Pacarku Harimau Putih

Pacarku Harimau Putih
kagum dengan Iren


__ADS_3

"Mari tuan.." kata Rio di luar kamar.


"Mari.." jawab ayah.


"Saya titip Riki ya.. Jaga dia.." kata Ayah ke dua pengawal yang berjaga.


"Baik tuan." jawab pengawal tersebut kompak.


Di dalam kamar, Riki membuka matanya.. Air matanya pun menetes, dia mendengar semua kata kata ayahnya.


"Ayah... Hikss.. Hiksss..." isak tangis Riki.


Riki takut tidak lagi dapat bertemu kembali dengan ayahnya.. Riki merasakan sesuatu yang tidak enak di hatinya.


"Ya Tuhan, selamatkanlah ayah ku.. Juga tuan tuan itu" doa Riki.


#####


"Sudah siap??" tanya kakek..


"Sudah.." jawab ayah.


Mereka pun mulai pergi meninggalkan rumah kakek.. Mereka merubah wujud mereka masing masing agar lebih cepat tiba dilokasi.


Mereka saling beriringan menuju lokasi, dengan Rio berada di tengah tengah mereka takut jika masih ada anak buah Yosep.


"Tuan... Tunggu!!" panggil Rio tiba tiba..


Mendengar Rio memanggil, mereka langsung berhenti dan menoleh ke Rio.


"Di depan ada beberapa anak buah Yosep.., bagaimana?? Hanya lewat sini satu satunya jalan tercepat." kata Rio.


"Dia mengatakan yang sesungguhnya., jika kita menyerang mereka, akan di pastikan ada salah satu yang akan melaporkannya." kata Nathan..


"Arya.. Kamukan bisa berkamuflase, bisakah kamu mengambil alih mereka..?? Kamu bersama Rio," kata kakek.


"Baik kakek.." jawab Arya..


Arya dan Rio pun merubah wujudnya menjadi manusia biasa.


"Tuan, pukul saya.." pinta Rio.


"Apa maksud kamu??" tanya Arya.


"Mereka sudah mengetahui jika saya disandra oleh kalian.. Saya ingin membuat kesan jika saya berhasil kabur karena di selamatkan anda." ide Rio.


"Tapi.." Arya ragu.


"Cepat tuan.. Kita tidak ada waktu lagi" desak Rio.


"Baiklah.. Maafkan saya" kata Arya.


Bugh...


Arya memukul pada bagian wajah Rio hingga memar.


"Tidak apa tuan.. Mari bantu saya seolah olah saya lemah" kata Rio.


Merekapun akhirnya berakting sesuai dengan arahan Rio.


"Rio!!" panggil salah satu kawannya..


Beberapa anak buah Yosep yang sedang siaga pun teralihkan dengan kedatangan Rio.


"Kau tidak apa apa?? Bukankah kau ditangkap oleh mereka??" tanya salah satu temannya.


"A..aku ber..berhasil kabur dari mereka dibantu oleh ponakan ku ini.." jawab Rio.

__ADS_1


Saat mereka tengah teralihkan , ayah dan yang lainnya mengambil kesempatan itu untuk segera menerobos penjagaan mereka. Setelah mereka sudah berhasil melewati penjagaan, Rio pun berusaha lepas dari mereka.


"Aku harus menemui tuan Yosep. Ada yang harus aku laporkan.." kata Rio.


"Mari aku antar" tawar salah satu temannya.


"Tidak usah, kalian fokus saja dengan tugas kalian.. Biar aku dengan dia.." kata Rio.


"Baiklah.. Hati hati.." jawab salah satu temannya lagi..


Arya dan Rio pun segera meninggalkan tempat itu dan menyusul ayah dan lainnya yang sudah berlari didepan mereka.


######


Yosep dan kawanannya sudah tiba sedari tadi di pulau tersebut.


"Di mana gadis itu??" tanya Yosep.


"Di kamar lantai atas tuan.." jawab penjaga.


Yosep segera menuju ke kamar yang di maksud. Kamar Iren di jaga ketat oleh dua penjaga di pintu depan. Yosep berdiri di depan pintu, dan sang penjaga segera membukakan pintu untuknya.


Di dalam, Iren masih tertidur karena efek bius yang belum juga menghilang. Yosep mendekati Iren yang masih terlelap di tempat tidur. Yosep menatap lekat wajah polos Iren.


"Ini gadis yang kamu incar Peter??? Seleramu bagus juga.." batin Yosep duduk di samping Iren.


Yosep mengusap lembut pipi Iren, dia menatap lekat wajah Iren. Yosep pun tidak memungkiri dengan kecantikan yang Iren miliki. Bibir mungil yang berwarna merah muda itu sungguh menggoda bagi siapa saja yang menatapnya.


Merasa ada yang mengusap pipinya, Iren langsung membuka matanya dan terkejut melihay Yosep berada di sana.


"Mau apa loe?? I..ini di mana??" Iren langsung menjauhi Yosep.


"Cckkk kenapa mesti sadar sekarang si.." batin Yosep.


"Di rumah gue lah.. Emang di mana lagi.. Dan gue bebas megang loe karena sebentar lagi loe bakal jadi istri gue" kata Yosep.


"Mau ga mau ya loe harus mau!!! Loe mau lari sekalipun juga ga bakalan bisa.." kata Yosep sambil duduk di sebuah sofa.


"Maksudnya??" tanya Iren.


"Besok loe bakal tau.. Sebentar lagi makan malam tiba.. Gue mau loe makan dan besok pagi harus terlihat segar. Gue ga mau pengantin gue terlihat kucel dan lemas.." kata Yosep yang langsung pergi meninggalkan Iren.


Setelah kepergian Yosep, Iren beringsut berdiri dari tempat tidurnya dan menuju ke balkon kamarnya. Iren menatap keselilingnya, ada suara gemercik air dari arah depannya..


"Apa ini di dekat laut ya???" pikir Iren.


Iren terus mengamati sekitarnya.. Dia menimang nimang hendak kabur, tapi Iren raguz di beberapa titik dia melihat ada anak buah Yosep yang menjaga.


"Nathan.. Aku beraharap kamu datang menjemputku sebelum pernikahan itu.. Nathan.." batin Iren.


Cairan bening berhasil menetes di pipi Iren.. Iren pun menengadahkan kepalanya sambil memejamkan matanya. Seolah olah ingin meminta bantuan angin untuk menyampaikan harapannya itu. Setelah itu Iren kembali masuk ke kamar.


#####


"Awasi saja dia.." pesan Yosep.


"Baik tuan.." jawab penjaga itu..


Yoseppun berjalan menuju anak tangga untuk turun kebawah menuju kamarnya.


"Eehh Danu tunggu" panggil Yosep.


"Saya tuan.." jawab Danu menghampiri Yosep.


"Bagaimana Dika dan situasi di sana.." tanya Yosep.


"Dia sudah kembali dengan selamat tuan. Dan menurut informasi dari mereka, Rio berhasil kabur dari jeratan harimau putih.. Katanya dia dibantu oleh seseorang yang katanya keponakannya" jawab Danu.

__ADS_1


"Keponakannya??" Yosep memicingkan matanya.


"Saya rasa Rio tidka akan seberani itu untuk membohongi anda tuan" kata Danu yang melihat kecurigaan dari wajah Yosep.


"Kamu yanh bertanggung jawab.. Ohh ya untuk acara besok..??" kata Yosep.


"Baju pengantin sedang dalam perjalanan kemari tuan.. Dan besok pagi sudah siap.." jawab Danu.


"Bagus.. Saya suka kerjaan kamu.." puji Yosep.


"Terimakasih tuan" jawab Danu tersenyum.


Yoseppun kembali ke kamarnya. Di dalam kamarnya, Yosep mengambil sebuah foto keluarga.


"Pa.. Ma... Maafkanlah putramu ini.. Aku sesungguhnya tidak inginn seperti ini pa.. Ma.. Tapi.. Yosep tidak rela kalian meninggal dengan sia sia.. Alexander penyebab kematian kalian. Padahal aku tau, dahulu papa dan dia berteman dengan baik.. Tapi kenapa dia begitu tega pa.. Bagaimanapun nyawa dibalas dengan nyawa!!!" kata Yosep.


Merasa emosi, Yoseppun berubah menjadi Tiger dan mengaum sekuat kuatnya.. Anak buah Yosep yang mendengar itu pun terkejut dan ikut berubah menjadi tiger untuk bersiaga.


Danu dan Dia dengan sigap mendekati kamar Yosep.


Tok..tok..tok..


"Tuan.. Apakah semua baik baik saja.??" tanya Dia.


Grrrrrrrr......


Yosep yang masih dalam bentuk tiger menoleh ke arah pintu dengan wajah garangnya mata berwarna merah.


Tok...tokk..tok...


"Tuan ini saya Dika dan Danu.." kata Danu karena tidak ada jawaban dari Yosep.


Ceklekkk...


"Tidak apa apa.. Maaf membuat kalian terkejut" jawab Yosep dingin.


"Baiklah kalau begitu tuan.. Kami permisi.." pamit Danu.


Yisep hanya mengangguk. Danu dan Dika segera pergi meninggalakan Yosep. Mereka tau jika suasana hati tuannya sedang tidak menentu.


#####


Setelah di rasa aman, Arya dan Rio segera merubah wujudnya dan segera menyusul ayah kakek dan Nathan.


Ayah memutuskan untuk menunggu Rio, karena memang mereka tidka ada yang tau harus menuju ke arah mana.


"Kita tunggu Rio dan Arya dahulu.. Kita beristirahat dulu di sini.." ajak ayah.


Tiba tiba perasaan Nathan berubah menjadi tidak enak.. Pikirannya terus tertuju kepada Iren..


"Nak.. Kamu tidak apa apa..??" tanya ayah yang melihat ada sesuatu yang sedang anaknya rasakan.


"Entah yah.. Tiba tiba perasaanku tidak nyaman.." kata Nathan terlihat gelisah.


Nathan terua berjalan mondar mandir hanya untuk sekedar membuang perasaan tidak nyaman itu.


"Apakah kita masih jauh??" tanya Nathan.


"Entahlah, hanya Rio yang tau.." jawab ayah.


"Aarrggg sial..!!!" kata Nathan geram.


"Iren.. Aku akan menjemputmu sayang... Bertahanlah di sana.." batin Iren.


"Tenang Nathan, dia pasti akan selamat" kata ayah.


Nathan hanya menatap ayahnya lalu membuang nafasnya secara kasar.

__ADS_1


__ADS_2