Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
siapa?


__ADS_3

"Than.. Lihatlah.. Kecelakaan itu masuk ke dalam berita" kata Arya.


Nathan lalu bergegas berdiri di belakang Arya dan Ririn yang tengah duduk di sofa depan televisi.


"Saya tidak dapat menghindarinya, karena korban tiba tiba saja berlari muncul dari dalam hutan... Kejadiannya sangat cepat" suara sang sopir truk yang sedang diwawancarai.


"Kalian tau siapa korbannya??" tanya Ririn menatap Arya dan Nathan bergantian.


"Ya kami tahu, dia Rangga" jawab Nathan yang masih fokus ke acara tersebut.


"Ya Ampuunn" pekik Ririn terkejut.


"Ja.. Jadi maksud loe tadi Rangga sudah mendapatkan hukumannya ini??" tanya Ririn ke Arya.


Arya hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Ririn.


Tap... Tap... Tap..


Suara langkah kaki Iren menuruni anak tangga. Dan mereka menoleh ke arah Iren.


"Iren.." panggil Ririn berdiri dan mendekati Iren.


"Loe gapapa kan?? Maafin gue ya.. Harusnya gue ga ninggalin loe" kata Ririn memeluk Iren.


"Gue gapapa Rin.. Ok.. Jangan salahin diri loe sendiri.. Andai gue tau bakal kejadian seperti itu, gue dah milih bolos kerja atau ga milih bawa kerjaan ngerjain di rumah dan pulang bareng loe" jawab Iren membalas pelukan Ririn.


"Udah ahh.. Kita makan yukk.. Gue laper.." kata Iren merenggangkan pelukannya.


"Kita dah pada makan.. Loe aja yang makan, gue siapin ya.." kata Ririn.


"Kalian dah pada makan??? Dah ga usah, gue bisa ambil sendiri.. Kalian lanjutin aja dulu nontonnya.. Gue ke dapur dulu ya.." pamit Iren.


"Aku temenin" kata Nathan mengikuti Iren yang menuju ke dapur.


#####


Di sebuah rumah, tepatnya di ruang keluarga Santi tengah menonton televisi sendirian.


"Breaking news.. Telah terjadi kecelakaan, sebuah truk menabrak pemuda hingga tewas. Menurut pengakuan sang sopir, pemuda tersebut tiba tiba berlari muncul ke tengah jalan dan naas bertepatan truk melintas dari arah selatan dan sopir tidak dapat menghindarinya. Dan kini, korban telah dibawa ke rumah sakit terdekat untuk identivikasi. Dan di ketahui korban bernama Rangga Saputra berusia 25 tahun sesuai identitas yang ditemukan pada tubuh korban. Demikian breaking news kami sampaikan." suara reporter pada acara televisi tersebut.


"Rangga??" gumam Santi.


"Apa Rangga yang di maksud kamu??" gumam Santi lagi mengerutkan dahinya.


Dia langsung mengambil ponselnya dengan tangan yang bergemetar. Dia mencari nomor ponsel Rangga yang kemarin malam sempat ia minta.


Tuuuttt.... Tuuutttt... Tttuuuttt..

__ADS_1


"Ayoo Rangga angkat... Ayooo... Jangan bikin gue takut.." kata Santi yang panggilannya tidak juga diterima.


Santi terus berusaha menghubungi ponsel Rangga. Namun sudah berkali kali ia mencoba menghubungi namun tidak juga di terima oleh Rangga.


"Rangga angkat teleponnya!!" Santi mengirim pesan.


Hingga malam tiba, pesan yang iya kirim tak kunjung di baca oleh Rangga. Santi semakin bingung.. Jika benar memang itu Rangga yang ia kenal, maka gagal sudah segala rencananya.


Malam ini hujan mengguyur di wilayah tersebut. Santi pun menuju ke dapurnya untuk memasak mie rebus yang sangat pas jika dinikmati pada suasan hujan seperti ini.


Tidak lama kemudian, mie tersebut telah matang. Santipun menuju ke meja makan untuk segera menikmati makan malamnya tersebut. Kepulan asap dari mangkok, menandakan mie tersebut masih panas. Cukup menggoda dalam hawa dingin seperti saat itu, dan Santipun menikmati makan malam sendirian.


Tok... Tok... Tok... Tok...


Ada suara ketukan di pintu utama rumah Santi. Santi yang sedang menikmati makan malam tiba tiba menghentikan makan malam dan terdiam.


Tok... Tok... Tok... Tok..


"Siapa si.." kata Santi yang tadi terdiam untuk memastikan.


Santi bangkit dari duduknya dan menuju ke ruang tamu untuk membuka pintu tersebut.


Ceklekkk...


Santi berdiri mematung saat melihat siapa yang mengetuk pintu tersebut.


Santi menatap lekat Rangga yang berdiri di depannya. Wajahnya terlihat sangat pucat. Santi memegang pipi Rangga yang pucat tersebut.


"Ya Ammpunn Rangga.. Kenapa hujan hujanan si.. Kamu kesini naik apa?? Lihatlah badanmu sangat dingin." kata Santi menatap ke arah halaman dan tak melihat ada mobil Rangga.


"Ayo masuk.. Aku siapkan air hangat dan baju ganti untukmu ok.." kata Santi lagi.


Rangga hanya diam, dia tidak menjawab apapun. Rangga hanya mengikuti langkah Santi dengan tangannya yang di gandeng oleh Santi.


Di dalam kamar, Santi menyiapkan air hangat untuk Rangga. Setelah selesai, Santi keluar dari kamar mandi.


"Air hangat sudah siap.. Kenapa belum buka bajunya.. Atau mau aku yang bukain hmmmm" goda Santi namun Rangga hanya tersenyum tanpa bersuara.


"Ok... Aku bukain ya.." jawab Santi langsung membuka satu persatu baju milik Rangga.


"Hmmmm kamu sengaja menggodaku sayang.. Kamu mandi dulu ya.." kata Santi saat melihat milik Rangga.


Ranggapun berjalan menuju ke kamar mandi. Sedangkan Santi menyiapkan baju untuk Rangga. Tentu saja Santi memiliki baju laki laki. Karena, jika dia pergi keluar maka terkadang dia akan menyamar menjadi laki laki.


Tidak lama kemudian, Rangga keluar dari kamar mandi dengan berbalut handuk yang hanya menutupi miliknya saja. Rangga sudah tampak lebih segar, meski masih terlihat pucat.


"Sayang sudah selesai, pakai bajunya ya.. Di cobain dulu, siapa tau ga muat.." kata Santi memberikan baju tersebut.

__ADS_1


Ranggapun memakai baju tersebut. Setelah selesai, Santi memeluk Rangga dari belakang.


"Yank, aku buatkan mie rebus mau?? Badanmu masih sangat dingin" kata Santi.


Rangga hanya mengangguk dan tersenyum. Merekapun pergi menuju ke dapur, dan Santi langsung memasakkan mie rebus untuk Rangga.


Tidak berapa lama kemudian, Rangga telah selesai memakan mie tersebut.


"Kita kekamar yuk.." ajak Santi.


Lagi lagi, Rangga hanya mengangguk. Dengan genitnya, Santipun menghampiri Rangga yang masih duduk. Lalu dia mengecup bibir Rangga yang pucat.


"Yuk..." kata Santi mengeringkan sebelah tangannya.


Rangga bangun dari duduknya dan langsung menggendong Santi ala bridal style.


"Ahhh sayang.. Kamu mengejutkanku." kata Santi manja.


Di dalam kamar, pelan Rangga merebahkan tubuh Santi di tempat tidurnya. Dan Rangga merebahkan dirinya di sampingnya.


"Sayang.. Kamu tau?? Tadi saat aku melihat berita kecelakaan dan korban bernama Rangga. Aku langsung berfikiran itu kamu.. Aku sangat khawatir sayang.. Aku takut itu benar benar kamu.. Tapi ternyata kekhawatiran itu salah, karena kamu sudah bersamaku" kata Santi sambil mengelus elus dada Rangga dengan telunjuknya.


Rangga memegang dagu Santi lalu mengecup bibir Santi. Pada awalnya hanya sebuah kecupan, namun lama kelamaan kecupan tersebut berubah menjadi sebuah lum*t*n yang memancing gairah Santi.


Akhirnya merekapun melakukan hal yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Hingga mereka kelelahan dan tertidur pulas dalam keadaan tubuh polos tanpa benang sedikitpun.


Pagipun menjelang, hari kembali cerah setelah semalaman diguyur hujan. Sinar mentari menyusup masuk melalui sela sela hordeng.


Santi merasa terusik tidurnya, dan iya mulai mengecek ngucek matanya dan meraba raba sisi tempat tidurnya yang ternyata kosong dan baju yang Rangga kenakan semalampun tergeletak di sana.


"Rangga...!" panggil Santi.


Santi bangun dari tidurnya dengan selimut sebagai penutup tububnya yang masih polos.


Santi melangkah menuju ke kamar mandinya. Dia menempelkan telinganya untuk mendengarkan aktivitas di dalam.


"Rangga..." panggil Santi.


Ceklekkk..


Pintu tidak terkunci, Santi membuka pintu lebar lebar dan tidak ada Rangga di dalam. Namun ia melihat baju Rangga yang ia kenakan ketika datang masih tersampir di sana.


Santi bingung. "apakah mungkin Rangga keluar kamar tanpa berbusana?" pikirnya.


Santipun bergegas memakai kembali pakaiannya dan menuju ke arah dapur. Namun sesampainya di sana dia tidak juga menemui Rangga, hanya bekas mangkok yang semalam mereka gunakan untuk makan malam. Santi sudah berkeliling ke penjuru rumahnya namun tidak juga ia temukan.


"Lalu siapa yang datang semalam??? Aahhh tidak tidak.. Ini tidak mungkin.. Jika aku bermimpi mana mungkin ada dua mangkok. Dan sealam itu terasa sangat nyata" batin Santi yang terus mengingat ingat kejadian semalam.

__ADS_1


__ADS_2