Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 20.1 : "Dua Pintu"


__ADS_3

"Miira, ternyata sosok itu adalah dirimu." ucapnya yang masih dalam kondisi terbaring.


Karina teringat saat pertama kali bertemu dengan sosok itu waktu di basemen lobby ruang bawah tanah saat ia dalam kondisi setengah sadar, walaupun hanya sekedar terdengar suara dari seorang kakak yang terus mencari adiknya.


"Jadi selama ratusan tahun ini ia terus bergentayangan mencari adiknya" ucapnya memandang langit-langit yang luas bewarna putih.


Selama terjebak didunia masa lalu Miira, Karina pun akhirnya teringat bahwa saat itu ia sama sekali tidak mendapatkan info apapun tentang Niira.


"Dimana Niira berada? Apakah Victoria sudah membawanya ke jerman? Benar juga, buku itu.. !"


Ia kemudian meraba-raba dan mencarinya ke dalam saku seragam Oka, yang ternyata kosong.


"Aneh sekali, waktu itu jelas-jelas aku sedang memegangnya. Padahal di buku itu ada rute jalan rahasia untuk keluar dari tempat ini."


"Yang terpenting saat ini aku harus terus maju, sampai menemukan jalan keluar. Aku harap teman-teman dalam keadaan baik-baik saja"


Ia kemudian bangkit berdiri, membenahi pakaiannya, lalu hendak keluar dari Ruangan Putih dan masuk kedalam Virtual Cortex dengan menjentikkan jarinya. Akan tetapi disaat ia ingin melakukan itu tubuh Karina memberikan sebuah reaksi, ia mengalami Glitch dalam beberapa detik sekali.


"Apa yang terjadi, seharusnya energiku masih banyak. Jika tubuh utama lapar, seharusnya saat ini aku berada didalam Neuron dan bertemu dengan mereka.. "


Karina terdiam sejenak, ia teringat saat pertama kali bertemu dengan sosok Miira.


"Benturan dari dua energi yang berlawanan... " ucapnya dengan rasa was-was.


Firasat hatinya sudah jelas mengatakan bahwa sesuatu sedang berada dibelakangnya. Karina pun mencoba menoleh kebelakangnya secara perlahan untuk memastikan.


Betapa terkejutnya ia dibuat oleh penampakan sebuah Pintu yang sama besar dan berdiri tegak saling berhadapan satu sama lain.


"Hahhh―!!!"


Pintu itu sedikit berbeda dengan milik Karina, warnanya hitam kemerahan dan beberapa menit sekali mengalami Glitch ringan.


"Ini pintu apa, kenapa tiba-tiba ada disini....?"


Ekspresi wajah Karina terlihat telah menyadari sesuatu. Ternyata sosok Miira dari awal sudah mengincarnya.


"Tetapi kenapa, apa yang ia inginkan dariku?"


Karina juga mengetahui alasan dibalik pintu itu bisa ada disana. Gamma-Karina pernah berkata kepadanya, agar jangan sampai bersentuhan langsung dengan sosok Miira. Akibatnya kedua gelombang Energi saling terhubung dan membuat celah dalam perusakan.


Sebelumnya Karina hanya malihat ada beberapa bilah garis Glitch, namun kini sudah terbentuk solid secara keseluruhan. Secara garis besar menjelaskan bahwa Miira juga memiliki kekuatan yang sama dengan Karina, akan tetapi mereka berdua mempunyai energi yang saling berlawanan.

__ADS_1


Karina kemudian memberanikan diri melangkah maju menghadap pintu tersebut. Dirinya berkata, tidak mungkin membiarkan pintu tersebut berada diruangannnya. Karena sesuatu yang Negatif, pasti akan memberikan dampak yang Negatif pula.


"Aku baru ingat, waktu itu dia keluar dari pintu ini.. ? Tapi sebelumnya dia juga keluar dari cermin...Miira, apa sebenarnya yang sudah terjadi padamu!"


Karina berdiri menatap dengan penuh keraguan, dan bersama rasa takut dibalik itu semua. Namun ia tetap memberanikan diri, tangan kanannya kini mencoba meraih gagang pintu tersebut.


GRAB!!!―Bzzzztt!!! Tubuh Karina tersentak.


Energi yang berlawanan memberikan reaksi penolakan, sehingga membuat Karina seperti orang yang terkena setruman namun masih dalam kapasitas kemampuannya untuk menahan itu.


Gerakan tubuhnya pun terasa begitu berat, wajah yang terlihat meringis adalah bukti usahanya untuk membuka paksa pintu tersebut.


"Ukkhh!!! Kalau kau.. Tid-dak mau dibu-ka!!.. Untuk apa-a-da di-siniii!!!"


Tangan kanan karina tidak mampu untuk membukanya, ia kemudian memberikan tangan kirinya. Dengan tekanan Energi paksaan yang dilepaskan, Karina berhasil membuka pintu tersebut.


JGREK!!―Krieet Pintu terbuka setengah.


Semburan Aura Hitam pekat langsung menyambut Karina, seketika memberikan dampak efek Glitch pada tubuh Virtualnya.


Hawa kegelapan yang ada didalam mencuat keluar membuat Karina memundurkan langkah kakinya.


"Tidak.. Tidak ada jaminan aku akan kembali dari sana- Uhuekk!!


"Bau ini.. Rasanya aku pernah mencium sebelumnya―


Dalam pandangan matanya Karina teringat ketika menaiki Bus perjalanan menuju Pedesaan. Kala itu, ia mencium bau yang sangat busuk sehingga membuatnya jatuh pingsan serta dikelilingi oleh makluk-makluk menyeramkan lainnya.


Hatinya mengalami dilema untuk mendapatkan sebuah jawaban kepastian dan ia masih berlutut dengan kedua siku kakinya sambil memandangi pintu tersebut.


"Teman-teman apa kalian bisa mendengarkan suaraku?" Karinaa!!"


Tidak ada jawaban! Hanya suara teriakannya menggema dan hilang dalam kejauhan.


"Apakah aku harus masuk kedalam?"


"Jangan gegabah Karina, kita tidak tahu dunia macam apa yang sedang menanti kita didalam sana?"


"Tapi kalau tidak dicoba bagaimana kita bisa tahu?"


"Terserah kau saja, diam disini menunggunya datang atau kita pergi kedalam sana mendatanginya!"

__ADS_1


"Setelah mendatangi lalu apa? Apa kau yakin bisa menang melawannya?"


"Dengar ya anak manja, jika sosok merah itu sama seperti kita berarti ia juga memerlukan energi negatif sebagai sumbernya."


"Tunggu, bukannya energi negatif lebih banyak dibandingkan energi positif?"


"Omong kosong!! Coba ingat perkataan kakek waktu itu, alam semesta adalah pusat dari energi, jika kita fokus kepada sumbernya kita bisa melakukan apa saja."


"Bagaimana kau bisa fokus dengan sesuatu yang tidak nyata?"


"Keyakinan!!"


"Keyakinan apa yang bisa kau lihat di dalam kegelapan??!―Sudah Cukupp!!! Hentikan!!"


Karina yang dari awal sedang menggumam, tanpa sadar sedang berbicara dengan 5 orang Karina lainnya. Karena Ruangan Putih adalah ranah bebas yang dimilikinya, sedangkan Virtual Cortex adalah sebagai sumber awal penciptaan energi yang masing-masing diperankan oleh 5 orang Karina tersebut.


"Huhh-huhh.. " nafasnya sedikit terengah-engah dan wajahnya kelihatan berkeringat.


"Kalau aku berhenti disini, kita semua akan terjebak didunia ini selamanya.. sudah dua orang yang menjadi korban... dan hanya aku yang menjadi kunci harapan mereka... "


"Miira... Dia ingin Niira adiknya bukan!! Kalau kita tidak bisa menang melawannya, kita tuntun dia sampai bertemu Niira."


Karina sudah membulatkan tekad serta berpegang teguh dengan keyakinannya. Ia kemudian bangkit berdiri dan menghirup nafas yang cukup dalam lalu membuangnya semua bersama pikiran negatif yang coba menghalanginya.


Ia mulai melangkahkan kedua kakinya mendekati pintu yang ada didepan sana. Dan pada saat Karina ingin memasuki pintu tersebut, terdengar suara wanita dari belakangnya yang tanpa ia sadari adalah suara dari pikirannya sendiri.


"Oi―!! Sudah ratusan tahun berlalu, apa yang membuatmu yakin Gadis Kecil Niira itu masih ada disini?"


Mendengar pernyataan itu membuat tekad Karina kembali goyah, ia kemudian mencoba berpaling kebelakang dan melihat pintu miliknya sendiri. Langkah kakinya mencoba meninggalkan pintu milik Miira.


"Benar juga, aku harus kembali dan bertemu dengan teman-teman terlebih dahu―


GRAB!!


Dua buah tangan panjang yang bewarna pucat memegang kedua pundak Karina. Tanpa sempat melawan, ia menarik paksa Karina kedalam.


Kyaaaaaa―


BLAMM!!!


Setelah pintu itu tertutup keras, ia mulai memudar secara perlahan dan lenyap tak tersisa.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2