Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
kepindahan Iren


__ADS_3

Drrrtttt...dddrrrtttt


Ponsel Nathan bergetar, nama Ririn tertera di sana.


"Hallo.. Ada apa Rin..?" Nathan menerima panggilan tersebut.


"Than.. Loe di mana.. Gue cariin lo di kampus ga ada.." tanya Ririn yang terlihat panik.


"Emangnya ada apa??" tanya Nathan.


"Loe ke kost deh sekarang cepat.. Gue lagi di depan kost.. Ada yang ngeluarin barang barang Iren dari kamarnya" kata Ririn.


"Ok..ok. Tunggu gue balik bentar.." jawab Nathan.


"Ar, gue balik dulu ya, nanti gue mampir lagi ke sini" kata Nathan yang langsung begitu saja meninggalkan Arya.


"Hati hati Bro.. Gue tunggu kabar loe.." teriak Arya.


Nathan hanya mengangkat tangannya dan langsung melesat begitu saja dengan blackinya.


Tidak lama kemudian Nathan tiba di kostan dan melihat Ririn tengah berusaha mencegah orang orang yang sedang mengangkuti barang barang Iren.


"Than... Bagaimana ini???" tanya Ririn terlihat panik.


"Gue coba tanya dulu ya.." jawab Nathan.


"Mereka katanya hanya disuruh Than.. Gue dah tanya ke pak Akbar katanya pak Akbar ge pernah ngusir Iren.. Iren pun selalu tepat waktu bayar kost katanya" Ririn menjelaskan.


Nathan menghampiri salah satu orang suruhan Rudi.


"Maaf permisi pak.. Ini kenapa barang barang Iren di pindah pindahin ya??" tanya Nathan.


"Ohh gini mas.. Saya hanya mendapat perintah dari pak Edi disuruh mengambil barang barang milik non Iren" kata pria tersebut


"Pak Edi??" Nathan mencoba membaca pikiran orang tersebut.


"Iya.. Pak Edi orang kepercayaan tuan Rudi.." pria itu menjelaskan...


"Kira kira kenapa di ambil ya pak??" tanya Nathan lagi.


"Wahhh saya kurang tau mas.. Saya hanya disuruh ngambil dulu.. Ini saya lagi tunggu informasi lebih lanjut dari pak Edi mau di bawa kemana barang barang ini" jawab orang itu lagi.


"Ohhh gitu.. Ya udah terimakasih pak.." kata Nathan lalu kembali menghampiri Ririn.


"Bagaimana??" tanya Ririn.


"Iren kayaknya mau pindah tempat.. Kayaknya dia masih salah paham soal kejadian gue sama Putri" kata Nathan berubah sedih.


"Loe belum jelasin ke dia??" tanya Ririn iba.


Nathan hanya menggelengkan kepalanya. Lalu Nathan duduk di atas motornya sambil memainkan kunci motornya. Tampak jelas raut wajahnya sedih melihat Iren mencoba menjauhinya.


"Mereka ga bilang mau di pindahin kemana??" tanya Ririn lagi dan Nathan hanya menggelengkan kepalanya.


"Than.. Bagaimana kalau kita ikutan aja mereka..??" ide Ririn.


"Ahhh bener juga loe.. Dahh naik.. Siap siap.. Mereka dah mau kelar." kata Nathan.


"Naik ini??" tanya Ririn yang ragu melihat keadaan motor Nathan yang seperti itu.


"Iya lalu naik apa lagi?? Mobil gue di dalem.. Pake mobil kelamaan keburu ketinggalan jauh.." jawab Nathan yang sudah siap tancap gas.


"Tapi hati hati ya.. Gue ngeri nihh" kata Ririn.

__ADS_1


"Iya iya, dahh buruan.." kata Nathan.


Mereka pun mengikuti mobil hitam yang membawa barang barang milik Iren. Nathan terus menjaga jaraknya agar tidak di curigai oleh mereka.


Tidak lama mereka membuntuti, ternyata berhenti di sebuah apartemen.


"Apartemen?? Iren pindah kesini??" tanya Ririn.


"Kita lihat aja dulu.." kata Nathan.


"Loe tunggu di sini sebentar" kata Nathan lagi.


Lalu Nathan mendekati mereka dan bersembunyi di salah satu mobil yang terparkir tidak jauh dari orang orang tersebut.


Nathan mencoba membaca mereka. Nathan memilih milih orang orang tersebut yang bisa dia dapatkan informasinya. Nathan berhasil membaca dari pikiran salah satu dari mereka yang mungkin dimaksud pak Edi. Lalu dia kemali ke tempat Ririn sedang menunggu dirinya.


"Bagaimana??" tanya Ririn.


"Benar, Iren pindah di sini. Di lantai 3, unit 24" kata Nathan.


"Lalu Iren udah ada di situ???" tanya Ririn lagi.


"Ntahlah.. Gue ga mendengar mereka membahas Iren di sini atau ega" jawab Nathan.


"Kira kira dia di mana??" tanya Ririn lagi.


"Melihat kepindahan dia, sepertinya dia pulang ke rumahnya.." kata Nathan.


"Loe susulin aja dia ke sana.." kata Ririn memberi ide.


"Tidak.. Mungkin dia pergi hanya ingin menyendiri dulu.. Nanti saat dia kembali ke sini baru gue akan mencoba jelasin.." jawab Nathan.


"Ya udah yuukk balik" kata Ririn.


"Sabar ya Than.. Gue ke kamar dulu.." kata Ririn setelah turun.


"Thanks ya.." jawab Nathan.


#####


Satu minggu kemudian, Iren kembali. Sebelum dia menuju ke apartemennya, Iren memilih mampir ke rumah Nathan. Entah kenapa, Iren merasa rindu dengan bunda Nathan.


Hampir satu jam, Iren tiba di depan rumah Nathan. Terlihat di sana ada mobil Nathan.


Awalnya Iren ragu. Namun hatinya terus berkata ingin bertemu dengan bunda. Perlahan Iren keluar dari taxi onlinenya.


"Pak.. Ini.. Ditinggal aja.. Saya takutnya lama." kata Iren.


"Ohh ya neng.. Ini kembaliannya" jawab sang sopir.


"Buat bapak aja.. Terimakasih ya pak.." kata Iren.


"Waaahhh terimakasih juga neng." jawab sang sopir lalu memundurkan mobilnya.


Iren berjalan menuju ke rumah Nathan. Sejenak Iren berhenti dan menatap ke arah pintu besar di depannya itu.


Ceklekk..


"Loohhh ada mbak Iren.. Kenapa ga masuk mbak.." bi Marni terkejut melihat ada Iren yang mematung di depan rumah.


"Bibi.. Bunda ada??" tanya Iren.


"Oohh ibu lagi sakit mbak.. Dari kemaren nanyain mbak terus." jawab bi Marni.

__ADS_1


"Sakit??" Iren kaget.


"Ayo mbak, bibi antar ke kamar ibu.. Di dalam juga ada mas Nathan. Baru sampai juga" jawab bi Marni.


Iren pun mengikuti langkah bi Marni menuju ke kamar bunda.


"Bu.. Permisi.. Ini ada mbak Iren.." kata bi Marni masuk ke dalam kamar.


"Iren??? Mana?" tanya bunda yang nampak senang.


"Mbak.. Silahkan" kata bi Marni mempersilahkan.


Iren masuk ke dalam kamar bunda. Tampak di sana ada Nathan yang sedang duduk menemani sang bunda.


Tatapan mereka berdua saling baradu. Ada desir kerinduan dari mereka berdua, jantung merka berdegup kencang.


"Iren sayang.. Si nak.. Bunda sangat merindukan kamu" kata bunda mengulurkan kedua tangannya.


Iren pun mendekati bunda dan memeluk bunda yang sedang bersandar di kepala tempat tidurnya.


"Iren juga rindu dengan bunda.. Makanya Iren main kesini.. Bunda sakit??" tanya Iren.


"Hanya kecapean sayang.. Kangen sama kamu juga.. Kamu masih marah dengan Nathan??" tanya bunda.


Iren menatap ke arah Nathan, begitupun Nathan menatap Iren. Iren hanya tersenyum menjawab pertanyaan bunda.


"Kamu belum menjelaskannya nak??" tanya bunda ke Nathan.


"Belum bun.. Iren.." kata Nathan sambil memegang tangan Iren.


"Maafin aku ya kalau aku kurang peka dengan perasaanmu.. Aku bersumpah malam itu tidak terjadi apapun antara aku dengan Putri. Aku dijebak, kamu boleh tanyakan itu ke bunda" kata Nathan.


"Nak.. Benar kata Nathan.. Bunda bukannya membela Nathan karena dia putra bunda. Tapi memang begitu, Nathan di jebak oleh Putri. Dan semua sudah di selesaikan.. Jangan marah lagi ya" kata bunda lembut.


Iren hanya menangis.. Dia tidak tau harus menjawab apa...


"Bunda, bunda banyak istirahat ya.. Jangan capek capek.. Iren pamit dulu ya.. Bunda harus ke apartemen Iren masih banyak urusan yang harus Iren selesaikan" kata Iren tanpa merespon perkataan bunda dan Nathan.


"Kenapa buru buru nak.. Pulangnya nanti bersama Nathan aja ya.." bujuk bunda.


"Iren sudah pesan taxi bun.. Bunda cepet sehat ya" kata Iren memeluk bunda.


Iren keluar ke kamar tanpa menghiraukan Nathan. Sambil berjalan keluar Iren memesan taxi online yang kebetulan jaraknya tidak jauh dari lokasinya.


"Iren... Tunggu Ren.. Maafinaku Ren.." Nathan mengejar Iren.


"Jangan ganggu aku, aku mohon.." kata Iren sambil menangis.


"Tapi kenapa Ren??? Aku dah jelasin apa yang terjadi Ren.." jelas Nathan.


"Kamu tidak akan paham Than.. Aku mohon jangan ganggu aku.." kata Iren yang langsung masuk ke dalam mobil yang sudah dia pesan.


"Ren... Renn.. Aku mohon... Maafin aku.. Renn.. Turun Ren.." Nathan mengetuk jendela mobil itu.


"Jalan pak.." perintah Iren.


"Tapi mbak, masnya.." kata sopir yang ragu.


"Saya mohon pak, jalan.. Biarkan saja" jawab Iren menangis.


Sang sopir pun menjalankan mobilnya, meninggalkan Nathan yang terus memanggil manggil Iren.


Iren terus menangis di salam mobilnya. Dia sebenarnya tidak menginginkan seperti ini. Dia terpaksa.

__ADS_1


__ADS_2