
Malam pun berganti pagi, Iren sudah tampak sibuk berada di dapur ditemani oleh bi Marni.
"Nen, nanti jika non udah menikah mau tinggal di mana non??" tanya bi Marni.
"Memang kenapa bi?" tanya balik Iren.
"Rasanya sepi aja non, jika non tidak berada di sini. Sayang sama rumahnya.. Kalau bibi si bisa pulang pergi jika non ga ada di sini" jawab bi Marni.
"Iren si nurut sama Nathan bi.. Tapi kalau paman Rudi benar benar nyerahin perusahaan papi ya berarti Iren di sini" jawab Iren.
"Kita akan di sini sayang.. Aku terlanjur nyaman berada di sini" jawab Nathan tiba tiba.
"Ehhh mas Nathan" kata bi Marni menoleh ke arah Nathan.
"Dah bangun??" Iren menoleh juga.
"Tenang aja bi, sekalipun kita ga di sini. Nathan usahain akhir pekan kita akan selalu di sini.. Rumah ini tidak akan Nathan biarkan kosong terus.. Ini satu satunya kenangan Iren bersama orang tuanya" jawab Nathan.
"Teriamakasih sayang" jawab Iren reflek memeluk Nathan.
"Sama sama sayang" jawab Nathan tersenyum melihat Iren yang sudah tidak malu malu lagi.
"Eghmmm pagi pagi dah peluk pelukan aja nih.." suara Ririn mengejutkan.
Irenpun reflek melepas pelukannya. Bibi dan Ririn tersenyum melihat Iren yang masih saja malu malu.
"Cckkk loe Rin ganggu aja" sungut Nathan pura pura.
"Maaf maaf.. Kalian ga ngertiin ada jones di sini" jawab Ririn.
"Tuhhh ada yang lagi free.." jawab Nathan yang melihat Arya tengah menuruni anak tangga.
Setelah mendapatkan Iren, Nathan kini sedikit mencair. Tidak lagi seperti balok es yang dingin terhadap siapapun. Meski ia masih bersikap dingin jika sedang berada di luar sana.
Begitu jiga Iren, tidak lagi tertutup.. Kini dia terlihat lebih ceria tidak seperti sebelum bersama Nathan yang terlihat selalu serius dan jarang tersenyum.
Dan itu semua di sadari oleh Ririn dan yang lainnya yang selalu dekat bersama mereka. Memang cinta dapat merubah seseorang dalam wakti yang singkat batin Ririn.
"Dahh ahh gue mau nyiapain sarapan dulu" kata Iren.
"Ada yang bisa gue bantu.." tanya Ririn.
"Mmmm siapin teh hangat aja Rin, ini dah mau kelar kok.. Nasi dah di siapin sama bibi" jawab Iren.
"Ok.. Kita para laki keluar dulu hirup udara segar" ajak Nathan merangkul Arya.
Tidak lama kemudian sarapan pun sudah siap.. Iren yang dibantu bi Marni juga Ririn sudaj selesai menata menu sarapan di atas meja makan.
"Ren, panggil gih" kata Ririn.
"Loe aja ya.. Gue mandi dulu sebentar.. Gerah.." jawab Iren.
"Ya udah nanti gue panggil.." jawab Ririn.
Iren langsung berlari menuju ke kamarnya, sedangkan Ririn masih di meja makan sedikit merapikan kembali makanan di sana.
"Haaah siap.. Sekarang panggil para juragan" kata Ririn cekikikan sendiri.
Ririnpun berjalan menuju teras rumah. Saat mau memasuki ruang tamu, tamu sengaja dia bertabrakan dengan Arya yang tiba tiba muncul.
"Awww..." rintih Ririn karena terjatuh.
"Ahhh maaf maaf.." kata Arya mengulurkan tangannya ke Ririn.
"Gapapa kok.. Makasih ya.." kata Ririn menerima uluran tangan Arya.
__ADS_1
"Maaf ya, gue buru buru mau ke kamar mandi jadi ga lihat ada loe" jawab Arya.
"Iya gapapa.. Santai aja.. Ehh Nathan mana.. Sarapan udah siap.." kata Ririn yang ingat dengan tujuannya.
"Dia di luar.. Gue ke kamar mandi dulu dah ga tahan.." jawab Arya dengan wajah memerah karena menahan sesuatu.
"Hahaha dah dah sana.. Keluar di sini bau nanti.." ledek Ririn.
Arya segera meninggalkan Ririn yang masih terlihat tertawa kecil melihat dirinya sedang menahan sesuatu.
Sedangkan Ririn segera menghampiri Nathan yang tengah duduk di bangku teras.
"Than.. Sarapan dah siap.. Masuk gihh" panggil Ririn.
"Ok.. Iren mana??" tanya Nathan berdiri dan berjalan menyusul Ririn.
"Lagi mandi.. Palingan bentar lagi kelar" jawab Ririn.
"Ohhh" jawab Nathan.
"Gue coba susul dulu ya.." kata Ririn.
"Ok.. Jangan lama lama ya.." jawab Nathan.
"Dah laper loe" jawab Ririn tersenyum
"Yoi.. Cacing dah meronta ronta" jawab Nathan.
Ririn hanya mengacungkan jempolnya keudara sambil tersenyum dan berjalan menuju ke kamar Iren.
Tok.... Tok...
"Ren.. Dah ditunggu Nathan.." panggil Ririn.
"Ya udah cepat ya" teriak Ririn.
Ririnpun kembali menyusul Nathan. Tepat saat hendek menuruni anak tangg, dia melihat Arya baru keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dirinya.
Deg...
Menatap Arya yang tengah tersenyum terhadap dirinya, tiba tiba jantung Ririn berdetak lebih cepat. Reflek Ririn memegangi dadanya sebelah kiri.
"Rin.. Loe gapapa??" tanya Arya yang melihat Ririn memegangi dadanya.
"Haahh.. Ee tidak tidak kenapa napa" jawab Ririn sedikit gugup.
"Loe kenapa si??.malah kadi pucat gini" tanya Arya yang merasa aneh.
"Hehehe gapapa kok, serius..
Dah yukk sarapan.. Sebentar lagi Iren turun" jawab Ririn yang mencoba menenangkan dirinya.
"Ya udah yuk.." jawab Arya tersenyum..
Arya menyadari apa yang Ririn rasakan. Dia mendengar dengan sanagt jelas bagaimana detak jantung Ririn yang tiba tiba berdetak sangat cepat. Namun sayang, untuk saat ini mungkin Arya belum merasakan apapun untuk Ririn. Namun entah sautu saat nanti.
Di bawah, Nathan menyadari itu. Dia menatap Arya penuh arti, dia mengulas senyum dan menggoda Arya. Aryapun paham apa maksud tatapan Nathan.
"Iren belum selesai Rin??" tanya Nathan.
"Belum, bentar lagi.. Kamu kenapa Than senyam senyum sendiri ga jelas" tanya Ririn.
"Gapapa" jawab Nathan sambil tersenyum sesekali ia melirik ke arah Arya yang sedang duduk di sampingnya.
Tidak beberapa lama kemudian, Iren datang dan merekapun menikmati sarapan pagi mereka.
__ADS_1
#####
Di tempat yang berbeda, dua insan yang masih meringkuk di tempat tidurnya mulai terusok dengan sinar matahari yang menyusup dari sela sela tirai yang masih tertutup.
"Eghmmmm" Santi meregangkan otot ototnya yang terasa kaku.
Santi merasakan pada perutnya terasa berat karena tertindih sebuah kaki. Dia menoleh ke arah kiri dan melihat Rangga masih terlelap.
Santipun perlahan bangun dari tidurnya dengan menggeser kaki Rangga. Merasa ada pergerakan, Ranggapun mulai mengerjapkan matanya.
"Bangun dah pagi.." kata Santi yang melihat Rangga mulai bangun..
"Hmmmm" jawab Rangga malas.
Santipun mulai membersihkan tubuhnya yang terasa lengket dan ingin segera membuat sarapan karena dia merasa lapar.
"Apa rencana anda??" tanya Rangga setelah selesai menikmati sarapan mereka.
"Kenapa masih formal si.. Panggil nama saja" jawab Santi.
"Ok. Apa rencanamu San??" tanya ulang Rangga.
"Kamu pancing Iren agar aku agar aku bisa langsung mengeksekusinya" jawab Santi.
"Maksud kamu?? Mencelakai dia??" tanya Rangga.
"Ya.. Karena dengan meninggalnya Iren, otomatis perusahaan itu akan jatuh ke Rudi.. Dan nanti perlahan aku akan menyingkirkan Rudi" jawab Santi.
"Kenapa?? Kamu berubah pikiran??" tanya Santi menatap Rangga.
"Haahh mm tidak tidak.. Kenapa tidak aku buat dia menikah dengan ku?? Dan aku akan membuat dirinya mau mengalihkan perusahaannya atas namaku." ide Rangga.
"Dan kamu akan menguasainya sendiri??" tanya Santi.
"Tidak dong sayang.. Kita akan menikmatinya berdua" jawab Rangga meremas lembut tangan Santi.
"Kamu ga bohong kan??" tanya Santi curiga.
"Kenapa harus berbohong, asal kamu membantuku untuk mendapatkan Iren.." kata Rangga merayu.
"Hmmm aku masih ragu..." kata Santi.
"Kenapa masih ragu hmmm.. Apa semalam masih kurang" tanya Rangga.
"Bukan masalah puas atau tidaknya, tapi ini masalah kepercayaan." jawab Santi.
"Ok ok.. Kamu bisa pegang omongan ku.. Aku tidak pernah mengingkari kata kataku." jawab Rangga serius.
"Hmmm baiklah.. Kapan akan dijalankan??" tanya Santi.
"Aku harus memisahkan Iren dengan sahabatnya terlbih dahulu, karena sahabatnya itu pengganggu terbesarku" jawab Rangga.
"Baiklah, akan aku bantu.. Aku punya orang dalam. Aku akan memintanya untuk menyibukan temannya itu" kata Santi.
"Ok.. Hari sudah mulai siang.. Aku harus pulang.." pamit Rangga.
"Baiklah.. Hati hati.." jawab Santi mengantar Rangga.
Rangga mendekati Santi dan memeluk pinggang Santi dan me***at bib*r Santi.
"Eummm.. Jangan katakan siapapun aku berada di sini ya.." pesan Santi.
"Kamu bisa percaya padaku.." jawab Rangga tersenyum..
Ranggapun meninggalkan kediaman Santi. Dia langsung memilih pulang kembali ke rumahnya untuk menyiapkan tempat khusus untuk Iren jika rencananya berjalan lancar.
__ADS_1