Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
sebuah misi


__ADS_3

Drrrttt....dddrrrttt....ddrrrttt


Ponsel bunda bergetar, bunda segera memeriksa siapa yang menelponnya.


"Ayah.." lirih bunda saat melihat nama ayah yang tertera di layar ponsel.


"Hallo ayah... Bagaimana?? Apa ayah sudah menemukan Iren??" bunda langsung menjawab panggilan telepon ayah.


"Bun... Ayah belum berhasil menemukan Iren... Tapi ayah sudah tau posisi Iren di mana.. Ayah hanya minta doa dari bunda dan yang lain ya.. Ayah berpesan, jangan terlalu khawatir ya.. Kami tidak apa apa... Kami sedang mengusahakan keselamatan Iren.. Bunda tunggu saja di rumah Iren yah.." kata ayah berpesan.


"Ayah.. Bunda menginginkan kalian selamat.. Bunda ingin kalian semua segera kembali" isak tangis bunda.


"Pasti bunda.. Kami pasti akan kembali membawa Iren dengan selamat.. Bunda juga hati hati ya.. Doakan kami" kata ayah..


"Hati hati ayah.. Kami menanti kalian di sini.." pesan bunda masih terisak nangis.


Bunda pun mematikan sambungan teleponnya.


"Bagaimana mbak??" tanya Tantri.


"Mereka belum menemukan Iren.. Tapi mereka sudah tau di mana Iren berada.." kata bunda.


"Ya Allah... Beri kemudahan mereka untuk menolong Iren.." kata tantri.


"Aminn.." jawab orang orang di sana..


"Bun, bunda istirahat ya... Bunda jangan sampai kecapaian.. Bunda harus tetap sehat menyambut kepulangan Iren nanti.." bujuk Ririn.


Bunda hanya mengangguk. Lalu Ririn mengantar bunda ke kamarnya agar bunda dapat beristirahat. Sedangkan yang lain menyiapkan sesuatu untuk makan malam nanti. Dan para tamu yang lainnya memilih untuk kembali pulang.


#####


Ayah kembali masuk kedalam rumah kakek. Ayah memilih duduk di ruang tengah.


"Ayah..." panggil Nathan.


"Nak.." ayah menoleh..


"Apa rencana kita selanjutnya yah.. Nathan ga bisa terus diam begini??" kata Nathan..


"Nathan.." panggil kakek.


Nathan dan ayah menoleh bersamaan.


"Ayo kita interogasi dia.. Kakek sudah memiliki kelemahannya" kata kakek.


"Apa??" tanya Nathan.


"Putranya sudah berada di tangan kakek" jawab kakek.


Nathan dan ayah pun mendekati kakek. Mereka pun menuju di mana Arya sedang menunggu mereka. Terlihat Arya sedang bersama seorang anak kecil, lalu ayah mendekati anak itu.


"Nama kamu siapa nak..?" tanya ayah kepada anak tiger tersebut.


"Ri... Riki om.. Ampuni saya om.. Sa... Saya salah apa.." tanya Riki.


"Siapa nama ayahmu??" tanya ayah lagi.


"Rio om..." jawab Riki.


"Om akan mengampuni kamu, tapi kamu harus mau bekerja sama dengan kami.. Bagaimana??" tawar ayah.


"Ba.. Baik om.." jawab Riki.


Mereka pun menyeret Riki ke tempat dimana ayahnya di sandera.


"Ayaahh...!!!" panggil Riki menangis.


"Putrakuu..." Rio terkejut melihat putranya babak belur.


"Rio.. Rio... Rio..." kata kakek..

__ADS_1


"Apa kamu masih tidak mau memberikan informasi kepada kami hmm??" tanya kakek menjambak Rio untuk menatap putranya.


"Arya.." kode kakek.


Arya mengeluarkan cakarnya dan mengarahkan ke leher Riki.


"Nyawa putramu berada di tanganmu sekarang.. Lihat baik baik dia.." kata kakek.


"A..ayah... To..tolongin Riki yah..." Rio menangis.


Rio masih diam.. Dia dalam posisi yang serba salah.. Jika dia mengatakan di mana Yosep.. Dia takut nantikan akan mati di tangan Yosep. Tapi jika dia bungkam.. Harta satu satunya akan tewas di depan matanya.


"Bagaimana??" tanya kakek semakin kuat mencengkeram rambut Rio.


"A..ayah... Tolongin Riki ayah... Aghhhhh" kata Riki tampak ketakutan karena Arya semakin mengeratkan cakarnya.


"Ba..baik.. Baik aku akan bekerja sama dengan kalian.. Tapi aku mohon ampuni kami.. Bebaskan kami setelah kalian bertemu dengan tuan Yosep." kata Rio.


"Keputusan yang bagus..." kata kakek.


"Nanti malam kita akan menuju kesana, dan kamu sebagai pemandu kami.." kata kakek.


Mereka pun pergi meninggalkan Rio sendirian disana. Dan menbawa Riki sebagai jaminannya.


"Bagus nak.. Terimakasih atas kerjasamanya" kata ayah mengusap kepala Riki.


Flashback on.


"Riki, berpura puralah kamu tersiksa nanti saat bertemu dengan ayahmu. Nanti kami akan membuatmu babak belur, tapi hanya sekedar make up.. Kamu bisakan berakting kesakitan??" tanya ayah lembut.


"Bi..bisa om" jawab Riki gugup.


"Dengarkan om.. Ayahmu telah menculik putriku.. Tapi ayahmu tidak mau mengakuinya.. Kamu tidak mau kan ayahmu meninggal??" pancing ayah.


"Jangan om... Jangan bunuh ayah Riki.. Riki sudah tidak punya siapa siapa lagi.. Ibu Riki telah tiada karena sakit.. Ampuni ayah om.. Ampuni dia.. Riki janji, Riki akan mengikuti perintah om.. Tapi bebaskan kami.." kata Riki menangis.


"Ssttt sudah jangan menangis.. Beraktinglah sebagus mungkin, maka ayahmu akan selamat.. Ok..." kata ayah.


"Om janjikan akan membebaskan kami..?" tanya Riki.


"Om janji akan melepaskan kalian setelah om menemukan putri om" senyum ayah.


"Terimakasih om.." jawab Riki.


"Baiklah, sekarang kamu makan dan istirahatlah.. Jangan macam macam ya.." kata ayah..


"Ar.. Antar dia ke kamarnya.. Suruh dua orang untuk menjaganya, tapi jangan siksa dia.." pinta ayah..


"Baik paman.. Ayo nak, ikut kakak" ajak Arya.


"Baik kak..." jawab Riki mengikuti Arya.


Setelah kepergian Riki, ayah ingin menemui kakek untuk membicarakan sesuatu..


"Than, kirim Rio makanan agar saat perjalanan nanti dia tidak kelaparan. Dan persiapkan perbekalan.. Ayah mau menemui kakek" perintah ayah..


"Baik yah.." jawab Nathan dan ayah segera menuju ke kamar kakek.


tok..tok...tok...


"Pa??.." panggil ayah.


"Hmmm" jawab kakek.


"Kenapa papa melibatkan anak sekecil itu pa?? Kasihan dia.. Meski dia berbeda klan dengan kita.. Tapi tetap saja hanya anak kecil yang tidak tau apa apa.. Aku tidak suka melibatkan anak kecil.." protes ayah.


"Tapi nyatanya itu berhasilkan??" tanya kakek.


"Iya berhasil, tapi coba jika papa sendiri yang menghadapinya. Aku bisa menjamin dia pasti akan mati ditangan mu pa.. Inilah yang menimbulkan sebuah dendam karena kematian salah satu keluarga. Bukan menyelesaikan masalah" kata ayah.


Kakek hanya diam.. Secara tidak langsung kakek membenarkan perkataan ayah.

__ADS_1


"Papa hanya ingin membantu kalian Arthur.. Papa hanya ingin menebus kesalahan papa.." kata kakek sedih.


"Dengan melibatkan anak sekecil itu pa?? Sudahlah Arthur tidak mau mendengar jawaban papa lagi.. Lebih baik papa istirahat sekarang" kata ayah hendak keluar kamar kakek.


"Maafkan papamu ini nak.. Papa hanya ingin menebus kesalahan papa selama ini.. Hanya kamu satu satunya putra papa yang hidup.. Papa hanya ingin disisa hidup papa berguna untuk menebus kesalahan papa" kata kakek menangis.


"Sudahlah pa.. Arthur mengerti.. Maafkan Arthur terlalu keras dengan papa.." ayahpun memeluk kakek.


Malam harinya, ayah menemui Rio untuk berkumpul di ruang utama.


"Rio.. Bisakah kamu memegang perkataanmu.. Aku berjanji akan membebaskanmu juga putramu.. Saat ini posisi kita sama.. Sama sama menghawatirkan seorang anak.. Kamu pasti paham dengan posisiku kan??" kata ayah lembut.


"Tuan, saya hanya takut tuan Yosep akan mengincar kami.." kata Rio..


"Aku akan menjamin keselamatanmu.. Yosep tidak akan mengejarmu juga putramu.." janji ayah.


"Apa perkataan tuan bisa saya pegang??" tanya Rio.


"Buktikan saja nanti dengan semua kata kataku.." jawab ayah.


"Baiklah tuan.. Saya akan bekerja sama dengan kalian.." jawab Rio.


"Saya lepas ikatanmu tapi kamu jangan coba coba untuk memberontak.." pesan ayah..


Rio hanya mengangguk. Rio dapat merasakan ketulusan ayah. Berbeda dengan Yosep yang selalu berkata kasar dengan dirinya. Tidak pernah menghargai setiap apa yang dia kerjakan.


Setelah ayah melepaskan semua ikatannya, Rio berjalan mengikuti ayah. Dan mereka kini berkumpul di ruang tengah.


"Tuan, dimana putraku??" tanya Rio..


"Dia tengah tertidur di kamarnya.. Dia aman di sini.." jawab ayah.


Mereka pun memulai rencana mereka dengan Rio yang menggambarkan sebuah denah untuk menuju lokasi tersebut.


"Tapi tuan.. Untuk menuju ke pulau tersebut untuk saat ini tidak aman jika menggunakan jalur udara" kata Rio.


"Lalu??" tanya ayah dan yang lain hanya mendengarkan saja.


"Kita melalui jalur laut.. Tapi ini membutuhkan waktu lebih dan kita sebaiknya mengitari pulau tersebut, di bagian utara pulau ada sebuah tebing namun masih bisa kita lewati.. Kita akan lebih mudah untuk menyusup dari sana." kata Rio.


"Kamu sedang tidak menjebak kami kan??" selidik kakek.


"Kek.. Dia mengatakan yang sebenarnya.. Nathan bisa lihat itu.." bela Nathan yang sedari tadi terdiam untuk membaca pikiran Rio.


"Baiklah kalau begitu, kita berangkat sekarang.." kata kakek.


"Tuan.. Bisakah saya menemui putra saya sebentar.." pinta Rio.


Ayah menatap Nathan sebentar, dan Nathan mengangguk.


"Mari ikuti aku.." ajak ayah.


Riopun berjalan mengikuti ayah untuk menuju ke kamar putranya.


"Tuan.. Terimakasih sudah mempercayai saya.. Maafkan saya waktu itu menyerang anda" kata Rio tulus.


"Saya mengerti.. Kamu hanya mengikuti perintah Yosep.. Tidak apa apa.. Lupakanlah.." jawab ayah.


"Silahkan" kata ayah membuka pintu kamar putranya.


Riopun memasuki kamar tersebut. Ayah kembali menutup pintunya untuk memberi kesempatan Rio bersama Putranya untuk sesaat.


Rio menatap putranya yang tertidur pulas. Perlahan Rio mendekati putranya dan duduk di sampingnya.


Tidak ada bekas luka lebam seperti yang dia lihat sore tadi. Rio merasa lega, ternyata putranya itu tidak benar benar disiksa oleh mereka, Rio baru menyadari jika itu hanya sebuah trik mereka untuk membuatnya buka mulut..


Kini Rio benar benar janji pada dirinya sendiri, meski mereka berbeda klan. Tapi Rio akan membantu mereka untuk mendapatkan kembali gadis itu.


"Nak... Ayah pergi dulu.. Jaga baik baik dirimu.. Mereka orang baik.. Jangan kamu berbuat onar.. Ayah sayang kamu nak.. Ayah akan mempertanggung jawabkan kesalahan ayah.. Doakan ayah agar kita dapat bertemu kembali" kata Rio menangis dan mengecup kening putranya.


Rio bangun dari duduknya dan pergi keluar dari kamar itu. Langkah Rio menjadi lebih ringan karena putranya berada di tempat yang aman.

__ADS_1


__ADS_2