
"Nathan... Tunggu pembalasan gue Than.. Gara gara loe, gue yang mendapatkan akibatnya.. Dan gara gara loe gue kehilangan Iren.. Tidak akan lama lagi, Iren akan benar benar menjadi milik gue" kata Peter yang masih terus mengamati mobil Nathan dari kejauhan.
Dan saat itu juga Nathan merasakan kehadiran Peter. Perasaan Nathan menjadi cemas.
"Ar... Ar.." Nathan membangunkan Arya.
"Eemmm dah nyampe???" tanya Arya yang terkejut dibangunkan Nathan.
"Maaf maaf gue bangunin loe.." kata Nathan.
"Ada apa Than??" tanya Arya.
"Loe merasakan sesuatu ga???" tanya Nathan.
Sesaat Arya terdiam, mencari tau apa maksud dari Nathan.
"Klan tiger??? Siapa dia?" tanya Arya.
"Peter.. Ingat yang waktu itu datang bersama Iren?" Nathan mencoba mengingatkan..
"Sebentar..." Arya mencoba mengingat ingat.
"Iya gue ingat.." jawab Arya.
Lalu Nathan menceritakan kejadian yang menimpa Iren ke Arya.
"Waktu itu untung gue datang tepat waktu.. Bisa loe bayangin seandainya gue ga dateng" kata Nathan..
"Berarti kalian berdua sudah memiliki ikatan batin yang kuat Than... Tapi loe juga jangan biarin Peter kembali mendekati Iren. Gue yakin dia akan balas dendam atas kejadian itu" jawab Arya.
"Untuk saat ini ayah masih bantuin gue dengan memantau di sekitar keluarga Iren dan Iren, Ar.. Karena mereka mengincar keluarga Iren jugakan sebagai bentuk ancaman" kata Nathan.
"Loe tau, bokap gue meninggal gara gara Yosep. Papa di jebak, papa di beri kabar mama kecelekaan. Padahal mama sedang berada di rumah nenek. Papa tidak berfikir panjang, lalu pergi menuju lokasi. Ternyata Yosep sudah mengepung papa. Dan disitulah mereka menghabisi papa" Arya menceritakan kisahnya.
"Gue turut berduka ya Ar.. Loe dah punya kita. Tapi maaf gue masih belum bisa menerima kakek" kata Nathan sedih.
"Thanks brother.. Gue tau perasaan loe Than.. Tapi gue bisa menjamin, kakek sayang sama kalian. Meski dulu kakek pernah melakukan kesalahan.." jawab Arya.
"Iya gue paham.. Hanya hati gue belum bisa sepenuh menerima kakek" kata Nathan lagi.
"Sekarang apa rencana loe soal Peter" tanya Arya.
"Selama dia tidak melakukan apapun, gue bakal diem.. Tapi jika dia membuat ulah lagi, kesempatan kemarin adalah kesempatan terakhir dia hidup di dunia ini.." jawab Nathan.
"Ok.. Kita pantau sama sama.. Gue juga akan membalas kematian papa ke Yosep.." kata Arya serius..
"Kita jalan beriringan Ar.. Kita memiliki satu tujuan" jawab Nathan.
Tidak lama kemudian mereka tiba di rumah Nathan.. Saat mereka turun dari mobil. Tidak lama terlihat mobil Iren pun tiba.
"Ren.. Ren.. Pacar loe tuuhhh.. Cieeee yang di apelinn" goda Ririn.
"Apa sii Rin" kata Iren malu malu.
Iren dan Ririn pun turun dari mobil.
"Haiii Than, mas Arya.. Dah lama nyampe..?" tanya Iren.
"Belum kok, baru aja nyampe.." jawab Nathan.
"Ren.. Rumah loe asik juga nihhh. Seger.." kata Arya.
"Ademm kan mas.. Makanya gue juga betah di sini hehehe" sambung Ririn.
"Ohhh ya Ren, aku beliin beberapa bahan buat bakar bakaran.. Nanti ga usah masak ya.. Malam kita bakar bakaran lagi aja.." ajak Nathan..
"Waahhh bolehh tuuhhh, sini gue bantuin.." jawab Ririn.
Nathan pun membuka bagian belakang mobilnya, terlihat banyak belanjaan di sana..
"Waahhh paket komplit niihhh" kata Ririn mulai membawa beberapa belanjaan di ikuti Arya.
Mereka berempat pun masuk ke rumah Nathan dan disambut oleh bi Marni.
__ADS_1
"Waahh mas Nathan tooo... Sini sini mas mba, biar bibi aja yang bawa.." kata bia Marni.
"Biar saya bawain.. Berat.. Mau di taruh mana bi?" kata Arya.
"Ohhh di belakang aja mas..mmm???" tanya bi Marni dengan raut wajah bingung.
"Arya bi" jawab Arya sopan.
"Ohh ya mas Arya mari. Mba Ririn keberatan ga.. Sini bibi bantuin" jawab bi Marni.
"Oohh egak kok bii.. Ayoo bi.." kata Ririn.
Setelah meletakkan belanjaan di dapur, Arya kembali ke ruang tamu.
"Bi, nanti ga usah masak.. Nathan ngajakin bakar bakaran lagi.. Nanti bibi gabung ya.." ajak Ririn.
"Ga ahh non.. Nanti bibi ganggu kalian" jawab bi Marni.
"Gapapa bi.. Bibi gabung aja ya.." kata Iren tiba tiba..
"Tapi non.. Bibi ga enak.." jawab bi Marni..
"Gapapa bi, percaya deh.." kata Iren yang menyiapkan beberapa buah mangga untuk di jus.
"Ren, gue ke kamar dulu ya" pamit Ririn.
"Iya.." jawab Iren.
"Non, non bersih bersih aja dulu.. Biar bibi yang buat" kata bi Marni merebut pisau di tangan Iren.
"Ohh ya udah.. Tolong ya bi.. Belanjaan biar nanti aja beres beres nya" kata Iren sambil memasukkan beberapa jenis seafood dan daging ke freezer
"Than, mas Arya.. Aku tinggal dulu ya ke kamar sebentar. Kalau mau istirahat ke kamar aja.. Nathan dah tau tempatnya.. Di sini pokoknya jangan sungkan.. Anggap rumah sendiri.. Butuh apa apa ada bi Marni." kata Iren.
"Iya Ren.. Tenang aja.." jawab Arya.
Tidak lama kemudian bi Marni keluar dari dapur dengan tangan membawa seteko jus mangga dengan dua buah gelas dan beberapa makanan ringan menuju rumah keluarga di mana ada Nathan dan Arya.
"Mari lho mas, jangan sungkan.. mumpung masih dingin.." kata bi Marni.
"Ga kok mas.. Kan udah tugas bibi.. Bibi tinggal ke dapur dulu ya.. Kalau ada apa apa panggil bibi aja.. Mas Nathan ya, jangan sungkan lohh" kata bi Marni ramah.
"Iya bi.. terimakasih.." jawab nathan dan Arya bersamaan.
Bi Marni kembali ke dapur, sedangkan Nathan duduk santai di ruang keluarga bersantai sambil menunggu Iren dan Ririn.
#####
Malam harinya, mereka sudah bersiap siap menyiapkan acara mereka. Bi Marni sudah menyiapkan sambel trasi handalannya juga tidak lupa membeli pete juga lalapan sebagai pelengkap.
"Wuiihhh bi.. Komplit amat ini.. Kaya di warung lamongan.." kata Ririn.
"Pasti manteb non.. Apa lagi nanti petenya juga ikut di bakar, cocol pake sambil ini sama lalapannya.. Ga kalah deh sama ikan lautnya" jawab bi Marni.
"Waahhh bi.. Tau betuk kesukaan aku.." sambung Arya.
"Mas Arya suka sama pete??" tanya bi Marni.
"Suka bi, makanan paling yahut ini hahaha" jawab Arya.
Yang lain pun ikut tertawa..
"Non.. Buat bakarnya udah siap??" tanya bi Marni.
"Udah bi.." jawab Iren yang mulai mengolesi mentega.
Bi Marni pun mendekati Iren, dan mulai membantu Iren membakar beberapa seafood dan yang lainnya. Sedangkan Ririn mulai membuat minuman untuk mereka di dapur.
Mereka menikmati malam itu dengan penuh canda tawa. Nathan yang selalu tidak lupa membawa gitarnya pun terus memainkannya. Sesekali dia memainkan lagi romantis untuk Iren yang menimbulkan ledekan untuk mereka berdua.
Malam semakin larut, perut mereka pun sudah cukup terisi. Mereka mulai membereskan sisa sisanya.
"Ren.. Nanti bisa kita bicara berdua??" bisik Nathan..
__ADS_1
"Sekarang??" tanya Iren.
"Nanti, tunggu mereka pada tidur dulu.. Ada yang harus aku omongin.." kata Nathan lagi.
"Ohh ya udah, aku beresin ini dulu.. Biar besok bisa nyantai." kata Iren lagi.
"Sini aku bantuin." tawar Nathan.
"Ren, gue ke kamar dulu gapapa ya.." pamit Ririn setelah membereskan beberapa peralatan..
"Iya gapapa" jawab Iren yang di tangannya masih memegang piring dan gelas kotor.
Nathan dan Arya membereskan sisanya.. Setelah selesai Arya memilih ke kamar, karena dia tau Natham memiliki rencana untuk Iren.
"Than, gue ke kamar ya. Good luck.." kata Arya sambil senyam senyum.
"Ok mas bro.." balas Nathan.
Nathan menuju ke dapur, dilihatnya Iren sedang sibuk mencuci perkakas yang tadi mereka gunakan.
"Capek ya??" tanya Nathan tiba tiba.
"Haaahh Astagaa.. Iisahhh ngagetin aja si.." kata Iren reflek menyiprati Nathan dengan air di tangannya.
"Hahaha maaf maaf.. Abis kamu fokus banget nyuci nya.." kata Nathan.
"Maaf ya jadi basah.." jawab Iren.
"Gapapa dikit kok.." kata Nathan lagi.
Tidak lama kemudian Iren sudah selesai membereskan..
"Sudah??" tanya Nathan.
"Sudah.." jawab Iren.
"Capek ga?? Kalau capek, kamu istirahat aja.." kata Nathan.
"Tadi katanya mau ngomong.." tanya Iren.
"Ya udah yukk ikut aku" Nathan menggandeng tangan Iren.
Iren hanya mengikuti ke mana Nathan pergi. Nathan mengajak Iren ke taman belakang rumah Iren, di dekat kebun. Malam itu kebetulan sedang bulan purnama. Suasana tampak sunyi dan dingin.
"Kenapa kesini Than??" tanya Iren.
"Kamu takut??" tanya balik Nathan.
"Emmmm" Iren ragu mau jawab.
"Iren.. Kamu belum percaya sama aku??" kata Nathan menatap lekat wajah Iren.
Iren hanya menundukkan kepalanya sambil memainkan kedua tangannya yang saling bertautan.
"Ren.. Lihat aku" Nathan memegang dagu Iren agar menatap ke arah dirinya.
"Lihat aku, pernahkan aku mencoba tidak sopan sama kamu?? Pernahkah aku membuatmu kecewa?? Jika iya maafkan aku.. Asal kau tau Ren.. Di sini dan di sini selalu hanya ada kamu.." kata Nathan sambil menunjuk ke kepala dan dadanya.
Iren hanya diam menatap Nathan lekat.
"Aku sudah berjanji kepada diriku sendiri, untuk selalu menjagamu. Akan selalu menyayangimu. Aku tulus. Dan maafkan aku, aku pernah membuatmu kecewa." kata Nathan lagi.
"Iren.." Nathan mengeluarkan sebuah cincin daru saku tangannya.
"Maukah kamu jadi teman hidupku?? Menemani setiap langkahku. Menikmati sisa hidupmu bersamaku??" Nathan memegang tangan kanan Iren.
**trima enggak.. trima enggak..
kira kira di terima atau enggak ya.. 😁😁😁
terimakasih dah selalu setia pentengin PHP.
terimakasih juga sudah tinggalkan jejak buat author.. ❤❤❤
__ADS_1
jangan dilupain juga like sama komentnya ya 😊😊😊
semoga ga bosen sama ceritanya ☺☺☺**