
"Karina maafkan aku, tapi aku punya keluarga yang harus kuperjuangkan" ucap Ryo yang sudah membaringkan Karina diatas Stretcher.
Ryo kemudian mengambil peralatan operasi, menyuntik Karina dengan jarum bius hingga Dia tidak bisa merasakan sakit. dan mulai membedahnya, lalu mengeluarkan peluru yang berada dalam perut bagian kanannya.
Ryo mengatakan sangat beruntung pelurunya tidak mengenai bagian yang fatal. tak lama ia menutup lukanya kembali dengan jahitan. sementara Karina masih terlihat lemas.
"Karina, bagaimana kau bisa tahu tentang semua itu?" ucap Ryo yang duduk disebelah kanan.
"Aku juga ga tahu, mungkin takdir" ucap Karina dengan suara yang lemas.
"Aku ga paham, apa yang kau maksud dengan takdir disini?" Ryo.
"Kamu ga akan percaya, semua yang sudah terjadi padaku diluar nalar manusia!" jelas Karina.
"Maafkan aku Cindy, karena kecerobohanku Sandi sudah.." ucap Karina didalam hati sambil menutupi kedua air matanya dengan lengan kanannya.
Dilain tempat, terlihat dari kejauhan Pak Daniel sedang menyeret mayat Sandi yang hendak dibuang ke sungai.
"Kan sudah kubilang, kalian fokus kerja saja. coba kalian menuruti perkataanku, kejadian seperti ini gak akan pernah terjadi." ucapnya yang sudah hampir sampai diatas tebing didekat sungai.
"Hahh, oi setan jelek ini aku bawakan orang yang ingin kau makan tadi" ucapnya sambil menyenteri kebawah sekitaran sungai.
"Mana dia itu setan, giliran dicari malah ga ada" ucap Pak Daniel yang sedang di intai oleh sesuatu yang mengintip dari semak belukar berada dibelakangnya.
Pak Daniel lalu menggulingkan mayat Sandi sampai jatuh kebawah sungai dan tergeletak begitu saja diatas bebatuan. Dia kemudian berbalik dan hendak pergi meninggalkan tempat itu, namun disaat ia berjalan beberapa langkah sesuatu menerkam jatuh dirinya dan mereka terguling ditempat.
Tangan kanannya mencoba meraih senter yang berjarak 40cm darinya. sementara makluk itu terus mencoba mencakar namun ia tangkis dengan tangan kirinya.
Disana ia sadar dan melihat sosok tersebut, badannya tinggi besar, berbulu lebat warna hitam, dengan taring panjang serta mata merah yang mengerikan. Pak Daniel coba terus memberikan perlawanan meski tangannya terkena cakaran.
Tak lama ia coba meraih pistol yang ada disabuk kanannya, dan langsung menembaki sosok itu.
DOOR! DOOR! DOOR!! Terdengar suara tembakan ke penjuru malam.
Bukannya kesakitan, Sosok itu malah makin marah dengan mata merah yang semakin melotot. Pak Daniel terus menembakinya lagi.
DOOR! DOOR! DOOR!!
Pistol dengan kaliber 5,5 milimeter itu menembakkan peluru terakhirnya, yang membuat sosok itu akhirnya merasakan kesakitan.
Tidak ingin pulang merasakan penghinaan, sosok itu mencucuk kedua pinggang Pak Daniel dengan kedua kukunya yang tajam. Dia lalu mengangkatnya ke atas, dan melemparkan Pak Daniel jatuh terguling ke bawah tebing sungai.
"Arghh" teriaknya kesakitan saat kuku sosok tersebut menancap dikedua pinggangnya.
"LEPASKAN AKU, SIALAN!!!" ucap Pak Daniel yang sedang diangkat keatas oleh sosok tersebut. yang kemudian dilemparkan jatuh ke tebing sungai.
DUG!! suara dari benturan keras.
"Arghhh, adudududuh...Zrsshh" suara Pak Daniel yang sudah jatuh ke tepi sungai dan mencoba bangkit.
Dia merasakan sesuatu mengalir dari kepalanya, yang ternyata adalah darahnya sendiri. didepannya ia melihat mayat sandi yang tegeletak.
Tanpa ia sadari dibelakang dirinya sudah ada tiga sosok makluk yang menyerang Sandi sebelumnya, mereka keluar dari dalam sungai dan merangkak pelan mencoba menerkam.
Salah satu dari mereka bertiga menarik kaki kanan Pak Daniel dengan lidahnya yang bisa memanjang, automatis Pak Daniel terjatuh dengan posisi kepala terbentur kebawah. lalu terseret kebalakang.
"Arggggh lepaskan aku, dasar kalian setan sialan!!" teriaknya yang histeris ketakutan.
Dia kemudian mencoba membalikkan badan saat ditarik, dan terlihatlah tiga sosok sama seperti yang ia tembak dari kejadian sebelumnya.
"Anjingg kenapa kalian bisa ada tiga??"
Disaat yang bersamaan tiga sosok itu menyerang Pak Daniel dan mencabik-cabik tubuhnya lalu memakannya.
"Arrgggg!!..TjkadloOOngbngb!!! " teriakan terakhir dari suara Pak Daniel.
...BAGIAN II...
[Kembali ke 10 menit saat Pak Daniel menembak sosok hitam berbulu]
"Itu suara tembakan dari Pak Daniel!? " ucap Ragil yang mendengar dari dalam gudang.
"Kariiin!!" teriak Winda yang menangis.
"Gil, kita tinggalin aja mereka disini. kalau terjadi apa-apa sama Pak Daniel bisa lepas kita duit 300juta" ucap Anwar yang hendak melepas celananya.
"Ahh, anjing baru juga mau menikmatii" ketus Ragil yang memakai pakaiannya kembali.
"Kalian tunggu saja disini, urusan kita belum selesai" ucap Ragil dengan senyuman binatang buas.
Ragil dan Anwar pergi keluar gudang, dan menutup pintunya kembali. didalam gudang meninggalkan Winda dan Cindy dengan pakaian yang setengah terbuka. mereka berdua terlihat diam dan tak berdaya dengan air mata yang sudah mengering.
...
Diwaktu yang sama, Ryo dan Karina juga mendengar suara tembakan pistol milik Pak Daniel dari tempat yang cukup jauh.
"Itu suara tembakan Pak Daniel, apa yang sudah terjadi?" ucap Ryo yang terperanjat dari tempat duduknya.
"Bukankah kalian dalam masalah jika sesuatu terjadi padanya?" ucap Karina yang coba menyindir.
__ADS_1
"Ah biar aja! Ragil dan Anwar yang menyadari itu pasti segera pergi mendatanginya"
ucap Ryo yang terlihat mulai memandangi tubuh Karina.
Ryo meraba Karina mulai dari Wajah hingga ke pusat perutnya, Karina yang tak berdaya hanya bersuara lesu dan mencoba menyingkirkan tangan Ryo namun dengan mudah ia tepis.
"Matamu indah sekali" ucap Ryo dengan senyuman penuh nafsu.
"Ternyata aku sudah salah menilaimu," ucap Karina dengan mata kecewa.
"Hanya lelaki munafik saja yang coba melepaskan adanya kesempatan seperti ini!" ucap Ryo yang sudah menahan kedua tangan Karina dengan kedua tangannya.
Ryo mulai mendekatkan wajahnya, namun Karina langsung membuang wajahnya ke kanan. disaat Ryo ingin mencium bibirnya. Sensor tubuh Karina merasakan energi negatif yang sangat besar mendekat, sehingga mereka berdua merasakan merinding yang amat luar biasa disekujur tubuhnya.
Ryo langsung terhenti, dan coba memperhatikan dari arah pintu masuk tenda. sementara Karina sudah tahu Betul makluk apa yang sedang mencoba mendekati mereka, karena itu ia membuang wajahnya ke kiri.
BHUAHAHAH!!!
Mendengar suara tertawa yang menggelar membuat kedua kaki Ryo bergetar ketakutan. Tak lama sosok itu memperlihatkan dirinya sedikit demi sedikit yang coba ingin masuk ke dalam tenda.
Kaget bukan kepalang, Ryo menjerit sekelas-kerasnya. kedua kakinya bergetar dengan cepat, mulutnya menganga tak bisa berkata apa-apa. Ketakutan yang amat besar membuat dirinya terkencing dicelana. lalu Ryo pingsan ditempat dengan kedua bola mata putihnya.
Sosok Kepala terbang dengan lidah menjulur panjang itu masuk dan perlahan mendekati Karina. Dia melihat Karina yang sedang terbaring dan memiliki bekas luka yang dibalut dengan perban dibagian perutnya.
"DARAHHH, AKU MENCIUM BAU DARAHHH SEGARRR DARI SEORANG GADISS MUDA!!''
SLURPP!!
Makluk itu menghirup sari pati darah yang tertinggal dikain Kasa bekas operasi Karina sebelumnya. kemudian sosok itu berbicara dengan Karina lewat telepati.
"TIDAK USAH PURA-PURA TIDUR, AKU BISA MERASAKAN ENERGI KETAKUTANMU! "
"KAU SEPERTINYA BUKAN MANUSIA BIASA, TADINYA KU KIRA KAU SUDAH MATI. KARENA SEDIKITPUN AKU TIDAK DAPAT MERASAKAN ENERGI KEHIDUPAN DI JASADMU! "
"BAGAIMANA ITU BISA TERJADI??"
GRRRHH!
"HEY, KAU DENGAR AKU APA TIDAK!?"
"BAIKLAH, KALAU KAU TIDAK MAU MENJAWAB. AKAN KU HISAP HABIS DARAHMU SAMPAI MATI!!"
BHUAHAHAH!!!
Sosok itu kemudian terdiam sebentar, lalu menjulurkan lidahnya yang panjang bermaksud ingin melilit mulai dari paha Karina. Namun seketika itu juga lidahnya terasa panas terbakar, sosok itupun terlihat kelonjotan ditempat merasakan kesakitan.
"HUH?! SIAPA KAU KAKEK TUA!? "
"Aku adalah seorang penjaga anak ini sejak ia masih didalam kandungan orang tuanya
"HAAH!!! AKU TIDAK PEDULI, AKU ADALAH BARONG PENGUASA DAERAH INI. AKU MENGINGINKAN ANAK GADIS ITUU!!!"
"DARAHNYA SANGAT NIKMAT SEKALI, DAN DIA AKAN KUJADIKAN PERMAISURIKU!?"
BHUAHAHAH!!!
"Dia adalah anak yang baik, kau bahkan tidak bisa menyentuhnya. jadi lebih baik kau pergi dari tempat ini"
Disana Karina hanya terbaring tak berdaya, suasana sangat hening meski makluk itu berada didekatnya. Dikarenakan makluk itu berbicara lewat telepati dengan si kakek bungkuk.
"BERANI KAU MELAWANKU KAKEK TUA, AKAN KU BUAT KAU MENYESALINYA!!"
Makluk itu kemudian terlihat sedang mengumpulkan energi, dan membentuk bola api cukup besar. Sehingga membuat udara didalam tenda menjadi pengap dan panas sampai terasa ditubuh Karina.
Sosok itu melepaskan energi bola apinya ke arah si kakek, namun dengan sedikit gerakan dari tangan si kakek, bola itu terlempar dan diarahkannya ke istana sosok tersebut.
Sosok yang bernama Barong tersebut panik karena istana dan beberapa permaisurinya ikut terbakar. Dia kemudian bergegas pergi dan kembali ke istananya.
"KURANG AJAR KAU KAKEK TUA, TUNGGU PEMBALASANKU!!!"
GRRHHAAAA!!!
Setelah itu kakek bungkuk tersebut meletakkan tangan kanannya ke tubuh Karina yang terluka, dalam waktu beberapa saat. lukanya sembuh kembali dengan cepat.
Karina merasakan perubahan yang terjadi dalam dirinya, ia kemudian coba bangkit dan tak merasakan sakit apa-apa diperutnya yang bekas kena tembak.
Dia kemudian beranjak dari Stretcher dan melihat Ryo yang terbaring pingsan dengan bau pesing dicelananya.
Karina kemudian keluar tenda, lalu mengambil senter yang ada di pos penjaga. Lalu langsung bergegas menuju gudang.
...BAGIAN III...
Sementara itu Ragil dan Anwar menuju tempat Pak Daniel, yang mereka yakin pasti sedang berada di sungai. Terlihat dari jauh dua cahaya senter sedang menyoroti langkah kaki mereka dalam gelap hutan semak blukar.
"Eh darah siapa nih, banyak banget berceceran?!" ucap Anwar yang menyoroti bercak darah yang ada ditanah.
"Wah, kacau nih ga benar, ini ga benar..coba kita ikuti!!" usul Ragil.
Mereka berdua mengikuti bercak darah tersebut yang membawanya sampai ke tebing sungai. Ragil dan Anwar coba menyenteri sekitar. Anwar yang tadinya pendiam kini berteriak seperti seorang wanita, ia melihat tubuh Sandi dan Pak Daniel yang sudah tercerai-berai dimakan oleh tujuh sosok yang sama mengerikan.
__ADS_1
UWAAGGHH!!!!
"Anjiiingggg! Gil cepat kabur gil," Anwar langsung balik badan dan berlari dengan jurus langkah seribu.
"A-a-aa-aaa-aa--a---" Ragil putih pucat ketakutan melihat fenomena itu. lututnya terkunci dan tak bisa bergerak.
Sosok itu lalu menyadari keberadaan Ragil yang terbujur kaku, dan dengan cepat mereka semua merangkak ingin meyergapnya. Anwar menoleh kearah belakang dan melihat Ragil yang masih terdiam. Anwar lalu memanggil namanya sekeras mungkin dengan berteriak.
"RAGIIIIILLLLL SADARRRR!!"
Ragil yang tersentak namanya dipanggil, langsung berputar arah dan berlari secepatnya menyusul Anwar. mereka berdua berlari bersama dengan jarak 100 meter agar bisa sampai ke basecamp yang ada di pedesaan.
HAAH HAHH HAHHH!
Suara mereka berdua yang sedang lari ngos-ngosan.
"Anjiing, ternyata benar apa yang dibilang Karina. itu sosok kelihatan seperti setan tapi bukan setan, hahh hahh!" ucap Ragil sambil berlari.
"Apa mungkin mereka bekas percobaan sebelumnya didesa ini" ucap Anwar.
"Bisa jadi, hah..hahh, dari bentuknya sama semua" jawab Ragil.
"AHHHHH, Sandiiii maafkan aku temaaan" Ragil berteriak penuh rasa penyesalan.
"Yang terpenting kita harus cepat ke desa, hahh..hahh dan memberitahu mereka semua" imbuh Ragil.
"Ya, aku jadi menyesal atas yang kuperbuat... kalau bertemu aku ingin meminta maa-"
GGRAAAUPPP!!!
Kepala Anwar lepas dari tubuhnya akibat diterjang oleh dua sosok itu dari samping. Ragil yang melihat langsung didepan matanya, berteriak dengan histeris.
"ANWAAAARRRR...ARRRRRGGHHHHHH!!!! teriak Ragil seperti orang stres berat.
Ragil kemudian menambah kecepatan larinya, sampai urat dikepalanya muncul terlihat.
...
Karina sampai didepan gudang, akan tetapi pintunya terkunci dengan gembok dari luar. Dia kemudian menggedor pintu itu sambil meneriakkan nama Winda dan Cindy. Sontak suara teriakan Karina menjadi sebuah harapan bagi mereka berdua yang ada didalam.
"Karinnn,, kariiin, apa bener itu kamuuu?!" sahut Winda dari dalam dengan teriakannya.
"Iyaa Winn, ini aku karinaa, bentar aku cari batu dulu! " jawab Karina.
"Tapi bagaimana bisa, kamukan sedang terluka??" Winda.
"Uhhhh!! nanti aja jelasinnya, Uhhhh!! ucap Karina yang berusaha keras memukul gembok yang mengunci pintu gudang agar bisa terlepas.
Gembok yang tak kunjung lepas membuat hati Karina semakin panik, namun dari kejauhan terlihat sebuah cahaya senter menyoroti Karina yang sedang menggedor pintu gudang.
"Riinnn, Kariinnn!!!" teriak Ragil dari kejauhan yang menangis Bombay.
"Ragilll, kenapa kamu sendiri..Anwar mana??" ucap Karina yang terkejut melihat kehadiran Ragil didepannya.
"Kariiiiiin, maafin akuuuu, aku sudah banyak salaaaah...Anwarrr Hikss, hikss, Anwar sudaaah...Hikss" ucap Ragil yang bersimpuh menangis pada Karina.
Karina kemudian mencoba menenangkan Ragil, lalu menanyakan mana kunci gembok gudang. Ragil kemudian mencoba mengambil disakunya. disaat itu suara teriakan keras yang berasal dari tenda vaksin satu dan dua mulai terdengar.
Insting Karina menyadari apa yang akan terjadi jika suara teriakan aneh itu sudah terdengar, ia lekas meminta Ragil untuk cepat memberikan kunci gemboknya.
"Ini Rin," Ragil memberikan kunci pada Karina.
Krack Kreck Ctung!!! *Suara gembok yang sudah terbuka.
Melihat Karina akan diterkam oleh sosok yang merangkak melaju dari samping, Ragil dengan reflek mendorong Karina masuk ke dalam gudang.
"Cepatt tutup pintunyaa... ARhhhGAHAdgajhdakdhkudkhwaads!!" ucapan terakhir dari Ragil.
Disaat Karina ingin menutup pintu, ia melihat dari kejauhan gerombolan makluk bermata merah yang merangkak melaju cepat menuju gudang. Karina dengan cepat menutup pintu dan menguncinya, lalu berusaha mengambil balok kayu yang ada disebelah sebagai pengunci palang pintu dari dalam.
Disaat yang bersamaan, seluruh makluk itu melompat dan membenturkan diri mereka ke pintu gudang. Akibatnya, Karina yang sedang berada disitu terpental sejauh empat meter kebelakang.
Karina yang terlempar kebelakang, mencoba bangkit. Winda dan Cindy lalu datang menghampirinya. Karina mengatakan dirinya baik-baik saja, lalu dia menyuruh Winda dan Cindy untuk tenang dan hilangkan rasa takut.
Mereka berdua meminta penjelasan apa yang sudah terjadi sebenarnya, namun Karina berkata belum bisa menjelaskannya sekarang.
Bulan sempurna yang tadinya tertutup awan, kini sinar cahayanya menyinari dengan terang pedesaan itu. terlihat disana puluhan sosok itu sedang mengepung gudang.
Mereka terus mendobrak dari segala sisi. Winda dan Cindy berteriak dan menangis histeris, mereka tidak dapat mengontrol emosinya.
Karina terduduk dan pasrah, ia sudah tidak bisa menangis lagi. Hanya bisa melihat pemandangan sosok bermata merah yang bergerombolan merangkak berhasil masuk dari pintu depan gudang. Winda berteriak seperti orang gila, sedangkan Cindy jatuh pingsan.
Pada saat momen kematian akan terjadi dimata Karina, kedua telinganya mendengung hingga membuat suara disekitarnya tidak terdengar. Karina diam melamun dengan wajah yang datar, lalu mendengar suara anak kecil yang sedang berbisik mengatakan.
"Panggil nama lengkapmu"
Karina yang melamun tanpa sadar, bibirnya bergumam dengan sendirinya...
...Karina Suci!!!...
__ADS_1