
Di detik-detik terakhir, Karina berhasil membangkitkan salah satu kemampuan Virtual Cortex yang bernama Fatamorgana. Dan menyerang diam-diam dengan menusuk Negatif Vistor dari belakang.
Pedang itu masih menancap di jantung Negatif Vistor, Karina kemudian menariknya keluar dan lompat kebelakang untuk menjaga jarak.
Darah-darah bewarna hitam menyembur deras kemana-mana. Tubuh Negatif Vistor mulai kejang-kejang lalu terbakar oleh api biru yang berkobar dari dalam jantungnya, membakarnya sampai menjadi abu.
Dengan mata biru yang menyala, Karina tertunduk dengan wajah yang serius dan penuh bekas cipratan darah kotor yang bewarna hitam diwajahnya.
Glitch ditubuh Karina semakin parah, gelombangnya semakin sangat tidak beraturan. Ini menandakan energi yang dimilikinya sudah mencapai batasnya.
Ruang kegelapan yang penuh genangan darah merah tersebut, kini mulai runtuh seperti sebuah dinding kaca yang telah berhasil dipecahkan, bersamaan dengan buku novel milik vistor yang ikut terbakar menjadi abu dan terhapuskan oleh tiupan angin. Hutan semak belukar dan pemandangan yang berkabut kini terlihat kembali disekitarnya.
Ditengah Jalan Raya, Karina berdiri seorang diri dengan Seragam Oka bewarna biru miliknya, angin yang bertiup spoi-spoi membuat rambutnya yang bewarna brown berkibar menghapuskan wajahnya yang terlihat suram.
Ia lalu memandangi kedua tangan dan kakinya yang perlahan-lahan mulai terurai menjadi partikel cahaya biru.
"Kapan aku bisa mengakhiri mimpi buruk in-"
SWUUSHH!!!
Sebilah tombak besi yang berkarat penuh darah dan dilapisi Energi Negatif besar, meluncur cepat bagai senjata sumpit yang meniupkan jarumnya. Tubuh Karina yang sedang mengalami Glitch hebat tidak menyadari akan kehadiran sosok merah tanpa kepala tersebut, sehingga serangannya berhasil menembus bahu dari wujud tubuh Virtual Karina.
JLEBB!!!
Ia pun terbawa arus kecepatan dari serangan tersebut dan tertancap disebuah pohon yang berjarak 30 meter dari tempat dia berdiri.
Karina pun menjerit histeris karena rasa sakit yang luar biasa yang belum pernah iya rasakan seumur hidupnya. Ia terus menjerit minta tolong ditengah kegelapan kesunyian malam.
"AaaAAAAAAA!!! Sakiiitttt!!!! Siapa saja tolong aku!!!"
Darah merah kental mengalir ditangan kanannya dan jatuh menetes kebawah permukaan tanah melalui ujung jarinya. Sedangkan tangan kirinya bergetar hebat karena ketakutan dengan serangan kejutan tersebut.
Rasa sakit yang tak tertahankan membuat air matanya keluar, ia melihat bahu kanannya seperti sedang ditahan aura negatif hitam dan merasakan jika energi itu sedang mencoba masuk kedalam tubuhnya.
Gelombang Glitch mulai tidak terlihat dan tubuh yang seharusnya terurai menjadi partikel cahaya biru, kini mulai terlihat mulai melambat. Yang sudah dipastikan penyebabnya adalah besi panjang yang tertancap dibahunya.
Tangan kirinya meraih bilah besi panjang yang menancap dibahu kanannya. Dengan rasa sakit yang takkan pernah bisa dibayangkan, Karina berupaya mati-matian untuk mencabut bilah besi tersebut.
__ADS_1
...
Disana, disudut kegelapan malam terlihat cahaya merah yang bersinar terang berjalan melangkah cepat mendekati seorang gadis muda yang menderita kesakitan.
Karina yang menyadari itu semakin panik ketakutan, sehingga membuat tangan kirinya yang berusaha menarik bilah besi menjadi lemas tak bertenaga. Sosok itu semakin dekat, dan ia masih belum berhasil menggerakkan bilah besi itu satu inchi pun.
"ERGGHH!!!, LEPAS.. AYO.. CEPAT.. ERGHH-LEPAS!!!" ucapnya yang panik dan terus menoleh beberapa kali untuk memastikan jarak antara sosok merah tanpa kepala itu dengannya.
Ditengah rasa ketakutan itu semua, Karina teringat perkataan dari Beta-Karina untuk jangan sampai tertangkap oleh sosok merah tanpa kepala tersebut.
Oleh sebab itu ia terbesit sebuah keputusan ide yang sangat gila. Dengan keadaan yang sudah terpojok mau tidak mau ia harus membunuh dirinya sendiri agar bisa terlepas dari jeratan dari Energi Negatif besar milik sosok tersebut.
Tangan kirinya meminta, maka muncul lah sebuah senjata pedang. Ia kemudian mengarahkan pedang itu ke lehernya.
Nafas Karina mulai berat, wajahnya terlihat pucat kehabisan darah, sambil menangis ia memejamkan matanya. Tangannya yang bergetar hebat adalah bukti jika dirinya tidak mampu untuk melakukan tindakan bunuh diri tersebut.
Sosok merah yang memegangi kepalanya sendiri sebagai lampu penerangan kini mulai berjarak semakin dekat.
Maka dari itu meskipun tangan kirinya bergetar hebat karena rasa sakit dan ketakutan, ia sekali lagi mencoba menghunuskan mata pedang yang tajam tersebut kelehernya.
Matanya terpicing dan menangis keras dengan tubuhnya yang tertancap ditengah batang pohon. Pedang yang bergetar hebat mulai menggores pelipis kulit luar lehernya sehingga mengeluarkan darah.
Seraya menangis tersedu-sedu, ia menarik nafas yang panjang. Jantungnya terpompa sangat cepat. Didalam kegelapan matanya yang terpicing, ia menahan nafas lalu memantapkan niatnya dengan ekspresi mata yang terbelalak. Ia kemudian berteriak sekencang-kencangnya agar bisa mengalahkan rasa ketakutan akan kematian.
"AAAAAAAAAA-" !!!
"KARINAAAA!" "KARINAAAA!"" KARINAAAAA!!!
Mendengar suara teriakan itu adalah dari teman-temannya. Karina langsung terbujur lemas seketika, dan membuat pedang yang digenggamnya terjatuh. Ia pun menangis lalu menjawab suara panggilan dari teman-temannya tersebut.
"TEMAN-TEMAN!!... HIKS, HIKS, AKU-DISINI!!""
Suara itu terdengar oleh Ryo, Ragil, dan Sandi. Mereka bertiga yang lagi berada dipersimpangan langsung mengetahui dimana keberadaan Karina.
"Woi itu suara Karina disebelah sana!!!" teriak Sandi.
Mereka pun bergegas berlari cepat dan tak lama terlihat lah Karina berada diujung sedang tertancap disebuah pohon besar. Tubuhnya yang sedikit bersinar berkat partikel cahaya biru memudahkan temannya menyadari jika yang disana itu adalah Karina.
__ADS_1
Akan tetapi suasana gelap dan berkabut mencoba menghalangi pandangan mereka ke depan. Untungnya mereka bertiga membawa senter sebagai cahaya penerangan, maka terlihatlah sesosok merah sedang memegangi kepala sendiri berjalan menuju ke arah Karina.
"Anjing! Itu apaan woiii merah-merahh!!!" teriak Ragil terperanjat.
"Woaaaaa!!!! Apa ituuu, dia.. Megang kepalanya sendiri"!? ucap Ryo berteriak ketakutan sambil menunjuk sosok tersebut.
"Jangan ada yang kabur!! Kalian dengar sendiri tadi, tubuh Karina yang tertidur menjerit kesakitan dan meminta tolong!" ucap Sandi yang sudah tidak perduli lagi dengan rasa takutnya.
Mengingat Karina yang terus menderita membuat amarah Ragil terbakar. Ia kemudian berteriak keras untuk membakar semua rasa takutnya.
"Woii setan anjing!!! Biadab kesini kaoo!!!
Sosok itu tidak peduli, dia terus melangkah mendekati Karina. Melihat itu Sandi berlari sedikit kedepan lalu menembakinya dengan senjata MP5 yang sudah berlapiskan Energi Biru milik Karina.
DRRRRRRRTS!!!!!
Sandi menembak dari jarak 50 meter, dan peluru itu seperti tidak berefek apa-apa bagi sosok tersebut. Ryo dan Ragil pun datang menyusul, lalu mereka menembakinya bertiga.
DRRRRRRRTS!!!!!
Barulah serangan itu memberikan efek walaupun hanya menghentikan langkahnya sementara. Ia tetap lanjut berjalan mendekati Karina.
"Lontong!!! Kita dicuekin!!" ucap Ragil kesal.
Mereka bertiga sepakat berlari mendekatkan jaraknya dengan sosok tersebut. Kemudian sekiranya jarak dari mereka sudah berdekatan hingga 10 meter, mereka kembali menembaki sosok merah yang berjalan memegangi kepalanya.
DRRRRRRRRTS !!!!!!
Puluhan peluru menjebol bagian punggung belakang dari sosok tersebut dan api biru itu berhasil muncul keluar lalu membakarnya.
BWUUSHH!!
"Yess!!!" ucap mereka bertiga.
Hanya berselang beberapa detik api biru itu padam, sosok itu kesal dan berbalik ke arah mereka bertiga. Tujuan mereka berhasil tercapai dengan jaminan, nyawa mereka bertiga sebagai taruhannya.
Si merah tanpa kepala mulai marah, sinar merah dari mata kepala yang ia pegang melotot tajam, gigi-giginya yang penuh darah pun bergetar. Ia kemudian melangkah cepat ke arah mereka.
__ADS_1
Melihat langkah yang mengerikan dari sosok tersebut, mereka bertiga pun berlari cepat meninggalkannya. Sandi kemudian menyuruh Ryo untuk menyelamatkan Karina sedangkan mereka berdua yang akan menjadi umpannya.
Bersambung...