Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 16.8 : "Manifestasi Dari Fantasma"


__ADS_3

Tidak ada yang mengetahui apakah sosok tersebut Jin atau Fantasma. Kaki mereka semua seperti terkunci, waktu seakan tidak berjalan. Sementara sosok itu sudah berada diatas dan terus berjalan mendekati empat orang tersebut. Sandi berada dipaling depan, sudah pasti dia yang akan menjadi incaran duluan. Ekornya yag berada dibelakang mulai bergerak mengibaskan seperti sebuah cambukan, akan tetapi Sandi masih sama sekali tidak bisa menggerakan tubuhnya satu jari pun, padahal sosok sudah berada dihadapannya.


Mata Sandi hanya memplototi sosok tanpa kepala itu mendekatinya, hatinya berteriak untuk cepat pergi dari situ namun badannya tidak dapat merespon perintah itu. Hingga pada suatu moment sosok tanpa kepala tersebut ingin mengibaskan ekornya kepada Sandi, Pak Daniel yang berada di pojok kiri dengan segenap kekuatan dan keberaniannya meneriakkan nama Sandi sekuat mungkin.


"SANDIII SADARR!!"


Teriakan yang keras dari Pak Daniel belum juga mampu menyadarkan Sandi. sehingga ketika sosok itu melibaskan ekornya ke arah kepala Sandi, tangan Ryo datang lebih cepat lalu menarik Sandi kebelakang.


BRUAKK!! Cambukkan dari ekor tersebut menghancurkan patung yang terbuat dari ukiran batu hancur berantakan serta menjatuhkan pedang yang dipegangnya. Sandi dan Ryo terpental kebelakang akibat efek dari kibasan energi negatif yang besar.


DOORS! DOORS!!!


Dua buah amunisi yang sudah berlapiskan Energi Biru milik Karina ditembakan ke bagian kaki kanan sosok tanpa kepala tersebut. Ia pun meronta kesakitan sambil memegangi kakinya yang terbakar oleh api biru. Buntutnya bergerak tidak beraturan, api itu benar-benar membuatnya kesakitan.


"Semuanya cepat lari!!!" teriak Pak Daniel.


Ragil melihat pedang yang terdampar diatas lantai, ia bergerak memberanikan diri untuk mengambilnya. Ryo dan Sandi kemudian bangkit bersama, dan bergegas mereka beranjak pergi dari tempatnya.


Pak Daniel turun tangga terlebih dahulu, disusul Ragil Ryo dan Sandi yang sempat menoleh ke arah sosok tanpa kepala yang masih kesakitan memegangi kaki kanannya.


Langkah kaki mereka menuruni anak tangga yang licin begitu cepat, rasa takut mereka terhadap sosok itu jauh lebih besar dibandingkan keselamatannya.


Mereka berempat sudah berada dibawah, dalam situasi yang genting pikiran mereka harus cepat bisa memutuskan langkah berikutnya.


"Itu dia pintu depan!" teriak Ragil


Mereka pun bergegas berlari untuk dapat mendekatinya, namun tiba-tiba sosok itu muncul entah dari mana lewat dengan santainya didepan mereka berempat yang sedang mati-matian berlari. Sontak penampakan kejutan itu membuat mereka semua kaget dan melangkah mundur.


"HA HA HA!!" Suara tertawanya terdengar berat, beda dengan sosok kepala terbang sebelumnya.

__ADS_1


Semua cahaya senter tertuju padanya, sosok tanpa kepala tersebut memasang kuda-kuda sedikit menunduk, lalu tangannya ditarik dan dilipatkan ke dada. Ia melancipkan lima jarinya layaknya sebuah tombak yang siap menusuk.


Merasakan pergerakan membunuh, Sandi yang menyadari itu menyuruh temannya untuk jangan dalam posisi merapat. Ia menyuruh mereka berpencar dan menjaga jarak.


Pada moment ini, mereka terbagi dua bagian. Ragil bersama Ryo dengan satu senter dan sebuah pedang dipunggungnya berada disebelah kanan. Sedangkan Sandi dan Pak Daniel berdua berada diposisi sebelah kiri.


Sandi dan Pak Daniel mengarahkan senjata mereka ke arah sosok tersebut dan siap menembak. Akan tetapi sosok tanpa kepala yang sudah dalam kuda-kuda ingin menyerang, ia secara instant melompat ingin menusuk jantung Sandi. Mereka berdua yang kaget secara bersamaan menarik pelatuknya.


DDROS!! DOORS!!! Tiga peluru dilepaskan.


Berkat itu, tusukan maut pengincar jantung tersebut meleset dan mengenai bahu kiri atas Sandi. Mereka yang sama-sama terkena serangan menjerit kesakitan.


Pak Daniel reflek menarik sandi kebelakang agar jari dari tangan sosok tersebut dapat terlepas. Sedangkan sosok tanpa kepala itu mendapatkan tiga peluru tepat dibagian dadanya bersama dengan Api biru Karina yang ikut membakarnya.


Api itu menyala terang, sehingga dapat menyinari mereka berempat ia terlihat memberontak kesakitan.


"Cepat tembak lagi Sandi!!" teriak Ryo


Sosok tanpa kepala itu menari-nari bersama api biru yang membakar tubuhnya. Ia semakin beringas, menyerang tidak karuan dengan lengan dan kukunya yang panjang. Mereka berempat panik mendapati akan hal itu, Ryo dan Ragil bermaksud merapat ke arah Sandi dan Pak Daniel akan tetapi sosok itu kembali lagi menyerang dengan tusukan pencabut jantungnya ke arah Ryo dan Ragil, dengan reflek mereka berdua pun melompat secara terpisah.


CPLASH! CPLASH!!!


Pakaian mereka berdua basah seketika akibat genangan air yang kotor, sementara tangan sosok kepala buntung itu menancap tembus ke dinding ruangan.


Pak Daniel tidak ingin melewatkan kesempatan itu, ia meminta Sandi memberikan amunisi untuk mengisi ulang peluru pistolnya. Dengan tangan kanannya Sandi kemudian mengambil box peluru amunisi yang berada dikantung celana Kargonya.


"Ini Pak,!" ucapnya memberikan.


Pak Daniel dengan cepat mengisi peluru-peluru tersebut satu persatu.

__ADS_1


CREK! Peluru telah terisi dan siap menembak.


Ketika pistol sedang membidik sosok tanpa kepala tersebut, tiba-tiba si kepala buntung terbang itu datang lagi. Ia menyambar lengan Pak Daniel yang sedang berusaha membidik.


BUKK!!


Automatis Pak Daniel tersungkur dan jatuh dibuatnya, ia memegangi lengan kanannya yang terasa sakit seperti sudah dilempari satu buah kelapa tua. Dengan begini mereka berempat secara resmi berpakaian basah. Sedangkan sosok kepala buntung itu terlihat tertawa kesenangan melihatnya.


Ragil bangkit lalu mengeluarkan pedang itu dari sarungnya, ia berniat menghabisi sosok tanpa kepala yang lengannya masih tertancap disebuah dinding.


HIYAAAAHH!!!


Ragil terlihat siap menebasnya, namun ekor belakang dari sosok tanpa kepala itu mencoba menangkis serangan Ragil dengan mencambuknya.


SLASHH!!!


Buntutnya tanpa sengaja terpotong, sedangkan Ragil terlempar dua meter kebelakang dan melepaskan pedang itu dari tangannya.


Sosok tanpa kepala terlihat tidak beres, setelah tangannya terlepas dari tembok, ia terduduk dengan kedua lututnya lalu terdiam bersama api biru yang masih membakarnya. Di lain sisi Pak Daniel sudah bangkit dan melihat sosok tanpa kepala tak bergerak lagi, untuk memastikan ia menembakinya sebanyak tujuh kali.


BRWUUSHH!! Kobaran api biru besar menyelimuti tubuhnya secara keseluruhan, dan membakarnya sampai terurai menjadi debu.


Pertarungan belum selesai, sosok Kepala Buntung masih terbang kesana-kemari sambil mengejek mereka dengan suara ketawanya yang serak berair.


Cahaya senter Sandi mengikuti pergerakan sosok tersebut, ia bekerja keras agar sampai tidak lepas dari pandangannya. Ryo yang sudah berdiri menghampiri Ragil, mengambilkan pedangnya lalu membantunya untuk berdiri.


Mereka berdua lekas menghampiri Sandi dan Pak Daniel, lalu bersama menghadapi sosok Kepala terbang yang terus tersenyum mengejek mereka dengan matanya yang bewarna merah mengeluarkan darah.


__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2