Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
rencana Arya


__ADS_3

Marko berjalan menuju ke kamar Fitri, menaiki setiap anak tangganya dengan langkah cepat.


"Den,.." sapa bi Asih ART.


"Bagaimana keadaan Fitri bi?" tanya Marko saat berpapasan di depan pintu kamar Fitri.


"Neng sedang istirahat den, banyak luka lebam dan katanya bagian perutnya masih terasa sakit" kata bi Asih.


Mendengar itu, tangan Marko menggenggam erat. Perlahan Marko membuka pintu kamar sang adik.


"Bi, bikinkan bubur ya buat Fitri dan teh hangat" pinta Marko sebelum masuk ke dalam kamar.


"Baik den, saya permisi dulu" pamit bi Asih


Bi Asihpun bergegas pergi meninggalkan kamar tersebut. Markopun masuk ke dalam kamar. Dia mendekati tempat tidur di mana samg adik tengah berbaring.


"Bang.." panggil Fitri lirih.


Marko duduk di samping sang adik. Marko mengusap wajah sang adik yang terlihat lebam.


"Apa ini sakit?" tanya Marko.


Fitri menggelengkan kepala "perut Fitri masih terasa nyeri bang" jawab Fitri.


"Apa kata dokter?" tanya Marko menatap sang adiknya.


"Hanya lebam bekas tendangan, tidak ada hal serius. Tapi rasanya masih sakit, tapi dokter sudah memberikan obat untuk pereda sakit" jawab Fitri lemah.


"Kamu sudah makan?" tanya Marko lagi.


"Tadi tidak sempat makan bang" jawab Fitri.


"Tunggu bibi antar makan ya, tadi abang sudah minta tolong buatin bubur untuk kamu" kata Marko.


Fitri hanya mengangguk. Markopun hendak beranjak bangun dari duduknya namun ditahan oleh Fitri.


"Bang.." panggil Fitri.


"Iya, apa ada yang sakit lainnya?" tanya Marko kembali duduk.


Fitri menggelengkan kepala "maafkan Fitri" kata Fitri terisak.


"Maaf untuk apa? Jangan menangis" kata Marko mengusap air mata Fitri.


"Maafkan Fitri ga pernah mau mendengarkan abang, selalu tidak percaya dengan abang" kata Fitri.


"Sssttt sudah, yang penting sekarang kamu sidah tidak apa apa. Dan beruntung Iren dan Ririn masih mau memaafkan kamu. Untuk urusan Cindy, biar abang yang urus. Besok abang akan mengantar hasil visum yang Iren berikan. Abang hanya berpesan, hati hati dalam memilih teman. Kamu juga sudah dewasa, harus bisa menilai mana yang baik mana yang buruk, mana yang benar mana yang salah" kata Marko.


"Iya bang. Maafkan Fitri." jawab Fitri.

__ADS_1


"Den.." panggil bi Asih


Marko berjalan menuju pintu kamar untuk membukakan pintu kamar.


"Misi den, ini bubur buat si Eneng" kata bi Asih


"Ohhh iya bi, biar Marko yang bawa. Tolong tutup pintunya ya bi. Trimakasih" kata Marko mengambil nampan yang bi Asih bawa.


"Sama sama den, saya permisi" pamit bi Asih dan menutup pintu kamar tersebut.


Marko berjalan ke arah Fitri, setelah meletakkan nampan di nakas dekat tempat tidur Fitri. Marko membantu Fitri untuk duduk.


"ssshhhh" desis Fitri menahan rasa sakit di perutnya.


"Pelan pelan," kata Marko.


"Iya bang, ini terasa kaku. Seperti tebal perut Fitri tapi sakit" jawab Fitri.


"Nanti setelah makan baru minum obatnya, biar tidak terlalu sakit lagi" kata Marko sambil mengambil mangkok bubur.


"Abang suapi.. Sudah lama abang tidak mentuapi kamu" goda Marko.


Markopun dengan telaten mentuapi Fitri. Dan setelah memastikan Fitri meminum obatnya dan beriatirahat, Marko pergi membiarkan Fitri beristirahat dan dia kembali ke kantornya.


#####


Di apartemen, Iren mulai menata semua belanjaannya. Tidak lupa juga dia bersiap siap untuk memasak sebelum sang suami pulang.


Tepat pukul 5 sore Nathan sudah tiba di apartemen. Melihat sang istri tengah menyiapkan makan malan untuk mereka, Nathan menghampirinya dan memeluk Iren dari belakang.


"Ahhh sayank, kamu mengagetkan saja" kata Iren terkejut.


"Apa semua baik baik saja?" tanya Nathan sambil menciumi tengkuk Iren yang terekspos.


"Ya semua baik baik saja. Jangan begini dong yank, geli.. Kamu mandi dulu sana bau" kata Iren mencoba melepas pelukan Nathan.


"Biarkan begini dulu yank.. Aku merindukanmu" bisik Nathan yang terdengar serak.


"Yank, aku sedang masak, nanti gosong. Kamu mandi dulu sana.. Bau asem kamu. Nanti malam ok" kata Iren membuat penawaran.


"Janji ya.." kata Nathan.


"Iya.. Tapi lepas dulu" kata Iren.


"Ok.. Aku mandi dulu" pamit Nathan sambil mencium kening sang istri.


Irenpun melanjutkan kembali kegiatanya di dapur, dan Nathan bergegas menuju ke dalam kamarnya untuk membersihkan dirinya.


Tepat waktu makan malam, Iren sudah menyiapkan masakannya di atas meja. Sebelumnya Iren juga sudah membersihkan badannya setelah memasak.

__ADS_1


Mereka berdua menikmati kebersamaan mereka. Terlihat guratan kebahagiaan di wajah mereka.


Seperti janji Iren, Iren melayani sang suami yang sudah sejak sore merengek menagih jatahnya.


Setelah pergulatan panas mereka berakhir, mereka sama sama mengistirahatkan tubuh mereka yang masih penuh dengan peluh sisa pemanasan mereka.


"Yank, besok Arya mengajak ke rumah kakek, Arya ingin segera melamar Ririn. Tadi ayah dan bunda sudah aku kabari untuk bertemu di rumah kakek. Kamu mau ikut?" ajak Nathan.


"Wahhh kenapa jadi buru buru? Kemarin berlagak nanti dulu lah, belum kepikiranlah" jawab Iren.


"Hehehe sebenarnya aku yang mendesaknya. Agar dia tidak terlalu kesepian, juga bisa menjaga Ririn. Kasihan Ririn jugakan di apartemen sendirian." kata Nathan.


"Ooohhh kirain Arya yang mendadak ngebet. Iya juga sih, kalau aku ikut. Ririn bagaimana?" tanya Iren.


"Ajak aja sekalian" jawab Nathan.


"Apa Ririn sudah tau tentang kalian?" tanya Iren menatal Nathan lekat.


Nathan menggelengkan kepalanya "Aku rasa, Arya akan menyembunyikan ini terlebih dahulu, di waktu yang tepat dia akan memberitahukannya" jawab Nathan.


"Kenapa tidak langsung di kasih tau," tamya Iren lagi.


"Yank, Ririn tidak sama seperti kamu ataupun bunda yang bisa langsung menerima kami. Arya juga perlu memastikan dahulu bagaimana Ririn, pelan pelan dia pasti akan memberitahu Ririn. Kamu tenang saja ya" jawab Nathan memiringkan badannya dan menatap Iren.


"Yank, tangan ihhh" kata Iren yang merasa tangan Nathan mulai bergerak.


"Sekali lagi ya yank, lihatlah si junior bangun lagi." kata Nathan sambil menunjukkan barisan gigi rapihnya.


"Itumah maunya kamu" jawab Iren.


Dan pergulatan panas itupun kebali terjadi. Iren sangat menikmati setiap sentuhan yang Nathan berikan. Sentuhan sentuhan itu mampu membuat Iren merasa melayang terbang ke langit ketujuh.


Setelah pelepasan mereka berdua, Nathan menutupi tubuh polos sang iatri dengan selimutnya yang sudah terlelap karena kelelahan. Dan dia langsung membersihkan dirinya.


#####


Pagipun menjelang, Iren, Nathan dan Ririn bersiap siap untuk menjemput Arya untuk bersama sama menuju ke rumah sang kakek.


Tin.. Tin.. Tin..


Nathan membunyikan klakson mobilnya bertanda dia menunggu di depan bengkel Arya.


Tidak lama kemudian Arya muncul dan bergegas masuk ke dalam mobil setelah dia menitipkan bengkelnya ke salah satu karyawannya.


"Loe ambil alih kemudi, aku sama Iren dusuk di belakang" kata Nathan keluar dari tempat duduknya.


"Kok gue?" protes Arya.


"Ya donk, gue ingin bermesraan sama istri gue. Rin.. Loe pindah depan" perintah Nathan.

__ADS_1


Setelah mereka saling bertukar tempat duduk. Merekapun langsung menuju ke rumah kakek. Tidak lupa mereka membawa sesuatu untuk berkunjung ke sana.


Di rumah kakek, ayah dan bunda sudah menunggu kedatangan mereka berempat. Ayah dan Bunda sudah tau apa maksud dan tujuan Nathan meminta mereka berkumpul di rumah kakek. Ayah bunda merasa senang mendengar tujuan Arya yang ingin meminang Ririn. Begitu juga kakek yang tadi sempat menanyakan ada perihal apa tiba tiba Arya meminta mereka berkumpul.


__ADS_2