Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 19.6 : "A Present For Miira!"


__ADS_3


Jam 02.15 Tengah malam



Miira beranjak dari tempat tidurnya, lalu mengambil anaknya dan memasukkannya ke dalam tas penggendong bayi yang sudah ia pakai diposisi depan.


Dengan pakaian daster yang bewarna putih tanpa menggunakan alas kaki, ia melangkah menyelinap diantara orang-orang terkena wabah penyakit yang lagi tertidur.


- Miira membuka pintu


Ia mengintip ke arah luar dan memperhatikan situasinya. Semua lampu koridor masih terlihat menyala. Miira keluar, lalu melangkah pelan menuju ruangan lab yang ada dibagian belakang.


Suhu lantai yang dingin tidak mematahkan semangat Miira untuk terus melangkah. Miira sampai, dan melihat di dalam sana terlihat Niira yang masih tertidur. ia lalu berjalan ke arah yang pintu yang ada terdapat dibalik dinding disebelah kirinya.


- Miira mencoba membuka


Handle pintu yang ia turunkan ke bawah tidak memberikan respon untuk membuka. Sampai beberapa kali ia mencoba akhirnya terbuka dengan sendirinya. Miira tidak peduli kenapa itu bisa terjadi, ia langsung masuk dan mendekati Niira lalu mencabut setiap selang yang terpasang ditubuhnya.


Setelah itu ia menggendongnya dibelakang, dengan tubuh Niira yang kecil dan masih berusia 10 tahun tidak menjadi beban berat bagi kondisi fisik Miira saat ini.


Tujuan pertamanya berhasil, ia kemudian melangkah keluar dari ruangan itu. Ia kemudian lanjut berjalan menuju ke arah depan.


Dibalik dinding persembunyiannya, Miira melihat masih ada dua Wanita yang bekerja didepan komputer. Dan diluar sana, terlihat ada beberapa orang yang sedang berjaga.


Miira terdiam sejenak untuk berpikir langkah apa yang harus ia lakukan untuk melewati mereka semua.


"Kenapa kamu pusing? Pecahkann saja semuanya!" seseorang berbisik.


"....Pecahkan..?!"


Tiba-tiba semua lampu penerangan yang ada didepan pecah semua dengan sendirinya, sehingga tempat menjadi gelap total.


Kyaaaaa! Suara teriakan kaget dari dua pekerja wanita.


Tepat disaat para penjaga sebelum masuk membawa penerangan dengan menggunakan cahaya senter yang dipegangnya. Miira sudah terlebih dahulu menyelinap memutar ketika dua Wanita pekerja itu sedang meringkuk bersama karena ketakutan.


"Apa yang terjadi!!"


Ternyata penjaga lelaki itu ada enam orang, dan mereka berkumpul didalam menyoroti bagian atas dan bawah yang banyak berserakan serpihan kaca dari bola lampu yang telah pecah. Miira menggunakan kesempatan itu untuk keluar melarikan diri.


Ia berada diluar bangunan, matanya lekas berlari kemana arah yang harus ia ambil. Perasaan yang panik dan terburu-buru membuat dirinya lupa bahwa ia sebelumnya sudah melewati tempat itu.


Setelah melihat tangga yang menurun disana, membuat ingatannya yang tersendat mengalir kembali. Ia pun bergegas turun melewatinya.


Ia menginjakkan kakinya diatas aspal, dan yang ada dihadapannya adalah sebuah tiang listrik dengan lampu penerangan.


- Suara ramai terdengar keluar dari bangunan Lab.


Mendapati hal itu, Miira yang dengan perasaan yang menggebu langsung berlari. Sehingga salah satu dari cahaya senter dari penjaga memergoki Miira yang berdiri dibawah.

__ADS_1


"Hei siapa itu disana!" teriaknya, lalu berjalan menghampiri.


Merasa terpegoki, Miira kemudian terpaksa berlari yang seiring langkah kakinya membuat setiap cahaya lampu mendadak pecah sendiri. Sehingga membuat mereka yang coba mengejarnya menjadi ketakutan terhadap fenomena itu.


Dari kejauahan semua lampu penerangan yang ada disetiap kanan kiri jalan mati semua.


Akhirnya, setelah 150 meter Miira berlari ia sampai pada jalan yang bercabang dua. Jalan yang disebelah kiri adalah tempatnya tinggal. Namun ia tidak memilih kembali ketempat itu, dia sudah bertekad untuk memulai hidup baru ditempat yang lain bersama sisa keluarganya.


"Ibu...Miira ijin pamit meninggalkan tempat ini" ucapnya tertunduk dan meneteskan air mata.


Miira kemudian melanjutkan langkahnya memilih jalan yang ke kanan, dimana itu adalah jalan menuju keluar dari Pedesaan itu. Ia dengan berani melintasi jalan yang penuh kegelapan dengan membawa dua keluarganya.


- Setelah menempuh jalan 7 km


Akhirnya jembatan itu terlihat, wajah Miira yang terlihat ngos-ngosan seperti tidak mengenal batas kemampuannya. Dengan rasa haus yang mengeringkan tenggorokannya Ia terus lanjut menaiki jalan yang menanjak, maka sampailah ia didepan gapura jembatan tersebut.


"Niira...sedikit lagi" ucap Miira kepada adiknya yang masih tertidur.


Tidak ada satupun penerangan didekat jembatan itu, tetapi Miira tidak memperdulikan itu semua. Ia tetap melanjutkan langkahnya.


Ketika langkah kakinya sampai dipertengahan jembatan, disitulah sebuah kejutan datang untuknya.


Tek! Ada delapan lampu mobil tiba-tiba menyala didepannya. Miira menghalangi sinar itu dengan kedua lengannya karena sangat menyilaukan matanya.


Seseorang turun dari mobil, dan ia berdiri didepan cahaya dari lampu tersebut.


"Mau kemana? bukankah ini terlalu pagi...untuk menghirup udara segar?" ucap seseorang yang belum kelihatan wujudnya.


"Suara itu?....Victoria!!?" Miira kaget dan terkejut dengan keadaan yang di hadapinya saat itu.


"Aku ini...pintar!!" ucap Victoria yang menunjuk ke arah kepalanya.


"Aku sudah tahu semua yang ada di dalam kepalamu!" imbuhnya.


"Tidak mungkin...apa lagi yang kau ingin dari kami, hahh!" teriaknya.


"Kalian semua!" jawabnya singkat.


"Tembak kedua kakinya!!"


Victoria memerintahkan 8 orang Pengawal lelaki yang sudah berjejer dikanan kirinya. Mereka semua bersiap dalam posisi membidik.


Miira mati kutu, posisinya saat ini sudah berada dijalan yang buntu. Tidak mungkin baginya untuk berlari mundur kembali kebelakang. Dan tidak akan yang menolongnya bahkan Tuhan sekalipun.


"Tunggu!!!" teriaknya.


Victoria tidak terkejut, karena Miira sudah didalam skenario miliknya.


Miira jatuh bersimpuh, ia tertunduk dan air matanya jatuh membasahi wajah polos bayi perempuannya.


Ia mengusap air mata yang ada diwajah anaknya.

__ADS_1


"Maafin ibu ya nak...ibu sepertinya tidak bisa menyelamatkanmu dan kakakmu"


Victoria meberikan kode dengan menggerakkan tangannya. Mereka yang sudah paham dengan kode tersebut langsung merapat mendekati Miira.


Tas yang di gendong untuk membawa anaknya dilepaskan, Niira juga dibawa ke dalam mobil untuk diamankan. Miira dipandu berdiri, lalu kedua tangannya diborgol dan kemudian ia dibawa kedalam mobil. Dua Wanita itu saling berselisihan tanpa ada sepatah katapun yang terucap.


Empat mobil itu kemudian berjalan menuju Fasilitas milik Victoria berada.


...


- 11 Tahun kemudian


Didalam sebuah tempat Fasilitas dari bangunan yang berlogokan Tray Cell diatasnya. Banyak orang-orang yang sedang berlalu lalang memakai jas putih dan maskernya. Di antara mereka semua terlihat empat roda kecil yang membawa rak besi berisikan berbagai macam makanan didorong oleh seseorang melewati kamar dari kamar, dan menuju ke sebuah koridor yang sunyi.


Disana, dibalik dinding kaca yang tembus pandang terlihat seseorang dengan rambut panjang sampai ke kakinya, sedang diborgol dengan kedua tangan dan kakinya.


Dia adalah Miira, yang semenjak kejadian itu langsung dikurung dan dirawat didalam sana.


Pegawai wanita itu membuka pintu, lalu membawa masuk kereta dorong yang membawa makanan dan sebuah baskom yang berisikan air hangat dan kain bersih.


Ia kemudian mengambil baskom itu lalu mencelupkan kain bersih ke dalam air hangat, lalu memerasnya. Ia kemudian membersihkan wajah Miira yang kotor. Lalu lanjut membersihkan lehernya dan kemudian bagian tubuhnya.


Miira hanya terdiam dengan tatapan yang kosong dan tak berekspresi sama sekali. Dalam 11 tahun ia diperlakukan hal yang sama, sehingga ia sudah terlalu bosan untuk coba melawannya.


...


Hari sudah menjelang malam, ia mengetahui itu karena setengah dari cahaya yang ada dikoridor mulai berkurang. Miira merasa sedih setiap mengingat momen kegagalannya untuk keluar dari sana. Ia berharap malam ini malaikat maut akan datang mencabut nyawanya.


Malam itu, pertama kalinya Miira merasakan hal aneh dalam tubuhnya, pandangannya berlipat ganda, sehingga membuat kepalanya pusing tak tertahankan. Ia pun jatuh dalam tidurnya.


"........."


"Eng...??" Miira terbangun membuka mata.


Hal yang pertama dilihatnya adalah tempat yang bewarna putih sejauh mata memandang. Ia pun kaget dan langsung bangun dari tidurnya.


Wajah Miira terlihat tersenyum dan mengeluarkan air mata kebahagiaan. Karena itu adalah tempat yang ia tunggu-tunggu sejak lama sekali.


"Akhirnyaa...aku sudah mati...terimakasih" ucapnya menangis dan memegang dadanya yang merasakan sesak akibat penderitaannya selama ini.


Ia terduduk disana dan menangis sejadi-jadinya. Ketika semua penyesalan itu keluar dari air matanya, Miira bangkit berdiri dan melihat kanan kirinya yang ternyata tidak ada apa-apa. Dan ketika ia coba berpaling, ia dikejutkan dengan suatu benda.


Sebuah pintu yang berdiri tegak sendiri ditengah luasnya ruangan bewarna putih.


"Pintu apa ini?" ucap Miira setelah memeriksanya.


"Apakah ini pintu menuju surga?" Wajahnya terlihat sumringah.


Tangan Miira memegang handle pintu tersebut, ia pun tanpa ragu untuk membukanya.


KRIEEET~

__ADS_1


Miira hilang ditelan cahaya yang sangat terang.


Bersambung...


__ADS_2