
Apakah tidak ada yang lain didalamnya? Sandi pun mencoba membuka pintu lemari bagian sebelahnya ternyata disana ada sebuah sabuk, 1 buah pistol dan amunisi pack. "Lihat apa yang kutemukan, ini sebuah senjata yang bisa kita gunakan". Sandi lalu mengambil semua itu dan memutuskan siapa yang ingin memakainya.
Ryo terlihat cuek sambil menyenteri langit-langit, Ragil mengatakan dia yang menemukan dialah yang berhak memakainya. Pak Daniel juga terlihat tidak keberatan dengan hal itu. "Oke, aku akan menggunakannya" ia lalu melingkarkan sabuk itu ke pinggangnya dan lalu menggantung pistol tersebut.
"Wah keren juga lo pakai kaya gitu" Ragil memberikan pujian terhadap penampilan baru Sandi bak seorang inspektor. Setelah tidak ada lagi sesuatu yang dilihat dapat digunakan, mereka pun keluar dari ruangan kamar tersebut. Kali ini, yang dituju mereka adalah sebuah ruangan yang ditutupi kaca dengan meja panjang didalamnya.
"Mari kita periksa ruangan itu, siapa tahu ada petunjuk" Pak Daniel lanjut memimpin langkah dalam kegelapan, cahaya senter mereka menyinari dinding dan lantai yang penuh debu serta pecahan serpihan kaca yang bertaburan diatas lantai. Tetesan darah yang sudah mengering juga banyak berceceran, sebenarnya apa yang sudah terjadi ditempat ini?.
Suara langkah kaki yang memijak serpihan kaca menggemakan seisi ruangan dan terasa memukul gendang telinga mereka. Langkah demi langkah mereka mencoba mendekati ruangan itu.
"Tidak ada pintu?" Pak Daniel langsung masuk kedalam dan memeriksa apa yang ada didalam sana. Diatas meja yang panjang hanya ada lembaran-lembaran kertas, Karina pun yang sudah membacanya mengatakan tidak ada hal yang mengacu pada petunjuk yang mereka sedang cari. Ryo lalu memeriksa setiap laci yang ada di meja panjang tersebut. Tidak ada apapun didalamnya, wajahnya terlihat mengatakan itu pada teman-temannya.
Mereka lalu pergi keluar meninggalkan ruangan itu, dan menuju bagian belakang ruangan. Dimana, disebelah kiri ada sebuah ruangan panjang yang sebagian penuh tembok dan disebelahnya dihiasi dengan kaca tembus pandang. Sedangkan dibagian sebelah kanan terdapat tangga menuju lantai atas dan toilet yang berada dibawah tangga. Dan dibagian akhir ruangan itu ada 10 tabung besar seukuran manusia dewasa yang tersusun saling berhadapan yang ditengahi sebuah meja kotak.
Semua itu dapat dilihat mereka yang berdiri berada dibagian tengah ruangan. Pak Daniel kemudian menunjuk Ryo dan Ragil memasuki ruangan itu, sementara ia berjaga ditempat.
KRACK! Suara dari handle pintu putar yang berhasil dibuka.
Cahaya senter Ryo lebih dulu masuk menerangi bagian dalam, diujung sana terdapat satu buah meja dan komputer yang kemudian mereka datangi dan periksa. Ragil pun bertanya-tanya, kenapa komputer kali ini berbeda spesifikasinya. Ini terlihat lebih sedikit modern bentuknya.
"Apa kau yakin ini berbeda dari sebelumnya?" Ryo.
"Beda cuy, aku ga tahu yang ini tahun berapa. yang jelas ini lebih bagus bentuknya" jawab Ragil.
__ADS_1
Melihat itu Karina ingin menguji sesuatu dengan kekuatan Energinya, ia mengarahkan tangan kananya ke komputer tersebut lalu coba mentransferkan energinya.
PiP! Lampu kotak kecil bewarna merah yang ada dibagian pojok bawah layar komputer tersebut berhasil menyala.
Ryo dan Ragil tercengang seketika. Karina kemudian menyuruh Ragil untuk menghidupkan komputer tersebut lalu memeriksa isi didalamnya siapa tahu ada sebuah data informasi yang mereka butuhkan.
Ragil menekan tombolnya yang tak lama kemudian masuk dilayar yang bertuliskan Windows 3.1, ia pun terkejut melihat itu. Melihat ekspresi Ragil, Ryo pun menanyakan apa yang terjadi.
"Windows 3,1 ini kan kalo gak salah sudah tahun 1992. bagaimana bisa?" ucapnya terperangah.
"Bukankah waktu itu kau bilang komputernya tahun pertama kali dibuat?" Ryo.
"Iyah tapi.." Ragil mulai terlihat kebingungan.
Mendengar itu, Ragil yang sudah berdiri didepan layar langsung mencari tombol enter dan menekannya.
"Security Password Needed, aduhh ada passwordnya"
Apa boleh buat, kita tidak ada waktu untuk mencari apa isi Password tersebut. Mereka kemudian melanjutkan ruangan yang berdampingan disebelahnya. Disebelah pintu ada sebuah dinding kaca yang berukuran cukup untuk wajah manusia. Ryo yang badannya lebih tinggi mencoba mengintipnya dari luar.
Ia mengatakan sepertinya tidak ada apa-apa disana selain tiga tempat tidur seperti yang ada diruangan sebelumnya. Karina coba masuk dengan cara menembus dinding untuk memeriksanya. Benar sekali disana ada tiga buah kasur diatas keranjang besinya, dan setelah Karina coba berpaling kebelakang ia dibuat terkejut oleh sebuah sosok yang tiba-tiba muncul.
"Victoria, kenapa dia ada disini?"
__ADS_1
Ternyata itu hanya Residual Energi dari masa lalu, Victoria terlihat berdiri tersenyum dari luar sambil memandangi tiga kasur tersebut. Karina pun coba memperhatikan apa yang membuat ia tersenyum, karenanya ia menoleh kebelakang melihat ke arah kasur. yang ternyata disana terbaring objek-objek mereka yang terlihat mulai membentuk seperti Fantasma. Karina mencoba mencocokkan gelombang energi miliknya dengan energi yang tertinggal dibagian itu, namun visualisasi yang tergambar terlihat mengalami Glitch begitu cepat dan hilang dari pandangannya.
Karina keluar menembus kaca depan dan regroup kembali bersama yang lainnya. Pak Daniel bertanya apa yang mereka temukan didalam sana, Ragil pun lalu membahas tentang tahun pembuatan komputer yang sebelumnya dan sekarang berbeda. Mendengar itu Pak Daniel tidak ingin menanggapinya terlalu serius, mungkin yang ada digudang sebelumnya adalah yang lama dan kemudian mereka membawakannya yang baru.
"Masalahnya bukan itu pak, berarti mereka dalam beberapa dekade ini masih aktif melakukan eksperimennya" ucap Ragil.
"Meskipun itu benar, kita tidak cukup waktu untuk mengungkapnya satu persatu. Ingat apa tujuan sebenarnya kita kesini" tegas Pak Daniel.
"Kita tinggal mencari dua buah senjata lagi untuk Ragil dan Ryo" imbuhnya.
Ryo membatin atas perkataan tersebut, bahwasanya ia sedikit keberatan untuk memegang sebuah senjata. Mereka pun lanjut memeriksa ruangan terakhir yang ada dibawah, sebuah tempat dimana ada 10 tabung besar sedang berbaris berhadapan. Satu persatu mereka perhatikan, mulai dari plat nama yang ada dibawahnya sampai didalam isi tabungnya.
Semua Plat Nama itu hanya bertuliskan Fantasma dan nomor serinya, tidak ada sebuah petunjuk disana. Oleh karena itu mereka kembali lagi melanjutkan perjalanan, yang tujuan kali ini adalah dilantai dua. Namun sebelum itu Pak Daniel menyuruh mereka untuk menunggu sebentar, ia ingin mengecek keadaan toilet yang ada dibawah tangga.
Meskipun mereka sudah tahu bahwa tidak ada Fantasma didalam sana, keadaan ruang yang gelap membuat langkah mereka untuk menjadi waspada. Pak Daniel terlihat melangkah pelan lalu ia berdiri tepat didepan pintu toilet tersebut.
Semua dinding luarnya terlihat kotor, dan pintu toilet yang terbuat dari plastik fiber itu menyisakan bercak darah yang sudah lama mengering. Ia lalu memberanikan diri untuk membukanya.
"Apa-apaan ini!" ucapnya membatin.
Didalam toilet banyak sekali bekas darah, dan sebuah coretan-coretan tidak jelas. Lalu dibagian dinding sebelah kirinya bertulisan.
Kalian semua akan mati disini
__ADS_1
Bersambung...