kadang-kadang... Tapi kalau selama ada kakak Vistor, aku tidak akan pernah merasa kesepian" jawabnya.
"Terus, kamu ngapain ditempat ini? Keluarga kamu dimana?" imbuhnya.
"Ada, aku kesini cuman ingin main ayunan"
"Apakah kita bisa menjadi teman? Kalau bisa aku nanti ingin bermain ke rumahmu" ucap Valencia sambil mengayunkan kakinya diatas ayunan yang berayun.
__ADS_1
"Jangan, rumahku jauh. Nanti kamu tersesat, biar aku saja yang main ke rumahmu"
Valencia yang memandangi Niira tiba-tiba terdiam dan menghentikan ayunannya.
"Badanmu kenapa?!" ucapnya polos.
"Owh, ini tandanya aku lapar... Aku mau pulang dulu. Kamu juga harus pulang, mereka dari tadi memanggil namamu. Lihat kak Vistor menangis disana" Niira melompat dari ayunannya lalu menunjuk ke arah depan.
Valencia menoleh ke depan dan benar ia melihat Vistor sedang menangis. Dan ketika ia menoleh lagi ke kiri, Niira sudah tidak ada. Dirinya yang masih polos tidak ada merasakan kejanggalan dan rasa takut. Ia pun melepaskan ayunannya dan pergi ke cahaya didepan yang memvisualisasikan Vistor yang sedang menangis.
...
Valencia muncul entah dari mana dan langsung memeluk Vistor. Ia pun langsung meminta maaf karena pergi secara diam-diam saat mengikuti seekor kupu-kupu dengan corak biru bercahaya.
Tanpa mendengarkan alasan, Vistor langsung memeluk adiknya dan meminta maaf karena tidak bisa menjaganya. Walaupun hanya beberapa menit, ia begitu menyesal atas kelalaiannya. Semua orang disana juga turut merasakan kebahagiaan atas kembalinya Nona Valencia. Setelah itu Vistor melakukan sebuah pidato penutupan acara. Ia sangat berterima kasih dengan semua warga desa yang selalu ringan tangan untuk membantunya.
Semua memberikan tepuk tangan yang meriah kepada Vistor setelah mengantarkan pidato penutup acara tersebut. Kemudian satu-persatu dari warga desa kembali pulang ke rumahnya, begitu pun dengan Miira dan Ibunya.
Vistor dan adiknya berikut dengan empat pengawalnya, masuk kedalam mobil dan meninggalkan tempat itu.
Sesampainya di Villa, Victoria sudah menunggu dengan ekspresi kesal dan amarah yang meluap-luap. Ketika Valencia turun dari mobil yang sudah berhenti, ia lekas menyuruh maid untuk merawat adikknya yang telah terkontaminasi dengan orang-orang lokal. Vistor turun, namun wajahnya tidak ada ekspresi seakan tidak memperdulikan yang akan dihadapinya.
Setelah ia menaiki anak tangga untuk sampai ke teras depan Villa, tinjuan maut Victoria langsung mendarat diperutnya beberapa kali. Dia sangat kesal dengan Vistor yang sudah membawa Valencia keluar rumah. Ditambah lagi, Vistor telah mencium tangan orang kampung yang seorang rakyat jelata. Dirinya pun menjadi samsak yang terus dihujani pukulan dan tendangan.
Anehnya Vistor tidak merasakan rasa sakit, ia tidak memperdulikan semua itu. Tak lama Victoria telah merasa puas menghajarnya lalu meninggalkan Vistor dengan penuh luka memar dan hidung berdarah. Para maid mendatanginya dan meminta pengawal laki-laki untuk membawanya ke kamar agar segera dirawat oleh mereka.
...
__ADS_1
Keesokan harinya badan Vistor terasa sakit semua, tetapi dia harus tetap bangkit karena ini hari pertama untuk mengajar disekolah itu. Ia tidak ingin mengecewakan para warga desa, terutama Miira.
Ketika hendak keluar dari pintu, Victoria menegurnya agar tidak melakukan hal semacam itu lagi, apalagi sampai membawa Valencia bermain keluar. Vistor meminta maaf, ia kemudian pergi meninggalkan Victoria begitu saja.
Sesampainya disekolahan, ia melihat banyak orang yang sudah menunggu. Baik itu anak-anak, remaja, maupun orang dewasa. Sehingga semua ditempatkan pada ketentuan umurnya masing-masing.
Vistor mengajar di kelas bagian remaja, tentu saja dia memilih itu karena disana ada Miira. Dengan badan penuh luka dan rasa sakit di seluruh tubuhnya, ia tetap mengajari mereka. Wajahnya yang riang dan penuh senyuman berusaha menutupi semua itu.
Hari ini kelas berjalan dengan sangat baik, semua orang terlihat bahagia dan mengucapkan terimakasih kepada Vistor dan guru-guru yang lain.
Keseharian ini terus terulang tanpa ada hambatan atau pertentangan dari Victoria. Hati Vistor yang sudah sangat lama memendam perasaan cintanya terhadap Miira sudah mencapai batasnya.
Tepatnya, setelah satu tahun lewat dua bulan. Vistor ingin menyatakan cintanya kepada Miira sekaligus akan melamarnya, jika semua berjalan sesuai dengan rencananya.
Ia datang ke tempat desa Miira tinggal, dan seperti biasa semua orang disana menyambut kedatangan Vistor dengan hangat. Ditengah keramaian ia langsung berterus terang dan menyatakan perasaannya kepada Miira.
Miira yang ternyata selama ini juga telah memendam rasa kepada Vistor, dengan wajah yang tersipu malu ia menjawab dengan menganggukan kepalanya. Hati Vistor pun semakin berbunga-bunga, ia langsung mengambil sebuah kotak cincin yang ada di saku jas kanannya, lalu mempersembahkan cincin itu dihadapan Miira, mengatakan bahwa ia ingin menikahinya. Semua orang semakin berteriak tidak karuan untuk menyemangati Vistor atas keberaninnya.
Lamaran itu diterima Miira dan Ibunya, meskipun awalnya mereka sempat ragu dan takut namun Vistor meyakinkan mereka, bahwa ia sudah meminta izin kepa da ayahnya. Ia mengatakan ayahnya sangat mensetujui keputusan Vistor.
Hari itu berakhir dengan perasaan bahagia di kedua belah pihak, mereka berdua memutuskan tanggal untuk segera menikah. tepatnya pada bulan depan dihari minggu.
...
Sesampainya dirumah, Vistor disambut adiknya Valencia. Dan tidak biasanya. disana Victoria yang sudah menunggu kepulangannya, memberikan ucapan selamat atas keberhasilan melamar seorang gadis desa. Vistor pun sangat kaget mendengar itu dari mulut Victoria yang ada didepannya. Ia mencoba mendekatinya untuk meyakinkan perkataan itu.
Tinjuan maut pun kembali mendarat di perut Vistor. Victoria mengatakan untuk jangan salah mengira, ia mensetujui itu karena dengan begini dirinya bisa memiliki kekuasaan sepenuhnya tanpa harus campur tangan dari Vistor. Valencia yang melihat Vistor dihajar didepannya, langsung memarahi Victoria. Dirinya pun bersimpuh dengan kedua lutut dan meminta maaf kepada Valencia dengan mencium tangannya, kedua pipinya, lalu keningnya, agar Valencia tidak tertular penyakit bodoh dari kakaknya Vistor.
__ADS_1
Hari demi hari berlalu, dan waktu pernikahan itu akan segera datang. Tepatnya di hari minggu besok acara itu akan dilakukan. Ayahnya Vistor yang bernama Veitch Carlen Baren menutup usianya di umur 68 tahun, dan dinyatakan telah meninggal dunia.
Bersambung...