
Victoria akhirnya mendapatkan sebuah buku bergambar yang aneh dan seorang bernama Niira. Dia pun lekas menyuruh para Detektif tersebut mencari tahu siapa gadis bernama Niira ini. Ia kemudian merobek bagian sudut kanan lembaran kertas yang bertuliskan nama Niira.
Sudah tiga hari mereka mencari seluk beluk dari gadis yang bernama Niira namun tidak ada titik terang. Mereka mengatakan tidak ada tanda atau jejak orang lain yang memasuki wilayah ini, apalagi seorang gadis anak kecil. Itu sangat tidak mungkin, ungkapnya. Sehingga mereka berani menyatakan bahwa kejadian ini diluar nalar manusia atau Poltergeist. Victoria tertawa mendengar perkataan itu, ia tidak bisa menerima dengan akal sehatnya. Para Detektif itu menghadap Victoria dan menyatakan mereka tidak bisa melanjutkan penyelidikan, karena ini diluar kemampuan mereka.
Di malam hari sebelum dirinya tertidur, Victoria terus dibayang-bayangi senyuman adiknya. Dirinya masih belum menerima atas kepergian adiknya yang masih sangat menjadi misteri.
Keesokan harinya, dia masih belum menyerah. Dia tidak akan selesai sebelum semua itu terjawab, oleh karena itu ia menyuruh para pengawal untuk mencari informasi tentang Niira dengan melakukan saimbara. Dimana, barang siapa yang berhasil menemukan gadis tersebut akan diberikan hadiah uang tunai dengan nominal sangat besar. Mereka pun bergerak cepat melaksanakan perintah tersebut dan menyebarkannya kepada para penduduk lokal dan keluar daerah.
Berita itu sampai ke telinga Vistor dan Miira, mereka berdua keheranan apa yang telah terjadi sehingga brosur itu harus sampai bertebaran. Salah seorang petani mendatangi Villa kediaman Victoria, dan mengatakan dia tahu nama gadis tersebut.
Mendengar itu Victoria langsung membawa orang tersebut bersamanya naik mobil dan minta tunjukan dimana tempat tinggalnya. Didalam perjalanan Victoria merasa tidak asing dengan tempat yang ditujunya, karena seingatnya ini adalah jalan menuju rumah Vistor dan Istrinya.
Victoria turun dari mobil bersama dengan enam pengawal dibelakangnya, dan menuju ke kediamannya Vistor. Dengan langkah yang berat Ia terpaksa memijakkan kakinya sekali lagi ke perumahan kumuh disana.
Seorang anak remaja dengan pakaian compang campingnya berlari tergopoh-gopoh dan berteriak ke warga sekitar ada orang Bule masuk dengan pengawal berbaju serba hitam. Mereka pun bersembunyi ke dalam rumah, karena malu dan takut.
Victoria telah sampai dipekarangan rumah Vistor, ia menyuruh pengawal untuk memanggilnya. Dua pengawal melangkah masuk ke teras dan mengetuk pintu, tak lama keluarlah Vistor bersama Miira yang telah hamil empat bulan.
Vistor tersenyum menyapa adiknya Victoria, dan menanyakan apa maksud kedatangannya.
Seperti biasa Victoria dengan perkataanya yang pedas menyindir kehidupan kakaknya yang sekarang.
"Lihat keadaanmu sekarang, sangat menyedihkan. Kau seperti bukan bagian dari keluargaku lagi" ucapnya dalam bahasa Jerman.
__ADS_1
Vistor yang telah terbiasa dengan perkataan adiknya, tidak tahu bahwa itu adalah perasaan sebenarnya yang diucapkan Victoria yang hatinya telah mati. Ia pun menjawab dengan senyuman khasnya.
"Ada apa adikku, ini bukan seperti dirimu yang mau memijakkan kaki ke tempat seperti ini?"
"Keluarkan Niira, aku ingin berbicara dengannya!" ucapnya langsung to the point.
Vistor tersentak kaget, namun ia berusaha mengelak dan mengatakan tidak ada yang namanya Niira disini.
"Apa kau coba ingin membodohiku? Kau kira aku tidak tahu dari gelagatmu barusan. Bawa orang itu kemari!" ucapnya menyuruh kepada salah satu pengawal.
Miira terkejut setelah melihat orang yang telah membocorkan keberadaan adiknya adalah pamannya sendiri. Dia pun meminta maaf kepada Miira yang menangis. Karena sudah terpegoki, Vistor maju ke depan untuk menjelaskan.
"Bagaimana kau bisa tahu tentang Niira, kenapa kau mencarinya" tanya Vistor.
Victoria mengatakan bahwa Niira ada hubungannya dengan kematian adiknya Valencia. Mendengar itu Vistor keheranan dan menjawab itu sangat tidak mungkin. Vistor mengatakan dirinya juga belum pernah dipertemukan pada adiknya Miira, karena itu sangat dirahasiakan bagi keluarga mereka.
Vistor mengatakan dia tidak ada disini, Niira selalu dirawat oleh Ibu kandungnya di rumahnya yang terletak dibelakang rumah mereka. Victoria langsung beranjak kebelakang bersama para pengawal, untuk mendatanginya.
Miira menangis dan mereka berdua berjalan mengikutinya dibelakang. Sesampainya dibelakang Ibu Miira yang mendengar hal itu keluar menghadapinya. Dan mengatakan tidak mengizinkan mereka untuk masuk melihat.
Ibu Miira tidak tahu, bahwa yang berada dihadapannya adalah seekor singa yang bisa mengamuk kapanpun tanpa ampun. Ia langsung menatap tajam mata Ibu Miira dan langsung mendorongnya kesamping agar ia bisa masuk kedalam.
Disana, diatas lantai yang beralaskan tanah terlihat seorang anak gadis yang seumuran dengan adiknya Valencia. Sedang terbaring diatas tempat tidur yang beralaskan tikar dan sarung selimut.
__ADS_1
Rambutnya panjang halus, alis matanya yang tipis, bibir dan kulit wajah dengan warna tubuh yang pucat, sedang menatapnya dengan mata yang bewarana biru.
Victoria kaget melihat penampakan tubuhnya, dia yang ahli dalam bidang genetik mengetahui jika Niira adalah anak yang cacat. Vistor masuk menyusul dan ia akhirnya melihat adik Miira untuk pertama kalinya.
Vistor mencoba mengajak bicara tetapi Miira datang masuk untuk menjawab semua pertanyaan mereka.
Miira menjelaskan, bahwa sejak lahir Niira sudah lumpuh total. Ia juga tidak dapat berbicara, matanya yang biru dan kulitnya yang bewarna putih pucat menjadi alasan mengapa mereka merahasiakannya untuk orang luar. Vistor telah menjelaskan apa yang dikatakan oleh Miira pada Victoria.
Dalam kepala Victoria seperti benang merah kusut, itu sangat tidak masuk akal karena jelas-jelas dibuku bergambar itu ada bernama Niira. Tentu itu menjadi pertanyaan besar didalam benak pikirannya.
Sebuah ingatan melintas didalam pikirannya, sebuah jawaban yang selama ini dicari-cari oleh Alm. Ayah Victoria dan dirinya sudah ada didepan mata. Yang tanpa ia sadari wajahnya membuat senyuman yang cukup mengejutkan.
Vistor yang menyadari hal itu merasa curiga dengan adiknya, iya tahu bahwa Victoria telah mendapatkan sesuatu yang di inginkannya.
"Sekarang kamu sudah tahu, bahwa Niira adalah anak yang lumpuh. Sebaiknya kamu cepat pergi dari sini, kau sudah tidak sopan masuk rumah orang sembarangan dan membuat keributan" ucap Vistor menasehatinya dalam bahasa jerman.
Wajah Victoria terlihat puas, dan dia sudah memikirkan rencana yang sangat matang detik itu juga. Namun sebelum ia keluar, ia memohon kepada Vistor untuk membawa anak itu ke Rumah Sakit agar bisa memeriksa apa penyakit yang di alami oleh Niira. Vistor kemudian menjelaskan itu kepada Ibu Miira, mereka pun langsung menolak mentah permintaan tersebut.
Victoria berusaha membujuk mereka, dengan beralasan ia akan berjuang sepenuhnya untuk menyembuhkan Niira. Tetapi Ibu Miira tetap menolak, ia sangat mensyukuri keadaan anaknya yang sekarang.
Vistor kemudian memaksa Victoria keluar dengan merangkul lengannya. Victoria membuang lengan itu sambil berkata.
"Aku akan melanjutkan impian ayah, apapun yang terjadi!" ucapnya dengan tatapan mata yang penuh ambisi dihadapan Vistor dan istrinya.
__ADS_1
Vistor tidak bisa menjawab perkataan itu. Ia hanya terdiam dan berusaha menenangkan istrinya yang lagi menangis. Victoria kemudian meninggalkan mereka dan masuk ke dalam mobilnya. Ia lalu memakai kaca mata hitam untuk menutupi semua kegelapan di hatinya yang tergambar dimatanya.
Bersambung...