Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
masa lalu Iren


__ADS_3

Iren bingung melihat jalanan yang terasa asing bagi dia. Dia melewati perkebunan jati yang mulai gelap karena hari memang sudah sore.


"Than, kita mau kemana?" teriak Iren karena memang sedikit bising oleh knalpot Nathan.


"Bunda ingin bertemu dengan mu" jawab Nathan yang juga berteriak.


Tak berapa lama, mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar dengan ala ala vintage. Klasik namun masih terlihat mewah dengan pekarangan yang sangat indah tertata rapih. Sangat sejuk dan nyaman berada di sana.


"Nathan, " panggil Iren menarik tangan Nathan.


"Ayo masuk" jawab Nathan menoleh ke Iren, Iren diam hanya menggelengkan kepalanya.


"Udahh ayok, ga apa apa. Bunda sudah nunggu dari tadi" Nathan menyeret Iren yang ragu untuk masuk.


Semenjak tangan Iren yang tiba tiba digandeng Nathan di kampus, saat itu juga Iren melupakan semua masalahnya yang membuat dia menjauh dari Nathan.


Apa lagi Nathan membawanya pergi ke rumah Nathan untuk bertemu sang Bunda.


Setelah masuk ke dalam rumah, Iren merasa takjub dengan interior di dalam rumah yang benar benar terkesan klasik sangat mengesankan. Penataannya pun sangat cantik meski tidak terlalu banyak barang namun terlihat waahhhh.


"Tunggu dulu ya, aku panggil bunda" kata Nathan meninggalkan Iren di ruang tamu.


Di sana ada beberapa foto dari Nathan masih kecil hingga sudah dewasa dan foto kedua orang tuanya. Iren hanya tersenyum setiap melihat foto foto tersebut, dan tanpa disadari air matanya merembes di ujung matanya. Dia merindukan sosok orang tuanya yang sudah lama meninggal, di kota ini Iren hanya tinggal sendirian. Di kota asalnya Iren memiliki sebuah perusahaan yang di wariskan untuk dirinya. Kini perusahaan tersebut tengah di jalankan oleh orang kepercayaan ayah Iren yang sangat setia. Meski perusahaan tersebut bukan perusahaan besar namun cukup hanya sekedar untuk biaya kehidupan Iren yang memilih di kota ini. Tidak ada satu orang teman pun yang tau siapa Iren sebenarnya.


"Looohhh kok tamunya di biarkan berdiri aja si Than" suara bunda Nathan yang berhasil membuat Iren terkejut.


"Eehhh tante, maaf tante" Iren langsung mengelap air matanya dan bersalaman dengan bunda Nathan.


"Ga apa apa, ayo sini duduk" ajak bunda Nathan lembut.

__ADS_1


"Bi...!!! Tolong buatkan minum ya" panggil bunda Nathan ke Bibi Murti yang kebetulan melintas.


"Baik nyah" jawab Bi Murti.


"Than kamu gimana si, ngajak anak gadis orang sore sore gini" kata bunda Nathan menyikut anaknya yang duduk di sampingnya dan Iren hanya tersenyum.


"Kita abis rapat BEM bunda. Nathan langsung aja ajak kesini" jawab Nathan santai.


"Udah ijin belum sama orang tuanya" tanya bunda Nathan.


"Ehhh saya di sini sendirian, ngekos tante" jawab Iren lembut.


"Lohhhh, orang tua kamu di mana?" tanya bunda Nathan.


"Emmmm mami papi sudah tidak ada tante" Iren tertunduk dengan kedua tangan saling bertautan.


"Ya Ampun, maafkan tante ya sayang. Tante ga tau. Dahh jangan bersedih lagi. Mulai sekarang kamu boleh panggil tante bunda" jawab bunda Nathan menggenggam tangan Iren.


"Iya tan.. Ehh bunda.. Tidak ada yang tau kalau saya sudah tidak memiliki orang tua" kata Iren.


"Kenapa?" tanya Bunda.


"Saya tidak ingin dikasihani sama orang orang tante ehh bunda.."jawab Iren yang masih tertunduk.


"Kalo boleh tau, kenapa mereka meninggal?" tanya bunda Nathan yang semakin menggeser duduknya ke Iren.


"Me..mereka kecelakaan hiksss.. Sa..saat mau menjemput saya pulang sekolah hiksss" Iren mulai menangis.


"Maafin bunda ya, bukan maksud bunda membuat kamu sedih.. Sini bunda peluk.. Bunda dari dulu juga ingin sekali punya anak perempuan yang cantik seperti kamu.. Kamu mau kan anggap bunda seperti mami kamu sendiri" bunda Nathan memeluk Iren yang mulai menangis. Iren hanya membalas dengan anggukan didalam pelukan bunda Nathan.

__ADS_1


Nathan terenyuh melihat pemandangan harupilu di depannya, matanya pun mulai berkaca kaca mendengar kenyataan kalau Iren ternyata hanya sebatangkara di kota ini.


"Iren, maaf jika bunda lancang... Selama ini Iren bagaimana bisa bertahan hidup, siapa yang membiayai kuliah Iren" tanya bunda lagi yang ikut merasa prihatin dengan Iren.


"Papi mewariskan perusahaannya ke Iren bunda, dan saat ini di kelola oleh paman Rudi orang kepercayaan papi semasa hidupnya. Jadi semua keuangannya transfer ke Iren" jawab Iren sambil merenggangkan pelukan bunda.


"Ohhh sukurlah kalau begitu.. Orang tua kamu sangat beruntung memiliki putri yang cantik dan baik hati seperti kamu. Pintar memanfaatkan peninggalan orang tuanya, tidak untuk berfoya foya" senyum bunda.


"Bunda bisa aja, Iren hanya tidak ingin merepotkan paman Rudi bunda. Melihat perusahaan papi masih bisa berdiri saja Iren sudah bersukur, kalau bukan karena paman Rudi siapa lagi. Selama ini juga paman Rudi juga selalu mengirimi saya perkembangan di perusahaan meski saya tidak ikut terjun langsung, dari keuangan, kemajuan perusahaan, ataupun masalah yang dihadapi perusahaan selalu di laporkan ke saya. Jadi saya ga mau begitu saja sembarangan memakai hasil jerih payah orang lain yang mau membantu saya dengan segala ke jujurannya" jawab Iren.


"Kamu benar sayang, menghargai seseorang itu sangat penting. Yang penting mumpung masih ada waktu, Iren kuliah dengan sungguh sungguh supaya nanti bisa meneruskan perusahaan papi kamu" kata bunda lembut sambil mengelus punggung Iren.


"Huuhhh dari tadi Nathan dicuekin di sini. Iren ayo diminum" Nathan mengalihkan pembicaraannya sambil menaruh teh hangat di meja.


"Lohh sayang kok kamu yang bawa" tanya bunda.


"Hehehe bi Murti lagi repot jadi Nathan bantu" alasan Nathan yang sebenarnya tidak tega melihat Iren dan memilih ke dapur..


Bunda hanya menggelengkan kepalanya, dan Iren meminum teh hangatnya agar perasaannya sedikit lega..


Mereka bertiga pun asik mengobrol, hingga waktu tidak terasa sudah masuk waktu makan malam.


"Maaf Nyah, makan malam susah siap" kata Bi Murti.


"Baik bi terimakasih, ohh ya bi. Nanti setelah bibi sudah makan tolong bersihin kamar tamu ya sebelum pulang" kata bunda tersenyum dan bi Murti hanya mengangguk


"Ayok Iren, ikut makan malam. Kamu nginep di sini aja dulu, sudah malem ya" kata bunda.


"Ta..tapi bun" Iren ragu.

__ADS_1


"Udah ayok ga apa apa, di sini kamar banyak ga usah takut. Soal baju nanti aku pinjemin. Kegedean dikit ga apa apa ya" senyum Nathan sambil kembali menyeret Iren untuk ke meja makan.


Mereka bertiga pun menikmati makan malam dalam diam. Hanya ada suara dentingan sendok dan piring yang sesekali terdengar..


__ADS_2