Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
Dwi


__ADS_3

Rudi menatap Dwi tajam, sedangkan Dwi yang merasa ditatap menjadi semakin gugup.


"Baiklah, kalian semua silahkan lanjutkan pekerjaan kalian. Kecuali Dwi tetap berada di sini juga pak Haikal" perintah Rudi.


Semuapun langsung beranjak dari tempat duduk mereka untuk kembali ke ruangan mereka masing masing. Kecuali Haikal juga Dwi.


"Kamu membawaku dalam masalah Dwi.. Kamu mencoreng nama ku" bisik Haikal.


"Maafkan saya pak.." kata Dwi tertunduk.


"Eghmmm.. Pak Haikal, bisakah anda berpindah kemari.. Bawa semua berkas yang Dwi bawa juga milik anda" perintah Rudi.


Haikal pun langsung melakukan apa yang Rudi pinta.. Hatinya risau melihat apa yang Dwi lakukan. Meski dia merasa tidak melakukan apapun, namun dia juga merasa bersalah karena kurang teliti.


Rudi mulai memeriksa semua laporan yang Haikal berikan kepada dirinya. Detingan jam begitu terdengar di dalam ruangan itu, ditambah hawa dingin yang dikeluarkan dari AC semakin menambah aura yang menegangkan.


Cukup lama Rudi memeriksa kedua laporan tersebut..


"Eghmm Haikal.. Apa setiap anda menandatangani semua laporan dari Dwi tanpa Anda periksa terlebih dahulu??" tanya Rudi dingin.


"Ma.. Maaf pak, untuk kali ini saya mengakui salah karena kurang cermat dalam memeriksa setiap laporan yang masuk ke saya. Sekali lagi saya mohon maaf pak" jawab Haikal tertunduk.


"Apa kamu tidak pernah memeriksa setiap fax masuk dari toko toko langganan kita?" tanya Rudi.


"Mungkin karena saya terlalu percaya kepada rekan rekan saya, jadi saya kurang meperhatikan setiap nota yang saya terima pak.. Karena selama ini nota yang saya terima juga dari Dwi, Guntur juga Yogi. Saya berfikir akan sama saja apa yang saya terima dengan mereka pak. Tapi ternyata salah, saya kecolongan." jawab Haikal melirik Dwi.


"Apa anda benar benar baru menyadari apa yang Dwi lakukan??" tanya Rudi.


"Maafkan saya pak, atas kecerobohan saya yang mengakibatkan kerugian ini. Tapi saya benar benar tidak tau akan hal ini. Ini kecerobohan saya pak" jawab Haikal tertunduk.,,


"Baiklah pak, silahkan anda kembali ke ruangan anda saya tunggu perbaikan ini semua.. Saya ingin berbicara dengan Dwi" kata Rudi.


"Baik pak, akan saya kerjakan. Saya permisi" jawab Haikal pamit.


"Ya.." jawab Rudi mengangguk.


Haikalpun bergegas keluar dari ruang rapat dengan menatap sinis Dwi. Karena ulah Dwi, reputasi dirinya yang selama ini bagus jadi sedikit tercoreng. Dan terlihat guratan kekecewaan di wajah Rudi terhadap dirinya yang selama ini percaya terhadap Haikal.


"Dwi.. Bisa jelaskan kemana sisa uang itu" tanya Rudi tanpa basa basi.

__ADS_1


"Sa.. Saya tidak melakukan apapun pak.." kilah Dwi.


"Lalu siapa yang memanipulasi nota tersebut?" tanya Rudi.


"I.. Itu saya tidak tau pak.. Saya membaut laporan sesuai yang saya terima pak.. Saya tidak mengubah apapun" kilah Dwi.


"Lalu, ini milik siapa?? Ini semua di temukan Haikal di mia kerja mu??" tanya Rudi menahan amarahnya.


"Sa.. Saya tidak tau pak.. Sungguh saya tidak melakukan apapun pak.." Dwi mulai terisak.


"Apa perlu saya mengecek CCTV untuk mengetahui kamu benar benar di jebak atau ini memang benar milik mu.." kata Rudi.


Dwi hanya terdiam, dia tidak tau harus berkilah bagaimana lagi. Dia dalam delima, nyawanya sang mama dalam bahaya.


Flashback on


6 bulan sebelumnya.


Dwi tengah menunggu angkutan umum ketika pulang kerjanya. Dia beberapa kali memandangi jam di pergelangan tangannya. Hari ini sang mama masuk rumah sakit, dia mendapatkan kabar dari salah satu tetangganya.


Sudah hampir 2tahun sang mama menderita sakit gagal ginjal. Sang mama harus rutin menjalani cuci darah dalam setiap minggunya.


Saat Dwi tengah asik menunggu angkutan umum, tiba tiba sebuah mobil hitam menghampiri dirinya. Keluar dua orang laki laki, dan langsung menarik tubuhnya masuk ke dalam mobil tersebut.


Di dalam mobil, Dwi berusaha memberontak, namun tiba tiba salah satu pria tadi membekap mulutnya hingga Dwi tidak sadarkan diri.


Hampir dua jam Dwi tertidur, dirinya kini berada di sebuah kamar. Matanya mulai mengerjap, tanda dia mulai sadar. Perlahan dia mengamati sekitar dan mengingat ingat apa yang terjadi.


Sontak Dwi melonjak kaget saat dia mengingat semua dan dirinya berada di tempat asing.


Saat Dwi tengah terduduk dan masih memikirkan di mana dirinya. Tiba tiba pintu kamar terbuka. Dwi sempat merasa takut.


"Nyo... Nyonya.." kata Dwi tergagap.


"Kamu sudah bangun Wi.." senyum Santi.


"Sa.. Saya di mana nyonya?" tanya Dwi waspada.


"Kamu di rumahku.. Bagaimana kabar mamamu??" tanya Santi basa basi.

__ADS_1


"Beliau sedang kurang sehat nyonya.. Nyonya.. Bolehkah saya pergi, saya harus segera kerumah sakit nyonya" pinta Dwi.


"Tidak perlu buru buru, mamamu audah di tangani oleh para dokter. Dan menurut saran dokter, mamamu harus operasi dan cari pendonor ginjal segera karena kedua ginjal mamamu sudah tidak berfungsi" jawab Santi.


"An.. Anda tau nyonya, dari mana anda tau?? Hiksss.. Mama.." Dwi menangis..


"Tidak perlu kamu tau dari mana aku tau semua itu. Dwi, aku tau kamu mengalami kesulitan dalam hal biaya.. Aku akan bantu kamu membiayai dari mencari pendonor ginjal, operasi hingga perawatan" kata Santi.


Dwi terkejut, ada setitik harapan. Namun, dia harus menahan rasa bahagia itu, karena dia tau pasti itu semua tidak geratis. Dwi menatap lekat wajah Santi yang tersenyum menatap dirinya.


"Tapi.. Ada satu syarat.." kata Santi.


Dwi masih terdiam, dan menanti syarat yang akan dilontarkan oleh Santi.


"Kamu harus membantuku mengambil sedikit demi sedikit uang dari Surya Properti. Manipulasi datanya, dan aku ingin perlahan perusahaan itu bangkrut." jawab Santi.


"Tidak nyonya, saya tidak mau melakukan itu.. Saya tidak bisa" geleng Dwi.


"Terserah padamu.. Keputusan ada pada dirimu.. Nyawa mamamu ada di tanganmu" jawab Santi.


Dwi terdiam, dia tidak tau apa yang harus dia lakukan.. Dia ingin sang mama kembali sehat, tapi jika dia tidak menerima tawaran dari Santi. Uang dari mana Dwi.. Meminjam uang kantorpun tidak mungkin, karena pinjaman yang sebelumnya saja belum lunas.


"Ba..baiklah nyonya.. Tapi beri saya waktu untuk mengerjakannya" kata Dwi.


"Bagus.. Pilihan yang sangat bagus. Tapi satu hal lagi, jangan pernah katakan kamu bekerja sama saya jika ingin nyawa mamamu selamat. Ingat itu. Kami kembalilah pulang.. Sopir akan mengantarkanmu. Mamamu sudah ditangani sekarang." jawab Santi.


"Terimakasih nyonya." jawab Dwi.


Dwipun segera pergi meninggalkan rumah itu dam di antarkan oleh orang suruhan Santi.


Flashback off


"Maafkan saya pak.. Sa.. Saya terpaksa melakukan ini.. Karena saya sedang membutuhkan biay pengobatan untuk mama saya.. Hiksss... Waktu itu, mama saya harus operasi dan saya harus segera mencari pendonor ginjal agar nyawa mama saya selamat pak. Dan juga saya membutuhkan biaya untuk melunasi hutang hutang saya di rentenir pak.. Maafkan saya.." tangis Dwipun pecah.


"Sejak kapan kamu melakukan ini?" tanya Rudi.


"5 bulan ini yang lalu pak.." jawab Dwi tertunduk masih sesenggukan.


"Berarti ini sebelum kasus Santi.. Tapi mengapa aku merasa ini semua didalangi oleh Santi.. Aku harus cari tau." batin Rudi.

__ADS_1


__ADS_2