
"Anwaaarr!!" Karina terbangun mengigau.
Karina melihat didepannya semua orang sedang memandanginya.
"Anwar mana..?" tanya Karina.
Semua menunduk termenung.
"Jadi itu bukan mimpi??"
Karina shock dan duduk bersedih.
...
Melihat Karina terbangun meneriakkan nama Anwar, menjadi sebuah pertanyaan pada mereka semua. Pak Daniel lalu menanyakan apa yang sudah dialami karina.
Karina lalu menjelaskan, mulai dia turun dari ruang bawah tanah sampai ke lobby exit bertemu dengan Anwar yang sudah mati mengenaskan.
Mendengar itu semuanya merasa kesal dan sangat terpukul. Ragil semakin kelihatan suntuk dan wajahnya terlihat depresi.
"Jadi nama monster itu Fantasma dan Cadavier, ya?" Pak Daniel.
"Semua monster di ruang bawah tanah sudah saya habisi, tapi tempatnya cukup lembab dan bau, karena ada genangan air sepanjang ruang fasilitas itu" jelas Karina.
"Kalau begitu ayo kita lekas berangkat dan meninggalkan tempat ini" Sandi.
"Kemampuanmu itu gak masuk akal" Ragil nyeletuk.
"Setidaknya, kita masih ada harapan" Ryo.
"Okeh, semuanya lekas benahi barang bawaan kalian. Kita jalan sekarang juga" Pak Daniel
Setelah semuanya berbenah, mereka lanjut berjalan ke ruang paling belakang yang terdapat tumpukan lemari.
Para lelaki bekerja sama memindahkan lemari itu, dan menyusun ke dinding belakang. Sebelum membuka pintu ruang bawah tanah. Pak Daniel mengisi pelurunya yang tersisa empat butir.
Ketika saat Pak Daniel ingin membuka pintu, Karina memberikan peringatan untuk semua teman-temannya.
"Semuanya, dengarkan aku. Dibawah sana tempatnya sangat bau, dan berair. Jadi mulai dari sini gunakan sesuatu untuk menutup bagian hidung kalian."
Mendengar itu masing-masing dari mereka mulai memakai masker, sedangkan Ragil menggunakan baju kotornya sebagai penutup hidung.
"Dan satu lagi, apapun yang terjadi cobalah untuk tetap berpikir positif. Buang rasa takut,"
"Bukannya kau sudah menghabisi mereka semua??" Ragil nyeletuk.
"Iya, tetapi ada satu sosok entah itu Fantasma, Cadavier atau Jin. Yang pasti dia energinya paling berbeda, sangat besar sekali. Aku tidak yakin bisa melawannya"
__ADS_1
"Apa kau melihat wujud dari monster itu?" Pak Daniel.
"Belum lihat, tapi aku sekilas melihat seperti dua buah cahaya senter bewarna merah sangat terang" jelas karina.
"Dan juga kakinya seperti terikat rantai dan terus memanggil nama adiknya" Imbuhnya.
"Kok ngeri banget Rin, yakin nih kita lewat sini"? Winda.
"Kembali pun kita tidak tahu mana jalan yang benar, kita benar-benar disesatkan oleh sesuatu" Sandi.
"Baik, semuanya bersiap-siap saya akan buka pintunya"
*GRAB
Pak Daniel memegang kedua gagang pintu ruang bawah tanah lalu membukanya.
KRIIIIEEETTT
Belum pintunya terbuka semua, mereka yang disekitar pintu langsung mencium bau busuk dan mual-mual.
"Uhuweeekkk....uhuk..uhukk, anjing bau bangettt!!" Ragil.
"Biar kita buka dulu, tunggu sepuluh menit biar udara pengapnya keluar" ucap pak Daniel.
(Sepuluh menit kemudian)
Sesampainya dibawah yaitu ruangan lobby, Pak Daniel menyenteri sekitarnya. Tentu saja pemandangannya sama dengan apa yang sudah dilihat Karina.
Setelah yakin merasa aman, Pak Daniel memberikan kode pada mereka yang masih diatas untuk turun satu persatu.
Merekapun turun satu persatu mulai dari, Cindy, Winda. Ryo menyuruh Karina untuk turun menyusul, tetapi Karina mengatakan dia yang terakhir saja. Karena ada hal yang harus dilakukannya.
Ryo mengiyakan perkataan tersebut, ia pun kemudian turun disusul Sandi dan Ragil. kemudian Karina berjalan ke arah koridor pertengahan jalan, lalu ia mengulurkan tangan kanannya dan mengambil kembali energi yang sudah dipasangkan sebagai Distortion Object sebelumnya.
"Dengan begini, aku memiliki cukup banyak energi untuk melindungi mereka" ucap Karina sambil mengepalkan tangannya.
Setelah itu Karina lanjut berjalan, dan turun menyusul teman-temannya yang sudah ada dibawah.
...
*CPLASH *CPLASH
Mereka bertujuh mulai berjalan dengan pelan dan menyenteri ruang sekitarnya. Sesekali mereka batuk karena tidak tahan mencium bau tak sedap.
Lobby telah terlewati, saat ini mereka sedang melewati koridor panjang yang berdampingan kurang lebih ada dua puluh kamar.
Pak Daniel berada diposisi depan dengan memegang pistol dan senternya dalam posisi menyilang. Lalu dibelakangnya ada Cindy, Winda, Sandi, Ragil, Ryo dan Karina dipaling belakang.
__ADS_1
Satu, dua kamar terlewati. Mereka pun sudah merasakan merinding, tetapi Karina yang menjaga dibelakang meyakinkan mereka untuk tetap tenang.
Ditengah perjalanan Koridor itu Pak Daniel menanyakan sesuatu pada Karina tentang monster bernama Fantasma dan Cadavier.
"Dari apa yang saya lihat, Fantasma adalah percobaan mereka yang pertama. Mungkin waktu itu mereka gagal menciptakan sosok inang untuk mengendalikan mereka, akibatnya semua jadi hancur seperti ini"
"Tapi sebelum itu terjadi, mereka juga kelihatannya berhasil menciptakan monster yang kedua bernama Cadavier, dia berbadan besar dan bisa sedikit berbicara manusia"
"Mungkin itu yang menyerang Anwar sebelumnya, si Cadavier" ucap Pak Daniel sambil fokus berjalan melihat sekelilingnya.
"Iya benar, Monster itu juga yang sudah menyekik saya diatas genteng waktu didesa" jawab Karina.
"Dan ternyata benar, organisasi inilah yang sudah menciptakan serum Tray Cell yang Bapak Daniel bawa lalu kita suntikan pada warga desa itu" imbuhnya.
"Dengan kata lain, Bapak dan kita sudah ditipu untuk melakukan kelinci percobaan meraka secara tidak langsung" jelas Karina.
"Sial, aku akan melaporkan mereka semua jika sudah keluar dari tempat ini nanti" ujar Pak Daniel.
"Tapi anehnya tempat ini kenapa engga ada yang tahu, sampai pemerintah sekalipun" Ragil nyeletuk.
"Jawabannya sudah pasti, ini semua ada kerja sama dibalik tangan mereka" ucap Ryo.
"Engga, pasti ada misteri yang lain menyelimuti seluruh tempat ini" Karina nyeletuk didalam hati.
"Dan jika kita berusaha membongkar kebenaran ini, tidak hanya nyawa kita. Mungkin keluarga dan dangsanak semua bisa menjadi korban" sahut Sandi.
"Jadi lebih baik kita diam aja?" Winda.
"Entahlah, apa sebaiknya kita berpura-pura tidak tau tentang semua hal ini?" Sandi.
"Tapi yang aku masih heran, kalau monster ini tidak menyebarkan virus...kenapa jumlah mereka bisa bertambah banyak???" ujar Cindy.
"Apa mereka sama seperti kita beranak, atau jangan-jangan bertelur?" imbuhnya.
Ragil tertawa mendengarkan perkataan Cindy.
"Aku belum mendapatkan gambaran mengenai hal itu, yang pasti Fantasma dan Cadavier ini mereka tidak ada bedanya dengan Jin atau yang sering kita sebut hantu. Mereka perlu energi negatif dari manusia untuk menjadi sumber kekuatan mereka" jawab Karina yang berada di barisan paling belakang.
Akhirnya mereka sudah sampai diujung Koridor, Pak Daniel meminta mereka untuk diam sejenak karena ia ingin melihat situasi dikoridor berikutnya.
Dari jauh terlihat cahaya senter Pak Daniel menyinari Koridor yang luas yang berdampingan empat laboratorium.
"Oke, sepertinya tidak ada apa-apa" ujarnya.
Inner Shiver Karina memang tidak memberikan respon apa-apa, tapi untuk memastikan keadaan dia coba menggunakannya. dan ternyata...
Bersambung...
__ADS_1