Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 20.2 : "Hanya Bisa Bersembunyi"


__ADS_3

Dunia yang gelap. Perjalanan yang cukup lama didalam lorong hitam yang panjang. Cahaya mulai terlihat namun bewarna titik merah terang. Gadis itu sudah tahu dari mana sinar itu berasal, karena itulah ia terus berdoa agar tidak melihat apa yang sudah dipikirkannya.


Perlahan-lahan cahaya merah itu semakin besar dan terang, sehingga membuat gadis itu menyilangkan tangannya.


Setelah cahaya itu mulai tak bersinar menyilaukan lagi, gadis itu mencoba memberanikan diri untuk melihat apa yang sudah menanti didepannya.


"Heee... Akhirnya kamu datang juga kesini, Karina~" ucap dari sosok kepala Miira dengan mata merah dan bentuk wajahnya yang mengerikan tepat berada didepannya.


... !!!!


Dalam kondisi terbaring diatas kasur, mata Karina terbelalak bangun dari mimpi buruknya. Dengan rasa was-was ia langsung bangkit setengah badan dan memperhatikan sekelilingnya.


"Tempat apa ini?!"


Ia berada didalam ruangan yang redup minim cahaya, dimana dindingnya mengalami keretakan dimana-mana, warnanya terlihat sangat kusam penuh dengan bercak jamur bewarna merah, dan terus mengalirkan darah dari sisi manapun seperti sebuah sumber mata air.


Dan setelah ia memperhatikannya secara seksama, ia pun teringat bahwa itu adalah Ruangan Lab B. Karena ada banyak sekali Stretcher tersusun berjarak dan masing-masing diatasnya terlihat ada orang yang sedang terbaring namun ditutupi dengan kain putih yang penuh bercak darah.


Karina pun tersadar, jika posisi dia yang berada di sudut pojok atas persis sekali dengan apa yang sudah di alami oleh Miira semasa hidupnya.


"Kenapa aku bisa terbaring disini? apa dia yang sudah membawaku?"


Ia kemudian mencoba beranjak dari Stretcher dan untuk pertama kali memijakkan kakinya ke atas lantai.


CPLASH!! ???


Karena merasa seperti menginjak air, ia kemudian mencoba menengok kebawah untuk memastikan.


"Ini.....Darah?"


Barulah indra penciuman Karina berfungsi kembali dan langsung menerima aroma bau amis yang kental dari banjir darah yang terjadi diatas lantai.


Bau amisnya begitu menusuk sampai terasa masuk ke ulu hati, perutnya mulai merasa ingin memuntahkan sesuatu. Tetapi tangan kanan Karina mencoba menutup hidungnya agar dapat meredakannya. Ia kemudian menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari sesuatu yang bisa digunakan sebagai masker, namun sayangnya tidak ada yang bisa ia gunakan.


Dalam posisi tertunduk karena merasa tidak kuat untuk menahannya, sebuah gambaran masker terlintas dalam Visual Memorinya. Karina mencoba memejamkan mata dan fokus pada objek tersebut.


Tangan kiri Karina meminta, maka secara perlahan partikel cahaya biru membentuk sebuah masker persis dengan apa yang sudah ia bayangkan.

__ADS_1


Ekspresi wajahnya terlihat bersyukur karena telah berhasil mewujudkan benda yang sesuai dengan keinginannya. Masker itu kemudian ia pakai untuk menutup mulut dan hidungnya. Oleh karena benda tersebut terbuat dari Energi Biru miliknya, Karina sama sekali tidak merasa mencium bau amis darah.


"Fuhh, tapi aku tidak bisa menginjakkan kaki ku dilantai yang penuh banjir darah seperti ini"


Maka dari itu, Karina kembali memvisualisasikan benda yang pernah ia liat dan yang sudah tersimpan didalam Memory pikirannya.


Dari sekian banyaknya sepatu, ia memilih sepatu safety laboratorium yang bewarna putih dan juga tidak lupa mewujudkannya bersama dua buah sarung tangan latex yang bewarna sama.


....


Semua persiapannya sudah selesai. Perwujudannya benar-benar memperlihatkan dirinya seperti seorang perawat rumah sakit namun sedikit bergaya.


Sekarang Karina sudah berani memijakkan kakinya dilantai penuh darah tersebut. Tetapi masih ada satu lagi hal yang menghalangi pergerakannya, yaitu pemandangan dunia yang begitu redup seperti minimnya sumber energi.


Tangan Kanan Karina meminta, maka muncul lah jutaan partikel cahaya biru yang membentuk sebuah senter.


TIP! Cahaya senter menerangi pemandangan didepannya.


Ia kemudian melangkah pelan melewati orang-orang yang tertutup kain sedang terbaring diatas Stretcher. Kurang lebihnya ada puluhan orang yang ada didalam ruangan itu, dan mereka semua adalah korban dari eksperimen gila Victoria.


Disaat langkah Karina hendak mengantarkannya menuju pintu keluar, tiba-tiba cahaya senternya redup-mati. Tentunya hanya ada dua alasan dibaliknya, energinya yang habis atau sedang ada aura negatif yang coba mendekatinya.


Tiba-tiba dari diluar terdengar suara langkah kaki dengan suara kasar rantai besinya sedang berjalan dikoridor yang gelap.


Karina yang sudah mengetahui itu adalah Miira, lekas menoleh ke sekitarnya untuk mencari tempat persembunyian.


Cahaya merah itu sudah mulai terlihat dari luar pintu kaca. Waktu Karina hanya dalam hitungan detik sampai sosok Miira masuk ke dalam.


Dengan cepat ia memutuskan untuk bersembunyi ke arah pojok belakang tepat ada satu buah lemari dan Stretcher yang diletakkan bersampingan, sehingga memblokade kedua sisi dan membuat Karina yang bersembunyi di kolong Stretcher menjadi tidak terlihat.


"Karina~" Sosok Miira masuk membuka pintu kaca yang penuh noda darah.


Cahaya merah yang terpantul diatas genangan banjir darah memperlihatkan Miira sedang berjalan melewatinya dan menuju Stretcher tempat Karina berada sebelumnya.


"Karina..dimana kamu...aku sudah mengambil besi khusus ini untuk menusuk perutmu yang masih terlihat mulus itu..."


Mendengar perkataan gila yang diucapkan oleh Miira, sama sekali tidak membuat hati Karina menjadi gentar. Ia masih berusaha menahan Posisinya agar tidak diketahui.

__ADS_1


"Kurang ajar...Padahal aku sudah jauh-jauh mengambil besi ini...DIMANA KAMU, KARIINAA!!!"


Sosok Miira semakin menggila, ia terlihat sangat kesal karena melihat Karina yang sudah tidak ada disana.


Ia pun kemudian menusuk mayat yang terbaing tertutupi kain itu dengan tombak besinya sebanyak tiga kali.


"Haah..hahhh...KARIINAAA!!!"


Kemarahannya semakin menjadi, ia menggeram dan meluapakan amarahnya sembari menusukkan bilah besi tersebut ke posisi mayat yang berikutnya dengan jumlah tusukan yang sama.


"Dimana kamuu!!!!" (Tusuk)


Karina masih tercengang dibuat oleh fenomena yang sedang di saksikannya. Ia pun berharap agar Miira tidak melakukan itu sampai ke tempat ia bersembunyi.


Darah yang dari tadi terus menetes mengenai seragam Oka biru miliknya akhirnya tembus mengenai kulitnya, sehingga membuat Karina sadar dan memaksanya untuk menoleh ke arah atas.


Di bawah badan Stretcher yang terbuat dari besi itu terlihat banyak sekali lubang yang terus meneteskan darah. Sontak membuat Karina terkejut dan menyadari sesuatu.


"Miira, kau! ternyata sudah melakukan itu berkali-kali..."


Sembari memegang kepalanya di tangan kiri, sosok Miira terus menusukkan bilah besi itu secara berurutan.


Saat ini Miira sedang dalam urutan baris Stretcher ke dua, sedangkan Karina ada dibaris terakhir yaitu ke empat.


Dalam kurun waktu satu menit Karina akan mendapati hal yang sama, na'asnya jika sampai terjadi bilah besi itu akan menusuk-nusuk punggung belakangnnya.


Dengan keadaan yang terdesak, mau tidak mau Karina harus keluar dari kolong Stretcher tersebut. Dengan keadaan minim cahaya, ia merangkak pelan seperti bayi mencoba menuju ke arah pintu.


GRAB!!!


Tiba-tiba sebuah tangan hitam dari mayat yang terbaring dari Stretcher persembunyian Karina sebelumnya, bergerak dan menangkap kaki kanannya. Sontak itu membuat Karina terkejut seketika lalu menoleh untuk melihatnya.


KHIAAAKSS!!!


Ternyata dia adalah sosok Fantasma yang kemudian berteriak meronta-ronta seperti ketakutan.


Karina mulai panik dan menggoyangkan kaki kanannya yang ditahan, berharap tangan itu akan melepaskan cengkramannya.

__ADS_1


"Tunggu giliranmu DISANAA BANGSATT!!!" teriak sosok Miira yang marah.


Bersambung...


__ADS_2