
Karina yang diam terlihat pasrah saat makluk itu menyerang dirinya, Seketika seperti medan magnet yang amat kuat menarik tubuhnya masuk ke dalam pintu dan ia terpental didalamnya.
Dia terkapar, menangis dan tak berdaya. Lalu dari kejauhan sebuah titik cahaya memancar menyinari langkah seorang gadis kecil berbaju putih dan berambut panjang yang mencoba mendekati Karina.
Gadis kecil itu berhenti melangkah dihadapan Karina yang masih terkapar. Lalu ia jongkok dan mengelus kepala Karina.
"Kenapa kakak masih takut, ini adalah takdir yang harus kakak hadapi" ujar si Gadis Kecil yang lalu mengusapkan air mata Karina.
Karina kemudian bangkit dan duduk dihadapannya.
"Kamu sebenarnya siapa, kenapa aku harus mengalami hal seperti ini" ucap Karina yang masih bersedih.
"Aku adalah bagian dari masa lalu, jauh sekali. Dan kakak adalah orang yang akan menghapus masa lalu itu. " jawab Gadis Kecil.
"Tapi kenapa harus aku, aku hanya orang biasa yang ingin hidup dengan normal" ucap Karina.
"Sejak dulu hingga sekarang, tidak ada orang yang mendapatkan hidup yang lebih baik. Bahkan untuk menjadi seorang yang normal. Semua pasti selalu ada hambatannya walau untuk hal sekecil sekalipun" ucap Gadis Kecil yang telah berdiri dihadapan Karina.
"Terus apa yang harus aku lakukan, agar semua ini berakhir" tanya Karina.
"Yang kulakukan dan yang kuketahui adalah hal yang terbatas, aku bahkan tidak tahu siapa sebenarnya diriku ini" ucap Gadis Kecil yang mulai melangkah meninggalkan Karina.
"Tunggu, mulai saat ini apa yang harus kulakukan?" ucap Karina yang berlari ke arah gadis itu namun tak pernah sampai.
"Aku yakin, kakak pasti bisa melalui semua ini" ucap Gadis Kecil yang memberikan senyuman, lalu ia berpaling dan terus melangkah hilang tenggelam dalam cahaya.
...----------------...
Suara keramaian terdengar dari luar
Mendengar itu Karina terbangun dan membuka matanya, ia bangkit kemudian melihat Winda sudah tidak ada disebelahnya. Dia mengambil smartphonenya yang sudah menunjukan jam 9 pagi.
Dia kemudian bergegas berbenah diri, lalu keluar tenda dan melihat rekan-rekannya sudah sibuk wara-wiri yang mempersiapkan tempat untuk vaksinasi.
"Baru bangun Karina" sapa Ragil yang melihat Karina sudah berada diluar tenda.
"Ah, maaf aku kesiangan" jawab Karina.
Karina kemudian menghampiri mereka dan meminta maaf pada rekan-rekannya. Winda berkata sudah beberapa kali coba membangunkannya, tetapi Karina sangat tertidur pulas.
Hari tidak begitu cerah, awan yang mendung mewarnai aktivitas yang mereka lakukan. Warga yang sudah bangun juga terlihat memperhatikan dan ada juga yang ikut membantu.
"Baik, tendanya sudah siap. Satu tenda besar ini berisikan 10 orang pasien nantinya" ucap Pak Daniel yang datang menghampiri.
"Sandi dan Cindy, kalian yang mengatur warga untuk segera divaksinasi" imbuhnya.
"Ragil dan Anwar, Kalian yang akan memasukkan warga yang sudah tertidur kedalam kantung selimut"
"Ryo, Karina dan Winda kalian yang bertugas memvaksin warga semua. Mengerti?" Jelas Pak Daniel.
"Mengerti pak!!" Jawab mereka serentak.
"Bagus, sekarang cepat kerjakan agar kita bisa segera pulang" ucap Pak Daniel.
Sandi dan Cindy mendatangi warga dan membawa mereka satu-persatu ke dalam tenda vaksinasi. Mereka ditidurkan satu persatu ditempatnya. Lalu Ryo, Karina dan Winda mulai memberikan vaksin.
Semua terlihat berjalan lancar, hingga saat pasien ke empat hendak disuntikkan. Karina kembali mengalami Diplopia dan Dejavu, ia seperti melihat kejadian ini pernah terjadi sebelumnya.
Jarum suntiknya jatuh kemudian ia merasakan pusing, lalu jatuh terbaring ke sebelah kiri. Winda yang berada didekatnya langsung merangkul bahunya.
"Kamu gapapa Rin?" ucap Winda yang terlihat khawatir.
"Ahh, Kepalaku sakit banget nih" ucap Karina sambil memegangi kepalanya.
"Kalau ga enak badan, istirahat aja Karin. jangan dipaksa" ucap Ryo yang sedang berada berbelakangan.
"Istirahat dulu aja Rin, biar kami berdua yang mengerjakan tugas ini" ucap Winda.
Karina memutuskan untuk kembali ke tendanya untuk beristirahat, disaat hendak berjalan keluar tenda. dalam pandangannya didepan, para pasukan hazmat masuk kedalam dan berjalan berpapasan dengannya.
Dia terkejut dan terdiam. Seketika itu juga sebuah pecahan ingatan muncul dalam kepalanya. Dia lalu memegangi keningnya yang terasa mendenyut dengan tangan sebelah kanan. kemudian ia mencoba berpaling kebelakang dan bayangan pasukan hazmat itu menghilang.
Karina keluar tenda, dan Pak Daniel menyapanya. ia bertanya apa terjadi sesuatu, lalu Karina menjawab bahwa ia sedang tidak enak badan dan meminta izin untuk istirahat. Pak Daniel memahami dan mengizinkannya.
[Didalam Tenda 1 Vaksinasi]
__ADS_1
"Memangnya Karina sakit apa, sejak datang kulihat ia terlihat sedang tidak fit dan selalu memegangi kepalanya" tanya Ryo.
"Aku juga tidak tahu, belakangan ini ia terlihat aneh. setiap aku bertanya ia selalu berkata Aku tidak apa-apa" ucap Winda.
"Oh begitu ya." ucap Ryo terlihat sedang memikirkan sesuatu.
...
Didalam tenda Karina berbaring dan kepikiran sesuatu, apakah yang ia lihat dalam mimpi ada hubungannya dengan keadaan mereka sekarang. ia gelisah lalu mencoba untuk memejamkan matanya. Sambil menahankan rasa sakit dikepalanya, perlahan-lahan karina mulai merasakan ngantuk, dan jatuh kembali dalam tidurnya.
...----------------...
Kali ini ruangannya tidak gelap, terlihat Karina sedang terbaring disana dengan pemandangan putih yang luas serta satu buah pintu berdiri sendiri berwarna coklat ke emasan.
"Ngh?" Karina tersadar dan melihat semua disekitarnya berwarna putih
"Aduhh, aku mimpi lagi ya? " ucap Karina yang sedang duduk dan mencoba berdiri.
"Tapi kenapa semua jadi Warna putih, pintu itu sekarang jadi terlihat jelas" ucap Karina pada dirinya sendiri yang melihat ke arah pintu tak jauh didepannya.
Kemudian ia berjalan mendekati pintu itu, dan berdiri tepat didepannya.
"Baiklah, jika ini takdir yang harus kulakukan aku akan coba menghadapinya agar semua ini segera berakhir dan kembali ke kehidupanku yang normal" ucap Karina berusaha berpikir positif.
"Fokus, aku tidak boleh takut, rasa takut akan memancing keberadaanku untuk mereka" ucap Karina yang berusaha tegar meyakinkan diri sebelum membuka pintu didepannya.
KRIEET!
....
"Huh?" ekspresi Karina yang keheranan setelah keluar dari Pintu.
"ini aku mimpi atau apa, kok tempatnya sama" ucapnya yang keheranan lalu memperhatikan sekelilingnya.
Karina berjalan keluar tenda, dan melihat Pak Daniel sedang berada di pos pengawas. Lalu ia melihat Sandi dan Cindy keluar dari rumah bersama dengan warga yang hendak diberikan vaksinasi.
Dia kemudian mendatangi Pak Daniel yang sedak duduk di pos pengawas, lalu mencoba menyapanya tepat berhadapan.
"Haloo, pak..bapak lihat saya? ini saya Karina" ucapnya sambil melambaikan tangan di depan wajah Pak Daniel yang sedang menikmati rokoknya.
Karina masih tak percaya dan coba kembali melangkah ke arah Sandi dan Cindy, ia menyapa mereka berdua namun juga tidak ada respon.
Di dalam tenda ia melihat Winda dan Ryo yang sedang bertugas menyuntikan vaksin pada warga. Terlihat beberapa sudah ada yang tertidur.
Disana Karina berteriak keras agar mendapat perhatian dari mereka.
"Teman-teman aku disiniiiiiiii, kalian lihat aku tidaakk?!" tidak ada respon yang berarti, mereka tetap melakukan tugasnya masing-masing.
Karina menyerah lalu ia keluar tenda, lalu memperhatikan sekelilingnya tidak ada terlihat keberadaan Ragil dan Anwar.
...BAGIAN II...
Kemudian ia coba jalan berkeliling ke rumah-rumah warga, ia mengintip setiap rumah satu persatu. Sampai pada satu rumah terakhir, Karina berdiri didepan pintu salah satu rumah warga. Disana ada anak laki-laki berumur berkisaran enam tahun yang sedang bermain.
Anak laki-laki itu berhenti bermain dan matanya melihat ke arah karina. Seketika itu juga Karina terkejut melihat mata si adik kecil itu. Dia makin heran ketika adik kecil itu menyapanya dengan ucapan yang tidak jelas.
"Tenang Karina, jangan panik..mungkin karena dia masih kecil dan masih belum berdosa makanya bisa melihatku" ucap Karina yang coba membaca situasi dan berpikiran positif agar dirinya tenang.
"Tunggu, itu terdengar seperti aku sudah mati dong, apa jangan-jangan aku sudah mati ya?" gumam Karina didalam hati kecilnya.
Kemudian ia pergi meninggalkan anak kecil itu, dan menuju ke arah gudang belakang. sesampainya disana akhirnya ia melihat Ragil dan Anwar yang sedang menyusun kantong selimut dan meletakkannya diatas arco.
"Owalah disini toh kalian? " ucap Karina yang sedang memperhatikan mereka sedang bekerja.
Dia kemudian mendekati mereka berdua dan coba menyapanya.
"Ragill, Anwaar, heii ini aku Karina!?" sapanya dari belakang. Tetapi Ragil dan Anwar tetap fokus bekerja.
"Ini kita ngumpulin Kantung selimut apa untuk kantung mayat?" Ragil.
"Gak taulah, aku juga ragu sama tugas kita ini. kek gak masuk akal!" jawab Anwar yang menggerutu.
"Begitupun aku" sahut Karina, namun suaranya tak terdengar.
"Iya benar, tempat ini siang aja suasananya sangat mencekam, apalagi malam, Hii!!" ucap Ragil.
__ADS_1
Karina kemudian berpaling dan tanpa sengaja siku tangan kanannya menyenggol tumpukan sebuah Kantung selimut yang tersusun bertingkat dan jatuh kebawah.
BRUK!
Sontak suara itu mengagetkan mereka berdua dan bertanya satu sama lain.
"An apa kubilang, baru juga diomongin" ucap Ragil yang terlihat panik.
"Angin paling" jawab Anwar dengan santainya.
Sementara pertanyaan besar muncul dikepala Karina, ia kemudian memandangi kedua lengannya.
"kenapa aku bisa menyentuh barang didunia nyata?" ucapnya yang terlihat keheranan.
"Angin pala kau angiin, orang jelas-jelas jatuh sendiri. Angin dari mana!?" ketus Ragil.
"Ya udah santai aja kali, siang-siang begini mana mungkin ada setan" ucap Anwar coba menenangkan suasana.
Ragil masih terlihat menggerutu, sedangkan Karina masih keheranan apa yang terjadi pada dirinya. Kemudian ia terpintas ide untuk mencobanya sekali lagi dengan mengangkat kantung selimut yang terjatuh.
Karina coba mengangkat dengan kedua tangannya, tetapi tidak bisa. Tangannya tembus melewati benda itu. Kemudian Anwar datang dan mengambil kantung selimut yang terjatuh lalu meletakkannya ke atas.
Karina yang masih penasaran terbesit dipikirannya untuk mencoba menepuk bahu Anwar yang ternyata berhasil menyentuhnya. Anwar mematung dan terdiam ditempat langsung mengeluarkan keringat dingin.
"Oi, Lo kenapa An?" sapa Ragil yang sedang duduk memperhatikan.
"A-ah, gapapa" jawabnya dengan nada ketakutan.
Anwar kemudian kembali duduk dan menyalakan rokoknya. Mereka kemudian lanjut mengobrol seperti biasa. Sementara Karina masih merasakan kebingungan. Lalu setelah itu ia mencoba berpaling tetapi sesuatu menarik perhatiannya. Dia melihat Aura hitam yang keluar dari belakang tubuhnya Ragil dan Anwar.
"*H*uh, itu asap hitam apa yang keluar dari belakang badan mereka?" ucap Karina yang terlihat bingung memperhatikan. Kemudian asap itu terbang keatas melewati mereka berdua dan menumpuk ke arah kiri menjadi sebuah gumpalan hitam.
Dia terus memperhatikan gumpalan asap yang tadi berkumpul perlahan-lahan berubah menjadi sosok kepala berambut jigrak dengan mata merah melotot dan mengeluarkan lidah yang panjang sampai ke tanah.
Melihat hal itu Karina terperanjat, dan ingin berteriak namun dengan cepat menutup kedua mulutnya. Sementara makhluk itu masih disana memperhatikan Ragil dan Anwar sambil tertawa keras.
BHUAHAHAH!!!
"jangan takut Karina, jangan takut Karina..." ucapnya beberapa kali agar tetap tenang.
Ragil dan Anwar mulai merasa merinding untungnya tak lama Pak Daniel datang memberitahu mereka bahwa vaksinasi ditenda satu selesai lalu memerintahkan mereka berdua untuk segera melakukan tugasnya.
Tak kuat melihat sosok mengerikan dari makluk itu, Karina langsung berpaling dan lari sekuat tenaga. Hal itu sepintas memancing perhatiaan makluk tersebut lalu terbang mengejar ke arah Karina.
Menyadari dirinya seakan dikejar, Karina langsung bersembunyi disela kecil rumah warga. Dia duduk menekuk lutut sambil menutup mulutnya.
"jangan nangis Karina, jangan nangis, aku jangan sampai ketakutan, hilangkan rasa takut, hilangkan rasa takut" ucapnya yang terus menjaga ketenangan pikiran.
Tak lama Karina merasakan makluk itu mulai mendekat ke arahnya. Dia mendengar suara erangan dari tenggorokan dan suara tetesan air liur yang terus jatuh ke tanah.
BHUAHAHAH!!!
Tertawa makluk itu terdengar begitu kencang ditelinga Karina, kemudian ia mendengar makluk itu seperti berkata.
"Siapa tadi, aku merasakan sesuatu seperti manusia, tapi bukan manusia. GRRRHHHHHH"
ucap makluk itu dengan sosok kepala terbangnya serta lidah yang menjulur ke tanah.
Sementara Karina masih meringkuk sembari menutup mulutnya, mencoba menahan rasa takut sekuat mungkin agar hawanya tidak terdeteksi. Makluk itu masih berada diluar celah tempat Karina bersembunyi melihat ke kanan dan ke kiri.
BHUAHAHAH!!!
Setelah itu ia pergi hilang entah kemana. Karina masih menenangkan dirinya, dan setelah cukup tenang ia bangkit lalu berjalan keluar menuju tempat tendanya berasal. Lalu ia masuk ke tenda dan mencoba kembali kedalam pintu agar bisa bangun dari mimpinya.
Kreck Kreck Kreck!!
Karina berusaha membuka pintunya namun tidak bisa, terus mencoba beberapa kali tetap tidak bisa. Keadaan itu membuat kepanikan dalam dirinya. Sementara ia melihat dirinya sedang ada tidur disebelah.
Tak patah semangat ia terus memaksa membuka pintunya, namun tetap juga tidak bisa. Dia coba menggedor dengan keras agar dirinya yang tidur disebelahnya terbangun, tidak juga terjadi apa-apa.
"Ya tuhan, cobaan apalagi ini.. Kenapa aku harus mengalami hal buruk ini terus-terusan, aku mau pulaaang. Ibu, ayah aku rindu kalian berdua" ucapnya yang terduduk lemas didepan pintu dan menangis tersedu-sedu.
Karina yang masih bersedih mengeluarkan aura negatifnya, yang tanpa disadari ia telah memancing sosok yang tak asing itu mengetahui keberadaanya.
"Ternyata yang tadi itu kamu ya?"
__ADS_1
Karina melotot kaget, dengan ekspresi wajah yang suram.
Bersambung...