Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
keluarga berkumpul


__ADS_3

Hari pun berganti, esok adalah hari yang ditunggu tunggu. Di rumah Iren sudah tampak mulai ramai. Iren sengaja meminta Rudi untuk memberikan kabar ke sanak saudaranya yang berada di luar kota. Meski mereka jarang bertemu, namun mereka masih sesekali bertukar kabar.


Jaraklah yang membuat mereka jarang untuk bertemu, hanya keluarga dari sang maminya yang masih mau berkenan untuk datang. Tidak dengan saudara papinya yang entah bagaimana kabarnya.


Meski begitu, Iren tetap merasa bersyukur setidaknya masih ada segelintir saudaranya yang masih mengingat dirinya.


"Tanteee..." panggil Iren.


"Ireennn... Ya Allah... Kamu cantikk sekali.." peluk Rosita.


"Tante bisa aja.." Iren malu malu dalam pelukan Rosita.


"Maafkan tante ya sayang, tante ga pernah jengukin kamu.." kata Rosita dengan penuh penyesalan.


"Gapapa tante.. Tante masih mau datang ke kesini aja Iren dah seneng" kata Iren berkaca kaca.


"Jangan nangis dong sayang.." Rosita menyeka air mata Iren.


"Ohh ya Sari, kenalin dong ini kakak kamu Iren.." Rosita mengenalkan Sari putrinya.


"Hallo kak.." sapa Sari.


"Haiii" balas Iren.


"Hubby, ini lohh keponakan aku yang selalu aku ceritain.." kata Rosita mengenalkan suaminya.


"Haiii Iren.." sapa Angga suami Rosita..


"Haii om.. Tante ini si unyu unyu siapa namanya" kata Iren memegang pipi putri kecil Rosita.


"Nama aku Reina kakak" jawab Rosita dengan suara di buat buat.


"Halloo emesss.. Ikut kakak yuukk" ajak Iren.


Reinapun mengulurkan tangannya saat Iren mengajaknya. Iren dengan lembut menggendong Reina yang sangat menggemaskan itu..


"Tante om, Sari, ayokk masuk.. Di dalam sudah ada budhe Tantri dah dateng dari semalem.. Kalo om Riyan nanti malem katanya baru sampe" kata Iren.


"Wahh budhe dah nyampe dulu to??" jawab Rosita.


"Iya, budhe lagi bantuin masak sama bi Marni.. Ohh ya tan, om kenalin ini Ririn teman Iren.." kata Iren saat Ririn menghampiri dirinya.


"Hallo tante om.." sapa Ririn.


"Hubby, aku nemuin kakak dulu ya.. Titip anak anak.." kata Rosita.


"Iya.. Ayokk Reina, sini ikut ayah.." ajak Riyan..


"Om di sini jangan sungkan ya, di halaman belakang ada pakdhe Faisal sama Alex dan Erin." kata Iren.


"Ya udah om ke sana dulu ya.." kata Riyan.


"Iya om.." jawab Iren.


"Waahhh Ren, ternyata keluarga loe banyak ya.." kata Ririn.


"Iya, sayang jarak membuat kami jarang untuk bisa bertemu. Di kota ini cuma gue. Andai keluarga papi ada, pasti akan semakin rame" jawab Iren..

__ADS_1


"Sabar ya Ren.. Yang terpenting masih ada mereka.. Dan juga gue. Apa lagi sekarang di tambah ayah, bunda dan Nathan." senyum Ririn.


"Makasih ya Rin, loe temen gue yang selalu ada buat gue.." kata Iren memeluk Ririn.


"Ren, bentar lagi gue bakal kesepian nihh.." kata Ririn.


"Maksdunya??" tanya Iren bingung merenggangkan pelukannya.


"Ya kan besok acara lamaran loe sama Nathan, otomatis ga lama lagi kalian married.. Gue ga ada temen dong.." jawab Ririn.


"Jangan gitu dong.. Meski kita ga bisa bareng bareng seperti sekarang ini, tapi kita masih bersama. Gue bakal jadiin loe sekertaris pribadi gue di perusahaan. Loe mau kan??" kata Iren.


"Jelas dong Ren.. Kapan lagi bisa langsung dapat jabatan sekertaris" kata Ririn.


"Ya udah yuuk kebelakang" ajak Iren.


"Ayok.." jawab Iren.


Iren dan Ririn berjalan ke dapur untuk bergabung dengan ang lainnya. Terdengar suara senda gurauan dari arah dapur. Tidak hanya tante dan budhe nya Iren saja yang berada di sana. Ada beberpa tetangga terdekat juga ikut datang hanya sekedar untuk membantu.


Iren duduk di antara Tantri dan Rosita, sedang Ririn bergabung dengan yang lain.


"Ren" panggil Tantri lirih.


"Ya budhe" jawab Iren.


"kamu minta mahar apa sama calon kamu??" tanya Tantri.


"Belum tau budhe, Iren masih bingung.." jawab Iren.


"Ren, kamu boleh meminta mahar apapun, asal jangan memberatkan calon kamu" kata Tantri.


"Tante dulu bagaimana??" tanya Iren.


"Kalau Tante dulu ya semampunya suami.. Tante ga menentukan apa aja yang tante mau, Ternyata suami tante ngasih emas, uang dan seprangkat alat sholat juga beberapa perlengkapan yang lain" jawab Rosita.


"Kalau budhe??" tanya Iren.


"Budhe sama aja kaya tantemu.." jawab Tantri.


"Kalau gitu, Iren juga ngikut kaya tante dan budhe aja" jawab Iren.


"Iren, sebenarnya yang terpenting bukan sebrapa banyak mahar atau mahalnya mahar.. Yang penting tanggung jawab kalian berdua setelah berumah tangga nanti. Bagaimana kalian melewati kehidupan bersama nantinya. Melewati masa masa sulit kalian nantinya. Karena sebuah pernikahan itu bukan tentang hanya semata mata saling mencintai dan memiliki saja.. Tapi bagaimana kalian bisa menerima kekurangan kalian masing masing, menyatukan dua sifat yang berbeda. Dan memulai membatasi kebebasan kalian ketika masih sendiri.. Pernikahan itu satu hal yang kompleks.. Kamu dan pasanganmu harus siap dengan segala perubahan dalam kehidupan kalian nantinya" kata Tantri panjang kali lebar..


"Doain Iren ya Budhe tante, agar Iren kelak bisa menjadi istri yang baik untuk Nathan.." kata Iren.


"Pasti dong sayang.." senyun Rosita.


#####


"Yah, ayah sudah memberi kabar untuk kakek belum??" tanya Nathan di ruang kerja sang ayah.


"Sudah, kakekmu nanti sore datang kemari" jawab ayah.


"Hmm baiklah kalau begitu.. Bunda kemana yah??" tanya Nathan..


"Ada di bawah, lagi mempersiapkan buat besok." jawab ayah.

__ADS_1


"Nathan ke bawah dulu ya yah" pamit Nathan.


"Baiklah." jawab ayah.


Nathan pun mencari sang bunda. Di rumah Nathan pun tidak kalah ramai dari rumah Iren. Di rumah Nathan juga sudah berkumpul keluarga besar sang bunda.


"San.. Itu Nathan??" tanya Berta.


"Iya kak, itu Nathan.." jawab Santi menoleh ke arah Nathan yang tengah menuruni anak tangga.


"Ternyata dah gagah begitu ya.. Ga menyangka dia dah mau menikah aja.. Terakhrlir ketemu dulu masih SMA kelas 2 kalau ga salah ya.." kata Berta.


"Iya kak.." senyum bunda sambil merangkai beberapa seserahan untuk Iren.


"Bunda... Bibi.." panggil Nathan.


"Hallo nak.." sapa Berta.


"Bibi kapan sampai??" tanya Nathan.


"Tadi pagi.." jawab Berta dengan tangan yang masih bekerja memasang beberapa hiasan.


"Lalu paman kemana Bi??" tanya Nathan.


"Itu dibelakang sama Arya juga Johan" jawab Nathan.


"Ya udah, Nathan kesana dulu ya bi.." pamit Nathan.


Berta hanya mengangguk. Nathan pun berjalan menuju ke halaman belakang rumahnya, di sana tampak 3 pria duduk sambil bercengkerama.


"San.. Kenapa buru buru si??" tanya Berta.


"Nathan yang mau kak.. Aku sebagai bundanya ya hanya menuruti saja.." jawab bunda.


"Bukan karena accident kan??" tanya Berta.


"Hussss.. Nathan bukan lelaki yang seperti itu kak. Dia sama kaya ayahnya, sangat bertanggung jawab dan dapat menjaga apa yang dia miliki." jawab bunda.


"Syukurlah kalau begitu.. Kamu tau sendiri anak jaman sekarang sudah terlalu bebas." kata Berta.


"Iya kak, awal mula Nathan memilih kost sendiri juga aku ada rasa khawatirnya.. Tapi ternyata Nathan bisa membuktikan kalau dia dapat menjaga kepercayaan kami kepada dia" jawab bunda.


"Lalu kapan rencana akad nikahnya?? Jangan terlalu lama" tanya Berta.


"Semalam aku sudah ngobrol sama Nathan dan mas Arthur. Kami sepakat bukan depan.. Tapi belum tau dari pihak Iren.." jawab bunda.


"Kalau aku setuju.. Jangan lama lama lah.. Ga bagus juga.." jawab Berta.


"Iya kak.." jawab Bunda.


#####


"Bos, saya mendapat info, besok mereka akan melamar gadis itu. Dan Alexander akan menghadiri acara tersebut.." kata Danu.


"Bagus... Kamu siapkan anak buah. Besok kamu pancing mereka dengan menculik si gadis.. Kalian tetap harus berhati hati, insting mereka kuat terutama Nathan.." kata Yosep memberi perintah.


"Baik bos.." jawab Danu langsung undur Ririn dari nada kan Yosep.

__ADS_1


"Alexander... Mungkin inilah waktunya gue musnahin loe.. Ga masalah gue ga bisa mendapatkan kembali wilayah yangnloe rebut.. Setidaknya nyawa di balas dengan nyawa" batin Yosep.


__ADS_2