Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
berkumpul dirumah kakek


__ADS_3

"Ada berita apa tiba tiba kalian ingin berkumpul?" tanya kakek.


Kakek, ayah dan bunda kini tengah duduk bersama di ruang tamu.


"Pa, sepertinya kita akan menambah anggota baru" kata Ayah.


"Maksudnya, Iren hamil?" tanya kakek.


"Ahhh bukan pa, Tapi Arya. Dia ingin kita meminangkan seorang gadis untuk dia" ayah menjelaskan.


"Siapa? Apakah teman Iren? " tanya kakek.


"Ya sepertinya begitu" jawab ayah.


"hufhhh" kakek menghelakan nafasnya.


"Kenapa pa? Papa ga akan melarangnya kan?" tanya ayah yang melihat ada guratan kekecewaan.


"Jika boleh jujur, papa berharap di antara kalian ada yang memiliki pasangan sesama kita. Hingga masih ada keturunan murni dari kita. Tapi papa tetap tidak bisa memaksakan kehendak lagi" jawab kakek.


"Pa.. Apakah itu semua akan berpengaruh? Sekalipun kita mebikah dengan manusia biasa, tapi darah klan kita masih mengalir, tidak akan hilang begitu saja." jawab ayah.


"Nak, semakin banyak manusia tau keberadaan kita. Akan semakin berbahaya juga kita nantinya. Keberadaan kita akan terancam. Kita akan menkadi incaran mereka mereka yang tidak bertanggung jawab" kata kakek khawatir.


"Pa, bukankah dahulu kita sudah mempunyai perjanjian dengan leluhur mereka? Tidak saling menganggu, tapi akan saling berdampingan." kata ayah.


"Nak, tidak semua manusia atau klan kita bisa memegang perjanjian itu. Terlebih para leluhur mereka sudah tiada. Apakah para keturunan mereka tau akan perjanjian itu? Papa rasa tidak akan semuanya tau" jawab kakek.


"Lalu bagaimana dengan Arya? Dia sudah menemukan tambatan hatinya. Papa tau sendiri, Arua tidak mudah memberikan hatinya pada seorang gadis" tanya ayah.


"Mau tidak mau, papa menerimanya. Asal kalian harus benar benar bisa menjaga keberadaan kalian. Keturunan murni kita semakin menipis papa tidak bisa memaksakannya. Tidak mungkinkan jika papa meminta kalian merubah pasangan kalian menjadi seperti kita. Itu akan membutuhkan waktu yang cukup lama bagi mereka untuk menyesuaikan diri mereka yang baru" kata kakek.


"Pa.. Jika itu diperlukan saya siap" jawab bunda.


"Bunda" panggil ayah mengenggam tangan bunda.


"Bunda siap ayah, apapun yang akan terjadi asal keberadaan kalian tidak terancam. Ini semua bermula dari kita, Yah." jawab bunda.


"Nak.. Jika istrimu siap tidak masalah. Rubahlah dia jika dalam situasi mendesak jika kamu belum siap merubahnya" kata kakek.


Terdengar suara deru mobil, bunda hafal betul suara mobil siapa yang datang.


"Mereka datang" kata bunda bangkit dari duduknya dan menuju ke pintu utama untuk menyambut mereka.


Bunda membuka pintu dan menyambut Nathan, Iren, Arya dan Ririn.


"Ahhh akhirnya kalian datang juga" kata bunda merentangkan tangannya menyambut sang menantu.


"Bunda sudah lama?" tanya Iren dalam pelukan sang bunda.


"Ya sudah hampir 2jam kami sampai disini" jawab bunda merenggangkan pelukannya.


"Ayo masuk, kakek dan ayah sudah menunggu" kata bunda menggiring 2pasang itu.


Semuapun sudah berkumpul, sebelum membicarakan tujuan utama kedatangan mereka.. Mereka memilih mengobrol hal santai terlebih dahulu. Bersenda guarau dan sesekali menggoda Iren dan Nathan.


"Eghm.. Kek.. Paman, dan bunda. Kalian pasti sudah tau apa tujuan kedatangan kami terutama Arya" kata Arya membuka pembicaraan.


"Arya meminta restu kalian sebagai orang tua Arya untuk meminang Ririn sebagai calon istri Arya." kata Arya sambil mengenggam tangan Ririn.


Ririnpun merasa gugup, diapun sebenarnya antata percaya dan tidak percaya akan secepat ini Arya akan meminang dirinya. Mengingat hubungan mereka baru terhitung 1minggu lamanya saat Arya mengungkapkan perasaannya pada dirinya.

__ADS_1


"Arya, sebagai kakekmu. Apapun yang membuatmu bahagia kakek akan merestuinya. Jika semua itu sudah menjado pilihanmu. Kapan kamu siap membawa kami bertemu dengan orang tua Ririn" kata kakek.


"Akhir bulan depan kami ada libur semester. Jika kamu siap kita bisa ke berkunjung menemui orang tua Ririn. Apa kamu siap Rin? " tanya Iren.


"Kapanpun aku siap, aku hanya tinggal memberi kabat orang tua ku" jawab Ririn.


"Nah, calon pengantin perempuan sudah siap. Bagaimana Arya?" tanya Ayah.


"Baiklah akhir bulan depan, Arya minta bantuan kakek, paman dan bunda untuk meminangkan Ririn untuk Arya." jawab Arya.


"Nanti untuk segala keperluan hingga hari H, jika bunda berkenan. Arya ingin bunda yang membantu Arya untuk mengurusnya." kata Arya.


"Dengan senang hati nak. Kamu juga pitra bunda. Bunda akan mengurusnyandengan sebaik mungkin. Percayakam semuanya kepada bunda" jawab bunda.


"Teromakasih bunda" kata Arya.


"Tuan, hidangan sudah kami siapkan" kata salah satu pelayan.


"Naahh hidangan makan siang sudah siap. Kalian sangat jarang makan bersama dirumah ini. Ayo kita makan bersama dengan orang tua ini" ajak kakek bangkit dari duduknya.


"Kakek, meski sudah tua. Tapi kakek masih terlihat segar. Lihatlah, kakek berjalan saja tidak membutuhkan sebuah tongkat seperti yang lain" goda Nathan merangkul kakek.


"Kamu ini, jika kakek sudah menggunakan tongkat. Bagaimana bisa kakek membantumu menyelamatkan istrimi waktu itu" bisik kakek.


"Hahahaha. Itu bertanda kakek belum tua. Masih memiliki jiwa yang muda" kata Nathan lagi.


"Sudah Nathan, jangan goda kakekmu terus. Biarkan beliau makan dahulu. Baru nanti sambung lagi. Ini sudah waktunya kakekmu makan siang dan harus segera istirahat" kata ayah.


"Iya iya.. Bilang aja ayah irikan?" goda Nathan seraya duduk di samping Iren.


"Ckk, iri kok sama kamu. Ayahmu ini dulu sudah sangat puas dimanjakan sama kakekmu" cibir ayah.


"Sudah sudah.. Kenapa kalian berdua malah bertengkar? Ga baik banyak bicara di depan makanan. Ayo silahkan nikmati. Dan jangan sungkan sungkan. Nak Iren dan nak Ririn jangan sungkan ya" kata kakek.


Merekapun menikmati makan siang mereka bersama. Sesekali ada senda gurau yang mereka lontarkan. Kakek sudah kembali merasakan kehangatan keluarga seperti dulu sebelum kakek mengusir sang putra karena menikahi manusia biasa seperti bunda. Ada rasa haru di hati kakek melihat pemandangan di depannua sudah sangat lama hilang kini sudah kembali. Keinginannya untuk berkimpul bersama anak juga cucunya sudah dia dapatkan di usianya yang sudah senja.


Kini dia tidak lagi merasa takut dan sedih jika sewaktu waktu masa hidupnya telah habis. Meski putra bungsunya ayah Arya sudah tiada, setidaknya putra sulungnya kini sudah kembali dalam pelukannya.


Berhubung ini akhir pekan, mereka memutuskan untuk menginap di rumah kakek. Mereka ingin sesekali menemani sang kakek yang terlihat kesepian.


Sore hari, mereka memilih berkumpul di halaman belakang rumah kakek, di mana disana ada sebuah taman dan ada sebuah gazebo.



Mereka berkumpul, bercerita dan bersenda gurau bersama. Kebahagiaan jelas terlihat di wajah kakek. Itu sangat disadari oleh ayah dan Nathan.


Iren, Ririn dan bunda asik mengobrol sendiri. Sesekali bunda memberikan wejangan untuk dua perempuan didepannya dalam berumah tangga. Tidak lupa Ririn sesekali memggoda Iren tidak jarang Iren membalas godaan Ririn.


"Ren, sudah 5bulan. Kapan ini perut terisi" kata Ririn.


"Lah, tiapa hari juga udah terisi ini perut gue" jawab Iren.


"Ckk.. Bukan terisi itu.. Tapi terisi dengan separuh gen loe dan gen Nathan" jawab Ririn.


"Gue nunggu loe" jawab Iren.


"Laahh napa nungguin gue?" tanya Ririn.


"Kan loe yang pengen, kalau gue santai aja.. Dikasih cepet alhamdulillah. Kasih nanti juga gapapa" jawab Iren.


"Eehhh Rin, malam pertama loe kudu ati ati" bisik Iren.

__ADS_1


"Emang ada apa?" tanya Ririn penasaran.


"Rasanya bakal sakit" bisik lagi.


"Apanya?" tanya Ririn lagi.


"Ckk loe jangan sok polos.. Ya begituannya.. Rasanya sakit pake banget ya kan bun" kata Iren menakut nakuti.


Bunda yang mendapatkan kode dari Iren hanya tersenyum dengan godaan Iren.


"Masa?" tanya Ririn tidak percaya.


"Tanya aja bunda" kata Iren.


Ririn hanya menatap bunda dengan tatapan yang membutuhkan jawaban.


"Yaahh nanti kamu juga bakal merasakannya" jawab bunda yang tidak mau menambah nambahi.


"Bunda mau kedapur dulu ya .. Sebentar" pamit bunda.


"Tuhhhkaann bunda aja jawab begitu, berarti mengiyakan kata kata aku" kata Iren semakin menakut nakuti Ririn.


"Aahhh loe ga usah nakut nakutin dehhh.." kata Ririn.


"Iya serius.." jawab Iren.


"Tapi yang gue lihat ga begitu" bisik Ririn.


"Kok loe tau? Jangan jangan" goda Iren semakin jadi..


"Awww sakit" teriak Iren yang mendapatkan cubitan dari Ririn


"Gue pernah iseng nonton difilmnya" bisik Ririn lagi.


"Waahhh waahhh, diem diem loe ya" kata Iren.


"Sssttt kan gue iseng aja Iren," jawab Ririn.


"Aryaaa!! mmmmmm" teriak Iren yang langsung di bekap Ririn.


Arya, Nathan, ayah dan kakek yang mendengar teriakan Iren langsung mengalihkan perhatian mereka ke arah Iren dan Ririn.


"Hehehe tidak apa apa.." jawab Ririn dengan sentum kikuknya.


"Sssttt apa apaan si Ren.. Ember dehh" gerutu Ririn.


"Abis loe di masa lajangnya tontonannya kaya begituan" jawab Iren memamerkan deretan giginya.


"Hehehe biar tau Iren, biar ga polos polos banget" jawab Ririn.


"Jangan jangan loe dah praktek lagi" goda Iren.


Plakkkk..


"awww sakit Ririn" kata Iren menusap lengannya yang di pukul Ririn.


"Abis loe asal aja. Gue baru nonton belum praktek.. Masih segel" jawab Ririn berbisik.


"Hati hati sakit hahahaha" goda Iren lagi.


Hingga tengah malam mereka menikmati kebersamaan itu meski kakek sudah sejak tadi kembali kekamarnya untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2