
Di tengah malam yang sunyi terdengar suara langkah kaki seseorang bersama suara rantai besinya yang terdengar bising menghantam permukaan lantai. Dia adalah Miira yang sedang berjalan menuju keluar dari bangunan Laboratorium A.
Akibat kejadian itu, saat ini perusahaan Victoria telah diliburkan selama 3 hari, sehingga tidak ada penjagaan kecuali garis police line yang terbentang dimana-mana. Kaca pintu yang sudah hancur juga terlihat masih belum diperbaiki.
Miira tidak peduli yang ada dihadapannya, ia tetap berjalan sambil menunduk dengan rambutnya yang panjang hampir jatuh ke lantai. Cahaya lampu yang menerangi halaman luar memperlihatkan sosok Miira yang terlihat menyeramkan. Ia menuruni tangga kembali yang terdapat disebelah kanannya, lalu melanjutkan langkah kakinya dengan mengikuti arah insting yang mengatakan keberadaan dari Niira adiknya.
...
Di suatu tempat sebuah bangunan yang memiliki ruangan bawah tanah, terlihat banyak sekali tentara Militan Jerman yang sedang berjaga. Mereka berkumpul bercerita dan bersenda gurau tentang kejadian Poltergeist yang sudah di alami oleh empat orang dari rekannya.
Mereka yang tertawa terbahak-bahak karena menganggap cerita itu semua hanya omong kosong, tiba-tiba hening seketika karena teman dari mereka mendengarkan seperti ada suara bising dari rantai besi yang terseret.
"Apa kalian mendengarnya?!"
Semuanya juga mendengarkan suara tersebut, namun mereka tidak terlalu menanggapinya serius dan beranggapan bisa saja itu suara angin yang mengantam batu.
"Lagian ini sudah malam, tidak ada orang selain kita disini. Sudah ayo kita lanjut minum lagi"
Lama kelamaan suara bising dari rantai yang terseret itu terdengar semakin jelas dan terus mendekat. Tak lama kemudian terlihat lah dari dari ujung sana Miira yang sedang jalan berbelok menuju arah mereka.
Lampu penerangan jalan yang ada dikanan kiri memperlihatkan jelas sesosok wanita berambut sangat panjang , dengan baju daster merah berdarah sedang berjalan menunduk.
"Woiii!!! Itu apa!!!"
Tentara itu meneriaki teman mereka yang sedang asik berkumpul minum-minum.
Ada sekitar 17 orang yang sedang berjaga disana langsung berposisi siaga menunggu kedatangan Miira. Mereka tidak berani melepas tembakan tanpa sebab, karena peraturan dari Victoria adalah hal yang mutlak.
"Apakah itu yang namanya Hantu? Yang benar saja, hahaha!"
Miira kian mendekati mereka, tak satu pun dari para Tentara Militan disana meresa gentar dengan kehadiran sesosok wanita dengan penampilannya yang compang-camping seperti orang gila.
Lima orang yang paling berani maju kedepan menghampirinya, ia kemudian menanyakan siapa Miira dan ada apa dengan penampilannya yang bisa sampai jadi seperti itu.
"Aku ingin mencari Niira"
__ADS_1
Miira menjawab pertanyaan mereka dengan bahasa jerman, sehingga membuat mereka berpikir jika Miira adalah wanita jerman.
"Apa kau seorang tahanan? Jika benar bagaimana caranya kau melepaskan diri dari rantai-rantai itu?"
Salah satu tentara yang sedang duduk memperhatikannya merasa familiar dengan Miira. Ia kemudian bangkit lalu mendatanginya.
Lelaki itu berdiri tepat berhadapan, ia lalu membenarkan rambut berantakan yang menutupi wajah Miira.
"Dia adalah tahanan Ibu Victoria, bagaimana dia bisa sampai kesini? Kepalanya juga sedang terluka, apa yang harus kita lakukan?"
Ketua personil yang sedang menengguk habis minuman kerasnya itu akhirnya bangkit berdiri dan menghampiri rekan-rekannya. Ia berjalan memasuki diantara mereka dan bertatapan wajah langsung dengan Miira.
Tangan kanannya menyentuh dagu dari wajah Miira, ia kemudian melirik keelokan dari tubuhnya.
"Apakah ada yang sedang kau cari, sampai harus keluar tengah malam begini!"
Umumnya, mereka harusnya panik dan segera menangkap Miira. Namun efek dari minuman keras sudah merubah pola normal pikiran mereka.
"Aku sedang mencari adikku yang bernama Niira, apa kalian tahu keberadaannya?"
Niira? Ketua personil itu merasa tidak asing dan pernah mendengar nama tersebut. Ia kemudian mengatakan jika bangunan ruang bawah tanah yang berada dibelakangnya, sedang ada banyak para peneliti yang sedang sibuk untuk mempersiapkan sesuatu beberapa hari lagi.
"Tunggu! Kami bisa saja memberimu bantuan mencari gadis kecil itu, dia adikmu bukan?"
Langkah kaki Miira berhenti saat itu juga. Tanpa harus berpaling ia menyatakan sesuatu yang dingin.
"Kalian jangan mencoba menipuku, nanti kalian semua akan mati"
Mendengar perkataan itu mereka semua tertawa mengucilkan seorang wanita yang sedang berada sendiri ditengah para laki-laki.
Ketua personil itu pun kembali mendatangi Miira dan berdiri disampingnya.
"Kau lihat kami, dengan seragam ini kami bisa melangkah kemana saja dan melakukan apa saja tanpa harus dicurigai. Kami bisa dengan mudah untuk menemukan keberadaan adikmu itu, asalkan kau juga mau bekerja sama dengan kami"
Miira menatap setiap mata laki-laki yang ada disekitarnya, mereka terlihat memberikan senyuman yang menyiratkan sesuatu. Ia tahu apa yang para lelaki itu inginkan darinya.
__ADS_1
"Apapun itu, asalkan kalian tidak membohongiku"
Mereka merasa bangga dan berteriak seperti kawanan hyna, karena menerima jawaban dari Miira yang sepemikiran dengan apa yang mereka maksud. Miira bermaksud melakukannya disana, namun ketua personil itu menghentikan tindakan tersebut.
Ia menyarankan ke suatu tempat yang aman dan jarang ada orang yang mendatanginya, tempatnya tidak jauh dari lokasi mereka berdiri. Miira yang sudah jatuh dalam kegelapan merasa persetan dengan istilah kata baik maupun buruk. Ia menerima tawaran mereka dan mengikuti arah tujuan lokasi tersebut.
Itu adalah sebuah Goa bekas tambang emas, lokasinya tersembunyi oleh semak belukar dan hutan yang tinggi. Disana ada sebuah cahaya penerangan, sehingga tidak terlalu gelap dan menakutkan.
Miira dibawa ke dalam sana bersama 16 tentara militan lainnya. Didalamnya terdapat cahaya terang yang memperlihatkan berbagai macam kotak kayu yang berisikan berbagai macam senjata. Dan juga, terdapat sebuah ruang tahanan yang cukup luas dengan jeruji besinya yang panjang.
"Ini adalah gudang senjata rahasia kami, dan itu adalah ruang tahanan khusus bagi siapapun dari kami yang sudah melanggar peraturan. Disini kita bisa melakukan sepuasnya"
Mereka semua kemudian masuk kedalam ruang tahanan itu bersama Miira di dalamnya.
...
Cahaya pagi mulai terlihat, satu persatu dari mereka keluar dari Goa itu dan bergegas kembali untuk bertugas. Disana menyisakan ketua personil yang terlihat belum selesai dengan urusannya.
Selang beberapa saat kemudian, ketua personil itu sudah dalam seragamnya. Ia memberi saran agar Miira tetap berada disana sampai mereka bisa menemukan informasi tentang adiknya, ia juga berjanji akan merahasiakan keberadaan Miira dari Victoria.
Hari demi hari berlalu, setiap tengah malam tiba mereka semua datang kembali ke Goa itu. Seperti biasanya ketua personil memberikan berbagai macam alasan tentang bagaimana sulitnya mengorek informasi dari Victoria. Miira masih bersabar dan terus berharap, ia kemudian memberikan apa yang mereka inginkan layaknya rutinitas harian.
Hari berganti minggu dan minggu berganti bulan, tak terasa kini sudah setengah tahun semenjak awal pertemuan itu. Di suatu siang hari, Miira terlihat sedang terdiam didalam sana sambil mengelus perutnya yang telah membesar. Ia terlena dengan tujuannya dan mulai terbiasa mendapatkan semua kenikmatan itu.
Hingga pada suatu ketika tiga orang tentara yang turun dari sebuah mobil terlihat mengendap-ngendap berjalan masuk kedalam semak belukar menuju tempat dimana Miira berada. Dua orang pegawai Wanita yang merasa curiga dengan gerak-gerik dari mereka tanpa sengaja datang mengikutinya.
Dua pegawai wanita itu sampai disana, dan mengendap-endap mengikutinya sampai ke dalam Goa. Mereka terkejut dengan apa yang sedang dilihatnya, keberadaan Miira yang sampai saat ini dinyatakan hilang akhirnya ditemukan.
Tanpa disadari oleh mereka berempat yang kelihatan sedang sibuk bermain, dua pegawai itu bergegas pergi meninggalkan tempat itu.
Sesampainya mereka langsung menyebarkan semua berita tentang hal yang sudah dirahasaiakan oleh para tentara militan itu. Ketua personil yang sedang berjaga di luar pun ikut mendengarnya. Ia mulai terlihat panik berkeringat, bagaimana bisa rahasianya bisa terbongkar.
Berita itu akhirnya terdengar ditelinga Victoria, ia terlihat sangat geram dan kesal dengan semua kebenaran itu. Ia kemudian membawa pasukannya langsung menuju ke lokasi.
Namun ternyata Miira sudah tidak ada didalam Goa itu, Victoria kemudian menyuruh pasukan khususnya untuk mencarinya sampai ketemu.
__ADS_1
"Wanita ****** itu sedang hamil, dia pasti tidak bisa pergi jauh. Pastikan tangkap dia hidup-hidup!! aku akan memenggal kepalanya dengan tanganku sendiri"
Bersambung...