Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
jadi melow


__ADS_3

Tak berapa lama kemudian mereka telah sampai di pasar. Mereka berkeliling keliling mencari semua bahan bahan yang mereka perlukan. Tidak lupa Iren juga membeli beberapa macam buah buahan. Dalam beberapa kesempatan Nathan memotret Iren saat sedang asik berbelanja.. Namun tidak ketinggalan juga dia memotret suasana di pasar juga.


"Than, sejak kapan loe bawa bawa kamera?" tanya Ririn.


"Sejak tadilah" jawab Nathan sekenanya.


"Prasaan tadi gue ga lihat loe bawa kamera?" tanya Ririn.


"Prasaan loe aja kali.. Dari tadi gue dah bawa dari rumah. Kan gue sempet foto foto areal rumah Iren.. Trus kalian mau ke pasar, ya udah sekalian.. Jarang jarang kan kita foto foto di pasar" kata Nathan sambil kembali memotret mereka bertiga.


"Ini mau ada acara??" tanya Nathan yang melihat belanjaan mereka yang cukup banyak.


"Ega... Gue pengen bakar bakaran.. Rumah Iren luas halamannya enak buat bakar bakaran" kata Ririn.


"Bakar rumah??" kata Iren iseng.


"Emang mau rumah loe, gue bakar" jawab Ririn menggoda.


"Enak aja.. Rumah loe aja gapapa hehe" Iren tersenyum.


"Ohh ya bi, paman Rudi nanti malam ke sini ga?" tanya Iren ke bi Marni.


"Kurang tau deh neng.. Soalnya pak Rudi tuh jarang banget pulang.. Kalau ga ada neng, saya aja kerja hanya bersih bersih rumah 2 hari sekali neng" kata bi Marni..


"Oohh berarti rumah jarang di huni ya??" tanya Iren lagi..


"Iya neng, ya paling kalo pas ada rekan bisnis bapak aja yang terkadang memilih menginap di rumah.. Tapi mereka menempati kamar tamu.. Ga berani ke kamar tuan sama neng" kata bi Marni lagi.


"Emmm, nanti abis ini bantu Iren pindah kamar ya bi ke kamar papi mami.. Biar kamar itu Iren yang nempati... Jadi kamar Iren bisa di pake sama yang lain" kata Iren lagi.


"Ohhh baik neng siap.. Nanti bibi bantu" jawab bi Marni.


"Ya udah yukk bi pulang.. Udah cukup banyak.. Bibi nanti malam menginap kan??" kata Iren sambil berjalan keluar pasar.


"Menginap neng.. Kan ada neng Iren" jawab bi Marni tersenyum..


"Makasih ya bi, dah selalu merawat rumah Iren.. Bibi sana paman Rudi aja yang Iren punya di sini" kata Iren kembali berkaca kaca.


"Neng Iren jangan bilang gitu.. Bibi yang seharusnya berterima kasih sama orang tua neng.. Dulu anak anak bibi semua di sekolahin semua hingga mereka jadi sukses sekarang.. Bibi seneng ngurusin rumah neng ngurusin neng, neng sudah bibi anggap anak bibi sendiri. Meski tuan sudah pergi, tapi kebaikan tuan yang merubah keadaan bibi neng... Bibi bersukur sekali bisa kenal dengan keluarga neng sama pak Rudi" jawab bibi Marni berkaca kaca.


"Bibi..." kata Iren memeluk bi Marni sambil menangis.


Ririn dan Nathan hanya diam menyaksikan adegan di depannya. Ririn terharu melihat semua itu.. Dia tidak menyangka bahwa sahabatnya ini yang terlihat diam ternyata menyimpan sesuatu yang mungkin tidak akan sanggup dia hadapi jika mengalaminya. Nathan masih sempat memotret Iren yang tengah memeluk bi Marni.. Seperti seorang anak yang sedang memeluk ibunya..


"Dah yukk Ren, nanti kesorean.." Nathan mencoba mengalihkan.


"Ayok.." jawab Iren sambil mengusap air matanya.


"Ehhh kita naik dokar yukk.. Itu ada dokar.." kata Ririn mencairkan suasana.

__ADS_1


"Ahhh ayok... Dah lama gue ga naik dokar" kata Iren.


Disetiap momen Nathan selalu mengambil kesempatan untuk memotret, mengambil kenangan disetiap momennya..


Tidak butuh waktu lama mereka telah sampai kembali di rumah.. Iren, Ririn dan bi Marni menuju ke dapur di bantu Nathan membawakan beberpa barang belanjaannya.


"Gue ke kamar dulu ya" pamit Nathan.


"Ya udah.. Loe kalau mau istirahat lagi juga gapapa Rin" kata Iren.


"Ga ahh gue di sini aja" jawab Ririn.


Setelah membereskan semua belanjaannya Iren memilih bersantai di taman belakang rumahnya, di sana ada sebuah kolam kecil. Halaman rumahnya tampak sangat terawat. Semua rapi dan bersih.


Iren duduk di pinggiran kolam ikan, sambil sesekali melempar makanan ikan ke dalam kolam. Pikiran Iren melayang, dia terus teringat dengan mimpinya tadi.


Sreekk sreeekkk..


Hosshhhh hosssshhh..


Iren terkejut, dia tidak menyadari ada ular sangat dekat dengan kakinya.. Iren katakutan, dia bingung harus bagaimana.


"Tolooongggg.. Toolooongg... Nathan tolongggg!!!" teriak Iren sambil memejamkan matanya tanpa berani bergerak sedikit pun.


Nathan yang mendengar namanya di panggil, segera melongok dari balkon kamarnya.. Betapa terkejutnya Nathan melihat Iren dalam bahaya. Sekejap Nathan langsung saja terjun tanpa berpikir panjang.. Dengan sigap Nathan menolong Iren. Nathan langsung saja menggerakkan tangannya mengeluarkan cakarnya dan mengibasnya ke arah ular tersebut, dengan sekali kibasan ular itu mati lalu di buangnya.


"Dah gapapa, tenang ya.. Ularnya dah pergi.. Dah aman kok.." kata Nathan mengelus punggung Iren..


"Hiksss. Hikssss aku takut" kata Iren yang masih erat memeluk Nathan.


"Iren.. Lihatlah dah ga ada ularnya.." kata Nathan lagi yang merasakan tubuh Iren bergetar.


Sebenarnya Iren tidak hanya takut dengan ular tersebut, namun dia juga takut dengan mimpinya tadi. Iren terus saja terbayang bayang bagaimana besarnya harimau itu meski dalam mimpinya tidak menyakitinya tapi sosoknya tampak sangat jelas dan seperti nyata.


"Bukan...bukan ular itu... Tapi harimau putih itu aku takut Nathan.. Aku takut.." kata Iren keceplosan.


"Harimau putih??" kata Nathan melonggarkan pelukan Iren.


Nathan terkejut dengan kata kata Iren.. Karena setahu dia, harimau putih itu hanya keluarga besar ayahnya dan dirinya.. Dan tidak mungkin klan dari kakeknya begitu cerobohnya menampakkan dirinya di depan manusia biasa.


"Maksud kamu apa Iren?" tanya Nathan mencoba menatap Iren.


"Iren... Iren... Loe gapapa?" teriak Ririn dari arah depan berlari mendekat.


"Neng... Neng gapapa? Ada apa neng?" tanya bi Marni yang juga terlihat panik.


"Tadi ada ular bi, Rin.. Tapi dah gapapa kok.. Iren hanya terkejut tadi.." kata Nathan mewakili Iren yang masih sesenggukan.


"Trus mana ularnya?" kata Ririn clingak clinguk yang ikut takut juga.

__ADS_1


"Udah aku buang tadi.." jawab Nathan..


"Ayok neng masuk aja... Bibi buatin teh hangat.. Neng Ririn sama mas Nathan mau sekalian??" bi Marni menawarkan.


"Boleh bi, aku kopi ya" kata Nathan sambil membimbing Iren bangkit berdiri lalu memapahnya.


"Baik... Tunggu di ruang keluarga aja ya mas.. Bibi buatin aja dulu" kata bi Marni.


"Ya bi.." jawab Nathan.


Ririn dan Nathan perlahan membawa Iren masuk ke dalam rumah. Mereka dusuk bersama di ruang keluarga dengan Iren yang tiduran di sofa panjang dengan kepala di pangku oleh Ririn..


"Ren... Jangan melamun iihhh... Kita kesini kan mau liburan sejenak.. Belum juga sehari tapi kamu nangis mulu... Gue jadi ikut sedih tau Ren..." kata Ririn sambil mengelus kepala Iren.


"Maaf ya, gue jadi melow gini.. Gue kangen banget sama ortu.." kata Iren memberi alasan.


"Jangan sedih lagi dong kan ada kita kita... Loe ga sendirian kok..." kata Ririn.


"Benar Ren apa yang di katakan Ririn.. Jangan pernah merasa sendiri.. Jika ada sesuatu ceritakan kepadaku atau Ririn... Jangan disimpan sendiri ya.." sahut Nathan..


"Terimakasih ya.. Kalian dah mau peduli sama gue..." kata Iren duduk dan tersenyum..


"Gue cuci muka dulu ya.." kata Iren bangkit berdiri.


Tak lama kemudian bi Marni datang membawakan beberapa cemilan dan minuman hangat untuk mereka..


"Lohhh neng Iren kemana neng?" tanya bi Marni..


"Lagi cuci muka bi... Wahhh bi paket komplit nihh kayaknya... Makasihh ya.." jawab Ririn.


"Sama sama neng.. Bibi ke belakang dulu ya neng mas... Nyiapain buat nanti malam.. Bibi ga perlu masak kan ya?" kata bi Marbi.


"Ehhh ga perlu bi... Nanti malam bi Marni ikut kita ya... Kita bakar bakar bersama.." sahut Iren yang baru datang.


"Iya neng.. Nanti bibi ikut.. Bibi permisi dulu neng" kata bi Marni.


"Iya bi.. Makasihh ya" jawab Iren.


Mereka bertiga pun menikmati sore didepan televisi sambil sesekali mereka bercanda bersama. Bi Marni yang sedari tadi mengawasi mereka bertiga pun ikut bahagia melihat Iren kembali tersenyum.


**terimakasih sekali udah suport karya ku...


jangan lupa like dan komen ya...


biar authir tambah semangat..


melipir juga di karya pertama author CDDB (Cinta Dalan Dendam dan Benci)..


terimaksih sekali lagi β˜Ίβ˜Ίβ˜ΊπŸ™πŸ™πŸ™πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜**

__ADS_1


__ADS_2