
Pandangan Miira gelap, ia pun coba membuka matanya perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah sebuah kaki yang terikat rantai.
".....!!!!??" Miira seketika tercengang dengan apa yang sudah dilihatnya, ternyata dihadapannya itu adalah dirinya sendiri.
Ia melayang mendekati dirinya yang duduk tertunduk dengan kedua tangan dan kakinya yang terikat rantai.
"Aku...apakah aku sudah mati?" ucapnya yang tertegun dan masih tidak percaya.
Miira seperti merasa mendengar nafas yang keluar dari hidungnya sendiri. Ia pun coba mendekat lebih lagi untuk memastikannya.
"Aku masih hidup...?" Ia kembali tertegun.
Miira tertunduk, ia mulai tersenyum menyeringai dan tertawa lepas.
"Hahaha... Hahahahahaha!!"
"Hahhh~ perasaanku jauh lebih baik dari sebelumnya. Sekarang apa yang harus kita lakukan pertama kali setelah 11 tahun diperlakukan seperti seorang tahanan?" Ia menggumam dengan dirinya sendiri.
Selama dalam kurun waktu tersebut mental dan psikis Miira mulai berubah, ia telah kehilangan kesadarannya sebagai seorang ibu dan kakak dari adiknya yang bernama Niira.
"Ouuhh, lihat.. Malang sekali diriku"
Miira kemudian berbalik arah menghadap pintu dan mendekatinya. Ia ingin mencoba sesuatu, yaitu dengan menyodorkan telunjuk jari tangannya ke permukaan pintu kaca.
Apa yang ada didalam pikirannya menjadi nyata, jarinya menembus pintu kaca tersebut. Ia pun berteriak kesenangan seperti seorang anak kecil. Saking senangnya ia bulak balik keluar masuk menembus pintu kaca itu.
Dari kejauhan ia terlihat seperti Hantu Wanita melayang dengan rambutnya yang panjang sampai ke mata kakinya, baju dasternya yang bewarna putih, dengan kelopak mata yang bercelak seperti orang yang kurang tidur.
Setelah puas melakukan apa yang ia inginkan, Miira lanjut terbang melayang menyusuri Koridor.
Kepalanya terlihat menembus dinding untuk memeriksa disetiap ruangan, matanya pun lalu melirik untuk mengkonfirmasi apakah ada hawa keberadaan manusia didalamnya.
"Tidak ada... " ucapnya lalu menarik kembali kepalanya keluar dinding.
Ia kembali memeriksa ke seluruh ruangan namun tidak ada siapa-siapa. Miira bosan, dirinya yang sedang melayang di udara mencoba berputar-putar seperti seorang penari balet untuk membuang rasa jenuhnya.
__ADS_1
Dalam putaran itu mata Miira melihat sebuah jam yang ada diatas dinding, jam itu menunjukan pukul 01.45.
Tepat disaat jam 02.00, tiba-tiba tubuh spritual Miira mendadak Glitch. Namun ia yang saat itu belum tahu apa penyebabnya, sehingga tercengang dengan tubuhnya sendiri.
Kepalanya pun mendadak terasa sakit, sampai ia harus memeganginya dengan kedua tangan. Kondisi energinya tidak stabil, ia pun jatuh tersungkur ke atas lantai. Miira merintih kesakitan.
"Tolong.... Sakittt.. Kepalakuu!"
Flashback masa lalu muncul kembali satu persatu didalam memorynya. Penderitaan yang pernah ia rasakan sebelumnya membuat Miira berteriak histeris seperti orang ketakutan.
Dalam sujudnya Miira menangis dan mengingat kembali tentang dirinya dan keluarganya.
"Victoria... Victoriaa!!"
Wajah Victoria yang terus muncul diawang pikirannya, membuat Miira kesal lalu mengepalkan tangannya sampai berdarah, tubuhnya semakin tidak stabil dan Glitchnya semakin kacau.
Tiba-tiba bayangan hitam dan merah datang dari ujung koridor, ia berputar-putar membentuk ujung tombak. Bayangan hitam itu menghampiri Miira dari belakang, melebarkan auranya, lalu masuk ke dalam tubuh spritual Miira seperti terserap olehnya.
Miira tidak merasakan apa-apa kecuali rasa amarah dan kebencian, mata Miira melotot dan bewarna merah menyala, giginya tumbuh dua taring keluar dari mulutnya, lalu bayangan merah itu membungkus tubuh Miira secara keseluruhan, sehingga wujud tubuh spritualnya berubah warna.
Karina yang berada didalam tubuhnya seakan menolak dan energinya seolah mengatakan ingin mengajaknya keluar dari sana. Tetapi Karina tidak tahu bagaimana cara untuk melakukannya.
Wujud Miira yang baru terlihat sangat menakutkan, jika dilihat dari kejauhan kepalanya hampir saja menyentuh langit-langit ruang koridor itu. Ia yang mulai melayang membuat rambut dan gaunnya yang bewarna merah ikut terseret.
Miira melangkah ke ruangan lobby tunggu yang ada dua meja resepsionis saling berhadapan. Dalam langkahnya yang senyap, ia mengingat kejadian dimana ia mencoba melarikan diri.
"Niira... Anakku.. Kalian dimana..."
Diluar sana ada empat orang penjaga berpakaian militer, Miira yang memandangi mereka dengan aura kebenciannya membuat dua pintu kaca yang ada dihadapannya pecah berantakan.
TRASHH!!!
Empat penjaga yang sedang berdiri diluar itu terperanjat seketika mendengarnya. Mereka kebingungan dan saling menanyakan apa yang terjadi.
Cahaya senter mereka menyinari permukaan lantai yang yang banyak serpihan kaca, dan mencari penyebabnya dengan menyoroti bagian atas.
__ADS_1
"Tidak ada apa-apa?!" ucap salah satu dari Penjaga.
Salah satu dari mereka mengatakan jika itu adalah Fenomena dari Polteirgeist, perdebatan pun terjadi disana antara percaya dan tidak percaya.
Disaat itulah teman dari tiga orang tersebut melihat didalam ujung ruangan yang gelap ada dua mata merah yang menyala dengan posisi yang tinggi.
Sontak mereka bertiga yang penasaran setelah melihat gelagat temannya yang ketakutan berpaling, lalu menyorotinya secafa bersamaan. Maka terlihat wujud sosok mengerikan dari Miira yang berdiri tinggi tepat ditengah ruang lobby.
Mereka bertiga berteriak panik ketakutan setelah melihatnya, perasaan itu lah yang membuat mereka saling tidak peduli satu sama lain yang kemudian saling tinggal meninggali teman yang lainnya.
Miira semakin dekat ke arah keluar, dan disana tertinggal satu orang penjaga yang mati ketakutan sampai ngompol dicelana.
Tangan kiri Miira bergerak kedepan seolah ingin mencengkram leher orang itu ditangannya. Berkat Energi Negatifnya, situasi tersebut terealisasikan. Penjaga itu tergantung sendiri diatas seperti sedang dicekik oleh seseorang. Dan disana Miira bertanya.
"Mana Niira.. Mana Anakku" tanpa disadari Miira berucap dalam bahasa jerman.
Tatapan mata dari wajah Miira yang mengerikan membuat Penjaga itu menangis mengeluarkan air mata, wajahnya mulai terlihat merah, ia seperti tidak bisa bernapas.
Miira tidak peduli, ia terus menanyakan hal yang sama. Sampai akhirnya Penjaga yang memberontak minta dilepaskan itu terdiam karena mati dalam gagal pernapasan. Namun Miira tetap meminta jawaban dari pertanyaan yang sama sampai beberapa kali.
Ia pun akhirnya mulai geram karena tak kunjung dapat jawaban, sehingga cengkraman Energi dari tangannya memutuskan leher si Penjaga itu.
SRRRRSSHH!!!
Darah kental menyembur ke atas dan membanjiri ruangan bagian depan dan lantainya. Aroma darah itu disukai Miira, ia pun mengisap semua sari patinya sampai kering.
Malam itu Karina terus bergentayangan sampai keluar dari bangunan Lab B, ia lalu pergi menuju Lab A. Disana ia tidak ada menemukan juga jawaban yang di inginkannya. Mereka yang menemuinya mendapati nasib yang amat buruk hingga harus meregang nyawa dengan kematian yang berbeda-beda, tak peduli itu laki-laki ataupun perempuan.
Ditengah banyaknya lampu jalan dari tiang listrik yang menyala, terlihat hantu wanita tinggi yang bergaun merah, dan berambut panjang melayang diudara.
Miira teringat suatu tempat dimana ia menemukan adiknya Niira pertama kali. Tempat dimana ada ruang dibawah tanah dan banyak sekali kamar.
Disaat Miira akan sampai pada tempat tujuannya, ia bertemu dengan anak perempuan berdaster putih robek-robek yang sedang menangis sendiri ditengah jalan raya. Ia lalu mendekatinya untuk membuktikan rasa penasarannya tersebut.
Bersambung...
__ADS_1