Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 16.7 : "The Name Who Have A Body!"


__ADS_3

BRUKK!!


Sandi ditubruk sosok Kepala Buntung hingga terbentur ke dinding belakang. Beruntung Ragil dan Pak Daniel segera datang menghampirinya. Ryo yang ketakutan bersembunyi didalam ruangan. Sementara sosok itu terus melayang dan tertawa tidak jelas. Suara pintu besi yang terus dipukul membuat suasana semakin seram dan suram.


Sosok Kepala Buntung kemudian lari menuju keluar dan hilang dalam kegelapan.


"Sialan dia tiba-tiba nyerang!" ucap Sandi memegangi dadanya yang sakit.


"Bagaimana ini pak, kita kejar kah?" Ragil.


"Tidak usah, kita tetap bersama dan saling perhatikan sekitar. Pokoknya kita ga akan kembali sebelum menemukan gudang senjata, kita sangat memerlukan itu" ujarnya.


"Loh mana Ryo?" Pak Daniel.


Tak lama ia pun keluar dengan wajah yang kelihatan pucat. Mereka bertiga tidak ingin membahas Ryo, lalu lanjut berjalan ke ruangan berikutnya. Di ruangan kedua ini mereka tidak menemukan apa-apa dan sosok kepala buntung itu muncul lagi menganggu mereka, dia terbang sambil tertawa-tawa. Mereka pun mencoba mengikuti geraknya dengan memberikan cahaya senter, diikuti Sandi yang berusaha mengarahkan bidikannya agar tepat.


"Ahh tidak bisa, selama dia terbang kita tidak akan bisa mengenainya. Itu akan buang-buang peluru saja" ucap Sandi kewalahan.


"Kalian maju duluan biar saya mengawasinya dari belakang" ucap Pak Daniel.


Mereka kemudian lanjut ke ruangan ketiga, yang didalamnya juga sama. Puluhan kasur berbaris dan juga lemari. Kali ini hanya Sandi yang masuk ke dalam ruangan, sedangkan mereka bertiga menunggu diluar. Ragil terlihat fokus menyoroti sekitarnya, begitu pun Pak Daniel.


Didalam ruangan yang tergenang air Sandi berjalan mendekati lemari untuk melihat apa isinya. Dengan pose sama seperti sebelumnya, ia lalu mendadak membuka lemari itu yang ternyata didalamnya adalah sosok kepala hitam dengan mata merah dan senyuman lebar yang berdarah. Dirinya yang kaget sontak menembakkan pistol itu lalu terjatuh kebelakang. Pelurunya berhasil mengenai telinga kanannya, sosok kepala buntung yang tadinya senyum menyeringai, kini bagian kanan kepalanya terbakar oleh api biru yang menyala terang. Ia pun menjerit tak karuan lalu terbang lari menembus dinding.


Mereka bertiga yang mendengar suara pistol dari dalam ruangan bergegas mendatangi Sandi.


"Ada apa Sandi?" tanya Pak Daniel.


"Asem, hampir copot jantung saya. Si kepala buntung itu ada didalam lemari ngagetin saya" ucapnya sambil bangkit berdiri dengan celana yang basah akibat terkena genangan air.

__ADS_1


"Kok bisa dia ada didalam?" ucap Pak Daniel keheranan.


"Ditunggu-tunggu diluar malah didalam dia, kurang ajar tuh kepala" ujar Ragil.


"Tapi gapapa, semoga dia kapok dan gak akan gangguin kita lagi. Tembakan ku tadi berhasil mengenainya" ucap Sandi merapat pada temannya.


"Oi, mau sampe kapan kau diam aja Ryo? Fokus! kita berempat ini! harusnya kau lebih berani" ucap Sandi.


"Iya aku paham, aku cuman kepikiran sesuatu"


"Apa itu?"


Ryo kemudian mengambil buku catatan anak-anak yang bergambar tentang semua hantu lokal lalu menunjukannya sama sandi.


"Ga ada yang salah sama gambar ini, namanya juga gambar anak-anak" ucap Sandi.


"Anak macam apa yang suka gambar setan, terus coba kau lihat itu ada namanya dibawah"


"Emang ada nama anak lokal namanya Valencia, zaman segitu? itu juga masih ada sobekan kertas yang hilang" jelas Ryo.


"Benar juga, semua gambarnya tentang setan lokal. Kalau dia anak bule kenapa bisa tahu? simpan aja dulu, nanti kita tunjukan sama Karina" setelah puas melihat gambarnya, Sandi mengembalikan catatan itu kembali pada Ryo.


Ketika mereka ingin lanjut berjalan, Ragil mengeluarkan sesuatu yang sama dan menunjukannya pada yang lain.


"Aku juga dapat buku bergambar, tapi yang ini bukan setan. Ini gambarnya seperti ksatria memegang pedang"


Sandi mengambil catatan itu, dan membuka setiap lembaran yang bergambar. Disana ia melihat suatu gambar yang menyadarkannya akan sesuatu.


"Ini kan..gambar ini mirip dengan patung yang ada diatas, yang lagi megang pedang." ucap Sandi yang kemudian terus membuka lembarannya sampai habis. Didalam kertas sampul bagian belakang tertulis lambang huruf "V".

__ADS_1


"V?.. Valencia kah-?"


DONG! DONG!! DONG!!! Suara hantaman pintu besi yang membuat dengungan digendang telinga itu terdengar lagi.


Sandi kemudian memberikan itu pada Ragil, dan mereka kemudian lanjut keluar dari ruangan tersebut. Di bagian belakang, terdapat empat ruangan yang sama dua diantaranya sudah mereka lalui dan berhasil mendapatkan dua buah petunjuk buku catatan bergambar. Meskipun tidak tahu apa artinya, batin Sandi mengatakan ia harus mendatangi kembali patung tersebut yang berada dilantai dua, mereka berempat terpaksa menaiki tangga lagi.


Sesampainya di atas ia segera memeriksa patung itu kembali. Posisi patung tersebut sedang berpose memegang pedang cukup panjang yang menghunuskan ujungnya ke atas. Mereka bertiga pun tak mau luput membantu Sandi untuk memeriksanya. Setelah beberapa menit, Ragil yang sedang melihat ornamen lukisan yang berada dibawah batu persegi sebagai penyanggah patung itu berdiri, ia melihat sebuah tempat kosong bagian ornamen yang hilang. Ia pun segera memberitahukan hal itu kepada Sandi.


"V lagi.. ada apa dengan huruf ini?" Sandi


"Ini pedang asli, lihat garis ukiran yang ada di sarungnya! ini punya kerajaan." Ryo menyeletuk.


"Kalau begitu bisa kita gunakan sebagai senjata" ucap Pak Daniel yang mendekat dan mencoba untuk mengambil pedang tersebut.


"Tidak bisa, pedangnya terkunci dengan jari-jari ini" ucapnya yang telah berusaha.


DONG! DONG! DONG!!! - TANG! TENG!!! Terdengar suara pintu besi jatuh akibat berhasil dihancurkan. Semua orang dilantai dua yang mendengar itu terperanjat kaget.


TCAK! TCAK!! TCAK!!! Suara langkah kaki berjinjit yang memijak genangan air sedang bergerak sangat cepat menuju ke tempat mereka.


Sandi bersiaga berdiri menyambut apa yang akan datang mendekat, Pak Daniel, Ragil dan Ryo menyoroti ke arah tangga. Suara langkah kaki itu semakin berat, ia menaiki tangga dan menghancurkan keramik yang ada pada setiap anak tangga. Hingga akhirnya sosok itu mulai muncul naik perlahan diterangi dengan tiga cahaya senter.


Apa yang mereka lihat adalah hal yang diluar logika, semua mata tertuju pada objek yang bewarna merah. Sandi yang berada dipaling depan sangat jelas tahu apa itu, karenanya ia dibuat melotot kaget dan membuat bulu kuduknya langsung berdiri seketika.


Ragil terlihat serius, baginya semua mulai terlihat sama saja. Namun ketika tahu sosok apa itu, wajahnya mulai panik dan keringat dingin mulai bermunculan di keningnya. Ryo yang ada dipaling belakang, ia menyembunyikan wajah takutnya dibalik bayangan orang lain. Tetapi jelas terlihat jika Ryo sebenarnya mencoba melawan rasa takutnya itu, ia mencoba menahan tangan kiri yang gemetaran dengan tangan kanannya.


Pak Daniel yang berdiri dipaling kiri dengan mata melotot, dapat melihat sepenuhnya sosok apa itu. Kulitnya terlihat hitam pucat sama seperti dengan Fantasma, dengan baju robek-robek bewarna hitam, darah mengalir dikedua lengannya, lalu apa itu? Dia terlihat sedang membawa cambuk, tunggu! Itu bukan cambuk!! Itu adalah ekornya yang panjang.


Dan dia, tidak ada kepalanya!!!

__ADS_1



Bersambung...


__ADS_2