
Mesikupun sudah berhasil menciptakan serum itu dari formula barunya, Victoria tidak bisa mengkalkulasikan seberapa besar keberhasilannya.
Ia kemudian memasukkan serum itu ke dalam koper Steel cast. Terlihat ada 10 jenis yang sama dari serum hasil sample darah Miira (hantu) dan 1 buah sample darah Niira.
Victoria kemudian meninggalkan ruangan itu, yang kemudian di susul bersama asistennya Berta dan dua pengawal pribadinya yang sejak tadi menunggunya di luar.
Mereka menuju ke lokasi tenda putih untuk memulai kembali uji coba eksperimennya. Pasukan hazmat sudah terlihat ramai disana dengan aktifitasnya masing-masing.
- Mobil terparkir, empat orang turun dari mobil.
Ada dua orang hazmat yang berjaga di depan tenda yang sudah menunggu kedatangan Victoria.
Di dalam tenda Victoria tidak melihat adanya Joaquim dan rekan-rekannya. Ia lalu menyuruh satu orang hazmat untuk segera memulainya. Di saat akan segera memulai Joaquim dan asisten pribadinya masuk ke dalam tenda.
"Apakah aku sudah terlambat untuk menyaksikan sebuah maha karya?"
"Kami baru saja akan memulainya" jawab Victoria.
"Semoga hasilnya secerah cuaca di luar hari ini" ucap Joaquim tersenyum.
Victoria menjawab senyuman itu dengan eksperi wajah yang datar.
Joaquim melihat serum yang sedang di pegang hazmat itu berbeda warna dari yang sebelumnya.
Hazmat kemudian menyuntikannya kepada pasien pertama.
CRUK! Air cairan serum bewarna hitam kemerahan itu mengalir masuk ke dalam lengan pasien yang terlihat rusak kulitnya.
Pasien itu hendak berteriak, namun mulutnya tertutup potongan selotip. Badannya bergetar, jari-jarinya bergerak ingin mencakar, perubahan warna mulai terjadi pada kulit tubuhnya.
Sebagian rambutnya mulai rontok, dan sebagian tumbuh memanjang, darah mengalir keluar dari lubang hidung, bola matanya yang bewarna putih berubah menjadi merah, matanya terus melotot seakan ingin lompat keluar. Tak lama pasien itu terdiam seketika.
Semuanya yang melihat kejadian itu terkejut bahkan Victoria sendiri.
"Hey! Nona Direktur! Sebenarnya apa yang ingin kau ciptakan!! Ini, ini bukanlah perbaikan genetik! Ini lebih tepatnya kau ingin menciptakan monster!!" Joaquim menaikan sedikit nadanya karena merasa panik.
Victoria terdiam sambil memandangi pasien yang sudah berubah bentuk karena eksperimennya.
"Terus coba!!" ucap Victoria.
"Yes, Mam!"
"Hey kau dengar aku apa tidak!!" bentak Joaquim.
Victoria tidak memperdulikannya, ia tetap meminta hazmat untuk terus menyuntikan serum itu ke pasien yang lainnya.
9 dari 10 pasien telah di suntikan serum Miira, namun hasilnya tetap sama. Joaquim terlihat sudah habis kata-kata untuk memarahi Victoria.
"(Itu adalah sample darah dari makhluk itu, energi negatif... )"
"(Apa mereka benar-benar sudah mati)"
Joaquim sudah merasa putus asa melihat keadaan yang tak kunjung datangnya harapan, dengan hati yang merasa kesal, ia bermaksud ingin pergi keluar meninggalkan tenda itu.
Akan tetapi saat ia ingin melangkahkan kakinya, Victoria terlebih dahulu memotong langkahnya. Ia bermaksud ingin mengambil koper yang satunya.
__ADS_1
Dia membuka kedua penguncian dari koper Steel cast, yang di dalamnya terdapat sampel milik Niira.
"Apa lagi itu? apa itu kartu as terakhir yang tersisa?" ucap Joaquim kesal.
Victoria mencabutnya dari busa styrofoam. Ia kemudian melangkah ke Stretcher yang paling akhir. Dimana ada seorang anak gadis kecil yang sedang menangis dan merintih kesakitan.
Ketika melihat anak gadis itu ia teringat mendiang adik bungsu perempuannya yang bernama Valencia. Tanpa ia sadari mata kanannya meneteskan air mata.
"(Niira...aku berjanji, jika anak ini berhasil sembuh. aku akan mengirimkannya ke panti asuhan, sebagai permintaan maafku kepada mu...") ucapnya seraya memandangi serum itu.
Tutup serum di buka, Victoria kemudian menyuntikannya di lengan sebelah kiri bagian atas dekat bahu.
Wajah gadis kecil itu terlihat mengkerut menahan jarum suntik yang masuk ke bagian tubuhnya.
Victoria telah berhasil memasukan cairan serum tersebut, ia masih tetap berdiri di sampingnya sambil menunggu harap-harap cemas akan keberhasilan yang ia dapat.
Satu sampai lima menit berlalu belum juga ada tanda-tanda perubahan.
"Sudah cukup, aku akan pulang! beri tahu aku kalau kau sudah berhasil. aku tidak kuat jika terus berada disini, monster mu itu membuat perasaanku tidak nyaman! ucapnya melalui asisten pribadi yang bertugas sebagai penerjemah.
Sesaat sebelum Joaquim akan keluar meninggalkan tenda, mata Victoria melihat beberapa partikel biru keluar dari tubuh anak gadis kecil itu. Warna kulitnya yang kehitaman mulai kembali normal secara perlahan dari ujung kaki sampai kepalanya. Bintil-bintil merah yang timbul dikulitnya juga kempes dan menyatu kembali pada kulit yang sudah normal.
Joaquim yang berniat meninggalkan tempat itu dibuat terperangah menyaksikan keajaiban tersebut.
"Demi tuhan... Nona Direktur, anda.. Anda telah berhasil menciptakannya!! Gahahaha!!" Joaquim terlihat begitu senang dan bergembira.
Victoria meneteskan air matanya, di dalam hatinya ia berkata.
"(Ayaah, aku berhasil... Aku berhasil mewujudkan mimpimu!!"
Berta datang menghampiri majikannya, ia mengambil sapu tangan disakunya lalu menghapus air mata di wajah Victoria.
...
Di sela-sela kebahagian itu semua orang yang ada di luar sana di buat terkejut dengan terdengarnya suara jeritan melengking dari dalam tenda Victoria berada.
"Uwaaaaaa!! Lihat!! lihat ciptaan mu!! mayat itu hidup kembali menjadi monster!" teriak Joaquim ketakutan.
Sementara satu orang hazmat yang berada di dekat monster juga terlihat sangat panik namun tidak tahu harus melakukan apa.
"Ghaa..aa..aaaaaaaaa!!"
Joaquim yang ketakutan melihat monster itu bergerak-gerak sampai menggeser Stretchernya, berteriak lari keluar.
Dirinya yang dipenuhi rasa kepanikan membuat kakinya mengambil salah langkah. Ia tanpa sengaja memijak sepatu kanannya sehingga jatuh tersungkur sampai keluar tenda dan terguling di atas tanah. Melihat itu asistennya langsung menyusul keluar membantunya untuk berdiri.
Victoria masih tak percaya apa yang telah di saksikannya, ia kemudian berjalan mendekati monster itu dan berdiri memandanginya.
"(Dua energi, yang berbeda...?)"
Victoria kemudian memberanikan diri untuk menyentuh kulit tangan dari monster yang bewarna hitam legam.
"Mam!! Apa yang ingin anda lakukan, itu berbahaya!" teriak hazmat yang panik.
CSHHH!!!! Sarung tangan latex yang di pakai Victoria melepuh seketika menyentuhnya.
__ADS_1
"Ouch!! (Panas?)"
"Mam, anda tidak apa-apa?" Berta datang menghampiri.
"Kau! cepat panggil yang lainnya datang kesini, dan perintahkan sebagian dari mereka untuk mempersiapkan tabung air hydrogen di Laboratorium!"― Victoria memberikan perintah kepada hazmat yang berada di sebelahnya.
"Y-yes Mam!!"
Hazmat itu langsung berlari ke luar tenda, dan memanggil rekan-rekannya yang bersiaga di luar.
"(Apa ini tandanya aku telah berhasil menghidupkan orang mati?)"
"Mam, apa sebaiknya monster ini tidak segera dibakar saja" Berta berupaya memberikan saran terbaik.
"Dibakar? (Tidak mungkin, permukaan tubuhnya saja sudah panas)"
Victoria mencoba memahami apa pemicu mayat itu sehingga bisa hidup kembali menjadi monster.
...
Tak lama terdengar suara langkah kaki yang ramai dari luar tenda. Yang ternyata mereka adalah para pasukan hazmat yang sudah mempersiapkan tabung air hydrogen di Laboratoium A.
"Mam, kami telah selesai mempersiapkannya!" ucap seorang hazmat yang datang melapor.
"Ambil Fire Extinguesher itu dan semprotkan kepada monster ini!" ucap Victoria.
"Ye-Yes, Mam!!"
Hazmat itu mencabut Fire Extinguesher yang terdapat di kereta dorong, lalu berjalan menghampiri monster yang dari tadi terus memberontak di atas stretchernya.
Victoria dan asistennya berjalan menjauh untuk menjaga jarak.
PRUSHH!!!!! Serbuk kimia yang bewarna putih itu di semprotkan dalam kurun satu menit.
Sekiranya cukup, Victoria memintanya untuk berhenti. Ia kemudian menghampiri monster itu lagi, untuk memastikan sesuatu.
Monster itu terlihat diam dalam ketenangan. Victoria kembali mencoba untuk memegangnya kulit lengannya.
"(Suhunya kembali menjadi normal?")
"Berta ambilkan aku Vacuum Tube yang ada di atas meja"
"Baik" Berta kemudian melangkah menuju meja, melewati 4 orang hazmat yang ada didepannya. Lalu memberikan apa yang di minta Victoria.
"Terimakasih"
Victoria kemudian menggabungkan tabung reaksi (Vacuum Tube) itu ke sebuah jarum suntik yang cukup besar, lalu menusukannya ke lengan monster tersebut. Maka darah yang bewarna hitam mengalir dengan sendirinya, mengisi penuh tabung reaksi.
"Bawa monster ini dan masukan ke dalam tabung air hydrogen. Dan bawa juga Fire Extinguesher itu untuk berjaga-jaga kalau dia memberontak lagi"
"Yes Mam!!" Para pasukan hazmat langsung melakukan tugasnya. Mendorong Stretcher itu keluar tenda, sampai ke gedung Laboratorium A.
Victoria bersama asistennya kemudian berjalan keluar meninggalkan tenda, ia memperhatikan sekitarnya.
"Dasar pecundang"
__ADS_1
Joaquim dan asistennya sudah tidak ada lagi disana.
Bersambung...