Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
kritis


__ADS_3

Iren memejamkan matanya.. Di tidak merasakan apapun.


"Apakah aku sudah mati???" batin Iren.


Perlahan Iren membuka matanya, ketika matanya sudah terbuka seketika itu dia langsung membelalakan matanya.


"Pamaaannnnn!!!!" histeris Iren.


"Ma.. Mas Rudi" kata Santi terkejut.


Detik detik ketika Santi hendak menusuk Iren, Rudi dapat menerobos masuk ke dalam gudang dan memasang badannya untuk melindungi Iren yang akan ditusuk oleh Santi. Rudipun perlahan merosot tersungkur di depan Iren terikat.


Melihat dia salah sasaran, Santi melepas genggaman tangannya dari gagang pisau yang tertancap cukup dalam di perut Rudi sebelah kiri. Santi berjalan mundur dengan melihat tangannya yang berlumuran darah Rudi.


"Ke.. Kenapa??? Kenapa kamu selalu melindungi dia haaahh!!! Kenapa mas???" histeris Santi.


"Paman... Maafin Iren paman.." isak tangis Iren berusaha melepaskan ikatannya.


"Ma.. Maafkan Pa... Paman Iren... Pa.. Paman.. Ti.. Tidak da.. dapat melindungimu.." kata Rudi terbata bata.


"Tidak paman.. Tidak.. Paman sudah merawat dan menjaga Iren dengan baik.. Sangat sangat baik.. Maafkan Iren paman.. Gara gara Iren, paman dan bibi berpisah.." isak tangis Iren.


Rudi menggelengkan kepalanya "tidak.. Ini bukan salah mu nak.." jawab Rudi mulai lemas.


"San.. Santi, menyerahlah... Ber... Bertanggung jawablah a... atas apa yang ka... kamu lakukan.." pinta Rudi.


"Tidak.. Aku tidak akan menyerahkan diri, sebelum aku mendapatkan apa yang aku mau!!!" kata Santi mengambil sebuah balok.


"Angkat tangan!!! Buang balok itu!!!" teriak salah satu pihak kepolisian yang tiba tiba masuk ke dalam gudang.


Beberapa anggota kepolisian pun langsung menyergap Santi.


"Lepasin!!! Lepasin gue!!!" Santi berusaha memberontak ketika akan di borgol oleh kepolisian.


Santipun segera di bawa keluar dari ruangan tersebut sambil berteriak meminta untuk dilepaskan. Dia terus memberontak tidak terima.


"Pak Rudi!!!" teriak Agus yang baru saja masuk ke dalam gudang.


"Mas.. Mas Agus, selamatkan paman mas aku mohon" pinta Iren saat melihat kedatangan Agus.


"Selamatkan paman dulu mas Agus.." cegah Iren lagi ketika Agus akan membuka ikatan talinya.


"Baik mbak.. Sebentar lagi mas Nathan datang.." jawab Agus yang berusaha mengangkat tubuh Rudi di bantu beberapa anggota kepolisian.


Iren hanya mengangguk sambil terisak menangis.. Dia takut Rudi tidak dapat selamat.


"Irenn..." teriak Nathan.


"Nathan..." jawab Iren lega..


"Kamu gapapa kan yank??" tanya Nathan membuka ikatan Iren.


"Aku gapapa.. Tapi paman??" isak tangis Iren memeluk Nathan saat ikatan talinya sudah terlepas.


"Paman sudah di bawa kerumah sakit, Arya dan Agus bersama paman.. Ayo kita susul.." ajak Nathan.


Nathan dan Iren segera keluar dari rumah itu.


"Selamat siang pak Nathan.." sapa salah satu anggota polisi bernama pak Hasan.


"Selamat siang pak Hasan.." jawab Nathan.


"Pelaku dan kawan kawannya sudah kami amankan.. Silahkan nanti anda datang ke kantor untuk tindak lanjut agar dapat segera diproses." kata pak Hasan.


"Baik pak.. Terimakasih atas kerja samanya pak.." kata Nathan mengajak berjabat tangan.


"Sama sama pak.. Kami juga merasa terbantu atas informasi yang di berikan pak Rudi.. Semoga pak Rudi tidak mengalami hal serius" jawab pak Hasan membalas jabatan tangan Nathan.


"Amiinnn.." kata Nathan..


"Mari saya duluan.." pamit pak Hasan.

__ADS_1


Iren dan Nathan segera meninggalkan tempat itu dan menyusul Arya dan Agus di rumah sakit. Sedangkan Aris, Angger dan Yudi kembali ke rumah ayah Arthur karena tugas mereka telah selesai.


#####


Setibanya di rumah sakit, Iren dan Santi segera menuju ke IGD di mana Rudi sedang ditangani..


"Bagaimana paman Rudi?" tanya Nathan ke Arya.


"Dokter belum keluar Than, masih ditangani" jawab Arya.


"Iren.. Loe gapapa??" tanya Arya saat melihat Iren.


"Hanya masih terasa ngilu di perut.." jawab Iren.


"Kenapa ga bilang?? Kita visum ya.. Untuk bukti kejahatan Santi" ajak Nathan.


"Ga usah.. Gapapa kok.. Ini juga salah ku karena aku selalu merepotkan paman hingga dia berpisah dengan bibi" kata Iren.


"Ckkk yank... Ini semua bukan salahmu.. Paman Rudi benar, dia mempertahankan hakmu.. Jangan buat perjuangan pamanmu sia sia. Ayo kita visum.." bujuk Nathan.


"Tapi.." Iren masih merasa enggan.


"Kamu ga mau usaha pamanmu sia sia kan.. Semua yang dia lakukan hanya untuk kamu.. Mempertahankan hak kamu.. Memegang amanat yang papimu percayakan ke paman Rudi" kata Nathan.


"Hufhhh baiklah.." jawab Iren berat.


Mereka berduapun segera melakukan visum untuk bukti menjerat Santi. Begitu juga untuk Rudi akan dimintai hasil visumnya sebagai bukti tanda percobaan pembunuhan.


Setelah selesai menjalani beberapa pemeriksaan, Iren dan Nathan kembali ke IGD untuk menunggu kabar paman Rudi.


"Ada kabar Ar??" tanya Nathan.


"Pak Rudi dipindahkan ke ICU" jawab Arya.


"Memangnya apa yang terjadi..?" tanya Iren.


"Entah, gue tidak sempat menanyakannya" jawab Arya.


Tidak berapa lama kemudian, dokter keluar dari ruang ICU


"Pasien banyak kehilangan darah.. Di tambah, luka tusuk yang merusak ginjal kiri beliau, sangat terpaksa kami harus mengangkatnya karena sudah tidak berfungsi... Mudah mudahan beliau dapat melewati masa kritisnya saat ini. Kami akan berusaha semampu kami untuk menyelamatkan pasien." kata dokter menjelaskan.


"Paman...." isak tangis Iren terduduk di bangku tunggu yang tak jauh dari dia berdiri.


"Lalu untuk darah yang dibutuhkan dok??" tanya Nathan.


"Untuk saat ini stok di bank darah kami masih menyediakan golongan darah yang pasien butuhkan." jawab sang dokter.


"Apakah kami dapat menjenguknya dok.?" tanya Iren disela sela tangisnya..


"Untuk saat ini, biarkan beliau beristirahat dulu. Beliau boleh di jenguk dua hari kedepan. Mengingat kondisi beliau belum stabil" kata dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu" pamit sang dokter.


"Terimakasih dokter." jawab Nathan.


"Paman..." isak tangis Iren.


"Kamu yang sabar ya.. Aku yakin paman akan baik baik saja." kata Nathan berusaha menenangkan.


Iren hanya mengangguk.


"Sekarang kita pulang dulu, lihat kondisi Ririn. Sekalian kita makan dulu" ajak Nathan.


"Tapi paman??" tanya Iren khawatir.


"Di sini ada para dokter juga perawat yang dapat mengawasi paman. Aku janji, nanti sore kita kembali lagi ok.. Kamu juga harus menjaga kesehatan kamu jika ingin merawat pamanmu" bujuk Nathan.


Iren tampak berfikir.


"Apa kamu tidak menghawatirkan sahabatmu juga?" tanya Nathan.

__ADS_1


"Ya Allah Ririn.. Bagiamana keadaannya? Baiklah, kita pulang." jawab Iren.


Mereka bertigapun pergi meninggalkan rumah sakit dan kembali ke rumah Iren. sedangkan Agus memilih menyusul rekan rekannya yang sudah kembali ke rumah ayah Nathan.


#####


Selama perjalanan, Iren terus melamun memikirkan setiap kata yang keluar dari mulut Santi.


"Yank.."panggil Nathan namun tidak mendapatkan respondari Iren.


"Yank...." Nathan menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Iren.


"Haaahh iya.." jawab Iren terkejut.


"Apa yang kamu pikirkan??" tanya Nathan.


"Jika itu soal bibimu, percayalah.. Dia hana merasa iri dengan keadaanmu. Karena iri dengki itu sudah menguasai seluruh hati dan pikirannya, hingga membuat dirinya lupa akan hak dan kewajiban seseorang." kata Nathan.


"Tapi Than.. Bibi berfikiran aku merebut perusahaan itu dan akan mendepak paman.. Padahal tidak sedikitpun aku berfikiran seperti itu" jawab Iren.


"Iya aku mengerti, aku percaya kepadamu. Tidak akan mudah bagimu melepas paman Rudi begitu saja. Jasanya atas kemajuan perusahaan papimu sangat besar. Bibi Santi hanya gelap mata hawa dan nafsu yang berawal dari rasa iri dan dengki itu mengusai hati pikirannya. Hingga dia tidak bisa berfikiran jernih. Padahal, jika ia iklas dan mengerti tidak akan seperti ini jadinya. Sudahlah jangan difikirkan lagi, ini semua sudah jadi pilihan bibi Santi" jawab Nathan.


"Aku merasa kasihan dengan Galih. Ahhh Galih, apa dia sudah diberi kabar tentang kondisi paman??" tanua Iren.


"Entahlah.." jawab Nathan.


"Biar aku aja yang kasih kabar" kata Iren mencari cari ponsel.


"Ahhh ponselku.." Iren menyadari ponselnya telah hilang.


"Kamu hafal nomor Galih??" tanya Nathan.


"Hafal, mudah mudahn masih aktif" kata Iren.


"Nihh pake ponsel aku" Nathan menyerahkan ponselnya.


Iren segera menerima ponsel Nathan dan langsung mendial nomor Galih.


Tuuutttt...


Tuuutttt...


Tuuuttt...


"Aktif" kata Iren senang.


"Hallo.." suara Galih.


"Hallo Galih?? Ini gue kak Iren.." kata Iren setelah terdengar suara Galih.


"Ahhh iya kak.. Apa kabar?? Lama ga jumpa" sapa Galih.


"Nah ini yang ingin kakak bicarakan sama loe Galih" jawab Iren.


"Ada apa kak..?" tanya Galih.


"Galih, sebelumnya kakak minta maaf.. Karena melindungi kakak, papa loe masuk rumah sakit. Sekarang beliau masuk di ICU" kata Iren.


"Apa?? ICU?? Apa yang terjadi kak?" kata Galih terdengar khawatir.


"Galih, loe ke rumah kakak bisa?? Akan kakak jelaskan di sana. Ini juga menyangkut mama loe. Nanti kita ke rumah sakit bersama sama." kata Iren.


"Baik kak, setelah jam kuliah selesai Galih langsung ke sana." kata Galih.


"Baiklah, kaka tunggu ya.. Ohh ya ini nomor kak Nathan.. Di save ya.. Ponsel kaka hilang." jawab Iren.


"Ok kak" jawab Galih.


Setelah memutuskan panggilan untuk Galih, Iren menyerahkan ponsel ke Nathan.


"Terimakasih ya.." senyum Iren.

__ADS_1


"Sama sama" jawab Nathan.


Merekapun kembali terdiam sambil menikmati jalanan menuju ke rumah Iren yang tidak jauh lagi.


__ADS_2