Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 21.2 : "A Half"


__ADS_3

Dari dalam kepulan asap putih dua titik cahaya biru terihat, itu adalah mata milik Delta-Karina yang menyala sedang memperhatikan dinding udara yang retak akibat dari tembakan meriam dari sosok Fantasma yang sudah bermanifestasi.


"Ternyata benar, dua energi kegelapan itu saling terhubung. Tapi bagaimana bisa?"


"Apa ada hubungannya dengan Miira yang bisa masuk ke dalam cermin?"


"Entahlah, tapi dengan begitu kita tinggal menghancurkan dua pilar kegelapan itu" jawab Karina.


"Sekarang ayo kita selesaikan" imbuhnya.


Tangan Kanan Karina meminta, partikel cahaya biru mulai berdatangan dan membentuk sebuah senjata yang baru ditelapak tangannya.


"Eh, senjata apa ini? kapan kita memilikinya?"



"Ini...Panah kan?"


Itu adalah senjata panah tipe crossbow milik negara jerman pada abad ke 18. Beberapa ukirannya terbuat dari emas, seperti milik seorang bangsawan.


Dalam hitungan detik sebuah sinyal flasback terkirim ke dalam otak Karina ketika sudah memegangya. Sebuah gambaran dimana orang-orang pada masa itu yang pernah menggunakannya.


"Aku tidak tahu, kenapa bisa mendapatkan senjata ini. Tetapi aku akan mencoba menggunakannya"


Tangan kiri Delta-Karina meminta, maka partikel biru mulai membentuk sebuah anak panah bercahaya biru sepanjang 1 meter, yang kemudian ia letakkan di atas senjata Crossbow tersebut.


...


Fantasma Meriam mengembalikan wujudnya ke seperti sedia kala, dengan satu tangan kanan yang telah hilang.


"Ahahaha...mati kau pengacau!!"


Dari dalam kepulan asap putih yang tebal sebuah benda tak terlihat melesat cepat menuju ke arah Fantasma tersebut.


JLEB!!


"Ukhh...apa ini..???"


Anak panah itu menancap tepat di bagian dada Fantasma tersebut.


BWUUSHH!!!!


Api Biru besar menyala dari anak panah tersebut dan mulai membakar sosok Fantasma itu.


"Argggghhh! Panasss!!!


Tangan kiri dari sosok Fantasma itu berusaha untuk mencabutnya, akan tetapi kobaran Api Biru menyebar begitu cepat, sehingga melelehkan semua bagian tubuhnya.


Fantasma itu menjerit meminta tolong dengan kata-kata yang asing yang terdengar di telinga Karina. Tubuhnya pun akhirnya habis terbakar dan berubah menjadi abu vulkanik yang kemudian lenyap tertiup angin.

__ADS_1


Delta-Karina turun mendarat dari ketinggian, dan menginjakkan kakinya di atas permukaan tanah.


Dinding yang retak dari ruang hampa tersebut perlahan-lahan mulai menjatuhkan serpihan demi serpihan kegelapan yang telah menyelimuti daerah disekitar dua Gedung besar yang saling terhubung.


Cahaya matahari mulai masuk dari tiap-tiap celahnya. Tubuh spritual Karina yang bermandikan cahaya matahari, terlihat oleh teman-temannya yang sedang berdiri menyaksikan dari jendela lantai dua yang telah hancur.


"Hoii, lihat itu Karina!!" teriak Ragil orang pertama yang berhasil melihatnya.


"Eh iya, kok dia pakai seragam Oka ya?" ucap Cindy


"Kariiiinnn!!" teriak Winda sambil melambaikan tangan.


Perasaan Ryo tak menentu, ia ingin menangis tetapi mencoba untuk menahannya. Sedangkan sandi memberikan tepuk tangan dan menggelengkan kepalanya beberapa kali, seakan tak percaya apa yang sudah terjadi pada mereka dalam waktu sesingkat ini.


Cahaya biru pada pupil mata Delta-Karina mulai menghilang, ia pun lalu menoleh menghadap teman-temannya dan membalas teriakan sapaan mereka.


"Teman-teman" Karina melambaikan tangan dengan tersenyum bahagia.


Pada Momen itu, Beta-Karina mengatakan bahwa ia merasakan adanya Energi Biru yang ada disekitar tempat ia berada.


"(Benarkah, kalau begitu kita harus mengambilnya semua)"


"Teman-teman, perhatikan aku. Kalian akan melihat ini sekali dalam seumur hidup kalian" teriak Karina.


"Eh? apa yang ingin dia lakukan?" Sandi.


"Apa itu roh Karina?" ucap Ryo.


Ryo merasa bersalah setelah menanyakan itu.


Karina kemudian berjalan melayang agak sedikit menjauh agar bisa berada tepat di antara kedua bangunan tersebut. Teman-temannya semua ikut terpukau melihat Karina yang bisa terbang seperti hantu ditengah terangnya sinar matahari.


Karina berdiam diri, dan memfokuskan pikirannya, yang kemudian energi itu mulai merambat kematanya dan memperlihatkan kumpulan energi biru yang bertebaran disekitarnya.


Dia terbang secara vertikal ke atas sambil berputar-putar, sehingga seluruh energi yang bercahaya biru ada di tempat itu tertarik ke arahnya.


Tubuh Karina di kelilingi energi-energi biru yang berterbangan disekitarnya, menjadikan dirinya sebuah objek fenomena yang begitu indah dan mengagumkan untuk semua teman-temannya yang sedang terpukau dan penuh decak kagum saat melihatnya.


"Nah itu, itu yang aku pernah lihat saat Karina datang menolongku!" ucap Ragil dengan penuh rasa bangga.


"Whoaa...(indah sekali)" Ryo.


"Karin..." Winda.


Semua energi itu masuk ke dalam tubuh Karina secara bergantian. Dia membuka mata dan merasakan perbedaan pada dalam tubuhnya.


"Semoga energi ini cukup sampai aku berhasil membuka semua tabir yang menutup wilayah ini, dan menyelematkan mereka semua" ucap Karina yang membandingkan kedua telapak tangannya.


Dia lalu terbang mendekati teman-temannya yang ada di dalam lantai dua Gedung Lab B.

__ADS_1


Sambil melayang di udara, di hadapan teman-temannya ia berkata.


"Teman-teman, Winda....akan terlalu lama jika aku menjelaskan kebenaran yang terjadi di tempat ini. Namun yang pasti, kita benar-benar telah di jebak dan terjebak oleh dua kubu"


"Dua kubu?" Winda.


"Um, semua ini tentang eksperimen itu dan hubungannya dengan para Makhluk astral. Dan...tentang kekuatanku ini....(aku juga harus mencari tahu asal-usulnya)"


"Karina, aku percaya itu!" ucap Sandi dengan wajah serius.


"Pokoknya, seperti yang kalian lihat. Disini sudah terang, dan disebelah sana masih terlihat gelap, karenanya aku masih harus melakukan sesuatu untuk itu"


"Tempat ini sudah aman, aku juga sudah membuat perlindungan. jadi pastikan, apapun yang terjadi jangan coba-coba untuk pergi meninggalkan tempat ini sampai aku kembali"


Semua teman-temannya mengiyakan peringatan itu, kemudian Karina mundur perlahan kebelakang lalu mulai menghilang dari pandangan mereka semua secara perlahan.


***


Karina sekarang berada di dalam ruangan yang putih, (The White Room). Dan disana sudah menunggu dua pintu berdiri. Pintu pertama adalah milik Karina, dan yang kedua adalah milik Miira.


"Glitch dan warna pintu milik Miira mulai memudar, apakah itu artinya semua yang kita lakukan telah berhasil?"


"Tubuh asli Miira? apa dia masih hidup?"


"Kalau itu benar, kita tinggal menghancurkan dua pilar lagi"


"Um, baiklah. aku mengerti"


Tangan kanan Karina meraih gagang pintu milik Miira, ia pun lanjut membukanya.


KRIEEET~


Karina hilang ditelan kegelapan, bersamaan dengan bentuk pintu Miira yang tertutup sendiri dan hilang memudar.


...


Karina membuka matanya, ia sedang berdiri ditempat sebelumnya ia bertarung dengan Makhluk Raksasa. Dia lalu menoleh ke arah timur, melihat disana masih mengalami hujan darah dan di selimuti aura kegelapan.


Dia kemudian mencoba terbang dengan cukup tinggi sampe melihat keseluruhan wilayah itu. Pupil matanya yang menyala mencari tempat keberadaan pilar selanjutnya.


"Arah itu, Gudang tempat dimana pertama kali kita beristirahat saat sedang tersesat bukan?"


"Pantas saja, waktu itu ada suara laki-laki yang mengancam kita"


"Yah, aku juga bermaksud seperti itu"


Dia turun mendaratkan kakinya dipermukaan tanah, dan menggunakan kemampuan Burning Step agar tidak terlalu memakan waktu lama untuk berjalan.


Tangan kiri Karina meminta, maka muncul lah partikel biru yang mulai membentuk sebuah patung.

__ADS_1


Layaknya menggunakan Roller Skate, Karina meluncur cepat tanpa harus mengayunkan kedua kakinya melewati hujan gerimis darah seorang diri bersama payung teduhnya.


Bersambung...


__ADS_2