Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 22.6 : "Apocalypse" Day 4


__ADS_3


Malam harinya di kediaman rumah (Villa) keluarga Victoria.



Victoria keluar dari kamarnya dengan memakai kaos singlet bewarna hitam, memperlihatkan bentuk tubuh dari bukti kerja kerasnya selama menjadi anggota militer. Ia lalu menuruni anak tangga menuju ke ruang tamu.


Ia kemudian duduk di kursi dan membakar satu batang rokok cerutu. Di sebelahnya ada dua orang maid yang menemaninya.


"Bagaimana keadaan anak itu?"


"Iya, kondisinya baik-baik saja. Nafsu makannya juga sudah kembali, ia makan dengan lahap"


"Apa tidak ada yang aneh pada anggota tubuhnya, ketika kalian memandikannya?"


"Tidak, ada"


"Sedang apa dia sekarang?"


"Dia sedang bermain dengan Nona Berta di kamarnya"


Setelah menghabiskan satu puntung rokok cerutunya, Victoria kemudian berjalan keluar rumah. Ia kemudian menghampiri enam orang pria yang sedang berjaga di luar.


Ia meminta dari dua orang untuk berjaga di sekitar luar kamar anak gadis kecil itu, dan dua orang di depan pintu kamarnya.


"Yes, Mam!"


...


Victoria sudah berada di kamarnya, ia kemudian mendekati jendela yang sebelumnya telah hancur. Di luar ia melihat beberapa anak buahnya yang sedang berjaga keliling.


Victoria ingin duduk sebentar di meja kerjanya, di atasnya terdapat sampel dari darah Makhluk itu. Ia kemudian mengambil buku catatan dan menarik sebuah pulpen dari tempatnya.


"Fantasma-09 kode ; unknown" tulisnya.


Ia kemudian melihat lukisan besar yang ada di depannya, di sana tergambar lukisan Vistor,Valencia,Ayahnya, Ibunya dan juga dirinya yang sedang bermain di sebuah taman.


...


"Victoria adikku, apa kabar"


"Vistorr!!?"


Victoria tersentak bangun akibat suara itu, ia ternyata tanpa sadar sudah tertidur di atas meja kerjanya. Terlihat di buku catatannya banyak sekali coretan-coretan dari sebuah rumus dan formula dengan tinta warna yang berbeda.

__ADS_1


"Jam 05.00 pagi, lama juga aku tertidur"


Ia kemudian beranjak dari sana dan berjalan menuju bathroom untuk mandi. Di saat-saat Victoria sedang mandi, ia mendengar suara siulan yang sangat tidak asing di telinganya. Seketika itu juga ia langsung mematikan kran airnya, sehingga membuat suara siulan itu semakin jelas terdengar.


Seperti biasa ia tidak ada rasa takut sama sekali, dengan berbekal handuk yang menutupi tubuhnya ia keluar dari bathroom dan langsung melihat penampakan di meja kerjanya.


Itu adalah sesosok orang tanpa kepala.


Victoria berjalan pelan menghampirinya, ia memperhatikan betul seluk beluk dari sosok itu dari mulai kakinya, pakaian, tangannya, hingga pada bagian yang tidak ada kepalanya.


"Vistor, apa yang kau lakukan disini?" ucap Victoria yang sudah yakin jika itu adalah hantunya Vistor.


Sosok itu tidak menjawab perkataan Victoria, ia terus bersiul di atas meja kerjanya.


"Vistor...aku, tidak merasa menyesal dengan segala apa yang sudah ku perbuat...kau harusnya tahu itu, aku melakukan semua ini demi mewujudkan impian ayah"


Sosok itu tetap bersiul.


".....Dan sekarang aku telah berhasil, aku berhasil Vistor!! dengan begini impian ayah untuk menyembuhkan anak yang terlahir cacat di seluruh dunia akan terwujud"


"Meskipun, meskipun masih banyak yang belum aku sempurnakan. aku akan terus berjuang, sampai mimpi ayah benar-benar terwujud!!"


Sosok itu berhenti bersiul.


Tok!-Tok!-Tok!


"Ya, tunggu sebentar"


Ketika Victoria berpaling sebentar untuk menjawab panggilan dari maidnya, sosok tanpa kepala itu sudah tidak ada lagi disana.


Krieet! Maid itu masuk.


***


Jam 09:00 pagi Victoria beserta anak buahnya pergi ke kota untuk menepati janjinya mengantarkan anak gadis kecil itu ke sebuah Panti Asuhan.


Namun sebelum kesana, ia membawa anak gadis kecil itu bermain ke kebun binatang lalu berbelanja untuk kebutuhannya kelak.


Akhirnya mereka sampai di Panti Asuhan, mobil mereka terparkir di tepi jalan. Dua pengawal pribadinya bersiaga disana. Victoria dan Berta melangkah masuk ke pekarangan untuk mengantarkan anak gadis kecil itu.


Kedatangan mereka di sambut oleh para pendidik pekerja sosial panti, disana Berta melakukan tugasnya sebegai seorang penerjemah bahasa lokal.


"Mam, dia menanyakan siapa nama anak ini?" ucap Berta.


Victoria langsung terdiam mendengar pertanyaan itu...

__ADS_1


Pandangan mata Victoria mulai bergelombang, membuat orang-orang yang ada disekitarnya menjadi heran dan ikut merasakan simpati.


"Mam," Berta mencoba menegarkan hati majikannya.


Segala perbuatan yang pernah Victoria lakukan di masa lalu terputar kembali dalam ingatan pikirannya.


Setelah beberapa kali Berta memanggil nama majikannya, akhirnya Victoria tersadar dan langsung mengusap lautan air mata yang membasahi pipinya dengan menggunakan jas putih yang ia pakai.


"Kirana...nama anak ini...Kirana" ucapnya sesenggukan.


Berta tersenyum setelah melihat perubahan yang sudah terjadi pada majikannya. Di dalam hatinya ia juga ikut merasakan haru dan bahagia.


Para pendidik itu terlihat memberikan senyuman kepada anak gadis kecil yang bernama Kirana.


Sebelum pergi Victoria memberikan pesan terakhirnya untuk anak itu, dan meminta untuk menyampaikannya ketika ia sudah besar kelak.


Berta dan Victoria kemudian mulai melangkah keluar meninggalkan Panti Asuhan itu untuk yang pertama dan yang terakhir kalinya. Tak lama kemudian tiba-tiba seseorang mendekap kakinya dari belakang.


"Eng ada apa, Kirana?" tanya Berta.


Kirana kemudian menarik tangan kanan Berta dan menciumnya.


"Makacih kakak" ucapnya tersenyum.


Kirana bermaksud ingin melakukan hal yang sama untuk Victoria.


Tetapi Victoria menolaknya. Ia kemudian duduk dengan kedua lututnya, lalu mengambil tangan kanan anak gadis kecil itu dan menciumnya.


"Selamat tinggal Kirana, maafkan atas kesalahan yang selama ini sudah ku perbuat" ucap Victoria dalam bahasa jerman dengan mata yang berkaca-kaca.


Berta sedikit terkejut melihat apa yang sudah dilakukan oleh majikannya. Ia kemudian menjelaskan arti dari perkataan yang di ucapkan oleh Victoria.


"Ibu bilang, Kirana kalau udah besar harus jadi anak yang pintar dan kuat. agar suatu hari nanti bisa berguna dan membantu semua orang"


"Yes, Mam!! Kirana tersenyum ceria.


Victoria kembali berdiri, lalu bersama Berta ia pergi pamit meninggalkan tempat itu. Kirana memberikan lambaian tangan selamat tinggal beserta senyuman manisnya kepada mereka berdua yang sudah menyelamatkan nyawanya.


...


Di dalam mobil, Victoria seperti menemukan tujuan jalan hidup yang sebenarnya setelah melihat senyuman anak itu.


"Berta, setelah kita bakar makhluk itu. Aku akan membawa Niira pulang bersamaku ke jerman dan memulai membangun fasilitas yang baru."


"Baik, saya mengerti" jawab Berta dengan perasaan yang terharu.

__ADS_1


Salah satu dari dua pengawal yang bertugas untuk menyupir membenarkan kaca spion yang ada di dalam. Ia kemudian menyalakan mobil itu dan melaju menuju jalan pulang.


Bersambung...


__ADS_2