Outdoor Activity

Outdoor Activity
Chapter 20.7 : "Para Manusia Kerdil"


__ADS_3

Kyaaaaaa!!


Teriakan dari Cindy yang ketakutan mendengar suara Jin Raksasa tersebut terdengar sampai keluar.


"Cindy... !!" lirih Winda.


"Bagaimana ini, apa yang harus kita lakukan" imbuhnya.


Teriakan Cindy memicu kembali adrenalin Sandi, dirinya yang sedang terbaring mencoba bangkit melawan rasa takutnya.


"Hahh.. Hahh.. Maafkan aku teman-teman, ini pertama kalinya dalam seumur hidupku melihat sosok raksasa yang mengerikan seperti itu... Hah.. Hahhh" Sandi terlihat terengah-engah bersama nafasnya.


"Apa lagi aku woy! Tapi, masih lebih seram sosok setan wanita itu sih.. " ucap Ragil.


"AAHH!! Keberadaan para Fantasma yang ada di luar saja sudah sangat merepotkan, ditambah lagi Monster Raksasa! Kacau!" Ryo terlihat sangat kesal.


"Sandi, apa yang harus kita lakukan??!" Winda.


"Apa kita harus menunggu kedatangan Karina untuk menyelamatkan kita?" Ragil menjawab.


Sandi melihat wajah Karina yang tampak tenang dalam tidurnya. Nalurinya mengatakan untuk lekas meninggalkan tempat itu.


"Tidak, kita harus pergi dari sini" jawab Sandi dihadapan teman-temannya.


"Pergi kemana? diluar sana monster-monster Fantasma itu berkeliaran"


"Tenang, Ragil sudah mendapatkan denah wilayah ini..kita bisa kembali ke tempat laboratorium itu untuk sementara"


"Terus, Karina?" sahut Cindy.


"Biar Ryo yang menggendong-


"Enggak, biar aku saja!" jawab Winda dengan ratapan wajah tidak terima.


"Oke, baiklah kalau begitu begini rencananya-


...


CRUSHHH!!!


Room Incubation yang sudah dipasang Karina dengan kekuatan Energi Birunya hancur berkeping-keping hanya karena ditendang oleh Jin Raksasa tersebut.


DUM-DUMM!!! Ia mulai masuk melangkah ke pemukiman yang hancur.


Sandi dan lainnya sudah selesai berkemas, mereka pun lekas keluar melewati pintu belakang.


Jin Raksasa itu masih terlihat kebingungan dengan adanya sebuah energi asing diwilayahnya. Sementara Sandi dan yang lainnya sedang berjalan pelan dibalik rumah panggung tersebut, ia menunggu celah agar bisa meloloskan diri dari pandangan Makhluk Raksasa itu.


"Jarak untuk keluar ada sekitar 50 meter. Begitu ada kesempatan, lari sesuai dengan formasi yang sudah kukatakan barusan" lirih Sandi sambil mengawasi pergerakan Jin Raksasa tersebut dari balik rumah.

__ADS_1


"Aku mencium keberadaan hawa manusia ditempat ini" ucap Jin Raksasa sambil mengendus dengan hidung babinya yang besar.


DUM-DUMM!!! Dia melangkah mendekati keberadaan Sandi dan teman-temannya.


Kedua kaki raksasanya secara bergantian menyapu sampah-sampah dari puing dan rerumputan semak belukar, yang kemudian ia tumpukan menjadi satu. Sekarang semuanya terlihat bersih dan menyisakan satu rumah panggung.


Mata Sandi yang mengintip, melihat sosok raksasa itu sedang celangak-celinguk memperhatikan sekitarnya.


"Eng? Siapa disana" Ia menyadari keberadaan lima orang itu.


DUM-DUMM!! Raksasa melangkah mendekat.


Semuanya langsung panik ketakutan, jantung mereka berdegub kencang, Air mata mengalir di wajah Winda dan Cindy yang menangis ketakutan. Ryo tak berkutik, raut wajah sandi terlihat sangat berpikir keras mencari cara keluar dari situasi mematikan tersebut.


Merasa tidak ada pilihan lain, Ragil pun dengan berani mengambil tindakannya sendiri. Ia berlari kebelakang rumah, lalu bersama aba-abanya dia lompat dan muncul dihadapan sosok Jin Raksasa tersebut.


"Woyyy,.. A-aa-aku.. Aku sedang tersesat disini.. !!" Teriaknya dengan kondisi tubuh yang menggetar ketakutan.


Teman-temannya semua terkejut melihat tindakan Ragil.


"Kenapa ada anak manusia ditempat ini.. ?"


"Kan tadi sudah kubilang, aku-ttersesatt.. Goblokk!!"


"Ini adalah wilayahku, siapapun yang sudah berani masuk akan menerima akibatnya. Kebetulan aku sudah lama sekali tidak makan manusia.. Aa, berapa lama ya.. ?"


Ragil lalu mencari celah kelemahan sosok itu untuk ditembaki. Matanya membidik betis besar dari sosok raksasa tersebut.


DRRRRRRRTS!!!


"Apa yang kau lakukan manusia kerdil?"


"Eh?? Tidak mempan? apa efek dari energi milik Karina sudah hilang?" Ragil keheranan dengan senjata MP5 yang dipegannya.


Sosok Raksasa itu kemudian mengangkat tangan kanannya menjunjung ke atas langit, lalu menghentakkannya ke atas permukaan bumi.


Angin kencang dan getaran yang dihasilkan dari hentakan telapak tangan raksasanya membuat tekanan udara spontan. Sehingga apapun yang ada disekitarnya habis beterbangan termasuk menghancurkan rumah panggung dimana ada Sandi dan teman-temannya yang sedang bersembunyi dibaliknya.


"Uaaaaakkkhh"


Ragil terlempar sejauh 30 meter dan sangkut diatas ranting pohon yang rimbun dedaunan. Sedangkan mereka yang bersembunyi tertimbun puing-puing kayu dari rumah tersebut.


DUM-DUM!!! Ia mendekati rumah yang hancur.


Tangan besarnya kemudian membuang satu persatu kayu yang menimpa mereka.


Disana terlihat ada lima orang tergeletak tak berdaya dengan luka gores-gores di beberapa bagian tubuhnya.


Dengan lutut yang gemetar, Sandi mencoba bangkit dan melihat Winda pingsan tak sadarkan diri diatas tubuh Karina, Cindy dalam kondisi setengah sadar, Ryo memperlihatkan kerut wajah yang sedang menahan rasa sakit.

__ADS_1


"Uhukk-uhukk.." Sandy batuk sambil menahan rasa sakit di dadanya.


"Whoaa, ada banyak manusia. dan ada tiga gadis muda. Huahuahua" senyum wajahnya yang sedang bergembira terlihat sangat menakutkan.


Tangannya mulai bergerak, dan mencoba meraih Cindy. Namun terdengar sebuah teriakan yang lantang dari arah belakang sosok tersebut. Dia adalah Ragil yang sedang berlari sekuat tenaga lalu tanpa pikir panjang langsung menembaki telinga milik Makhluk Raksasa itu.


"Bangsat KAUU!!" ―DRRRRRRRRTS!!!!


Makhluk Raksasa itu akhirnya menerima dampak dari Api Biru milik Karina, ia terlihat menjerit kesakitan lalu mengusap-ngusap telinganya mencoba untuk memadamkan apinya.


"Hahaha, Mampus Kauu!! rasakan itu!"


Api itu akhirnya padam, Makhluk Raksasa itu kemudian berpaling mengarah kepada Ragil. Satu bola matanya yang berukuran besar itu terlihat merah membara.


Aura kemarahannya membuat suasana disekitar menjadi sangat gerah padahal itu didalam alam terbuka.


"Kau! Manusia kerdil, berani-beraninya kau!!!


Giginya menggeram bersama kepalan tangannya, ia berniat menghabisi Ragil dengan menumbuknya.


Dalam hitungan detik kematian, disaat tangan raksasa itu berselancar bersama dengan derasnya angin, Ragil dengan sigap membidik tepat di bola matanya yang besar yang berwarna merah tersebut.


DRRRRRRRRTS!!!!


BDUMM!!! Tumbukannya meleset, namun Ragil terlempar sejauh 17 meter.


"ARRGGGHHHHHHH!!!"


Makhluk Raksasa itu berteriak kesakitan sambil memegangi matanya.


Berkat tumbukan tangannya tersebut, Cindy dan Winda kembali sadar. Ryo dan Sandi kemudian membantu mereka berdua berdiri.


"Akhhh...Bangsat ini kingkong" ucap Ragil yang mencoba bangkit dari keterpurukannya.


Setelah cukup lama meringis kesakitan, Makhluk Raksasa itu kembali menghadap si manusia kerdil. Kali ini Ragil benar-benar sudah membuatnya sangat marah.


"Aku sudah terlalu meremehkan kalian, Energi itu..baru pertama kali aku merasakannnya"


"Kau tidak hanya kerdil, tapi juga merepotkan"


DUM-DUM!!


Satu langkah yang ia ambil sama dengan jarak 7 meter, Ragil yang sudah berdiri kemudian berteriak.


"Sandiii!!!! Teman-teman!!! Kalian cepat pergi duluan, aku akan segera menyusul nanti" Ragil langsung berpaling dan lari jauh kebelakang dimana disana teradapat sebuah hutan bukit batu.


Lima orang itu hanya bisa terperangah melihat apa yang sudah dilakukan Ragil dengan keberaniannya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2