
Karina dan Winda berjalan melewati beberapa koridor untuk menuju sebuah lift yang akan membawanya ke suatu tempat. Iya tahu tujuan jalannya karena sudah pernah melewatinya melalui ingatan Victoria.
Winda terus mengikuti Karina yang berjalan mengambang di atas lantai, ia memperhatikan perbedaan yang terjadi pada sahabatnya itu.
Dari mulai rambutnya yang tidak terkunci lagi, dan gaya bicaranya yang terdengar seperti seorang wanita dewasa.
"Rin," ― Winda berhenti melangkah.
"Ada apa Win?" Karina berhenti dan berpaling menghadap Winda.
"Kamu, Karina Suci kan?"
"Iya ini aku, kenapa? apa kamu takut melihat wujud ku seperti ini?"
"Enggak, aku malah merasa seperti di lindungi" senyum Winda.
"Udah yuk, kita lanjut lagi"
Mereka berdua sudah berada di depan lift yang di tuju, akan tetapi itu cerita beberapa abad yang lalu dimana tempat itu masih memiliki aliran listrik.
"Rin, bagaimana caranya?"
"Tenang dan lihat saja,"― Karina mengarahkan tangan kirinya ke arah tombol untuk membuka lift.
Dengan tubuh spritualnya yang bisa menembus apapun, ia kemudian menyentuh jaringan elektrik yang sudah mati di dalam rangkaian sistem tombol lift tersebut. Dari mata birunya yang menyala, ia lalu memberikan shock energi dalam jumlah cukup besar. Sehingga membuat seluruh aliran listrik gedung Tray Cell berfungsi kembali walaupun hanya beberapa saat.
Ting! Pintu lift terbuka.
"Whoaaaaa!! Rinn, Kamu. Hebat sekaliii!!" Winda terdecak kagum melihat keajaiban itu.
"Ayo Win, cepat masuk"― Winda melangkah masuk.
Karina menekan tombol lift dan pintu tertutup. Di dalam lift, mata Beta-Karina yang menyala membuat ruangan yang gelap menjadi sedikit lebih terang. Winda yang berada di sebelahnya terus memandangi mata yang menyala indah tersebut.
Ting! Pintu lift terbuka.
Di hadapan mereka berdua adalah tempat koridor yang cukup luas dan terdapat pintu persegi yang sudah terbuka semenjak kejadian itu.
"Rin, ini kita mau kemana?"
"Aku harus menemui pemilik kekuatan ini, bisa di bilang dia adalah orang yang termasuk menjadi nenek moyangku"
"Ah, yang benar kamu Rin!?" ― Beta-Karina memberikan senyuman kepada Winda.
Mereka berjalan untuk keluar dari koridor yang kini terlihat sangat kotor, penuh debu, dan kecoa yang berlarian akibat merasakan hawa kedatangan manusia. Di luar pintu besi yang terbuka ada sebuah kaca dinding yang menyembunyikan pemandangan asli yang ada di belakangnya.
"Waaaahhh, Rin!! Lihat, di sana ada taman! Indah sekali" ucap Winda dari balik dinding kaca.
Beta-Karina pun terbawa suasana moment nostalgia ketika melihat pemandangan indah tersebut.
"Aneh sekali, padahal taman itu sudah beratus tahun disana. Tetapi ia masih tetap terjaga oleh keindahannya"― Winda terperangah setelah mendengarkan kebenaran tersebut.
Beta-Karina kemudian melangkah menuju ke arah lift yang ada di depannya. Ia lalu memanggil Winda untuk lekas mengikutinya. Mereka berdua memasuki lift itu bersamaan.
Setelah pintu lift itu terbuka di lantai yang paling dasar, mereka berdua kembali melewati koridor yang di ujungnya terdapat satu pintu yang sudah terbuka. Hati Karina sedikit berdebar, karena membayangkan apa yang sudah menunggu di depannya.
Mereka masuk ke dalam sebuah ruangan yang berbentuk (U). Dimana ditengah huruf tersebut ada sebuah ruangan yang tertutup yang di dalamnya ada seorang gadi yang bernama Niira.
Ruangannya masih tetap terlihat bersih, tidak ada satu lembar buku pun yang terdampar di atas lantai. Beta-Karina berjalan pelan sambil memperhatikan tengkorak yang ada di dalam ruangan tersebut. Ia sedikit merasa cemas, apakah Niira masih ada di dalam sana.
Pintu itu sudah terbuka, ia kemudian masuk bersama Winda. Tabung itu sudah terlihat kosong, dan tengkorak yang tergeletak disana bukanlah milik Victoria.
Beta-Karina pun mencoba merasakan Residual Energi yang tertinggal disana, agar dapat mengetahui kelanjutan dari mimpinya. Mata birunya yang bercahaya, melihat energi masa lalu tersebut, lalu merasakan dan meresapi kejadiannya.
...
DOOR!! x3
Victoria tertembak di bagian perutnya, akan tetapi ia sempat menendang jakun leher orang tersebut sehingga lehernya patah dan orang itu meninggal di tempat.
Victoria tergeletak bersimbah darah di dalam ruangan itu.
"Mungkin ini lah hukuman yang diberikan tuhan untuk ku"― Tiba-tiba listrik di dalam ruangan itu mati dan hidup lagi. kabel-kabelnya dan selang di sana bergerak tak beraturan.
Victoria yang sedang terbaring bersimbah darah di perutnya melihat seorang gadis melayang dengan kedua mata birunya yang bercahaya.
"Niira...kamu sebenarnya siapa" ucap Victoria dalam bahasa jerman.
Victoria melihat tubuh Niira terbang melayang sambil menggendongnya dan membawanya ke pintu menuju keluar yang mengarah ke taman itu.
...
Beta-Karina membuka matanya, ia sudah mengetahui lanjutan kejadiannya. Dia kemudian memanggil Winda untuk mengikutinya berjalan mengarah ke pintu taman tersebut.
Mereka berdua kemudian berjalan memasuki taman itu dan dibuat semakin kagum oleh keindahan yang sebenarnya setelah melihat dari jarak dekat. Winda terlihat berlari-lari bahagia di rumput halus yang hijau, dan menikmati keindahan dan keharuman dari bunga-bunga tersebut.
Sedangkan Beta-Karina terlihat memerhatikan sekitar untuk mencari seorang gadis yang bernama Niira.
"Niira, apa kau ada disini?" ucap Beta-Karina.
__ADS_1
Tidak ada tanda-tanda jawaban selain suara Winda yang sedang kegirangan. Beta-Karina sedikit merasa hilang harapan, setelah melihat pohon besar itu ia kemudian ingin berjalan menghampiri Winda.
"Kak, Karina?" sapa seorang gadis dari belakang.
Beta-Karina yang murung di buat terkejut dan langsung berpaling melihat ke arah belakangnnya.
"Niiraaaa!!" Ia berlari dan langsung memeluk gadis yang bernama Niira.
"Ternyata benar, Kak Karina? Aku rindu sama kakak, semenjak pertemuan itu aku selalu sabar menunggu akan kedatangan kakak kembali" Mata biru Niira yang bercahaya meneteskan air mata haru dalam pelukannya bersama Karina.
"Niira, jadi waktu itu..aku benar-benar bertemu bersama mu di masa lalu" Beta-Karina menangis tersedu-sedu.
"Iya, awalnya aku juga bingung. Tetapi setelah melihat cahaya biru itu, ternyata kakak adalah orang yang terpilih"
"Bukan, aku hanyalah bagian dari keberhasilan eksperimen Victoria. Di dalam diriku mengalir darah mu, dan di dalam diriku mengalir DNA mu"
"Itu tidak benar, dari semua generasi yang mendapatkan kekuatan itu. Hanya kakak lah orang yang terpilih untuk menggunakannya, karena itu aku bisa merasakannya melalui diriku yang lain, yang ada di dalam diri kakak."
Winda yang sedang asik bermain sendiri disana di buat kebingungan dengan apa yang di lihatnya. Ia pun kemudian berlari mendekati Karina.
"Kariiin, apa yang terjadi siapa orang itu?"
Dua orang gadis yang bermata cahaya biru itu berpaling menghadap Winda. Seketika itu juga Winda langsung terkejut setelah melihat kedua wajah mereka yang terlihat sama.
"Rin, kalian kembar? Eh? Tapi sedikit kelihatan berbeda"
"Hai kakak Winda?" sapa Niira.
"Hai salam kenal, (Bagaimana dia bisa tahu namaku?)" Winda membalas sapaan itu dengan senyuman.
"Niira, aku datang kesini untuk menepati janji ku. Kakak mu Miira, ia masih terkekang dengan dendam dan kebenciannya. Aku sudah membawanya, dan aku akan melepaskan dirinya dari energi iblis terkutuk itu"
"Um, Niira juga sudah melihatnya. Tapi Niira tidak bisa berbuat apa-apa untuk menolong kakak"
"Winda, kamu pergi menjauh dari sini. wujudnya sangat mengerikan, kalau takut jangan coba-coba untuk melihat. Ingat, jangan coba-coba melihat" ucap Beta-Karina kepada Winda yang mulai pergi menjaga jarak darinya.
"Niira, kamu mundur sedikit, tunggu disitu. aku akan mengeluarkannya."
"Um, baik." Niira mundur ke belakang, dan berdiri melayang di atas rerumputan yang hijau.
Tangan Beta-Karina mengarah ke depan, maka muncul lah partikel biru yang mulai membentuk sebuah cermin besar.
TRASHH!! cermin itu pecah akibat sosok yang ada di dalamnya mencoba keluar.
Sosok Kepala Buntung Miira keluar dari cermin itu dengan tangan kirinya yang sedang menenteng kepalanya sendiri.
"Haaaaaaaah, Niiraaa, dimana kamu dek. kenapa kakak di kurung dan di ikat lagi" ucapnya meracau.
Empat buah rantai energi langsung melesat keluar dan langsung menjerat sosok iblis gila tersebut.
"Apa ini, kenapa kamu mengikat kakak lagi dengan rantai-rantai itu...ahhhh Panass! lepaskan kakak!???" sosok Miira mencoba memberontak.
"Niiraaa!! kenapa kamu ada dua dekk??"
Miira keheranan melihat dua orang yang terlihat sama namun sedikit berbeda dari segi penampilan dan tubuhnya.
Karina berseragam Oka yang bewarna biru, berambut pendek sebahu dengan warna yang kecoklatan, dan kulitnya yang bewarna sawo matang.
Sedangkan Niira berpakaian serba putih, rambutnya halus bewarna hitam panjang terurai, dan hampir seluruh tubuhnya bewarna putih pucat. Wajah mereka berdua memang memiliki persamaan 11-12.
"Kakak, kakak harus ikhlas menerima semua kejadian yang sudah terjadi di masa kita masih hidup. agar kita bisa berkumpul bersama lagi"
"Iklas? kenapa aku harus iklas!! orang-orang itu sudah membantai seluruh keluarga kita!! Aku harus membalaskan kematian ibu dan juga Vistor. hahahaha!!
"Itu semua sudah berlalu, mereka semua juga sudah tidak ada kak." ucap Niira.
"Maka dari itu aku membuat mereka semua agar menjadi budak ku untuk selamanya, hahahahaha"
Winda yang merasa ketakutan mendengar suara dari sosok Miira yang terdengar menyeramkan, membuat gelombang energi negatifnya terbaca oleh Miira.
"Siapa disitu!! masih ada manusia disini ternyata. Aku akan meminum darahnya untuk mengembalikan kekuatanku, hahahaha"― Kepala Buntung itu terlepas dari genggaman tangan kirinya, ia melesat terbang menuju ke arah Winda sambil tertawa-tawa.
"Kyaaaaa, Rin tolong aku!!" teriak Winda meminta tolong.
"GAMMA!!" teriak Beta-Karina
Sebuah pedang muncul entah dari mana dan melesat cepat menancap di kepala buntung tersebut.
Energi kuat yang terdapat di pedang itu, membuat kepala buntung tersebut meledak hancur berkeping-keping. Tubuh tanpa kepalanya yang sedang terjerat oleh empat rantai energi itu kemudian terlihat bergejolak. Ia seperti menjatuhkan serpihan-serpihan hitam yang mengelupas.
Menyadari itu adalah kesempatannya, Beta-Karina kembali mengarahkan tangan kanannya ke depan sosok tersebut lalu mengeluarkan jutaan energi partikel biru, sehingga sosok itu terlihat seperti sedang bermandikan partikel cahaya yang melewati tubuhnya.
Serangan energi yang diberikan oleh Beta-Karina membuat perwujudan dendam dan kebencian yang selama ini menyelimuti tubuh Miira mulai terkikis secara perlahan.
Dan dari dalam proses netralisasi yang terjadi di depannya, Beta-Karina melihat seseorang di dalam sana sedang berdiri seseorang yang sedang menangis sendirian.
"Niira, panggil nama kakak mu" ucap Beta-Karina yang menyaksikan itu dari kedua matanya yang biru bercahaya.
Dengan segenap harapan dan perasaan cintanya, Niira berteriak memanggil nama kakaknya.
__ADS_1
"Kak Miiiraaaa"
Suara teriakan itu membawa butiran air mata yang jatuh menetes ikut masuk ke dalam jutaan partikel biru.
...
Miira menangis seorang diri di dalam sebuah ruangan yang terlihat gelap penuh dengan aura kebencian. Selama ini hatinya selalu di hantui perasaan menyesal dan rasa bersalah karena hidupnya sudah di jalan yang salah. Sehingga energi negatif itu mengekang dirinya dalam jurang kegelapan.
"Kak Miiraaa" Ia mendengar suara perempuan yang memanggil namanya.
"Kak Miiraa, sudah kak! kakak harus ikhlas" Miira berhenti menangis.
"Suara siapa itu"
Miira mulai meraba-raba dimana sumber suara itu berasal, ia tidak mengenali suara adiknya karena semasa hidupnya Niira tidak bisa bicara.
"Siapa itu...kamu dimana"― Niira terus memanggil nama kakaknya.
"Kak Miira ini aku Niira, kak!! ayo kita pulang" Suara Niira kembali terdengar, dan kali merasuk ke dalam hatinya.
"Niiraa!! Dimana kamu dek!!" Miira berlari di dalam kegelapan sembari menjawab panggilan itu.
Hati Miira yang terlalu gelap tidak bisa mendekati sumber suara itu berasal, hingga ia terjatuh lalu bersujud disana dan menangis kembali, memohon kepada sang pencipta agar ia bisa keluar dari jurang kegelapan itu.
Dalam sujudnya, akhirnya ada setitik cahaya yang berhasil meretakkan ruang kegelapan itu. Miira yang sedang sujud menangis semakin jelas mendengar suara teriakan adiknya Niira.
"Niira..."― "Kakak Niira disini!"
Hati Miira yang semakin tak sabar untuk menghampiri suara penuh kerinduan itu, membuat ia mengeluarkan teriakan dari dalam lubuk hatinya yang paling dalam.
"Niiraaaaa!"
Seketika itu juga retakan yang berasal dari setitik cahaya itu semakin membesar dan terus menjalar menghancurkan dinding-dinding kegelapan.
Dari pecahan reruntuhan yang berjatuhan di atas dunia yang kembali putih, terlihat seorang gadis berpakaian serba putih sedang berjalan di baliknya.
Dari wajah Miira yang sembab dan penuh air mata kesedihan itu, akhirnya ia melihat siapa orang yang sedang berjalan mendekatinya.
Rambut hitamnya yang halus terurai, kulitnya yang bewarna putih pucat, dan kedua mata indahnya yang bewarna biru.
Miira lalu berlari mendekati seraya berteriak menyebut nama adiknya. Mereka saling berpelukan, melepaskan kerinduan yang sudah lama terbenam bagaikan duri yang menusuk di hatinya.
Pelukan itu membawa Miira kembali ke dunia nyata, sehingga Beta-Karina ikut merasakan kebahagian itu bersama. Dalam tangis lepas kerinduannya, Miira benar-benar meminta maaf dan menyesali semua atas perbuatannya.
"Enggak apa-apa kak, manusia adalah tempatnya salah dan lupa. yang penting sekarang kakak sudah berada di jalan yang benar".
Miira ternyum bahagia melihat adiknya yang sudah tumbuh besar dan sangat cantik, juga suaranya yang terdengar lembut di telinga. mereka kemudian saling menghapuskan kedua air matanya. Dan saat itu Miira menyadari ada seseorang yang lain sedang berdiri di belakangnya.
Beta-Karina memberikan senyuman kepada Miira yang terlihat terkejut setelah melihat wajahnya yang terlihat mirip dengan adiknya. Perasaan hatinya pun kembali terharu dan langsung memeluknya yang membuat hati Karina ikut merasakan kehangatan dari keluarga itu.
...
Beta-Karina sudah menjelaskan segalanya tentang semua kejadian yang sudah pernah di alaminya kepada Miira dan Niira.
"Dengan kekuatan yang di berikan ini, aku akan mengakhiri semuanya. Tetapi mungkin akan sedikit memakan waktu" ucap Beta-Karina.
Miira dan Niira saling memandang satu sama lain. Dari pandangan mata mereka terlihat seperti sudah menyetujui sesuatu.
Mereka berdua yang sudah dalam bentuk energi (roh) menjelaskan, bahwa Karina bisa mengakhiri semua ini dengan cara menghancurkan energi mereka. Karena, mereka berdua lah sebagai orang yang memiliki dua sumber energi tersebut berasal. Sontak pernyataan itu membuat Beta-Karina sangat menentangnya.
"Dengan begitu kakak tidak perlu bersusah payah, mereka semua akan mati dengan sendirinya. Dan kehidupan kakak akan berjalan normal kembali menjadi manusia biasa"
Tanpa ada rasa dilema dalam hatinya, Karina yang sudah kembali mengambil alih pikiran langsung menolak mentah hal tersebut. Ia tidak ingin menghancurkan kebahagiaan mereka berdua.
"Lagi pula, itu di luar kemampuan ku. Aku hanyalah seseorang yang diberikan kepercayaan untuk mengemban pemberian ini" ucap Karina tersenyum.
Miira dan Niira menghargai keputusan Karina, oleh karena itu mereka memutuskan untuk memberikan sesuatu kepadanya. Kedua tangan kanan mereka meminta, maka muncul lah partikel merah dan biru dalam bentuk yang sangat padat bersinar.
Dua cahaya itu bersinar sangat menyilaukan di tengah-tengah indahnya taman tersebut. Winda yang dari tadi jongkok ketakutan, akhirnya membuka mata. Ia berdiri dan melihat dimana sumber cahaya tersebut berasal.
"Apa ini?" ucap Karina kepada mereka berdua yang memberikan sesuatu kepadanya.
"Itu adalah energi kami berdua, sebelum ayah meninggal. Ia memberikan benda itu kepada kami melalui mimpi. Tolong, gunakanlah sebaik mungkin. Semoga benda itu bisa membantu semua orang" ucap Miira.
"Tapi, apa yang akan terjadi kepada kalian berdua nanti?"
"Selama benda itu ada, kami akan selalu bersamamu" jawab Miira.
Niira kemudian menggandeng tangan kakaknya, cahaya pun bersinar terang di belakang mereka berdua. Pintu Miira yang berada di dalam ruangan putih milik Karina terurai menjadi partikel merah, lalu muncul bersamaan dengan milik Niira dari balik cahaya tersebut.
Tak lama setelah itu, kedua pintu itu saling terurai menjadi partikel merah dan biru, menari-nari dalam suatu pembentukan. Winda sedang menyaksikan momen keindahan itu dari tempatnya berada.
Dua partikel merah dan biru itu kemudian mulai menyatu, dan memperlihatkan bentuk sebenarnya. Sebuah pintu ganda yang berbentuk ukiran indah dengan warna emasnya.
"Kak Karina, kami izin pamit untuk pulang. Nanti kapan-kapan main lagi ya" ucap Niira memberikan senyuman.
"Terimakasih, Karina." ucap Miira yang kemudian berpaling meninggalkan Karina.
Mereka berdua berjalan mendekati pintu itu, dan pintu emas tersebut terbuka dengan sendirinya seolah menyambut kedatangan mereka berdua. Di dalam cahaya itu, mereka berdua melambaikan tangan dan memberikan senyuman untuk yang terakhirnya kalinya kepada gadis yang bernama Karina Suci.
__ADS_1
Bersambung...