
1 Minggu setelah Miira di hukum pancung.
Tap Tap Tap
Suara langkah kaki terdengar ramai dari banyaknya orang yang beraktifitas.
Tok-Tok!
Seseorang terdengar mengetok pintu beberapa kali dari luar.
Di dalam kamar istirahat ada sebuah kasur dan terlihat seseorang sedang terbaring disana.
"Permisi, Saya izin masuk"
Karina membuka matanya secara perlahan, dalam pandangan yang sedikit buram ditambah cahaya lampu membuat penglihatannya menjadi menyilaukan.
Ada tiga orang perawat berdiri di dekat ia berbaring, dan satu di antara mereka memeriksa denyut nadinya.
"Syukurlah, detak jantungnya sudah kembali normal"
"(Eng? Siapa,?)
"Ibu Victoria, Hari ini anda sudah boleh pulang" ucap salah satu dari perawat itu.
Dari balik tiga perawat yang sedang berdiri, wanita yang bernama Victoria itu bangkit dari tidurnya. Ia terlihat sedang meraba keningnya lalu mengusap matanya.
"Berapa lama aku tertidur?"
"Dua hari penuh"
"Apa yang terjadi padaku?"
"Ibu hanya kurang beristirahat saja, dan terlalu banyak begadang"
"Begitu. Terimakasih, sekarang kalian bisa melanjutkan aktifitas kalian. Dan tolong panggilan asisten pribadiku"
"Baik, Ibu"
Ketiga perawat itu pergi meninggalkan ruangan, dan meninggalkan Victoria seorang diri di atas kasurnya.
Victoria mencoba membuat pandangannya lurus ke depan, akan tetapi saat ia hendak melakukan itu kepalanya masih terasa sakit. Di saat wajahnya jatuh tertunduk sebuah ingatan pada saat Miira di eksekusi oleh dirinya, tiba-tiba mengalir di dalam benaknya.
"Itu..apa..?" ucapnya dalam bahasa jerman,
__ADS_1
Dalam ingatannya pada saat itu, ia melihat ada aura hitam dan merah menyelimuti tubuh Miira.
Tok! Tok!― "Permisi, Saya ijin masuk"
"Ya, masuklah" jawab Victoria yang melirik ke arah pintu.
Seorang wanita dengan rambut Blonde Platinum memakai setelah jas ala kantoran masuk dan berdiri di samping Victoria.
Namanya adalah Berta, seorang wanita asli berkebangsaan jerman. Dia bekerja sebagai asisten pribadi Victoria sekaligus sebagai penerjemah dalam tiga bahasa yaitu, Portugis, Inggris, dan bahasa lokal.
"Berta, bagaimana keadaan diluar selama aku tertidur?"
"Semua orang sudah kembali bekerja, dan semua tentang kejadian pada hari itu telah ditutup rapat, mereka memberitakannya sebagai serangan binatang buas"
"Baguslah. Lalu bagaimana, apakah sudah ada jawaban dari dua perusahaan itu" Victoria.
"Perusahan dari negara inggris tidak menyetujui atas dokumen yang sudah kita berikan, mereka mengatakan jika kita ini adalah para (Orang gila)"
"Heh, dasar orang-orang linier." jawab Victoria yang sedikit kesal.
"Lalu, bagaimana dengan perusahaan Cynthium? apa mereka juga menolak?"
"Tidak, mereka justru sangat mengapresiasi apa yang sedang dilakukan oleh perusahaan kita. Beberapa waktu yang lalu mereka sudah mengirimkan pesan, jika mereka akan datang besok untuk menandatangani kontrak kerja sama"
"Baguslah...Aku harap apa yang akan mereka bawa nanti menjadi kunci keberhasilan eksperimen ini"
***
Di dalam kamarnya terdengar suaranya yang sedang mandi di dalam bathroom.
KREK! Suara air kran dimatikan.
Victoria keluar dari bathroom dan berjalan menuju lemari pakaiannya. Dari balik kelambu tempat tidurnya yang sedikit transparan, terlihat ia melepas handuknya yang kemudian membuka lemari pakaiannya.
Dia mengambil piyama tidurnya, lalu memakainya. Ketika ia menutup lemarinya dan bercermin sebentar untuk melihat penampilannya.
Dalam pandangan matanya yang sedang fokus terhadap dirinya sendiri, ia merasa ada sesuatu yang bewarna putih berada di belakangnya. Secara automatis, matanya langsung berlari untuk menangkap objek apa itu sebenarnya.
Fokus di matanya semakin meningkat, sehingga objek yang tadinya terlihat buram kini mulai nampak jelas.
Itu adalah sesesok kepala wanita yang berwajah pucat sedang bergelantungan di udara. Ia memberikan senyuman kepada Victoria.
Victoria sama sekali tidak terkejut ataupun merasa takut, ia pun langsung membalas senyuman itu dengan berpaling kebelakang.
Matanya berlari ke setiap sudut kamarnya untuk mencari sosok tersebut, namun tidak terlihat apa-apa. Ia menganggap itu sebagai halusinasi atas dirinya yang merasa kelelahan.
Victoria pun kembali berpaling menghadap cermin, dan dikejutkan dengan penampakan kepala wanita yang berwajah putih pecat sedang tersenyum lebar sampai ke telinga.
__ADS_1
Tubuhnya yang sudah sangat terlatih merespon terlebih dahulu sebelum otaknya memberikan sebuah perintah. Dengan gerakan reflek ia meninju sosok Kepala yang ada di depannya hingga menghancurkan cermin dilemarinya.
TRASHH!!
Cermin itu pecah dan berguguran di atas lantai. Sontak dua lelaki yang bertugas menjaga di pintu luar kamarnya langsung masuk ke dalam sambil berteriak.
"Apa yang terjadi!!"
Mereka masuk dan langsung menodongkannya pistol yang dilengkapi dengan cahaya senter kecil diatasnya. Dan yang terlihat adalah, atasannya yang sedang berdiri sendiri dengan baju pajamanya.
"Maafkan atas kelancangan kami, Maam. Kami mengira, ada orang yang coba menyusup dari jendela atas" ucapnya menunduk.
"Tidak ada, aku hanya kesal karena ada seekor lalat yang masuk ke kamarku"― Wajah Victoria terlihat suntuk.
"Ahh, maafkan kami. kami akan terus berjaga di luar"
Mereka kemudian kembali keluar seraya menutup pintu kamar itu.
"Bangsat, kau kira aku takut!" ucap Victoria yang berdiri dihadapan cermin yang hancur.
Victoria kemudian melangkah ke tempat tidurnya dan melakukan ritual kebiasaannya sebelum tidur, yaitu membaca sebuah buku.
Buku itu adalah karya tulisan ayahnya tentang roh spritual, dimana ada satu kutipan kalimat terakhir yang sangat di pegang teguh oleh Victoria sejak ia kecil sampai saat ini. Kalimat itu bertuliskan,
"Setiap manusia akan mati, tetapi energinya akan terus tertinggal di alam semesta"
"(Roh dan energi...apakah itu dua hal yang sama?)"
Victoria mulai merasa mengantuk setelah cukup lama membaca, ia kemudian meletakkan buku itu di sebuah meja kecil yang berbentuk bundar tepat di sebelah kasur tidurnya.
Di saat terakhir sebelum ia terjatuh dalam tidurnya, ia melihat sesosok tanpa kepala sedang berdiri tepat di pintu keluar kamarnya.
"Vis..tor......" Victoria jatuh dalam tidurnya.
***
- Keesokan harinya
Di depan gedung megah milik perusahaan Tray Cell, sudah datang rombongan mobil yang terpakir berderetan.
Mereka adalah orang-orang portugis yang memiliki perusahaan yang bernama Cynthium, mereka datang untuk menandatangani kerjasama dalam membangun bidang pengobatan Bio-Genetics Center.
Seharusnya kerja sama ini sudah di terjalin 11 tahun yang lalu, akan tetapi semenjak adik bungsunya, Valencia meninggal, membuat pikiran Victoria berkecamuh dan belum bisa melanjutkan tujuannya. Ia terus berjuang seorang diri untuk mencari jalan keluar agar dapat menyempurnakan obatnya.
Di dalam sebuah ruangan yang cukup besar, mereka duduk bersama membahas dua project yang akan dilakukan di masa depan.
Perusahan Cynthium adalah sebuah perusahaan yang menciptakan obat herbal dari tumbuh-tumbuhan. Dan ketika mereka membaca deskripsi dari dokumen yang diberikan, mereka memberikan usul ada suatu tumbuhan yang kemungkinan besar akan cocok dengan sel-sel genetik untuk mereka manusia yang terlahir cacat.
__ADS_1
"Itu adalah sebuah tumbuhan bunga, namanya adalah Cyathia atau yang sering kami sebut juga sebagai (Bunga Palsu)" ucap Direktur dari perusahaan tersebut dalam bahasa portugis.
Bersambung...