Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
sebuah perasaan


__ADS_3

Sore hari, untuk keakraban mereka mengadakan beberapa perlombaan..


Salah satunya tarik tambang yang diikuti oleh Iren dan Nathan..


Mereka berdua dan keempat teman lainnya melawan kelas sebelah..


Cindy melihat posisi Nathan berdekatan dengan Iren, kembali merasa marah dan maju kedepan..


"Heeehhh loe sini gue gantiin" Cindy menoel salah satu teman perempuannya untuk menyingkir, dan posisinya berada di depan Nathan sedangkan Iren di belakang Nathan..


"Ok siaaappp, kita hitung bersama sama, saatuuu, duuaaa, tigaaaaa prittttt" wasit memberi aba aba.


Dua kelompok saling beradu kekuatan menarik tambang nya, mereka saling menarik dan saling memberi semangat satu tim mereka.


"Tariiikkkk...tariiikkkk" tim lawan..


"Teruuussss tarikkkk" tim Nathan..


Mereka semua mengerahkan seluruh tenaganya.. Hingga akhirnya tim lawan mulai kualahan menahan tarikan dari Nathan..


Dan disaat itu juga Cindy berfikir bahwa jika dia menjatuhkan dirinya kembali agar bisa dipeluk oleh Nathan pikirnya karena tidak mungkin Nathan bisa menghindar.


Nathan pun kembali bisa membaca pikiran Cindy dan dia tersenyum sinis.


"Priiiiitttt" peluit wasit berbunyi panjang.


Di saat bersamaan tim Nathan berhasil menarik tambangnya dan membuat tim lawan kalah.


Karena menariknya terlalu kuat hampir semua terjatuh dan ini kesempatan yang diambil Cindy menjatuhkan tubuhnya agar mengenai Nathan..


Namun Nathan sigap mundur kebelakang yang mengakibatkan dirinya menabrak Iren, Iren yang posisinya memang tidak seimbang akhirnya dia jatuh dan dengan cepat malah tangannya di pegang Nathan sedangkan Cindy.


Gedebugghhhh


Cindy terjatuh dengan bokong yang mendarat terlebih dahulu.


"Awwwww" jerit Cindy mengusap usap bokongnya..


Tangan Nathan menarik Iren hingga kembali berdiri dan tatapan mereka berdua menyatu, ada desiran halus yang di rasakan Iren dan reflek tangannya memegang dadanya dengan nafas yang memburu.


"kamu tidak apa apa Ren? Ada yang sakit?" tanya Nathan khawatir dengan Iren memegang dadanya karena memang dia tidak sedikit pun mampu membaca Iren.


Iren hanya menggelengkan kepala dan lari pergi meninggalkan arena.


Cindy yang melihat itu semakin geram, kenapa lagi lagi Iren pikirnya..


"Ishhhh siaall, awas kamu Iren" Cindy memukul tanah dan Nathan menyadari itu.


Iren berlari menunu kelasnya dan di ikuti oleh Ririn.


"Ren, tunggu.. Loe kenapa?" panggil Ririn mengejar Iren.

__ADS_1


"Huuh..huuhh..huuhhh jantung gue Rin, jantung gue huuuhh nafas gue huuhh" Iren ngos ngosan.


"Tenang Ren, tenang.. Loe tarik nafaaassss, hembuusskaannn, tarikk lagiii hembussskann" Ririn mengarahkan sambil menaik turunkan tangannya.


"Udah.." kata Iren sambil mengambil air minum di tasnya.


"Loe kenapa?" tanya Ririn lagi.


"Jantung gue Rin bisa kenceng banget kaya orang maraton, nafas gue tiba tiba sesek pas Nathan nolongin gue barusan" kata Iren.


"Bhahahaahahah loe jatuh cinta Ren sama manusia balok es itu?" Ririn menertawakan Iren.


"Iiihhh apaan si loe... Gue ga tau, pokoknya itu yang gue rasain" jawab Iren.


"Udah sejak kapan?" tanya Ririn.


"Apanya?" Iren bingung.


"Elaahhhh ya yang loe rasain seperti barusan.." Ririn gregetan.


"Ntah" jawab Iren.


"Hmmmm kayaknya emang loe beneran jatuh cinta deh sama dia Ren, dan gue lihat dia juga suka sama loe nyatanya dia baik cuma sama loe doang" kata Ririn panjang lebar.


Nathan pun tidak sengaja mendengar obrolan mereka berdua di balik pintu kelas.


Niat hati dia ingin melihat kondisi Iren, dia malah mendengar obrolan itu dan dia tersenyum.


☘☘☘☘☘


Seluruh acara berjalan dengan lancar dan semua tampak menikmati.


Selain untuk menggelar serah terima, acara ini berfungsi untuk saling mengakrabkan anggota BEM baru dan lama juga kepada mahasiswa yang lainnya meski hanya perwakilan dari setiap kelas atau jurusan.


Pagi harinya, Iren memilih langsung kembali ke kostan karena ingin beristirahat.


Begitupun yang lainnya.


Setibanya di rumah, Nathan langsung menuju ke kamarnya.


"Kamu udah pulang nak?" sapa sang bunda.


"Eehhh bundaa, udah bun.. Ayah mana?" tanya Nathan..


"Ada lagi di ruang kerja. Bunda siapin sarapan ya lalu kamu istirahat" kata bunda lembut.


"Baik bunda muachhh" Nathan mencium pipi bunda nya.


Dia memang sangat menyayangi sang bunda, terlebih saat kejadian waktu itu cukup membuatnya terpukul dan semakin menyayangi bunda nya dan akan melindunginya.


Nathan berjalan mencari sang ayah.

__ADS_1


Tok..tok..tok..


"Masukk" kata ayah..


"Ayah.."panggil Nathan dengan kepala melongok.


"Ehhh anak ayah, sini masuk.. Ada apa?" kata ayah bangkit dari meja kerjanya dan duduk di sofa.


"Hemmm ayah, pasti dah paham kan?.."ucap pelan Nathan.


"Nak... Ayah tidak pernah meragukan kamu.. Tapi kamu mesti ingat perjuangan ayahmu melindungi kalian berdua.. Apa kamu akan sanggup?? Dan ayah hanya berharap kamu bisa menyimpan identitas kita baik baik dari manusia biasa kamu paham kan nak?" kata Ayah sambil menatap Nathan.


"Nathan yakin dengan Iren yah, namun Nathan juga belum sepenuhnya yakin terhadap Iren dengan identitas ku" Nathan tampak murung.


"Nak, dulu ayah juga begitu waktu mengenal bunda mu. Namun Iren juga tidak bisa di samakan dengan bunda.. Kamu cari tahu dulu bagaimana Iren" ayah menasihati.


"Selama ini si Iren baik pa sama aku, dia juga tidak mudah akrab dengan orang lain. Dia lebih suka menghabiskan waktunya di kost sekalipun jalan hanya berdua dengan Ririn. Nathan sudah mengamati dia yah dari awal Nathan kenal dengan dia.. Dia gadis yang berbeda, bahkan Nathan tidak bisa membacanya tidak seperti orang orang lain.." Nathan menjelaskan.


Ayah Nathan hanya mengangguk agukkan kepalanya mendengarkan penjelasan sang putra.


"Sespesial apa si dia, hingga seorang Nathan mampu melakukan itu" ayah Nathan menggoda Nathan.


"Ayahhh, Nathan serius yah.. Ohhh ya ayah.. Kemarin anak buah kakek ada yang ingin menangkap aku" kata Nathan.


"Iya, ayah juga tau.. Coba lihat lengan kamu" kata Ayah.


Nathan memperlihatkan bekas cakarannya..


Di usapnya lengan Nathan, dan bekas itu pun berangsur hilang.


"Ayah tahu kakek mengirimkan siapa, dari bekas cakarannya sepertinya kakek sudah tau seperti apa kamu hingga beliau mengirim orang tertangguhnya" kata ayah.


"Bagaimana ayah tau?" Nathan merasa heran.


"Suatu saat nanti akan ayah ajari kamu, yang pasti sekarang kamu pergi mandi lalu sarapan. Kamu bau banget" kata ayah mendorong Nathan sambil menutup hidung.


"Isshhhh ayah ni, serius juga" Nathan kesal dengan candaan ayahnya dan pergi keluar ruang kerja ayahnya.


Setelah membersihkan badannya, Nathan kembali menuju ke meja makan.


"Bundaaaa, hari ini masak apa bun?" tanya Nathan.


"Hmmm bunda masakin ayam panggang kesukaanmu" kata bunda Nathan sambil mengambilkan nasi untuk Nathan.


"Wahhhhh ada lalapannya juga.. Makasihhh ya bunda" Nathan meraih piringnya dan mengisi beberapa lalapan dan ayam panggang.


Nathan melahap habis isi piringanya, setelah makan dia menghampiri sang bunda.


"Bun... Nathan istirahat dulu ya.. Ngantuk" kata Nathan.


"Ya udah sana, bunda mau ke ayah" jawab bunda Nathan.

__ADS_1


"Muachhhh" Nathan mencium pipi bunda nya.


Nathan langsung menuju kamarnya dan langsung merebahkan badannya, karena terlalu lelah tidak butuh waktu bagi dia untuk masuk ke alam mimpi.


__ADS_2