Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 15 : " Sebuah penyesalan"


__ADS_3

Dari kejauhan pemandangan yang penuh dengan suasana kabut, terlihat seseorang berjalan ditengah sedang melintasi jalan raya.


Dia adalah Ragil bersama empat buah senapan yang tertumpuk dibelakang tas punggungnya.


Tanjakan dan turunan dia lewati, tikungan demi tikungan ia lalui. belum juga kelihatan titik terang jalan menuju keluar.


"15 kilo, kok aku belum sampe-sampe juga!!?" teriaknya ditengah jalan.


Hah-hah...


Wajahnya sudah terlihat kusam dan penuh dengan keringat. Dia kemudian lanjut kembali berjalan, sampai disuatu ketika ia mulai mendengar suara air sungai yang deras mengalir.


Mendengar itu Ragil pun kembali bersemangat dan segera berlari seakan energinya tidak pernah habis.


Dia berlari menaiki jalan raya yang menanjak dan diantara cekungan tanjakan maka mulai terlihatlah seperti sebuah gapura, yang dia pikir itu sudah pasti gapura jalan keluar masuk.


"Akhirnyaa!! Hahh-hah..!!" ucapnya yang menambah kecepatan berlari.


Ragil sudah sampai diatas jalan yang menanjak, ia terlihat sangat kecapean sambil memegangi kedua lututnya.


Sebelum dia maju melihat gapura tersebut, Ragil mengambil botol minum untuk membasahi tenggorokannya yang sangat kering. Airnya sudah habis, lalu ia membuang botolnya dipinggir jalan.


Setelah itu dia perlahan mulai maju kedepan. Akibat pemandangan yang terhalang kabut, ia memutuskan untuk melangkah lebih dekat lagi. Maka terjawablah pemandangan yang diharapkan Ragil.


Benar! itu adalah sebuah gapura selamat datang, yang ternyata dibagian pertangahan jalannya sudah tidak ada lagi. Dengan kata lain, itu adalah sebuah jembatan tua yang sudah lama hancur dimakan oleh waktu beratus tahun yang lalu.


Dari seberang jembatan terlihat Ragil yang telah hilang harapannya. Seketika itu juga Ragil terdiam dan mengeluarkan air mata. Ia teringat akan perkataan teman-temannya. Akibat kebodohan dan keegoisannya, Ragil pun menangis menyesali atas semua perbuatannya.


Dia menangis sendiri tepat didepan gapura jembatan tersebut. Ia lalu melihat ke arah belakang, sebuah jalan yang sangat panjang untuk di lalui kembali.


Didepannya terbentang sungai yang lebar dan arus airnya sangat deras. Dalam benaknya, tidak mungkin dia mampu menyebrangi sungai tersebut. Ragil pun tertunduk dan meratapi penyesalannya.


Ragil yang kalut memancarkan aura negatif, sehingga mengundang sosok yang terus mengikutinya yang kini semakin berani mendekati dirinya.


WUSHH!!


"Lompat Saja!" ucapnya yang tiba-tiba ada disebelah kiri Ragil yang sedang termenung.


Suara yang Karau menyadarkan Ragil, sehingga membuatnya menoleh ke arah kiri yang ternyata tidak ada siapa-siapa.

__ADS_1


WUSHH!!


"Lompat ayo lompat!!" sosok itu kembali berbisik dengan suaranya yang karau! yang kini tiba-tiba sudah ada disebelah kanannya, layaknya teleportasi.


Ragil pun membalas menoleh ke sebelah kanan. Maka terlihat jelaslah wujud sosok tersebut.


Sosok itu tidak lebih tinggi dari Ragil. Rambutnya panjang dan ia sedang membungkuk. Ragil yang setengah sadar dari keterpurukannya, langsung terperanjat dan jatuh kebelakang lalu terguling dipermukaan jalan yang menurun.


Aaaaaaaaaa-


Semua barang yang ia miliki tercecer berantakan. Ragil cukup jauh terguling dibuatnya, yang akhirnya dapat terhentikan di jarak 12 meter dari tempat awal ia berdiri.


Tamatlah sudah riwayatku! Pikirnya, yang memaksa untuk segera bangkit agar bisa cepat melarikan diri. Ragil menoleh ke arah Sosok tersebut yang masih diam berada disana sedang memperhatikan Ragil.


Dia adalah sosok Wanita bungkuk berambut panjang, wajah dan seluruh tubuhnya bewarna daging busuk, dengan bola mata merah berpupil hitam. Lidahnya menjulur seperti ular, dia terlihat tidak berbusana dan berdiri dengan kaki yang terus berjinjit.


Tetapi apa itu? dibelakang punggungnya terlihat ada sesuatu berbentuk seperti tumor. Dan juga dibagian belakang tepat dibawah bokongnya terlihat berbentuk seperti-


"Ekorkah itu..?"


Tidak ingin memikirnya lebih jauh, Ragil pun langsung lari sekencang mungkin. Setelah cukup jauh berlari ia menoleh kebelakang, sosok itu tidak mengejarnya.


"Mhau khemwana?" ucapnya dengan lidah menjulur.


Ragil yang kaget langsung tersungkur jatuh kedepan mendarat dengan kedua sikunya. Ia pun tergeletak tak berdaya sambil merasakan rasa perih akibat luka gesekan kulit dengan aspal yang keras.


Darah yang mengalir dikedua sikunya adalah kesukaan mereka para Fantasma. Sosok itu melangkah pelan mendekati Ragil, ia terlihat tak sabar akan sesuatu.


Ragil menangis! Dia yakin tidak mungkin bisa selamat. Namun ia mencoba merangkak memaksakan otot-ototnya agar tidak mati ketakutan dengan keadaan itu.


GRAB!


Kaki kanan Ragil tertangkap olehnya, ia menjerit ketakutan, menangis penuh dengan penyesalan! dan terus memanggil nama Karina memintai pertolongan.


Jalan itu menjadi saksi sebuah tempat jeritan penyesalan, oleh seseorang yang selalu berada dalam keegoisannnya.


...----------------...


Pak Daniel bertanya pada Karina apa sebaiknya yang harus mereka lakukan didalam situasi itu. Karina mengatakan sosok yang barusan itu adalah Fantasma, dan dia juga belum pernah melihat sebelumnya.

__ADS_1


Energi negatif yang dimiliki sosok tersebut juga besar, dan kemungkinan dia tidak sendiri di daerah ini dengan kata lain-


"Kita ini ada diwilayah mereka!" Ryo.


"Bagaimana ini, kita bisa terjebak selamanya disini? Apa benar seharusnya kita mengikuti Ragil kah?" Sandi cemas.


"Dia pergi ke arah belakang tempat kita mengambil buah tadi, memangnya ada apa disana?" Cindy.


"Aku akan pergi untuk melihatnya," Karina.


"Jangan Rin, sosoknya ngeri! Aku takut kamu kenapa-napa nanti." Winda khawatir.


"Ga bisa, kita ga ada jalan lain. Teman-teman ingat, jangan ada yang keluar dari ruangan ini apapun yang terjadi, mengerti ya?" ucap Karina yang mulai duduk bersila.


Mereka pun mengiyakan perintah itu dengan anggukan. Karina mulai menutup mata dan menekan urat nadi yang ada ditangan kanan, ia menarik nafas lalu menahannya beberapa saat. Tak lama terlihatlah sinar cahaya putih terang dihadapannya. Masuk!


...


Karina terbangun diruangan yang bewarna putih, ia lalu bangkit berdiri. Dihadapannya pintu itu sudah menunggunya, akan tetapi objek Glitch yang sebelumnya mulai bertambah banyak.


"Kenapa garis bergerak ini semakin banyak, apa yang sudah terjadi?" ucapnya kebingungan.


Garis Glitch itu seakan ingin membentuk sesuatu didalam ruangan tersebut. Karina tidak ingin terlalu lama memikirkannya, dengan rasa khawatir ia pun membuka pintu agar bisa memulai Sleeping Paradise.


KRIIEET


...


Karina berada didepan pintu masuk pedesaan. Ia menggunakan Flying Radical dalam bentuk hemat energi. Yaitu dia terbang melayang tidak jauh 20 cm dari atas permukaan tanah.


Dia pun terbang melayang bermaksud mengikuti sosok Fantasma berbentuk seperti kadal yang sedang menuju ke arah belakang.


Akan tetapi baru beberapa meter ia beranjak dari tempatnya, benturan energi pun terjadi. Antara Residual Energi masa lalu yang teringgal ditempat itu dengan milik Karina, maka secara automatis terbentuklah Scenery masa lalu pada saat itu.


Layaknya seperti fragment, satu-persatu semua kehidupan dimasa lalu terwujudkan kembali dengan kilatan cahaya bewarna biru putih yang menyinari setiap pembentukannya.


Karina yang sedang berdiri ditengah dibuat tercengang oleh semua hal yang terjadi disekitarnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2