Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
malam pengantin


__ADS_3

Setelah menikmati makan malam bersama, mereka kembali berkumpul memanfaatkan waktu yang tersisa untuk bersama sebelum mereka kembali dipisahkan oleh jarak dan waktu.


"Setelah ini kalian akan tinggal di mana?" tanya Rosita.


"Saya sudah memiliki apartemen di samping apartemen Iren, tan. Jadi kami memutuskan selama masih kuliah akan tinggal di sana terlebih dahulu. " jawab nathan.


"Iya, apa lagi paman Rudi sudah memberikan proyek Iren tak jauh dari kampus. Jadi Iren akan menyelesaikan proyek itu terlebih dahulu" jawab Iren.


"Paman.." panggil Iren ke Rudi.


"Iya nak.." jawab Rudi.


"Paman jangan terlalu capek ya.. Paman pantau saja perusahaan dari rumah, nanri jika Iren atau Nathan ada waktu kami yang akan pantau langsung ke perusahaan" jawab Iren.


"Iya nak.. Paman sekalipun ke perusahaan juga hanya setengah hari. Selebihnya paman serahkan ke sekertaris paman." jawab Rudi.


"Dan paman jangan pernah sungkan datang kemari atau main ke tempat Iren. Begitu juga kamu Galih.. Jangan sungkan bermain ke tempat kakak" kata Iren.


"Siap kak.." jawab Galih.


Waktupun semakin malam, satu persatu mulai merasakan kantuk dan memilih untuk kembali ke kamar mereka masing masing. Begitu juga Iren, sang pengantin baru itu juga memilih kekamar karena kantuk sudah mulai menyerangnya. Sedangkan Nathan, memilih berkumpul terlebih dahulu bersama ayah, Arya dan para lelaki yang lainnya.


"Loe ga ikut masuk? Iren dah nunggu tuh" kata Arya mulai menggoda Nathan.


"Emangnya mau kemana harus nungguin gue?" jawab Nathan pura pura tak tahu arah tujuan obrolan Arya.


"Yaa malam pengantin laahhh. Atau gue aja yang nyusul ke kamar? " jawab Arya menggoda Nathan.


"Emangnya loe brani?" tantang Nathan.


"Siapa takut.. Loe dulu sana" jawab Arya.


"Ckkkk sama aja loe ngusir gue" kata Nathan.


"Hahahaha dahh sana, loe masuk aja.. Biar kita kita aja yang jagain malam pengantin kalian" goda Arya


"Than... Jangan keras keras ya.. Nanti kita semua dengar" sambung ayah.


Semuapun tertawa mendengar peerkataan ayah yang sedang menggoda Nathan.


Nathanpun memilih kembali masuk ke dalam kamar menyusul Iren. Di dalam kamar terlihat Iren sudah bergelung di bawah selimut tebalnya.


Setelah menggosok giginya, Nathan menyusul Iren di tempat tidurnya yang luas itu.


Merasa ada pergerakan disampingnya, Iren terbangun dan melihat Nathan yang akan membaringkan badannya.


"Aku mengganggu tidurmu ya? Maaf ya, kembalilah tidur" kata Nathan yang melihat Iren terbangun.

__ADS_1


"Eghmmm tidak kok," jawab Iren seraya bangun dari tidurnya.


"Mau kemana?" tanya Nathan.


"Ke kamar mandi" jawab Iren melenggang masuk ke kamar mandi.


Tidak lama kemudian, Iren kembali dari kamar mandinya. Iren duduk di pinggiran tempat tidurnya. Tiba tiba saja rasa kecanggungan terasa di dalam kamar tersebut.


"Yank..." panggil Nathan.


"Hmmmm" jawab Iren.


"Jika malam ini kamu belum siap, aku tidak akan memaksanya.. Tidurlah" Kata Nathan duduk bersandar di kepala tempat tidurnya.


"Apakah kamu menginginkannya?" tanya Iren.


"Aku tidak memaksa jika kamu belum siap" jawab Nathan memeluk Iren dari belakang.


"Jika kamu menginginkannya, lakukanlah. Aku siap. Aku milikmu seutuhnya" jawab Iren.


"Kamu yakin?" tanya Nathan memastikan.


Iren hanya mengangguk untuk menjawab pertanyaan Nathan. Nathanpun menarik tubuh Iren lembut hingga tertidur. Tubuhnya mengungkung tubuh Iren yang kini berada di bawahnya. Manik matanya mengunci manik mata Iren. Perlahan, Nathan mengikis jarak pandangnya dengan Iren. Perlahan, bibir merekapun bersatu. Permulaan, Iren belum membalas ciuman itu. Namun semakin lama, Iren berusaha mengimbangi ciuman yang Nathan berikan.


Setelah dirasa Iren mulai terhanyut, tangan Nathan mulai bergerak. Awalnya hanya mengusap ngusap gundukan milik Iren dari luar piyama Iren. Semakin lama, dengan perlahan tangan itupun menyusup masuk kedalam hingga bertemu langsung dengan gundukan itu. Ciuman Nathan berpindah ke leher Iren yang membuat si empunya merasa deaoran halus pada seluruh tubuhnya.


Entah kapan Nathan melakukannya, namun kini baju bagian atas dan penutup gundukan kembar Iren sudah lepas dari tempatnya. Ciuman Nathanpun mulai mendekati ke gundukan kembar tersebut.


"eghmmm" lagi lagi suara itu lolos dari mulut Iren.


Tangannya tanpa disadari memegangi kepala Nathan yang tengah menikmati gundukan kembar milik Iren. Sesekali mengh*sapnya, sesekali puka lidahnya dia mainkan pada bagian pucuk gundukan itu secara bergantian.


Iren sangat menikmati apa yang Nathan lakukan pada dirinya, dia merasakan seperti terbang ke atas Nirwana. Dengan mata terpejam menikmati semua sentuhan sentuhan yang Nathan berikan.


Tangan Nathan pun mulai meraba bagian perut dan semakin turun ke bagian inti Iren. Awal hanya bermain main di atas celana, namun semakin lama tangan itupun menyusup masuk kedalam.


"aahhhh eghmmm" suara merdu itupun keluar dari mulut Iren.


Iren merasa seperti tersengat aliran aliran listrik yang membuat tubuhnya meremang, semakin terbang ke atas awan.


Nathan kembali melu**t bibir ranum Iren sembari tangannya berusaha melepas penutup terakhir yang melekat pada tubuh Iren, begitu juga pakaian yang masih utuh di badannya.


Setelah melepas kaosnya, ciuman Nathan beralih ke bagian inti Iren. Nathan menciumi, menj***t, hingga menghi**pnya tidak lupa lidahnya bermain main di sana.


"Arghhh Yank.. A.. Apa yang kamu lakukan ehmmm a.. Aku ingin pi**s" kata Iren terbata bata.


"Lepaskan saja sayank" jawab Nathan.

__ADS_1


Melihat tubuh Iren mengejan, kini Nathan memosisikan miliknya pada inti Iren.


"Jika sakit katakan ya.. Aku akan pelan pelan" bisik Nathan.


Nathan berusaha memasukan miliknya ke inti Iren, perlahan dan ternyata sangat sulit. Beberapa kali meleset.


"Awwghh sakit" rintih Iren.


Nathanpun mencoba mengalihkannya dengan kembali menciun bibir Iren dengan tangannya membimbing miliknya agar tepat mengarah pada inti Iren.


Beberapa kali percobaan gagal, dan pada akhirnya sedikit demi sedikit miliknya tertanam pada inti Iren meski pada punggungnya mendapatkan tancapan kuku Iren.


Setelah berhasil masuk, Nathan masih membiarkan miliknya diam di sana. Setelah melihat raut wajah Iren rileks, perlahan Nathan mulai memainkan miliknya.


Setelah masuk sempurna, rasa sakit itu tergantikan dengan rasa nik**t yang tiada tara. Kenik****n surga dunia. Suara suara merdu itu sesekali muncul menghiasi pergulatan mereka berdua.


Sudah hampir 1jam Nathan bermain dengan berbagai gaya. Hingga akhirnya mereka sama sama menemukan puncak permainan mereka.


"Aaahhhhhh" suara mereka berdua secara bersamaan.


Tubuh Nathan ambruk di samping Iren lalu menatap lekat wajah lelah sang istri.


"Terimakasih kamu telah menjaganya untukku" kata Nathan menatap lekat wajah Iren.


Iren hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Apa masih sakit?" tanya Nathan.


"Tidak, hanya lemas" jawab Iren masih mengatur nafasnya.


"Maaf jika menyakitimu" kata Nathan.


"Bukankah memang seperti bagi semua perempuan untuk pertama kalinya? Setidaknya aku melepaskannya memang untuk suamiku" jawab Iren berusaha bangun dari tidurnya.


"Mau kemana?" tanya Nathan ikut bangun.


"Ingin membersihkan badanku, ini terasa sangat lengket aku risih" jawab Iren menunjuk badan yang berbalut selimut tebalnya.


"awwwsshhh" pekik Iren yang merasa perih saat ingin menurunkan salah satu kakinya untuk berpijak.


"Kenapa? Apa sakit?" tanya Nathan khawatir.


"Tiba tiba rasanya perih untuk bergerak" keluh Iren.


"Aku bantu" jawab Nathan yang kini tanpa malu tanpa berbusan menggendong istrinya ke dalam kama mandi.


Nathan mendudukkan Iren ke kloset, setelah itu dia menyiapkan air panas dalam bathup. Tanpa ada rasa canggung sedikitpun Nathan didepan Iren. Sedangkan Iren yang belum terbiasa merasa malu melihat Nathan tanpa sehelai benangpun.

__ADS_1


__ADS_2