
Hari terus berganti, hingga tiba hari yang di tunggu tunggu Iren. Pagi pagi sekali Iren sudah mempersiapkan segalanya. Keperluan keperluan yang sekiranya di perlukan nanti di sana.
Tepat pukul 8 pagi semua sudah siap, bahkan Nathan sudah mempersiapkan mobilnya hingga mengecek kondisi mobilnya. Sebelumnya Nathan sudah minta ijin kepada ayah dan bunda nya. Dan seperti biasa, ayahnya justru mewanti wanti untuk mengawasi dan terus menjaga Iren. Seperti dia sedang meminta ijin orang tua Iren bukan orang tuanya sendiri.
"Sudah siap??" tanya Nathan.
"Sudah, tinggal Ririn nih lagi ke kamar mandi katanya" jawab Iren.
"Ok, sini aku bantu masukin ke mobil. Kamu tunggu Ririn aja sambil ngecek ngecek siapa tau ada yang tertinggal" saran Nathan sambil menatap Iren lekat.
"Emmmm udah ga ada kok. Ini biar taruh di depan aja, buat nyemil nyemil" jawab Iren yang gugup ditatap Nathan seperti itu.
"Ok" senyum manis Nathan.
"Dah yuk, gue dah siap.. Ntar kalau gue ketiduran di jalan maap maap yak hehehe" kata Ririn nyengir.
"Huuu dasar *****.. Ya udah yuukk" jawab Iren sambil menoyor Ririn.
"Et..et..et kenapa loe di sini.. Emang loe pikir Nathan sopir kita apa.." cegah Ririn saat melihat Iren akan naik ke bangku penumpang belakang.
"Heheheh" Iren hanya nyengir kuda yang sebenarnya dia masih merasa gugup setelah ditatap Nathan.
"Dahh siap, berdoa dulu" kata Nathan.
Sesaat mereka hening untuk berdoa. Perlahan Nathan mulai melajukan mobilnya. Butuh waktu kurang lebih 3jam'an jika melihat dari maps. Waktu yang lumayan lama.
"Nanti kalau sekiranya capek bilang ya, biar gue cari tempat buat istirahat" kata Nathan.
"Siaappp" jawab Ririn.
Selama perjalan mereka bertiga hanya terdiam. Apalagi Ririn entah sejak kapan sudah tertidur di bangku belakang.
"Ren..." panggil Nathan.
"Yaa.." jawab Iren.
"Kamu akhir akhir ini seperti berubah.. Kenapa? Karena kata kata aku waktu itu ya?" tanya Nathan yang sudah tidak tahan menahan kegelisahannya.
"Emmmm enggak Than.." jawab Iren bingung.
"Jika memang kamu ga bisa terima gapapa Ren, jangan menjadi beban untukmu.. Aku akan tetap sama ga akan berubah meski kamu ga bisa nerima aku" jawab Nathan.
"Ayah dan bunda udah nganggap kamu seperti putri mereka sendiri, bahkan saat aku minta ijin aja hal yang pertama ditanyain oleh mereka itu kamu" tambah Nathan lagi.
"Bukan..bukan soal itu Nathan.. Aku cuma takut salah mengartikannya aja Than.. Jujur aku belum pernah ngerti yang namanya cinta, aku ga tau seperti apa itu" jawab polos Nathan.
"Ga usah buru buru.. Hanya, aku mohon bersikaplah seperti biasa ya.." ucap Nathan sambil memegang erat tangan Iren dan Iren hanya mengangguk dan tersenyum.
Sejujurnya Iren merasa nyaman di dekat Nathan, dia merasakan perhatian yang besar dari Nathan apa lagi dengan orang tua Nathan. Iren merasa menemukan kembali sosok orang tuanya yang telah lama pergi.
"Iren.. Soal Putri.. Kamu jangan pikirin lagi ya.. Dia dari dulu hanya teman dari Jakarta seperti aku sama Cindy. Jika dia macam macam sama kamu, katakan saja jangan ragu ya.." kata Nathan lagi.
Nathan menyadari ada yang tidak beres dengan Putri sejak pertemuan dia di minimarket waktu itu.
"Aku gapapa kok Than.. Tenang saja aku bisa jaga diri kok" jawab Iren yang sebenarnya Iren dulu sempat mengikuti les bela diri sebelum memutuskan untuk hidup sendiri. Itupun atas kemauan pak Rudi yang merasa khawatir tidak bisa mengawasi putri mendiang bosnya itu.
"Ren, kita makan dulu ya.. Kita cari tempat makan" kata Nathan yang merasa perutnya mulai lapar.
Tempat yang mereka lalui sangat indah dan sejuk, Nathan memilih sebuah tempat makanan denga view yang sangat instragamable.
"Rin.. Bangun... Kita makan dulu" Iren membangunkan Ririn.
"Kenapa dingin banget si" kata Ririn yang mulai sadar.
"Iya kita dah nyampe di kutub" kata Iren asal meledek Ririn.
"Waahhh, sejuk banget Ren.. Kita udah nyampe?" kata Ririn setelah turun dari dalam mobil.
"Belum, masih separuh perjalanan lagi" jawab Iren.
"Ren.. Ren.. Kita foto dulu yuk.. Than foto in dong.." ajak Ririn sambil menyerahkan ponselnya.
__ADS_1
"Sini, dah siap?" jawab Nathan.
Nathan pun memotokan mereka berdua dengan berbagai gaya di depan tempat makan tersebut.
Setelah merasa cukup, akhirnya mereka masuk ke dalam.
"Ren, di sana aja.. Cakep tuh pemandangannya" Ririn sangat berantusias.
"Ayokk.." jawab Iren juga yang reflek menggandeng tangan Nathan karena di tarik Ririn secara tiba tiba.
"Waahhhhh, indah banget.." kata Ririn.
"Jangan norak deh Rin" Iren meledek Ririn.
"Ini namanya mengagumi ciptaan Tuhan Ren, payah kamu nihh" kata Ririn sambil berselfi ria.
"Permisi.. Mau pesan apa?" kata sang pramu saji.
Mereka bertiga pun bergantian memilih menu makanan yang mereka mau. Setelah selesai memilih makanannya, mereka melanjutkan obrolan mereka sambil menunggu. Nathan memilih duduk di depan Iren..
Beberapa kali Nathan diam diam memoto Iren dengan berapa jepretan yang tampak bagus meski Iren tidak menyadari itu.
"Kalian berdua coba dong foto, Ren coba kamu pindah deh ke sini" kata Nathan memberi arahan.
Nathan pun mengambil foto Iren dan Ririn dengan kameranya.
"Waahhh loe ga bilang bilang bawa kamera" kata Ririn yang baru menyadarinya.
"Emangnya loe tadi nanya, engga kan? Tapi lihat dulu deh nihh" kata Nathan memperlihatkan hasil fotonya.
"Iihhh cakep.. Keren keren.. Nanti cari tempat lagi yang bagus" kata Ririn semakin antusias.
"Nanti di tempat gue lebih cakep lagi Rin. Tapi lebih dingin." kata Iren.
"Permisi, pesanannya.." kata sang pramusaji datang membawa pesanan mereka.
"Ohh iya mba" kata Nathan menggeser duduknya di samping Iren.
"Haaahhh kenyang... Jalannya nanti dulu ya.. Enak di sini.." kata Ririn.
"Ya udah loe di sini aja hihihi" ledek Iren.
"Enak aja, ga bisa pulang entar gue di sini" jawab Ririn.
"Dahh ahh yuk, siapa tau nanti di jalan dapat tempat yang bagus." ajak Nathan.
"Yok, tinggal aja dia kalo ga mau ikut.. Biar dia yang bayar" kata Iren sambil menjulurkan lidahnya ke Ririn.
"Ehhh ehhh tunggu.." akhirnya Ririn mengejar Iren dan Nathan.
Mereka bertiga kembali melanjutkan perjalanan mereka.
"Than, nanti depan belok kiri ya. Tapi hati hati, itu turunan lumayan curam" kata Iren mengingatkan.
"Sini?" tanya Nathan..
"Iya, ati ati ya" kata Iren sedikit takut.
"Tenang aja Ren, aku bisa kok" kata Nathan seolah olah tau kekhawatiran Iren.
Iren merasa tegang saat mobil mulai meluncur turun. Nathan yang melihat ekspresi Iren menahan senyum dengan wajah Iren yang terlihat takut. Sangat menggemaskan bagi Nathan.
"Di sini aja Than. Nanti kita jalan aja. Mobil ga bisa masuk." kata Iren.
"Ok.. Ini di mana si? Makam?" tanya Ririn.
"Iya.. Ntar gue ambil kembang dulu" jawab Iren.
"Gue ambilin aja Ren" jawab Nathan sigap.
Setelah semua siap, mereka kembali berjalan menuju ke TPU di mana orang tua Iren di makamkan.
__ADS_1
"Serem nihh tempat, kaya ga jarang di datengin orang ya" kata Ririn merasa merinding.
"Namanya juga pemakaman Rin, kalo rame pasar namanya" kata Iren santai.
"Tapi bener Ren yang di katakan Ririn, di Jakarta rapi terang. Di sini banyak pohon gedhe gedhenya. Dingin" jawab Nathan membenarkan kata kata Ririn.
"Di sini setahu aku sama kaya di kota. Kalo mau bersih ya ikut iuran perawatan. Tapi namanya orang kampung rata rata pada milih bersihin sendiri, kecuali kalau memang ditinggal jauh kaya merantau gitu" jelas Iren.
Iren berhenti di depan 2 buah makam berjejer dengan keramik berwarna merah maroon. Tampak bersih dan terawat. Iren langsung duduk di antara dua makam tersebut.
"Papi... Mami... Iren datang lagi.. Kali ini Iren datang sama temen temen Iren Ririn dan Nathan, mereka sangat baik sama Iren pi, mi.. Bahkan mereka mau nemenin Iren pulang buat jenguk papi sama mami di sini. Papi dan mami di sana yang tenang ya.. Hiksss.. Iren kangen sama papi mami.. Iren ingin sekali bertemu sama papi mami.. Iren janji akan jaga diri dengan baik baik. Paman Rudi juga selalu menjaga amanah dari papi.. Beliau orangnya sangat bertanggung jawab." kata Iren semakin serak menahan tangis.
"Tante, om. Kenalin saya Ririn. Temennya Iren.. Om, tante yang tenang ya di sana kami akan kirimkan doa buat om dan tante" kata Ririn jongkok di samping Iren dan memeluk Iren untuk menenangkan Iren.
Nathan hanya diam menatap dua sahabat di depannya.. Mereka bertiga pun terdiam megirimkan doa untuk kedua orang tua Iren. Setelah selesai menaburkan bunga, mereka pun kembali ke dalam mobilnya.
"Pi, mi.. Iren pulang dulu ya.. Iren sudah buat janji sama paman Rudi." pamit Iren.
Saat Iren berpamitan, perasaan Nathan mendadak gelisah. Dia melihat lihat sekitaran. Tanpa sengaja dia melihat 3pasang mata di balik rerimbunnya pohon pohon di sana. Meski sangat jauh bagi manusia biasa, namun bagi Nathan itu cukup jelas di lihatnya.
"Ayo, kita segera pergi dari sini banyak nyamuk" Nathan memberi alasan.
Iren dan Ririn bangkit berdiri dan berjalan menuju ke mobil mereka.
"Udah dong Ren, jangan sedih lagi.. Om dan tante sudah tenang di sana.. Kalo loe nangis terus malah mereka ga tenang." kata Ririn terus memeluk Iren.
"Gue kangen Rin hiksss" kata Iren menangis.
"Udah udah.. Ada kita kok yang bakal terus nemenin loe." kata Ririn lagi mencoba menenangkan.
"Masih ada ayah dan bunda Ren, mereka dah nganggep kamu putrinya sendiri. Udah ya.. Jangan nangis lagi.. Nanti pulang dari sini kita mampir ke rumah ketemu sama ayah dan bunda" bujuk Nathan.
Iren hanya mengangguk dan mencoba tersenyum. Lalu mereka kembali berjalan menuju ke mobil dengan Nathan memasang mode waspada nya.
Kurang lebih 15 menit menuju ke rumah Iren. Sesampainya di halaman rumah Iren, mereka langsung di sambut oleh sepasang suami istri dengan wajah yang terlihat senang melihat kedatangan mereka bertiga.
"Paman... Bibi... Apa kabarnya?" kata Iren berlari memeluk istri Rudi sedangkan Nathan menurunkan barang barang mereka dibantu Ririn.
"Kami baik baik saja nak.. Kamu tampaknya lebih baik ya.. Ayo ajak teman teman kamu masuk" kata Indah istri Rudi ramah.
"Baik bi. Hai paman...." sapa Iren kepada Rudi.
"Paman sudah membersihkan beberapa kamar untuk kalian.. Maaf ya Iren, rumahnya jarang di tempati. Paman harus ke kota ngurus perusahaan mu, ga mungkin paman harus bolak balik" ucap Rudi.
"Iya paman, gapapa kok.. Iren justru berterimakasih dah merepotkan paman dan bibi.. Oh ya Galih kemana paman?" tanya Iren.
"Dia ada di rumah, tadi waktu kami ke sini ada teman temannya datang" jawab Rudi.
"Oohhh gitu" jawab Iren.
"Mari nak masuk jangan sungkan ya.." kata Indah kepada Ririn dan Nathan.
"Terimakasih Bi" jawab Ririn dan Nathan bebarengan.
"Kalian bersantai dulu ya, barang barangnya biar pak Min dan Bagio yang bawain." kata Rudi.
"Bi Marni, nanti antarkan mereka ke kamar mereka masing masing ya." perintah Rudi lagi.
"Baik tuan" jawab bi Marni.
"Terimakasih ya paman bibi" kata Iren.
"Bersenang senang lah.. Kalau perlu apa apa panggil bi Marni ya. paman sama bibi pulang dulu. Besok baru datang kesini lagi" kata Rudi.
"Paman ga menginap di sini?" tanya Iren.
"Kerjaan di kantor belum selesai Ren, besok paman usahakan menginap di sini ya.. Paman pamit dulu." jawab Rudi.
"Hati hati ya paman" kata Iren..
Setelah kepergian Rudi dan istrinya, mereka bertiga menuju ke kamar mereka masing masing untuk beristirahat sejenak.
__ADS_1