Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
Cindy lagi


__ADS_3

Sesampainya di kampus, Nathan bergegas menemui dosen pembimbingnya.


Tok... Tok... Tok...


"Masuk" jawab dosen yang bernama bu Novi.


"Permisi bu.. Maaf menganggu" kata Nathan setelah masuk ke dalam ruangan bu Novi.


"Ahh Nathan.. Mari silahkan duduk.." bu Novi mempersilahkan Nathan.


"Ini bu pengajuan judul yang kemaren saya kirim ke email dan bab pembukaan.." Nathan menyerahkan sebagian laporan.


Bu Novipun menerima laporan yang Nathan berikan. Ia memulai mengoreksi dan mempertimbangkan judul yang Nathan ajukan.


"Mengapa kamu mengajukan judul ini?" tanya bu Novi.


"Karena mempermudah sang pemilik bengkel untuk mengecek stok stok onderdil yang ada. Karena sekarang ini masih banyak bengkel yang masih mengerjakannya secara manual.. Dan itu akan beresiko kehilangan barang tersebut jika sang pemilik tidak memiliki cctv. Kareba kebetulan bengkel yang saya kuncungi belum memakai program tersebut" jawab Nathan.


Bu Novi pun kembali memeriksa ke halaman selanjutnya, terlihat beberapa tempat dia coret karena adanya kesalahan.


"Baik Nathan.. Di bab pembukaan ini coba kamu kembangkan lagi dan beberapa penulisannya masih ada yang salah." kata bu Novi menyerahkan kembali laporan Nathan.


"Baik bu.. Terimakasih" jawab Nathan.


Nathanpun meninggalkan ruangan dosen tersebut dan berpapasan dengan Iren.


"Yank.." panggil Nathan.


"Kamu ga malu manggil aku begitu?" bisik Iren setelah Nathan berdiri di dekatnya.


"Kamu meragukan aku?? Untuk menciumi di sini saja aku berani." goda Nathan.


"Iisshh kamu.. Dulu terlihat dingin sok cool.. Sekarang ganjen ihh" kata Iren.


"Karena kamu yang membuatku mencair" kata Nathan yang senang melihat wajah Iren merona.


"Nathan.. Isshh" Iren berusaha menutupi rasa tersipunya..


"Hahahaha. Dah yukk.. Kamu masih ada urusan??" tanya Nathan.


"Ega si.. Paling cuma mau revisi ini aja. Kantin mau ga??" ajak Iren.


"Ok ayok.." jawab Nathan menggandeng Iren.


Selama menuju ke kantin, Nathan tidak melepaskan gandengan tangannya.. Itu membuat beberapa para gadis yang diam diam menyukai Nathan merasa iri, terutama Cindy.


Sudah sekian lama tidak berjumpa dengan pujaan hatinya itu. Sekali melihat Nathan sudah menggandeng gadis lain, terlebih lagi itu adalah Iren. Ini membuat Cindy meradang.


"Satu satunya laki laki yang ga bisa gue taklukin adalah loe Nathan.. Gue harus punya rencana" gumam Cindy.


"Fit, abang loe kan punya kenalan preman kan ya??" tanya Cindy.


"Kenapa emangnya?" tanya Fitri.


Cindypun membisikkan sesuatu ke Fitri.


"Loe yakin??" tanya Fitri.


"Gue yakin.. Gue bakal bayar mahal jika mereka mau" kata Cindy.


"Gue bilang ke abang gue dulu ya. Nanti gue kabarin ke loe" jawab Fitri.

__ADS_1


"Jangan kelamaan" Cindy mengingatkan.


"Iya.." jawab Fitri.


#####


"Mobil bagaimana??" tanya Iren setelah selesai memesan menu dan duduk di hadapan Nathan.


"Harus di bawa ke bengkel. Alternatornya bermasalah. Aku belum tau pasti harus di ganti atau masih bisa di perbaiki" jawab Nathan.


"Bagaimana laporan kamu?" tanya Nathan.


"Hanya beberapa bagian harus di perbaiki juga pengaturan margin papernya belum sesuai." jawab Iren mengelurakan laptopnya.


"Kalau punya kamu??" tanya Iren.


"Yaahh samalah kaya punya kamu. Judul udah acc, tinggal pengembangannya aja.." jawab Nathan.


"Kerjain di sini yuk, sekalian tunggu Ririn. Kamu ga sibuk kan??" tanya Iren.


"Yaahh paling perbaikin mobil kamu aja.." jawab Nathan.


"Ehh jadi tadi kamu naik apa ke kampus?" tanya Iren..


"Naik ojek.. Kenapa??" tanya Nathan..


"Maaf ya.. Malah jadi merepotkan." jawab Iren.


"Buat kamu ga ada kata merepotkan buat aku" senyum Nathan.


"Ckkk gombal banget sih kamu.." jawab Iren.


"Iya aku suka dan cinta kamu" senyum Iren merona.


"Isshh calon istri sudah mau gombal.. Aku lebih cinta kamu" kata Nathan lagi.


Iren hanya tertawa memikirkan obrolan mereka. Dia merasa tak percaya jika sebentar lagi statusnya akan berubah menjadi seorang istri Nathan.


Tidak lama kemudian pesanan merekaun datang. Merekapun sama sama menikmati makanan yang mereka pesan juga sembari menyelesaikan tugas merek.


"Widiihhhh berduaan aja nihh.." kata Ririn tiba tiba..


"Ehh elo.. Udah??" tanya Iren.


"Hufhhh udah.. Meski banyak perbaikan.. Kalian masih lama kan??" tanya Ririn.


"Kenapa emangnya?" tanya Iren.


"Gue mau pesen dulu, laper" kata Ririn beranjak pergi untuk memesan.


Iren hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sahabatnya tersebut.


Waktupun menunjukkan tengah hari, merekapun sudah hampir selesai menyelesaikan tugas mereka masing masing.


"Kalian berdua ikut ke bengkel ya.. Bawa mobil ku.." kata Nathan.


"Ga usahlah, biar kita naik taxi aja selama mobil belum kelar" tolak Iren.


"Ya udah, kali ini aja.. Besok aku yang jemput kalian.." kata Nathan.


"Dahh si Ren.. Nurut aja napa sama calon suami" goda Ririn.

__ADS_1


"Awwww... Isshhh sakit tauu" kata Ririn yang mendapatkan cubitan dilengannya dari Iren.


"Dahh yukkk aku temenin nunggu di depan.." kata Nathan.


Mereka bertiga pun menunggu duduk di bangku yang di sediakan oleh pihak kampus untuk para mahasiswanya yang sedang menunggu angkutan umum atau jemputan di depan area kampus.


Sedangkan Nathan memarkirkan si blacki tidak jauh dari sana. Tidak membutuhkan waktu lama, taxi pesanan mereka tiba.


#####


"Bang..." panggil Fitri.


"Apa??" tanya Marko.


"Bang, temen ku ada yang butuh bantuan abang nih.." kata Fitri.


"Bantuan apa??" tanya Marko.


Fitripun menceritakan rencana Cindy kepada Marko. Dan Marko mendengarkannya secara seksama.


"Ga... Gue ogah ikut campur dalam urusan kaya begituan.. Norak.. Kaya anak kecil aja.. Tinggal ungkapin aja perasaan, ditolak ya udah.." jawab Marko.


"Ayolaahh bang.. Dia mau ngasih persenan kalau abang mau" bujuk Fitri.


"Dengerin ya.. Mau kawan lor ngasih gue bermilyar milyarpun gue ogah.. Gue dah ga mau berurusan hal hal kaya begituan." jawab Marko tegas.


"Ckkk abang nih ahhh" Fitri merasa kecewa.


"Kalau loe mau bantuin tuh kawan loe.. Loe tinggal cari tuh si Ari Beler.. Tapi gue ga mau nanggung resikonya.. Kalau loe dan kawan loe dalam masalah gue ga mau ikut campur.. Paham!!!" Marko mengingatkan.


"Hmmmm" jawab Fitri.


Fitripun menghubungi Cindy dan dia menceritakan obrolannya dengan abangnya itu. Dan Fitri hanya memberikannya nomor ponsel Ari Beler ke Cindy karena Fitri tidak mau ikut campur sama seperti abangnya..


"Apapun resikonya gue bakal tetep lakuin, demi gye mendapatkan Nathan.." gumam Cindy setelah mendapatkan informasi dari Fitri.


Cindypun bergegas menghubungi nomor yanh Fitri berikan kepadanya.


"Hallo.. Apa benar ini Ari Beler??" tanya Cindy setelah panggilan teleponnya di terima.


"Ya.. Siapa ini?!!" jawaban dari seberang telepon.


"Emmm i.. Ini saya Cindy.. Temannya Fitri adiknya bang Marko." jawab Cindy gugup saat mendengar sura serak di seberang.


"Marko.. Ya.. Ya.. Ada apa hahh!!" bentak Ari.


"Sa.. saya butuh bantuan abang" kata Cindy.


"Tapi ini semua tidak gratis nona, apa kamu sanggup??" kata Ari.


"Berapapun akan saya berikan, asal abang membantu saya." jawab Cindy.


"Bantuan apa??" tanya Ari.


"Kapan saya bisa menemui abang??" tanya Cindy.


"Lusa di gedung bekas perkantoran.. Loe temuin gue nanti gue kirim lokasinya" kata Ari.


"Baik bang.." jawab Cindy.


Cindypun meletakkan ponselnya yang sudah meredup. Dia berbaring di tempat tidurnya yang empuk sambil membayangkan dirinya bersama Nathan.

__ADS_1


__ADS_2