Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
tanda tanda


__ADS_3

Waktu terus berjalan, tanpa di terasa liburan semester telah tiba. Iren, Nathan, Arya dan ayah sibuk mempersiapkan segala sesuatunya untuk acara lamaran Arya dengan Ririn.


Sedangkan Ririn sudah sejak beberapa hari yang lalu kembali pulang ke kampung halamannya.


Di rumah Ririnpun tak kalah sibuknya mempersiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kedatangan calon besan.


"Nduk, Tak terasa kamu sudah beranjak dewasa nak. Sebelum semua terjadi, ibu mau tanya sama kamu. Apa kamu sudah siap untuk membina rumah tangga?" tanya Bu Reni.


"Bu, Ririn sudah siap. Bukankah di agama kita tidak baik jika menundanya. Nanti takut akan menjadi fitnah. Terlebih Ririn tinggal sendiri di sana." jawab Ririn.


"Ayah setuju nduk. Yang terpenting kamu sudah tau bagaimana sifat calon kamu. Kalian sama sama bisa menerima kekurangan dan kelebihan masing masing" sambung pak Faisal.


"Ririn hanya sebatas kenal biasa ayah ibu, tapi Ririn yakin dia lelaki yang bertanggung jawab" jawab Ririn.


"Apakah yang waktu itu bertemu di rumah sakit nduk?" tanya bu Reni.


"Iya bu." jawab Ririn.


"Ya wis, kamu sekarang istirahat. Biar besok fresh buat menyambut calon suami kamu." kata pak Faisal.


"Njih Yah" jawab Ririn.


#####


Waktupun terus berjalan, haripun berganti. Pagi pagi sekali Arya dan sekeluarga sudah meninggalkan rumah kakek menuju ke kampung halaman Ririn.


Ririnpun sudah mengirimkan lokasi rumahnya ke Iren, sehingga mereka hanya tinggal memgikuti arahan dari aplikasi yang ada di ponsel.


Kurang lebih mereka akan menghabiskan waktu selama 8jam lebih hingga tiba di tempat tujuan.


Merekapun sudah memesan kamar hotel untuk mereka istirahat sejenak sebelum acara lamaran dimulai habis Isya waktu setempat.


Perjalanan mereka cukup menyenangkan, karena mereka melewati beberapa tempat yang memiliki wilayah yang cukup sedap untuk dipandang.


Namun tidak untuk Iren, yang sejak kemaren entah mengapa tiba tiba badamnya merasa lemas dan terkadang merasa pusing hingga lemas.


Nathan sudah memperingatkan jika lebih baik kali ini mereka tidak ikut mengingat perjalanan yang cukup jauh. Namun Iren bersikeras untuk tetap ikut mengingat ini acara penting untuk sahabatnya.


Irenpun berfikiran dirinya hanya kelelahan karena akhir akhir ini dia kurang istirahat. Selain mengejar target proyek, dirinya juga mengikuti tes semesteran belum dirinya juga ikut menyiapkan untuk lamaran Ririn dan Arya.


"Heghhh... Heghh.." Iren tiba tiba merasa mual.


Nathanpun segera menoleh ke arah sang istri karena merasa tangannya diremas oleh Iren.


"Yank.. Kamu gapapa? Yah.. Yah.. Tolong menepi dulu, Iren sepertinya mual" pinta Nathan yang melihat Iren terus menutupi mulutnya.


Setelah mobil berhenti sempurna, Iren bergehas keluar dari mobil dan dia memilih untuk berjongkok. Seketika itu juga dia langsung mengeluarkan seluruh isi perutnya.


Melihat itu, Nathan bergegas turun dari mobil dan memijit tengkuk dari Iren. Bundapun ikut turun sambil membawakan air mineral tidak lupa minyak angin.


"Hoek... Hoek.. Yang.. Heghhh... Ka.. Kamu minggir" kata Iren di sela sela rasa mualnya.


"Ga papa yank, aku bantu.." kata Nathan yang terus memijit tengkuk Iren.


"Haaahhh sudah yank.. Tapi kamu minggir" kata Iren.


"Ini kumur dulu nak, baru minum" kata bunda menyerahkan air mineral.


Kakek dan Aryapun ikut turun dari mobil yang berbeda dengan mobil yang NNathan tumpangi.


Nathan mengambil minyak angin dari tangan bunda dan akan mendekati Iren.

__ADS_1


"Stop!!!" cegah Iren.


"Kamu jangan dekat dekat..!!" kata Iren lagi.


"Kenapa?" tanya Nathan bingung.


"Pokoknya jangan dekat dekat. Kamu lebih baik pindah mobil. Kamu ikut Arya dan kakek aja" kata Iren.


"Iya tapi kenapa? Kamu marah sama aku?" tanya Nathan bingung.


Iren menggelengkan kepala "Tapi aku deket deket kamu malah mual. Kamu bau" kata Iren cemberut.


Nathanpun membaui tubuhnya sendiri.


"Tapi aku ga bau sayang, aku masih wangi. Apalagi parfum yang aku pake dari kamu yang beliin." kata Nathan.


Bunda yang tau pun menepuk pundak Nathan.


"Sudah turutin aja dulu kata istri kamu. Nanti setelah sampai di Jogja kamu bawa istri kamu periksa minta tolong Ririn" kata Bunda.


"Tapi bunda, Iren ga sakit bunda" protes Iren.


"Sudah, nurut saja kata bunda. Hari sudah semakin siang. Nanti takut sampai sana kemalaman, ini belum ada separuh jalan." kata bunda.


Dengan terpaksapun Nathan pindah mobil bersama Arya dan kakek. Sedangkan Iren satu mobil dengan sang bunda dan ayah.


"Ayah nyopir sendiri gapapa ya.. Bunda nemenin Iren di belakang" kata bunda.


"Ahhh bunda jangan. Iren ingin sendiri di belakang. Bunda temenin ayah aja di depan Iren gapapa." sahut Iren.


"Kamu yakin nak?" tanya bunda.


"Iya bun, Iren yakin. Iren sudah yakin. Sekarang Iren hanya merasa ngantuk aja" jawab Iren.


"Baik bunda" jawab Iren masuk kedalam mobil.


Setelah semua kembali ke mobil masing masing perjalanan merekapun melanjutkan perjalanan mereka.


Irenpun terlihat tertidur dibangku belakang dengan merebahkan dirinya. Bunda yang sesekali menoleh kebelakang pun hanya tersenyum melihat menantunya itu.


"Yah, sepertinya kita akan memiliki cucu" kata bunda.


Ayahpin menoleh. "maksud bunda Iren hamil?" tanya ayah kembali fokus kedepan.


"Itu baru tebakan bunda yah. Mudah mudahan saja ya yah" jawab bunda dengan wajah berseri seri.


"Mudah mudahan ya bun. Cucu perdana kita segera hadir" jawab ayah tersenyum.


"Amin" jawab bunda mengamini.


#####


Selama perjalanan Iren hanya tertidur, hingga tiba di pengisian bahan bakar tempat peristirahatan mereka yang pertama.


Karena hari sudah beranjak siang, mereka memilih beristirahat di sana sejenak hanya untuk mengisi perut juga mengisi bahan bakar.


"Nak.. Bangun.." kata bunda membangunkan Iren.


"eghmmmm... Udah sampai bun?" tanya Iren dengan suara seraknya khas bangun tidur.


"Belum, masoh beberapa jam lagi kita sampai. Kita istirahat duli sejenak ya. Makan siang dulu" jawab bunda.

__ADS_1


Irenpun bangun dan duduk, melihat sekelikingnya. Dan saat matanya berkeliling, dia melihat warung bakso.


"Bund, Iren ingin makan bakso" kata Iren.


"Wah boleh juga.. Yukm kita makan bakso. Kita ajak yang lainnya ya" kata binda.


Iren hanya mengangguk, sejenak sebelum dia keluar dari mobil. Doa merapihkan rambut dan bajunya yang acak acakkan.


Setelah itu dia keluar dari mobil dan menghampiri sang bunda. Nathan yang baru turun dan melihat sang istripun mendekatinya.


"Yank.." panggil Nathan.


Iren menoleh dan tersenyum.


"Kamu sudah lebih baik?" tanya Nathan.


"Sudah.. Aku ingin makan bakso" kata Iren.


"Ya udah yuk kita kesana" ajak Bunda.


Merekapun menuju ke warung bakso di mana Iren tunjuk. Setelah memesannya, Iren bergegas meracik baksonya. Dia memasukkan kecap, sambal, saus dan tidak lupa sedikit cuka.


Irenpun memakan bakso itu dengan lagap, bahkan dia sempat meminta tambah dua mangkok lagi dengan memaruh lebih banyak sambal.


Nathan yang melihat itupun merasa heran. Tidak seperti biasanya Iren memkana sebanyak itu. Jika sebelum sebelumnya Iren lebih sering tidak habis jika makan satu mangkkk dan tidak terlalu pedas. Saat ini dengan heran Iren melahap dengan nikmatnua hingga tiga mangkok bakso dengan rasa pedas karena kuah yang terlihat merah kental.


"Yank.. Apa kamu ga kekenyangan? Apa lagi sambalnya terlalu banyak itu. Nanti perut kamu sakit loh" tegur Nathan.


"Ini enak sekali yank.. Ini ga pedas tau.. Cobain deh, ini enak sekali, benar, cobain dehh" kata iren menyuapi sang suami.


Uhuk... Uhk... Uhuk..


Nathan langsung terbatuk batuk mencicipi bakso milik Iren yang ternyata sangat pedas.


"hhuaahhhh ini terlalu pedas sayank.. Udah jangan dihabisin. Perut kamu nanti sakit" kata Nathan yang ingin mengambil mangkok terakhir milik Iren.


"Iiihhh jangan, ini belum habis" cegah iren.


"Ganti yang bari ya, ini terlalu pedas yank" rayu Nathan.


"Ga mau!!! Aku maunya yang ini!" sungut Iren.


"Than, sudahlah.." tegur bunda.


"Tapi bun...." protes Nathan.


"Susah gapapa, ini hal umum untuk kehamilan muda" jawab bunda.


"uhuk... Uhuk... Uhuk... Maksud bunda?" tanya Nathan terkejut.


"Ya, kemungkinan Iren sedang hamil" jawab bunda.


Iren yang mendengar itu langsung terdiam dam reflek tangannya mengusap perutnya.


"Bunda tau dari mana?" tanya Nathan.


"Iren, kapan kamu terakhir datang bulan?" tanya bunda.


"Eemmmmm harusnya si dua minggu yang lalu bun," jawab Iren sambil mengingat ingat.


"Naahhh benar.. Biar semakin pasti. Nanti kalian beli test pack diapotik ya. Setelah itu coba periksa ke dokter spesialis Obgyn ya" saran bunda.

__ADS_1


"Ok, nanti diperjalanan kita mampir ke apotik" kata Nathan bersemangat.


Merekapun kini meraskaan kebahagian yang berlipat lipat setelah kegembiraan Arya akan segera menikah. Tak akan lama lagi, anggota keluarga mereka akan kembali bertambah. Rasa syukur mereka rasakan, terutama untuk Iren dan Nathan yang merasa sangat bahagia karena akan segera menjadi orang tua. Sesuatu yang dinantikan sebagai pasangan suami istri.


__ADS_2