
Selama perjalanannya Iren terus memandangi jalanan di luar jendela. Pikirannya terus menerawang tentang dirinya dengan Nathan dan siapa Nathan. Iren hanya merasa belum bisa mempercayai siapa Nathan, ini seolah olah sebuah mimpi. Dan yang tidak habis dia pikirkan adalah hatinya, yang justru malah terpaut dengan Nathan.
Saat di lampu merah, tanpa sengaja Iren berpapasan dengan mobil Nathan yang awalnya Iren belum menyadari itu mobil milik Nathan. Tapi saat berhenti di samping mobil tersebut dengan jelas Iren dapat melihat ayah mengemudi dan di sampingnya Nathan. Awalnya Iren sedikit senang mungkin mereka sedang mencarinya, namun saat melihat di bangku belakang ada Putri. Secerca harapan itu langsung runtuh.
Beberapa detik kemudian Iren dan Nathan saling beradu. Reflek Iren langsung bersembunyi.
"Pak.. Tolong nanti menghindar dari mobil sebelah kiri ya.. Jangan sampai di hentikan oleh mereka" pinta Iren.
"Baik mbak.." jawab si sopir.
#####
"Iren..." bisik Nathan yang tanpa sengaja melihat Iren tengah menatapnya di sebuah mobil namun bukan mobil milik Iren.
"Ada apa Than?? " tanya ayah.
"Nathan seperti melihat Iren yah.." jawab Nathan.
Putri yang mendengar kata kata Iren langsung merasa sebal. Andai rencananya berhasil pasti dia dapat menekan Nathan tetap bersama dirinya.. Dan Nathan akan menjadi miliknya selamanya.
"Arghhh...arghh.. Kenapa jadi seperti ini!!! Sial!! Ini semua gara gara loe..!!!" Nathan mulai tidak dapat mengontrol emosinya.
"Than... Ayah mohon jangan.." bujuk ayahnya saat melihat mata Nathan mulai berubah.
Nathan menatap ayahnya berangsur Nathan mulai tenang meski di dadanya masih terdapat gumpalan emosi yang ingin sekali meluap keluar.
Lampu hijau pun menyala. Mobil yang di tumpangi Iren pun melesat begitu saja. Nathan terus mengamati mobil tersebut.
"Yah, tidak bisakah ayah mengejar mobil itu" tanya Nathan.
"Than, jalanan sangat ramai hari ini.. Ayah tidak mampu mengejarnya.." kata ayahnya yang memang berusaha mengejar mobil itu hanya sekedar ingin tau kemana arah perginya.
#####
Melihat mobil Nathan sudah tertinggal jauh, kini Iren kembali duduk seperti sedia kala.
Drrrttttt....dddrrrrtrt
Ponsel Iren bergetar, nama Nathan tertera di sana. Iren menolak panggilan tersebut dan memilih untuk memblokirnya begitu juga dengan nomor Ririn. Untuk sementara Iren benar benar tidak ingin di ganggu.
Drrrttt....ddrrrttttt..
Ponsel Iren bergetar kembali, dilihatnya siapa yang memanggil.
"Ya hallo paman.." jawab Iren setelah tau paman Rudi yang menelpon.
__ADS_1
"......"
"Iren masih di jalan paman.." jawab Iren lagi.
"........."
"Ohh paman sudah menunggu di rumah.." kata Iren lagi.
"......."
"Baik paman.. Paman, Iren bisa minta tolong ga..?" tanya Iren.
"....."
"Cariin Iren apartemen yang dekat kampus paman, bisa??" pinta Iren.
"....."
"Terimakasih ya paman... Ga usah buru buru paman.. Iren ingin di rumah dulu sementara waktu." jawab Iren lagi.
"....."
"Ya udah ya paman... 1jam lagi mungkin Iren sudah sampai di rumah" jawab Iren lagi.
Iren pun mematikan panggilan tersebut dan memilih mendengarkan musik lewat earphonnya..
#####
"Ayah, ada apa ini sebenarnya.. Lalu di mana Iren??" tanya bunda yang justru mengkhawatirkan Iren.
"Iren menghindari Nathan gara gara ulah manusia ular ini!!!" emosi Nathan mulai keluar setelah sedari tadi di tahan.
"Maksud Nathan??" bunda belum mengetahui kejadian tersebut.
"Bunda, nanti aja ya.. Kita tunggu orang tua Putri." jawab ayah.
"Nathan, kamu ke kamar kamu dulu ya.." perintah ayah.
"Bun, urus gadis ini ya.. Ayah mau istirahat sebentar" kata ayah lagi.
Bunda masih bingung dengan apa yang terjadi, terlebih melihat Nathan yang emosi seperti itu.. Tidak seperti biasanya.
Nathan pun masuk ke dalam kamarnya disusul oleh ayah.
"Nak..." panggil ayah.
__ADS_1
"Yah... Andai saja tadi malam ayah tidak datang.. Akan jadi apa Nathan yah.. Dan akan seperti apa jadinya hubungan Natham dengan Iren. Sedikit lagi ayah, sedikit lagi Iren mulai percaya sama Nathan. Tapi kejadian semalam Nathan bisa dengan jelas ada kekecewaan di mata Iren. Bahkan sekarang Iren memblokir nomor Nathan yah.." Nathan meluapkan isi hatinya.
"Ayah paham nak.. Maka dari itu ayah mengajak kamu dan Putri untuk pulang, menyelesaikan masalh ini di rumah.. Nanti setelah ini selesai, kamu boleh mencari Iren.. Jelaskan semua yang terjadi." ayah menjelaskan maksud ayah.
Nathan hanya terdiam, Nathan benar benar tidak bisa berfikir lain lagi selain memikirkan Iren.
"Sudah.. Kamu istirahat aja dulu. Nanti sore orang tua Putri tiba. Pesan ayah, kamu kontrol emosimu" kata ayah sebelum meninggalkan Nathan.
Nathan hanya menatap punggung kekar ayahnya. Di dalam lubuk hatinya, Nathan merasa kagum dengan sang ayah yang begitu sabar dalam menghadapi segala sesuatu.. Selalu berhati hati dan bisa memperhitungkannya.
Pantas saja jika bunda nya bisa luluh dengan sang ayah dan bisa menerima apa adanya ayah. Ingin sekali Nathan seperti ayahnya, tapi ini masih sangat sulit untuk dirinya dalam mengontrol emosinya.
Nathan memilih keluar melalui balkon kamarnya dan pergi ke dalam hutan. Nathan dalam wujud harimaunya berlari tak tentu arah, meluapkan segala emosinya. Sesekali dia mengaum untuk melepas segala sesak di dadanya.
Ayah melihat itu dan mngikuti Nathan dari belakang menjaga jaraknya.. Ayah khawatir Nathan nekat mencari Iren..
Nathan terus berlari dna tiba tiba dari arah samping kanan dan kiri Nathan ada 4 musuh anak buah Yosep.
Nathan terkejut dan langsung berlari begitu saja. Ayah pun terkejut dengan kedatangan tiba tiba anak buah Yosep.
Kini Nathan terkepung oleh anak buah Yosep. Mereka tau saat ini Nathan sedang tidak terkontrol emosinya, jadi saat inilah titik lemah Nathan.
Nathan dengan kuda kudanya mengamati anak buah Yosep satu persatu dengan sedikit memamerkan taringnya.
Ayah masih mengamati Nathan dari kejauhan, ayah akan keluar jika Nathan membutuhkan bantuannya
Salah satu anak buah Yosep memancing Nathan dengan maju menyerang Nathan. Nathan melawannya dengan sebuah cakaran. Satu persatu mulai maju, Nathan berusaha melawan.
1 melawan 4 ukuran yang tidak sebanding.. Nathan mulai kualahan melawan mereka. Emosi Nathan semakin menjadi. Saat salah satu anak buah Yosep melompat ke arahnya, Nathan sigal menendangnya hingga sang lawna terjatuh. Dan Nathan berlari mendekatinya laku menggigit bagian lehernya hingga tewas. Di mulut Nathan ada kerongkongan sang lawan yang telah tercabik.
Melihat temannya tewas mengenaskan, mereka pun mulai menyerah Nathan lagi. Mereka menyebar dan bersamaan menyerang Nathan. Saat itulah ayah melihat Nathan dalam bahaya. Ayah meloncat dan mendorong salah satu musuh yang poisisinya akan menyerang dari arah belakang Nathan..
Bersamaan dengan Nathan yang meloncat menyerang musuh dari arah depannya.
Pertempuran sengit pun terjadi. Ayah menendang musuh hingga tidak berdaya karena terbentur dengan sebuah pohon cukup kuat.
Sedangkan Nathan memberi cakaran yang cukup dalam hingga meninggal kan bekas yang sanga dalam pada bagian paha kaki depan.
Tinggal satu musuh berdiri di depan Nathan. Saat Nathan hendak menyerang, justru dia memilih melarikan diri dna meninggalkan rekan rekannya yang telah terkapar tidak berdaya.
Mulut Nathan berlumuran darah oleh musuh. Sayah mengajaknya untuk menuju ke aliran sungai. Dna Nathan masuk ke dalamnya. Nathan memilih berdiam diri di sana sejenak, untuk mengurangi hawa panas yang keluar dari dalam tubuhnya.
"Nathan, ayo kembali nak.. Sebentar lagi orang tua Putri tiba." ayah memperingatkan Nathan.
"Terimakasih ayah.. Ayah selalu ada buat Nathan.. Maafkan Nathan yang belum bisa menjadi yang terbaik buat ayah dan bunda" Nathan yang sudah merubah wujudnya kembali menjadi manusia memeluk sang ayah.
__ADS_1
"Nak.. Kamu putra kebanggan ayah.. Jangan berkecil hati nak.. Senua butuh proses.. Ingatlah perjuanganmu untuk bisa mengontrol dirimu sendiri saat baru awal perubahanmu. Sekarang tingkatanmu berebeda.. Hanya perlu emosimu saja yang masih harus kamu kontrol.. Perlahan, ayah yakin kamu mamou nak.." kata ayah menenangkan Nathan dalam pelukannya.