
Rio dan Aryapun tiba, ayah dan kakek merasa lega melihat mereka dapat meloloskan diri dari mereka. Sedangkan Nathan terus memikirkan keselamatan Iren, hingga tidak menyadari kedatangan Arya dan Rio.
"Tuan, kita harus segera pergi dari sini. Saya takut mereka akan menyadari seuatu hal" kata Rio.
"Baiklah, ayo kita cari tempat istirahat yang aman. Kita harus mengumpulkan tenaga kita" kata ayah.
Merekapun hendak melangkah pergi, namun Nathan hanya terdiam.
"Than.. Ayo.." panggil Arya..
"Haahh ehhh... Sejak kapan loe datang" kata Nathan terkejut.
"Belum lama, udah ayo.. Kita ga bisa terus di sini.. Kita harus segera pergi" ajak Arya.
Merekapun kembali meneruskan perjalanan mereka. Mereka terus berlari mencari tempat peristirahatan yang aman.
"Tuan, kita tunggu di sini.. Kita harus merampas kapal mereka.. Saya yakin mereka akan bergantian menjelang senja.. Di sini tempat yang tepat untuk kita" kata Rio lagi.
"Baiklah" jawab ayah.
Mereka pun beristirahat. Mereka bergiliran sebagian untuk beristirahat dan sebagian untuk berjaga jaga..
"Than, Arya kalian beristirahatlah. Papa juga, biarkan saya berjaga dengan Rio juga yang lain." kata ayah memperingatkan.
"Dan kamu Fasial, bagi kelompok kalian, kita bergilir berjaga agar tenaga kita fit.. Waktu kita masih cukup untuk beristirahat" perintah ayah.
"Baik yah.. Nathan istirahat dulu" kata Nathan.
Mereka pun bergiliran untuk berjaga. Hingga senja mulai menyingsing, ada sebuah kapal yang tidak terlalu besar terlihat bersandar di sebuah dermaga yang sengaja mereka buat. Terlihat beberapa anak buah Yosep terlihat menuruni kapal tersebut.
"Ayah... ayah.. Bangun.. Target terlihat.." bisik Nathan.
Begitu juga yang lain, mencoba membangunkan yang masih terlelap tidur.
Ayahpun mengamati, dan ayah sudah yakin kapal itu sudah kosong..
"Yah, jika kita ambil kapal ini apa tidak beresiko mereka akan melapor Yosep??" tanya Nathan.
"Benar juga katamu" ayah tampak berfikir.
"Tenang saja paman.. Semua sudah terkendali.." kata Arya mendapatkan satu buah ponsel.
"Milik siapa??" tanya Nathan.
"Loe pasti dah tau lah.. Seenggaknya ini bisa sedikit menghambat mereka." jawab Arya.
"Ok kalau begitu, kita segera ambil alih kapal tersebut" kata ayah.
Merekapun dalam diam menuju ke kapal dan menyandra sang nahkoda.
"Siapa yang akan menggantikannya??" tanya kakek.
"Saya bisa tuan" jawab Rio.
"Baiklah, segera pergi dari sini" jawab kakek.
__ADS_1
Perlahan kapal mulai kembali berjalan, saat kapal sudah cukup jauh. Anak buah Yosep yang sudah yang hendak kembali pun bergegas menuju ke kapal.
"Lohhh kapal dimana?? Katanya menunggu di sini" kata salah satu anak buah Yosep.
Diapun lalu merogoh kantongnya, hendak mengambil ponsel. Diapun langsung kebingungan karena merasa ponselnya telah hilang.
"Arrggghhh sial!!" geram anak buah Yosep.
Merekapun kebingungan harus bagaimana. Dan akhirnya mereka memilih kembali ke penjagaan untuk meminta salah satu kawannya untu segera melapor ke tuan mereka jika kapal telah di curi dan mereka tidak dapat kembali ke pulau.
#####
Sang nahkoda dalam posisi terikat, dan di bawa ke bagian deck kapal paling bawah.
Sedangkan Rio yang menggantikan menjadi nahkoda.
"Rio, apa kamu yakin??" tanya Ayah.
"Saya yakin tuan" jawab Rio.
"Baiklah kalau begitu, saya mempercayakan ini kepadamu.." kata ayah.
Mereka kini sudah mencapai di tengah tengah laut, Nathan terus berdiri pada bagian terdepan kapal. Dia sungguh merasa tidak sabar untuk segera menolong Iren.
"Bro..." panggil Arya.
"Bersabarlah.. Sebentar lagi.. Dan gue berharap, nanti saat loe di sana loe dapat mengontrol emosi loe.. Inget taruhan kita nyawa, terutama Iren" kata Arya.
Nathan menatap Arya lekat, dalam hatinya dia membenarkan kata kata Arya. Tapi sungguh, di dalam dada Nathan sudah ada gumpalan gumpalan emosi yang siap meledak kapan saja.
"Dua kali Ar.. Dua kali gue kecolongan.." kata Nathan memandang lurus kedepan.
"Gue yakin, semua ini akan berakhir Than.. Ada kita" Arya memberi semangat.
"Makasih ya bro.. Loe saudara sekaligus sahabat gue" kata Nathan.
Mereka terus menyisiri lautan. Terlihat di ufuk timur matahari masih enggan untuk menunjukkan wajahnya. Udara begitu dingin menerpa wajah Nathan. Tak lepas lepasnya Nathan menatap ke arah depan tanpa berkedip sedikitpun. Semakin dekat jaraknya dengan keberadaan Iren, semakin tak sabar pula Nathan untuk segera merengkuh tubuh Iren. Bersusah payah dia mengontrol emosinya, agar tidak membahayakan dirinya juga yang lain.
#####
Di pulau, Iren sudah mulai dipersiapkan untuk acara pernikahannya dengan Yosep. Dari perawatan tubuh hingga wajahnya.
Selama masa perawatan, Iren terus berusaha mengulur ngulur ngulur waktu. Iren tidak rela jika dirinya harus menikah dengan Yosep. Berbagai cara dia terus mengulur waktu, dari menolak untuk dimandikan juga diluluri oleh para pelayan agar dia dapat dengan sengaja memperlambat waktunya. Para pelayan tidak boleh sedikitpun untuk memegang tubuhnya.
Kini waktunya untuk merias wajahnya, Irenpun semakin merasa kesal. Dia berusaha mempersulit MUA untuk merias dirinya..
Di tempat lain, tepatnya di kamar Yosep. Dia sudah siap dengan setelan jas berwarna hitam, yang membuat dirinya tampak jauh terlihat lebih tampan.
Tok...tok...tok...
"Hmmm masuk" seru Yosep sembari membetulkan dasinya yang miring.
"Bos, gawat... Kapal hilang, dan anak anak tidak dapat kembali" lapor Dika..
"Maksud kamu??" Yosep mulai was was.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang mencuri kapal kita bos" Danu menjelaskan.
"Argghhhh kenapa bisa!!! Apa saja pekerjaan kalian haahh!!!, ini pasti ulah mereka!! Segera percepat pernikahanku dengan gadis itu.. Cepat!!!" Yosep mulai emosi.
Dia dan Danu segera keluar dari kamar Yosep dan menuju ke kamar Iren.
"Tidak.!!! Gue ga mau di rias!!! Minggir!!! Atau gue tusuk leher gue sendiri!!!" terdengar teriakan Iren dari dalam kamar.
Danu dan Dika bergegas masuk ke dalam kamar Iren.
Brak..
"Ada apa ini!!!" bentak Dika..
"I..ini tuan, nona Iren ti..tidak mau di rias" jawab perias gugup.
Terlihat Iren tengah memegang sebuah gunting dan memposisikannya di leher.
"Mundur!!!" bentak Iren.
Dika dan Danupun berpencar ke sisi kanan dan kiri.
"Berhenti gue bilang!! Jangan dekati gue!!! Atau gue tusuk leher gue!!" seru Iren mulai menangis.
"Nona.. Jangan begini ya... Lepas guntingnya.. Ok kita tidak akan merias anda. Ayoo berikan gunting itu" bujuk Danu mencoba mengambil alih perhatian Iren.
Danu dan Dika perlahan mendekati Iren, Iren pun berjalan mundur.
"Tidak!!! Gue ga mau menikah dengn Yosep!!! Gue ga sudi!!! Minggir!!" Iren terus berteriak.
"Ok ok.. Tapi saya mohon berikan gunting itu ya.. Jangan membahayakan diri anda sendiri nona" bujik Danu.
Melihat Iren fokus ke arah Danu, Dika pun dengan gerakan cepatnya memegangi Iren.
"Lepasin gue, lepas!!!" Iren berontak sekuat tenaganya.
Danu pun merebut gunting yang Iren pegang.
"Lepasin gue!!!" Iren terus berontak.
"Heehh kalian, cepat pakaikan gaunnya sekarang juga, tuan sudah menunggu di bawah!!! Gantikan dia di sana, kita tunggu di sini!!" bentak Danu.
"Nona, jika anda tidak mengikuti perintah kami. Maka dengan terpaksa kekasih anda akan kami bunuh!!" ancam Danu.
"Apa!! Nathan?? Tidak.. Tidak mungkin" Iren semakin menangis tidak percaya.
"Jika anda tidak percaya, baiklah.. Saya akan memerintahkan anak buah saya untuk memenggal kepala Nathan dan mengirimnya kemari agar anda yakin" ancam Danu agar Iren tidak memberontak.
"Tidak.. Tidak, jangan.. Aku mohon.. Jangan bunuh dia.. Aku mohon.." Iren menangis.
Iren merosot terduduk, tangisannya begitu menyayat. Tubuhnya merasa lemas. Dia terus menggelengkan kepalanya dengan tangan menutupi wajahnya.
"Tidak.. Tidak.. Ini tidak mungkin.. Nathan tidak boleh mati. Dia akan datang menolongku.. Nathan..." tangis Iren.
Tubuh Iren bergetar, tangisannya begitu mendalam. Kini dia merasa tidak ada artinya lagi. Dia merasa, kini tidak memiliki siapapun. Orang orang yang dia sayang telah pergi meninggalkan dirinya.
__ADS_1