Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 21 : "Back For More?"


__ADS_3

Dari balik fatamorgana permukaan tanah yang mengering, terlihat seorang Gadis Kecil sedang berjalan mendekati Karina yang sedang tertidur dan mengalami Glitch ditubuhnya.


Ia berdiri disamping Karina, lalu menjatuhkan kedua lututnya dan duduk disebalahnya. Tangan kanannya yang putih halus itu mencoba meraih rambut poni Karina, ia pun kembali tersenyum saat mengelusnya.


Gadis Kecil itu memperhatikan sekelilingnya, wajahnya terlihat sendu merasakan seperti ada suatu kenangan yang tertinggal disana. Ia lalu memperhatikan daerah yang lain masih tertimbun aura badai kegelapan yang begitu bergemuruh.


Dia kemudian meraih tangan kanan Karina, lalu terlihat seperti memberikan sesuatu diatas telapak tangannya.


...


"Kak, bangun"


"Kak Karina, ayo bangun"


...


"Eng?" Dalam keadaan setengah sadar, Karina mendengar samar-samar suara anak kecil yang terus mengoceh.


Setelah indranya kembali bisa merasakan hangatnya cahaya sinar mentari. Akhirnya Karina tersadar sepenuhnya.


Ia bangun setengah badan, dan mengusap-ngusap kedua matanya. Karina pun terkejut seketika mendapati tubuhnya sedang mengalami Glitch.


"Apakah aku lapar lagi?"


"Tapi aku merasa sedang tidak lapar?"


Karina kemudian bangkit berdiri dan memperhatikan sekitarnya yang sudah bersih tidak ada satupun rumput semak belukar dan puing-puing bangunan roboh.


Dia juga melihat sebuah kesenjangan antara tempat ia berdiri dan tempat lain penuh dengan hujan darah dan aura kegelapan yang terus bergemuruh.


"Miira, jadi ini dunia yang sudah kau ciptakan. Kau sudah jatuh di dalam jurang kebencian yang begitu dalam"


"Ahh benar juga, perasaan tadi aku dengar suara anak kecil yang sedang bicara?"


Karina lalu menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari siapa dari pemilik suara anak kecil itu. Dan ketika ia mencoba berpaling, wajahnya langsung terharu melihat objek yang berada didepannya.


Itu adalah sebuah Pintu yang berdiri sendiri. Karina pun langsung berlari mendekatinya dan menangis dihadapan pintu itu.


Perasaannya begitu bahagia, ia menangis tersedu-sedu sambil memanggil ayah dan ibunya. Ia berkata bahwa sangat rindu dan ingin bertemu dengan kedua orang tuanya.


Setelah perasaan hatinya sudah merasa tenang, Karina lalu menggapai gagang pintu tersebut dan membukanya.


KRIEEEETT!! (Cahaya putih bersinar menyelimuti dirinya)


...


DRRRTTS!!―DRRRTTS!!!

__ADS_1


"Kanan!!"


"Aku reload!!"


Suara kericuhan yang sedang terjadi di luar membuat Karina tersadar dari tidur panjangnya. Dari celah matanya yang terbuka, ia melihat ruangan yang gelap dan terasa begitu pengap. Dia kemudian melirik kebawah, itu adalah Winda yang sedang meringkuk dan menangis ketakutan.


"Win, Karina sudah sadar" ucap Cindy yang juga terlihat sedang bersedih.


"Kariiiinn" Winda langsung jatuh memeluk Karina.


"Riin, aku takut.. Apa kita benar-benar.. bisa keluar dari tempat ini... " Winda menangis tersedu-sedu.


"Sabar ya.. Winda, jangan patah semangat... Aku, akan terus berjuang" Karina lemas tak bertenaga.


"Suara kamu!!?,"


Cindy menyadari apa yang sedang terjadi pada Karina, ia lalu mengambil tas besar yang sudah berisi banyak buah-buahan.


Mereka berdua membantu Karina untuk bangun dari posisi tidurnya, Cindy merasakan badan Karina terasa sangat lemas dan dingin. Ia kemudian disanderkan ke dinding lalu di apit oleh mereka berdua agar mendapatkan kehangatan kembali ditubuhnya.


Karina tertunduk lesu meski sudah di apit di antara mereka berdua.


"Riin, kamu ga apa-apa kan?" Winda terlihat sangat cemas.


"Enggak-apah-apah" lirih Karina.


"Karina, buah-buahan ini manis makanlah. Ini akan mengembalikan energimu yang sudah banyak hilang"


...


Sementara itu trio sadboy sedang berusaha mati-matian melawan sosok Fantasma yang terus berdatangan diluar. Mereka menembaki setiap para Fantasma yang berusaha naik dengan cara merayap di dinding.


"Anjing!! Mereka ga ada habisnya!!" ucap Ragil yang terus menembaki dengan rasa kekesalan.


"Tembakk teruss, jangan sampai mereka naik!!" teriak Ryo.


DRRRTTS!!


"Reloaadd!!!" teriak Sandi yang meminta waktu untuk mengisi peluru senjatanya.


Berdasarkan posisi mereka saat ini, Ryo berada di pojok kiri, Ragil di pojok Kanan, dan Sandi berada diposisi tengah. Masing-masing dibelakang mereka sudah tersedia kotak amunisi yang sebelumnya mereka sudah ambil di ruangan penyimpanan gudang belakang.


Mereka juga sudah menutupi tangga menuju ke lantai dua dengan menjatuhkan rak lemari-lemari buku yang ada di dalam sana. Dengan begitu, akses jalur keluar masuk hanya bisa di lewati dari jendela kaca yang sudah hancur di pertempuran awal sebelumnya.


"Cepatt Woyyy!"


"Tahaaaan!!!" (Sat-Set) Sandi mengganti pack megazine yang sudah berisikan peluru.

__ADS_1


Keadaan diluar yang gelap hanya memperlihatkan sepasang mata yang bewarna merah dari puluhan ekor sosok Fantasma yang bergerombolan. Mereka yang tertembak langsung terbakar oleh Api Biru berkat senjata yang sudah dilapisi Energi Biru milik Karina.


Setelah selesai Sandi lalu berdiri kembali ke posisinya untuk segera menembak. Akan tetapi disaat itu juga ia melihat ada sosok Fantasma yang gerak geriknya terlihat berbeda sendiri.


Meskipun keadaanya gelap, Sandi sangat yakin jika Fantasma yang di lihatnya itu sedang berdiri layaknya seorang manusia.


Mata merahnya yang menyarak melototi Sandi, seakan mengetahui jika Sandi sedang memperhatikannya. Bulu kuduk Sandi berdiri seketika setelah mendapatkan tatapan kebencian itu.


Ryo dan Ragil tidak menyadari kejanggalan itu, mereka berdua tetap fokus untuk terus menembak. Sandi yang berdiri di tengah semua kebisingan itu membuat telinganya mendengung dan tanpa ia sadari membuat gelombang frekuensi otak dari mereka berdua berada dalam satu garis sejajar. Sehingga tanpa sengaja ia mendengar suara dari sosok Fantasma yang sedang berdiri menatapinya.


"Kalian semua akan mati di sini (HeeeH)" ucapnya yang lalu menyeringai memperlihatkan taring-taring giginya yang bewarna putih.


Dalam keheningan yang terjadi pada dirinya, Sandi tiba-tiba jatuh kehilangan keseimbangan. Ia merasakan kepalanya yang terasa sakit.


"Oi San, ada apa!!" Ryo membentaknya.


"Jangan bilang kau mau kerasukan!" sambung Ragil.


Sandi terlihat beberapa kali mencoba memfokuskan pandangan matanya yang mulai sedikit kabur.


Di luar, Fantasma yang berdiri layaknya manusia itu memberikan arahan kepada rekannya. Mereka semua langsung berlari berkumpul menjadi satu tempat.


"Huh? Ada apa dengan mereka?" Ryo dan Ragil berhenti menembak.


Sandi lalu memaksa dirinya untuk berdiri, dan menyaksikan apa yang sedang terjadi.


Puluhan ekor Fantasma mulai terlihat meleleh seperti karet ban yang telah dibakar. Mereka lalu merambat secara perlahan dan mulai menyatukan diri kepada sosok Fantasma yang terlihat seperti manusia itu.


Wujud dari Fantasma itu terlihat menjadi lebih tinggi dan membungkuk, kedua tangannya sedikit memanjang hingga ke lutut, kukunya menjadi lebih runcing, dan telapak kaki bagian atas dan bawahnya berukuran berbeda sehingga membuatnya harus berjinjit.


"Kau pasti bercanda!" Ryo terperangah.


"Ya tuhan.. " Ragil.


"....." Sandi hanya bisa terdiam memandangi kejadian itu.


GRRRHHHHS!!


Suara mulutnya yang menggeram penuh dengan air liur yang berjatuhan dari gigi taringnya yang tajam. Fantasma itu kemudian membungkuk seperti katak. Permukaan tanah terlihat mengalami keretakan akibat tekanan yang diberikan oleh kakinya.


"Jangan-jangan dia ingin... " ucap Sandi menerka kejadian apa yang akan segera terjadi.


Fantasma itu lalu melepaskan tekanan energi yang ia sudah tahan dari betisnya, ia pun melompat dengan pesat dan langsung menghantam Gedung Laboratorium B.


TRASHHHH!!! Suara dinding kaca yang hancur pecah berantakan.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2