
Di perjalanan, suasana tampak sepi. Tidak ada obrolan pada mereka berdua. Saat melihat ada plang pengesian bahan bakar, Nathan memilih berbelok untuk mengisi bahan bakar dahulu.
"Ren..." panggil Nathan setelah menyebutkan berapa banyak bahan bakar yang ingin dia isi pada petugasnya.
"Iya.." jawab Iren menoleh.
"Kenapa dari tadi diam aja?" tanya Nathan.
"Gapapa, hanya seperti merasa sepi aja setelah sejak kemarin aku mendapatkan kenyamanan dari orang tua kamu" jawab Iren jujur.
"Mereka juga orang tua kamu sekarang Iren" kata Nathan memegang tangan Iren.
"Makasih ya dah ngajak aku bertemu dengan orang tua kamu. Mereka bisa mengobati rasa rinduku kepada orang tua ku" Iren sedikit meneteskan air matanya.
"Ya udah, jangan nangis dong.. Sekarang kan kamu dah punya orang tua. Nanti sewaktu waktu kita bisa ketemu mereka lagi.. Ok.. Dah jangan nangis.. Nanti apa kata Ririn pas ketemu kamu dengan wajah sembab.. Di kira aku yang bikin kamu nangis lagi" ledek Nathan dengan senyuman manisnya.
"Bisa aja kamu Than.. Hmmm Than.. Nanti melipir dulu ya ke minimarket beli makanan gitu.. Laper nihh" kata Iren yang sudah sedikit lega perasaannya.
"Baik tuan putri.. Tolong ini kasih uang ini ke mbaknya" kata Nathan menyodorkan beberapa lembar uang.
Iren menerima uang itu dan langsung memberikan ke petugas.
"Trimaksih mba" ucap Iren dan petugasnya hanya tersenyum sambil membungkukan badannya.
Nathan melajukan mobilnya sedang, dan sesekali melirik ke arah Iren.
"Ren... Jangan diam dong.. Bicara apa gitu" kata Nathan.
"Haahhh... Mau bicara apaa sii ya.. Bingung akunya.. Kamu fokus nyopir aja deh Than" jawab Iren tersenyum.
"Ya udah deh.. Ehhh udah ngabarin Ririn?" tanya Nathan.
"Udah, dia lagi di kost nungguin.." jawab Iren.
Nathan membelokkan mobilnya dan memarkirkan di depan sebuah minimarket yang tidak jauh lagi dari kostan Iren.
"Mau ikut masuk apa tunggu di sini?" tanya Iren.
__ADS_1
"Hmmm ikut... Aku juga mau nyari keperluan yang lain" jawab Nathan.
Mereka berdua beriringan memasuki minimarket itu..
Bugh...
"Awww" kata gadis yang tanpa disengaja disenggol Nathan.
"Eehhhh maaf maaf.. Saya kurang memperhatikan jalan" kata Nathan yang reflek membantu memunguti belanjaan gadis itu.
"Nathan..." panggil lirih Putri.
"Putri.." kata Nathan tercengang yang heran bertemu dengan Putri teman Nathan.
"Loe di sini?" tanya Putri tersenyum senang bisa bertemu dengan Nathan lagi.
"Iya, gue tinggal tak jauh dari sini" jawab Nathan berubah dingin.
Iren yang masih belum sadar Nathan berhenti berjalan di belakangnya, dia terus berjalan dan berbicara sendiri sambil matanya fokus melihat lihat barang barang yang tepajang di sana.
"Than... Nathan.." Iren menyadari tidak ada tanggapan dari Nathan.
"Nathan..." panggil lirih Iren setelah berada di dekat Nathan.
"Ohh yaa Putri, ini kenalin pacar gue Iren. Dan sayang ini temen aku waktu masih di Jakarta" kata Nathan melingkarkan tangannya di pinggang Iren.
Iren dapat merasakan ketidak nyamanan Nathan dengan gadis di depannya saat ini. Dan akhirnya Iren pun mengikuti sandiwara Nathan meski hatinya cukup sakit karena ini hanya drama.
"Haiii, Iren.. Pacar Nathan" Iren mengulurkan tangannya ke Putri.
Putri memandangi Iren dari atas sampai ke bawah. Dan tidak membalas uluran tangan Iren.
"Ayuk yang, udah mulai siang.." ajak Nathan.
"Putri.. Gue duluan ya" pamit Nathan.
Putri hanya terdiam dengan wajah yang terlihat menahan cemburu. Dia yang hampir 2tahun mengejar Nathan, tapi gadis itu bisa menggaet Nathan hanya itungan bulan pikir Putri.
__ADS_1
"Apa bagusnya dia si ketimbang gue... Gue anak orang kaya.. Cantik juga iya.. Tapi kenapa Nathan terus nolak gue" batin Putri terus mengamati kepergian Nathan.
☘☘☘☘☘
"Ni anak mana si lama banget" gerutu Ririn yang sedari tadi menunggu Iren dan Nathan.
Ririn sedang menunggu Iren dan Nathan di teras kamarnya, dia terus mengamati ke arah jalan. Namun dia tiba tiba merasa curiga dengan seorang laki laki yang sedari tadi seperti terus mengamati ke arah kostan nya.
"Maaf mas, sedang mencari siapa atau apa?" tanya Ririn akhirnya mendekati laki laki itu.
"Minggir bukan urusan loe" kata laki laki itu mendorong Ririn.
"Ehhh mas, gue tanya baik baik ya. Jangan dorong dorong gitu. Yang sopan dong!" Ririn emosi.
"Diam loe, ini bukan urusan loe" kata laki laki itu.
"Jelas ini urusan gue.. Gue tinggal di sini.. Atau jangan jangan loe mau maling ya!!" tuduh Ririn menunjuk laki laki itu.
Saat laki laki itu ingin menyerang Ririn, Nathan melihat itu dari kejauhan. Nathan langsung mempercepat laju mobilnya dan langsung mengerem tepat tidak jauh dari laki laki itu.
"Ehhh loe berani beraninya sama cewek" kata Nathan yang langsung mencengkeram kerah baju laki laki itu.
"Siapa loe, ikut campur urusan gue "kata laki laki itu mencoba meninju Nathan.
Nathan menghindar lalu berbalik meninju tepat di rahang laki laki itu dan langsung menendangnya hingga terjungkal.
"Pergi loe dari sini!" bentak Nathan.
Melihat Ririn ketakutan, Iren menghampiri Ririn dan memeluknya.
"Loe gapapa Rin?" tanya Iren.
"Gapapa Ren, gue cuma kaget aja" jawab Ririn.
"Siapa dia" tanya Nathan.
"Gue ga tau, dia dari tadi tuh bolak balik trus tapi sambil ngamatin ke arah kost. Trus kan gue tanya tuh, pikir gue kan mau nyari siapa atau cari kostan gitu.. Ehhh dianya malah nyolot.. Akhirnya kan gue langsung nyeplos aja gitu nuduh dia mau maling malah mau ngehajar gue" jelas Ririn.
__ADS_1
"Kayaknya harus di pasang pintu gerbang deh ini.. Ga aman banget kayaknya akhir akhir ini" saran Iren.
Nathan sebenarnya bisa melihat jika orang itu sebenarnya mencari dirinya. Dan mencari tau suasana di area kost.